<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Politik Komunitas Sastra*</title>
	<atom:link href="http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/</link>
	<description>kantor beritaseni indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Dec 2009 15:27:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Ibrahim</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-358</link>
		<dc:creator>Ibrahim</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 05:56:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-358</guid>
		<description>Kenalkan saya pendatang yang sering terlambat. saya lihat tanggal pesan terakhir bulan juni sedangkan saya datang tanggal 5 sep 2007, tapi emang gua pikirin, yang penting bisa nanya-nanya. Realitas pada tulisan bang Saut apakah mampu menjadikan pesimisme terhadap kontribusi sastra indonesia itu sendiri. sebab realitas yang lebih mudah di akses oleh masyarakat luas tak tak lain  aktifitas sastra yang telah di afirmasi oleh ruang-ruang berduait bahkan sebagai catatan dan telah di legitimasi dalam mengenal perjalanan sastra itu sendiri. Apalagi dalam ruang-ruang formal (akademi/sekolah) hal yg abang apungkan ini jarang dan bahkan tidak ada pembedaan mana yang sastra tunggangan dan mana sastra nasionalis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenalkan saya pendatang yang sering terlambat. saya lihat tanggal pesan terakhir bulan juni sedangkan saya datang tanggal 5 sep 2007, tapi emang gua pikirin, yang penting bisa nanya-nanya. Realitas pada tulisan bang Saut apakah mampu menjadikan pesimisme terhadap kontribusi sastra indonesia itu sendiri. sebab realitas yang lebih mudah di akses oleh masyarakat luas tak tak lain  aktifitas sastra yang telah di afirmasi oleh ruang-ruang berduait bahkan sebagai catatan dan telah di legitimasi dalam mengenal perjalanan sastra itu sendiri. Apalagi dalam ruang-ruang formal (akademi/sekolah) hal yg abang apungkan ini jarang dan bahkan tidak ada pembedaan mana yang sastra tunggangan dan mana sastra nasionalis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Badruddin Emce</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-134</link>
		<dc:creator>Badruddin Emce</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2007 05:49:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-134</guid>
		<description>Bung, aku dah baca esaimu! Menderu-deru... dan membuatku melihat &quot;dunia sastra yang sesungguhnya&quot;. Tapi apapun yang berlangsung di luar sana, negeri Kroya terus mempesonaku, mengasuhku dan menciumiku. Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung, aku dah baca esaimu! Menderu-deru&#8230; dan membuatku melihat &#8220;dunia sastra yang sesungguhnya&#8221;. Tapi apapun yang berlangsung di luar sana, negeri Kroya terus mempesonaku, mengasuhku dan menciumiku. Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-55</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2007 15:37:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-55</guid>
		<description>buat bung B, maaf balasan saya terlambat. saya dihajar flu berat selama seminggu ini dan tergeletak kayak blandar rumah habis kena gempa di tempat tidur terus sampai saya bosan malam ini dan cabut ke Kedai Kebun untuk...menjawab posting Anda! hehehe...

saya memang diundang ke acara Tadarus Puisi oleh penyelenggaranya yaitu Dewan Kesenian Jakarta(DKJ) (Anda lupa menyebutkan siapa penyelenggaranya cuman tempatnya aja yaitu di TIM! saya maafin peristiwa amnesia Anda ini, hahaha...) tapi saya gak tahu apa memang DKJ itu bisa dikategorikan sebagai TUK. yang undang saya memang Zen Hae sebagai bos Sastra DKJ. apa Zen Hae orang TUK, seperti Ayu UTami? hm... saya gak bisa terima klaim Anda ini. tapi terlepas soal klaim-mengklaim tsb, saya menerima undangan baca-puisi itu kerna pertama yang undang adalah Zen Hae langsung yang memang saya kenal orangnya dan bahkan pernah main ke rumah saya, kedua kerna undangan itu atas nama DKJ. acaranya pun asyik... Tadarus Puisi...dan saya diundang sebagai &quot;penyair Protestan&quot;! mana mungkin saya bisa menolak!!! hahaha... apalagi saya &quot;dilaga&quot; ama Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo satu panggung, hehehe... kapan lagi, man!

