Diarsipkan di bawah: visual arts
Teks oleh Frino Bariarcianur
Foto karya : Dokumentasi Rumah Seni Cemeti Jogjakarta
Rumah Seni Cemeti gelar pameran bertajuk seni rupa “Anti Aging “. Pameran ini menunjukkan pergulatan seniman yang tidak lagi terbentur pada persoalan-persoalan teknis tetapi lebih mengedepankan gagasan melalui bahasa ungkap yang lebih segar dan provokatif.
Pameran seni rupa “Anti Aging” dilaksanakan sejak 2 Juni – 2 Juli 2007 di Gaya Art Space, jalan Raya Sayan Ubud, Bali. Proyek pameran seni rupa ini dirancang oleh Rumah Seni Cemeti Yogyakarta dengan dukungan manajemen seni dari Prins Claus Fonds, Belanda dan Gaya Art Space Ubud, Bali dengan sponsor Motor Power Company dan Baiauto Audi.
Kelima belas seniman yang mengikuti pameran antara lain : Anusapati [obyek/patung], Christine Ay Tjoe [cetak digital], Beatrix [seni lukis], Eko Nugroho [gambar drawing/bordir/seni lukis], Codhit [Seni lukis/drawing/gambar], Popok Triwahyudi [Seni Lukis/drawing/gambar], Terra Brajaghosa [cetak digital/drawing/gambar/video animasi], Fx. Harsono [cetak digital/seni lukis], Nindityo Adipurnomo [drawing/gambar], Melati Suryodarmo [cetak digital/video performance], Jompet Kuswidananto [Seni Video], S. Teddy D. [Seni ukis/drawing/gambar], Agus Suwage [Obyek/patung/instalasi], Abdi Setiawan [patung], dan Hedi Hariyanto [patung].
Menurut Nindityo Adipurnomo yang menggagas pameran, tema “Anti Aging” ini secara sederhana diartikan sebagai segala upaya untuk menangguhkan proses penuaan. Di dalam dunia seni rupa menurut Nindityo,”Fenomena ‘anti aging’ dengan mudah bisa kita runut refleksi logikanya melalui perdebatan-perdebatan panjang dan sengit serta pertanyaan-pertanyaan kritis seputar karya seni sebagai produk material, atau seni sebagai produk gagasan.”
Perdebatan-perdebatan di dalam dunia seni rupa tersebut memiliki unsur nilai yang ambigu dan tidak jarang sangat kontradiktif dan berkorelasi langsung maupun berkaitan sebagai hubungan sebab akibat, pada diskursus proses penuaan (aging), serta pada saat yang sama juga (anti aging)nya.
Proses kuratorial yang dijalankan oleh Rumah Cemeti Jogjakarta terhadap beberapa karya rupa pada akhirnya menitikberatkan kepada gagasan seniman melalui idiom-idiom yang memprovokasi pengunjung untuk sekali lagi : berpikir bebas, dan terbuka guna menangkap nilai-nilai lama dengan menyerap pengaruh baru.[]
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


kok ga ada textile artist yang ikutan sich….? kan seni rupa juga…
Komentar oleh fajriyatul lepijiana,S.Ds November 1, 2007 @ 6:52 pmmau dunk ikutan…hehe
kalo mo ikutan gimana caranya ya kok orangnya itu-itu aja?
Komentar oleh sandy Januari 24, 2008 @ 8:41 am