Indonesia Art News Agency


Wayang Golek Dalam Lukisan
Juni 29, 2007, 2:15 pm
Filed under: visual arts

gatotkaca.jpg

[Gatotkaca Ketemu Teman-teman karya Abun Adira]

 

Teks/foto oleh MATDON*

Selama satu tahun terakhir, kurator Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Isa Perkasa, susaha payah mencari pelukis yang biasa dan konsisten menggambar wayang golek. Upaya itu berhasil, empat perupa ditemukan lalu pameran bersama 16 – 23 Juni 2007 di Galeri Teh. Untuk melengkapi pameran Isa lalu menemui keluarga almarhum dalang kahot Ade Kosasih Sunandar Sunarya, dalang pertama yang membuat wayang Denawa dari bahan karet.

“Ini sebuah perkambangan snei rupa yang luar biasa,” katanya seraya mengatakan, almarahum Ade adalah dalang kontroversial, karena wayang ciptaannya itu lepas dari pakem yang ada, bayangkan saja wayang ciptaan Ade bisa makan kerupuk, muntah mie, kepalanya pecah, mata berkedip lidah menjulur. Sesuatu yang tidak lazim dalam wayang golek.

Selain itu, dalang Ade ternyata pandai melukis, meski bukan wayang yang dilukisnya, Maka lengkaplah pameran ini menjadi lima orang, yakni Abun Adira, Ating Sudirman, Eddy Swk, Ujang Oyon dan almarhum Ade Kosasih Sunarya.Sebagai sebuah cerita berlatar cerita Mahabrata dan Ramayana, wayang golek memiliki sejarah panjang, lahir pada tahun 1848 di daerah Cibiru Kabupaten Bandung. Saat itu Bupati Bandung Wiranatakusumah III tertarik untuk membuat wayang yang terbuat dari kayu, maka iapun meminta Darman seorang pembuat wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru untuk membuat wayang kayu/golek, namun keahlian Darman rupanya hanya mampu membuat wayang berbentuk pipih, sehingga Wiranakusumah yang lebih dikenal dengan nama Dalem Karang Anyar harus menyempurnakannya, meraut wayang golek itu berbentuk tiga dimensi.

Ki Darman mengembangkan bentuk wayang golek tersebut hingga ke beberapa daerah seperti Ciparay, Jelekong, Cimareme, Sukabumi, Bogor, Karawang, Indramayu, Cirebon, Ciamis, Garut dll. Untuk akhirnya Jelekong Kabuaten Bandung menjadi kiblat kedua setelah Cibiru dalam pembutan wayang golek. Dari Jelekong inilah lahir dalang Abah Sunarya yang melahirkan anak-anaknya seperi Ade Kosasih Sunarya, Asep Sunandar Sunarya, Iden Sunandra Sunarya dll, mereka tergabung dalam Giri Harja.

Dalam pameran ini menurut Isa, bukan untuk membahas terlalu dalam soal wayang golek, tapi yang tepenting memanpilkan perupa yang konsisten dan masih mau melestarikan budaya peninggalan nenek moyang, sekalian tentu saja mengutamakan kecenderungan pengolahan unsur rupa dalam bentuk kekinian. Pengembangan bentuk ini terlihat pada karya Abun Adira, yang membuat Gatot Kaca tengah bercengkrama dengan Batman dan Sun Go Kong, atau pada karya Eddy Swk, selain melukis dalam kanvas ia juga membuat bentuk wayang dari daun singkong.

arjuna2.jpgPada gambar karya Ating berjudul “Wanita dan Arjuna” lebih inovatif lagi [di samping], dalam lukisannya ia menggambar seorang wanita setengah telanjang yang sedang memainkan wayang Arjuna, atau saat seroang ksatria nampak tengah menerima uang suap. “Wayang golek itu kan simbol bayangan hidup manusia, melukis wayang golek artinya melukis manusia dengan dalangnya,” ujar Ating.

Wayang dan dalang hanyalah simbol bayangan yang menjadi bagian penting dari arti sebenarnya tentang kehidupan manusia. Semua karya yang dipamerkan di Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Jl. Ir. H.Djuanda Bandung ini merupakan proses perenungan perupa dalam menghadapi perkembangan zaman dalam dunia pewayangan , boleh jadi berangkat dari sebuah tafakur aatau mimpi. Abun mengakui jika ketertarikannya melukis tokoh wayang golek lantaran ia melihat keterpurukan negeri ini, sama halnya dengan Eddy Swk, meski tidak bisa mendalang tapi ia menyebut bahwa lukisan dan karyanya merupakan bagian dari mendalang.