saya bukan eksponen &quot;Sastra Pedalaman&quot; yang saya pikir gak dalam beneran itu! DKJ bukan sebuah komunitas seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. tiap provinsi di republik ini punya lembaga semacam DKJ dan lembaga ini jelas gak bisa disamakan ama komunitas petualang seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. kapan saja saya akan bersedia datang kalau diundang oleh lembaga non-swasta semacam ini.

kalau Anda menganggap DKJ adalah sebuah institusi swasta seperti TUK, itu hak Anda. tapi yang pasti kalau ada sebuah &quot;komunitas&quot; seperti yang saya maksudkan dalam esei saya mengundang saya baca puisi, misalnya (sambil ngebir mungkin, hehehe...), percayalah saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti akan menolak kalau memang pasti akan mereka undang! alasannya sederhana aja: saya kan sudah terlanjur menulis esei saya yang tentang mereka itu! hahaha...

-sweet as</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>buat bung B, maaf balasan saya terlambat. saya dihajar flu berat selama seminggu ini dan tergeletak kayak blandar rumah habis kena gempa di tempat tidur terus sampai saya bosan malam ini dan cabut ke Kedai Kebun untuk&#8230;menjawab posting Anda! hehehe&#8230;</p>
<p>saya memang diundang ke acara Tadarus Puisi oleh penyelenggaranya yaitu Dewan Kesenian Jakarta(DKJ) (Anda lupa menyebutkan siapa penyelenggaranya cuman tempatnya aja yaitu di TIM! saya maafin peristiwa amnesia Anda ini, hahaha&#8230;) tapi saya gak tahu apa memang DKJ itu bisa dikategorikan sebagai TUK. yang undang saya memang Zen Hae sebagai bos Sastra DKJ. apa Zen Hae orang TUK, seperti Ayu UTami? hm&#8230; saya gak bisa terima klaim Anda ini. tapi terlepas soal klaim-mengklaim tsb, saya menerima undangan baca-puisi itu kerna pertama yang undang adalah Zen Hae langsung yang memang saya kenal orangnya dan bahkan pernah main ke rumah saya, kedua kerna undangan itu atas nama DKJ. acaranya pun asyik&#8230; Tadarus Puisi&#8230;dan saya diundang sebagai &#8220;penyair Protestan&#8221;! mana mungkin saya bisa menolak!!! hahaha&#8230; apalagi saya &#8220;dilaga&#8221; ama Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo satu panggung, hehehe&#8230; kapan lagi, man!</p>
<p>saya bukan eksponen &#8220;Sastra Pedalaman&#8221; yang saya pikir gak dalam beneran itu! DKJ bukan sebuah komunitas seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. tiap provinsi di republik ini punya lembaga semacam DKJ dan lembaga ini jelas gak bisa disamakan ama komunitas petualang seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. kapan saja saya akan bersedia datang kalau diundang oleh lembaga non-swasta semacam ini.</p>
<p>kalau Anda menganggap DKJ adalah sebuah institusi swasta seperti TUK, itu hak Anda. tapi yang pasti kalau ada sebuah &#8220;komunitas&#8221; seperti yang saya maksudkan dalam esei saya mengundang saya baca puisi, misalnya (sambil ngebir mungkin, hehehe&#8230;), percayalah saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti akan menolak kalau memang pasti akan mereka undang! alasannya sederhana aja: saya kan sudah terlanjur menulis esei saya yang tentang mereka itu! hahaha&#8230;</p>
<p>-sweet as</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bujang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-24</link>
		<dc:creator>bujang</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2007 05:04:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-24</guid>
		<description>Maaf, saya nggak tahu kalau yang Bang Saut maksudkan adalah komunitas TUK. Terakhir saya nonton Bang Saut baca puisi di TIM yang mungkin sejenis komunitas yang Bang Saut gugat, di situ ada Zaim Hae, Marko Kusumawijaya juga Ayu Utami yang notebene juga orang TUK</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, saya nggak tahu kalau yang Bang Saut maksudkan adalah komunitas TUK. Terakhir saya nonton Bang Saut baca puisi di TIM yang mungkin sejenis komunitas yang Bang Saut gugat, di situ ada Zaim Hae, Marko Kusumawijaya juga Ayu Utami yang notebene juga orang TUK</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-21</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 May 2007 12:43:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-21</guid>
		<description>bung b (saya gak mau menyebut nama Anda kerna artinya jelek dalam bahasa bangsa saya Batak Toba!),

