Diarsipkan di bawah: theatre
Teks oleh Iman Abda*
Creamerbox sebuah kelompok bermain drama yang dimotori oleh Bob Teguh malam Rabu (27/06/2007) kemarin mementaskan “Blesak” sebuah naskah monolog yang ditulis oleh Arthur S. Nalan. Menurut Bob, pementasan malam itu beda dengan pentas-pentas Creamerbox sebelumnya, katanya ” Tidak ada gerakan aktraktif dalam pentas kali, kami akan menampilkan gerak sugestif.” Dengan semangat ‘empat lima’ saya hadir 1 jam sebelum pementasan dimulai hanya untuk sekedar melihat suasana. Di Studio Teater STSI Bandung itu sudah kelihatan artistik untuk pentas monolog “Blesak”. Kolam kecil berisi ‘leutak’ atau lumpur hadir ditengah-tengah ruangan yang dilatari oleh kain putih dengan beberapa ranting seperti mencoba menghadirkan suasana artistik alami. Ditambah dengan 4 buah kelapa yang ditaburi bunga disimpan di 4 penjuru kolam kecil berisi lumpur tersebut. Mungkin untuk menambah suasana magis.
Pentas monolog “Blesak” pun dimulai dengan aktor Latif yang diiringi oleh kelompok musik Asalsada. Sang aktor diam di tengah kolam kecil berisi lumpur lalu mulai menggerakan tangannya setelah itu mulailah bertutur tanpa mencoba menjelaskan dengan tubuhnya apa yang sedang dituturkanya hanya memainkan mimic wajah dan gerakan tangan yang stagnan seperti sedang menari. Gerakan tangan itu begitu terus menerus sang aktor sedang menari sekaligus bertutur.
Irwan Guntari mengomentari tentang gerakan aktor tersebut dan suasana yang dibangun oleh pentas itu seperti sedang menarikan tarian topeng mimi Rasinah, maestro tari topeng asal Cirebon. Ipit Dimyati mengomentarinya sebagai aktor yang mencoba mencari titik nol dalam tubuh aktornya. Saya kok merasa, itulah gerakan negosiasi antara aktor dan sutradara ketika menerjemahkan garapan artistic untuk pementasan Creamerbox ini.
Riwayat tubuh aktor bagaimanapun tidak bisa dihilangkan sehingga ketika di atas pentas Latif masih dikenali sebagai latif yang mencoba memerankan berbagai macam tokoh yang ada dalam naskah. Kerja aktor adalah meyakinkan penonton bahwa tokoh yang sedang dimainkannya adalah tokoh sesungguhnya yang lain dari tubuh aktor sendiri hanya saja Latif, sekali lagi, masih bisa dikenali sebagai Latif ketika memainkan monolog tersebut. Apakah dengan begitu Latif tidak berhasil membawakan naskah tersebut? Inilah pertanyaan kucinya untuk aktor ketika melakukan proses menjadi aktor. Ketika mengolah tubuh dan mencerna naskah kemudian meyakinkan penonton bahwa dia sedang jadi tubuh yang lain, disitulah kita mengenali seseorang disebut aktor.
Dan Latif, walaupun baru pertama kali melihatnya bermain teater, saya baru melihatnya bermain di “Blesak” ini atas garapan Bob Teguh dan Creamerbox, telah berhasil meyakinkan tubuhnya untuk disebut aktor. Minimal bisa meyakinkan saya sebagai penonton pertunjukan tersebut.
Membaca Perkembangan Teater di Indonesia
“Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Setelah Stanislavsky, tumbuh teater baru yang mementingkan sutradara, di Eropa, orang sudah enggak perlu surealisme lagi. Sudah jenuh. Mereka mencari bentuk yang lain. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.” Begitu kata Asrul Sani melihat perkembangan teater di Indonesia.