Menarik untuk disimak, ketika pameran ini juga menghadirkan dalang muda Opik “Gelo” Sunandar Sunarya dan Dalang tua Uja Sukmajaya yang memainkan wayang catur di akhir acara pameran, dengan judul “Jabang Tutuka”, di usianya yang sudah memasuki 90 tahun, dalang Uja memainkan wayang catur, sebuah pergelaran wayang yang sudah punah.
 

Tentang pelukis

Ade Kosasih Sunandar Sunarya, ternyata pernah belajar melukis pada pelukis ternama Hendra Gunawan, lahir tahun 1948 dan mulai mendalang sejak usia 10 tahun, tahun 1970 mampu menciptakan wayang sendiri dan menjadi fenomenal ketika meciptakan wayang yang bisa muntah, makan dll. Ia wafat sembilan bulan lalu. Abun Adira adalah pemilik sebuah Galeri di Bandung, belajar melukis pada Barli (alm), pernah masuk 50 besar kompetisi seni lukis Jawa Barat, Abun tertarik melukis wayang ketika ia mulai membaca komik karya RA. Kosasih dan sering nonton wayang golek sejak kecil, usianya tidak muda lagi, namun ia enggan menyebut berapa usianya itu. Sedangkan Ating adalah jebolan kelompok Gerbong, pameran di sejumlah kota di Indonesia, dan ia lebih menekuni gambar wayang serta membuat wayang golek, kemampuan membuat wayang itu menjadi inspirasi dalam karya di atas kanvas.Begitupun dengan Ujang Oyon, pria kelahiran 1972 ini, pandai membuat wayang golek dan menjualnya sesuai pesanan, pemesannya kebanyakan dalang muda di Jawa Barat. Sementara Eddy SWK yang sudah berpameran sejak tahun 1984, tertarik dengan wayang golek sejak anak-anak, ia sering memainkan wayang yang ia buat dari daun singkong dan kertas, kemudian mendalang dengan cerita yang ia ciptakan sendiri.

Jika pameran ini kemudian berkeinginan melestarikan wayang golek, itu menjadi bagian yang mulia, karena bagiamanapun sebuah budaya akan memiliki nilai keabadian.[]

Tulisan pernah dimuat di Harian Sinar Harapan, tanggal 30 Juni 2007

* Penulis lepas, aktif di Forum Diskusi Wartawan Bandung [FDWB] dan sering melakukan performance art yang merespon situasi sosial politik di kota Bandung. Salah satunya mendaftar menjadi calon walikota Bandung dengan menaiki kuda.

About these ads

11 Komentar so far
Tinggalkan komentar

salam kenal ya…senang sekali baca artikel ini

saya dari jelekong ciparay, nemuin blog ini dari google dengan tag ciparay hehe.

sekali lagi makasih :)

Komentar oleh duh Jungjunan

Selamat dan Semoga Sukses

Komentar oleh Osi Prisepti

sae pisan aya keneh nu paduli kana kasenian sunda mudah-mudahan yang berkembang bukan hanya lukisannya saja tapi jeung pertunjukan wayangna remen ditanggap satatar sunda saha deui nu rek ngamumule budaya sorangan mun lain urang salaku bangsana padauli teuing lah disebut teu kontemporer ge wilujeng juragan!

Komentar oleh arie hejo

di Banten ada dalang Abah Ardi yang sekarang udah pensiun. Padahal tahun 50-an grup wayang goleknya Gagak Lumayung cukup laris.
Sekarang golek-goleknya udah habis terjual buat biaya hidup… KACIANNNN!!!

Komentar oleh qizinklaziva

Ide yang menarik untuk kedua lukisan di atas. Yang lucu dan yang serius…

Komentar oleh ahmadzeni

salam buat kang EDI SWK di babakan siliwangi saya pernah belajar melukis di sana

Komentar oleh sujalma

salam
haturan sadaya ki sunda, duh bagja msh aya keneh anu mampuh nyumebarkeun budaya karuhun anu agung ieu, “cipta malih diri jalmi pikeun ngayonan kaleuleuwihi diri teu inget ka purwa daksi”, ku wayang tangtu ka uji, salam kawilujeungan mugia ngajadi.
Kang Awan
ti gegerkalong

Komentar oleh setiawan

waah asyik sih tp aku g paham ma bhs sunda

Komentar oleh marissia

salam kenal

saya sangat suka dengan pewayangan jadi ingaat almarhum bapak ni…

Komentar oleh windi

I LOVE WAYANG GOLEK
AK PNG BELI TP GAK PUNYA DUIT
SIAPA YG MAU NGASIH
MUDAH MUDAHAN AD YG NGASIH
AMIN

Komentar oleh ILHAM PRAMUDJI

Your web site seems to be having some compatibilty problems in my firefox browser.
The text seems to be running off the page pretty bad. If you would like you can email me
at: perry_caswell@gawab.com and I’ll shoot you over a screen shot of the problem.

Komentar oleh flirtmastery.com




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.