coba buktikan kalok saya memang &quot;terima undangan baca puisi atau festival&quot; spt yang Anda tuduhkan! justru saya selalu mendapat undangan semacam itu dari anak2 muda yang buntut2nya saya sendiri yang keluar duit, terutama buat ngebir! hahaha... pernah dengar saya merecokin acara &quot;sastra&quot; TUK di solo beberapa waktu lalu gak? kalok gak, wah ke mana aza Anda selama ini!

soal &quot;seminar&quot;, saya pikir Anda  gak paham isi esei saya! dan seminar pun seminar yang kayak apa! seminar itu bagus buat orang indonesia yang gak pe de ngomongin diri sendiri dan saya akan senang sekali kalok diundang komunitas2 kaya itu untuk bicara ttg mereka di acara mereka! tolong sampaikan ke mereka ya!!! hahaha...

-sweet as</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bung b (saya gak mau menyebut nama Anda kerna artinya jelek dalam bahasa bangsa saya Batak Toba!),</p>
<p>coba buktikan kalok saya memang &#8220;terima undangan baca puisi atau festival&#8221; spt yang Anda tuduhkan! justru saya selalu mendapat undangan semacam itu dari anak2 muda yang buntut2nya saya sendiri yang keluar duit, terutama buat ngebir! hahaha&#8230; pernah dengar saya merecokin acara &#8220;sastra&#8221; TUK di solo beberapa waktu lalu gak? kalok gak, wah ke mana aza Anda selama ini!</p>
<p>soal &#8220;seminar&#8221;, saya pikir Anda  gak paham isi esei saya! dan seminar pun seminar yang kayak apa! seminar itu bagus buat orang indonesia yang gak pe de ngomongin diri sendiri dan saya akan senang sekali kalok diundang komunitas2 kaya itu untuk bicara ttg mereka di acara mereka! tolong sampaikan ke mereka ya!!! hahaha&#8230;</p>
<p>-sweet as</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bujang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-18</link>
		<dc:creator>bujang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 06:53:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-18</guid>
		<description>Bang Saut anda kemana-mana terima undangan baca puisi atau seminar/festival dari berbagai komunitas sastra--apakah bukan berarti anda juga larut dalam politik sastra yang anda gugat--karena komunitas sastra yang mengundang anda juga sejenis dengan komunitas sastra yang anda gugat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Saut anda kemana-mana terima undangan baca puisi atau seminar/festival dari berbagai komunitas sastra&#8211;apakah bukan berarti anda juga larut dalam politik sastra yang anda gugat&#8211;karena komunitas sastra yang mengundang anda juga sejenis dengan komunitas sastra yang anda gugat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Heru Hikayat</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-9</link>
		<dc:creator>Heru Hikayat</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 09:11:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2007/04/26/politik-komunitas-sastra/#comment-9</guid>
		<description>Bung Saut, provokatif seperti biasa. Ajo Boeng! tapi ngomong2 bagaimana dengan &quot;Pertemuan Penyair Muda 4 Kota&quot; itu sendiri. apakah cukup politically correct dalam perspektif bung?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Saut, provokatif seperti biasa. Ajo Boeng! tapi ngomong2 bagaimana dengan &#8220;Pertemuan Penyair Muda 4 Kota&#8221; itu sendiri. apakah cukup politically correct dalam perspektif bung?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