Sungguh, hal itu terngiang lagi hari ini karena ternyata permasalahan lama itu muncul kembali, bahwa teater modern Indonesia merupakan teater yang didirikan dengan tradisi pemusatan kuasa pada corak badan dan pikiran sang sutradara.
Memang bukan tema baru. Tapi harus diakui juga, permasalahan itu bukannya telah selesai sekarang. Ada satu hal penting mengapa itu sampai terjadi. Yaitu adanya paradigma paternalistik, di mana teater hanya memunculkan pemusatan wacana teater pada sosok tunggal sutradara. Padal yang perlu dikembangkan adalah paradigma pempribadian, di mana tradisi kerja kolektif dalam teater harus dimaknai sebagai fasilitas bersama untuk terberdirikannya proses emansipasi lintas pribadi atau menjadi tempat belajar bersama semua individu yang terlibat dalam teater tersebut.
Sebuah kerja teater memang sebuah kerja kolektif. Sebuah keloktivitas tentu mensyaratkan adanya kesetaraan dengan menghargai dan menjalankan tanggung-jawab posisinya masing-masing. Seorang sutradara atau pemain, pasti mempunyai sebuah wilayah yang tidak bisa diganggu-gugat oleh pihak di luar dirinya. Suatu wilayah “otonomi diri”, di mana dia menjadi penguasa akan kediriannya dan memahami seluruh bahasa dirinya ketika dia harus memilih kerjanya dalam proses kreatif teater.
Teater tradisi hidup dan dihidupi orang-orang yang lebih homogen dan memiliki semangat lokalitas yang tinggi. Mereka mempunyai hubungan yang intens, baik dalam proses kreatif maupun dalam hubungan sosial. Ada semangat kekerabatan yang berusaha selalu mereka tumbuhkan. Kesenian adalah sesuatu yang coba mereka pertahankan sebagai simbol komunal wilayah hidup.
Sedangkan teater modern adalah hasil pembelajaran dari tradisi barat, yang kemudian disikapi sebagai ilmu. Kalaupun toh kemudian ada yang memilih teater sebagai jalan, yang muncul kemudian adalah teater yang hidup dengan semangat memperbaharui yang terus-menerus dengan segala pencarian bentuk kreatifnya sebagai bahasa visual. Tradisi cuma sekadar aksesori, bahkan terkadang sampai melawan tradisi. Itu pilihan.
Pada akhirnya, teater modern Indonesia adalah kompleksitas. Membicarakan persoalan aktor, misalnya, mau tidak mau kita akan membicarakan teater sebagai sebuah disiplin. Termasuk masa lalunya.
Saya setuju dengan pendapat bahwa teater modern Indonesia masih memakai paradigma paternalistik. Munculnya kelompok-kelompok teater, berbiak dari teater-teater sebelumnya. Seperti layaknya sebuah keluarga, seorang anak yang sudah merasa dewasa dan ingin mandiri, tentu ada keinginan untuk memisahkan diri dari keluarga besarnya dan membentuk keluarganya sendiri. Maka keluarga-keluarga baru bermunculan. Itulah teater modern Indonesia. Budaya paternal yang dia cerap selama masa kanak-kanaknya itu tanpa sadar ikut terbawa ketika ia ingin berdiri sendiri. Terjadi pelembagaan terhadap budaya paternalistik.
Seorang aktor dalam kelompok terdahulunya akhirnya akan berkeinginan juga menjadi sutradara ketika dia keluar dan menciptakan kelompoknya sendiri. Keaktoran saja tidak cukup bagi seorang aktor. Sutradara adalah puncak pilihan.
Saya kira, inilah struktur berpikir yang kadung tertanam di benak—secara umum—para pekerja teater Indonesia. Dan kalau itu dianggap kesalahan, saya kira, itulah sebabnya yang berkembang kemudian adalah teater sutradara. Kita tidak pernah benar-benar lepas dari masa silam, atau bahkan tanpa masa silam seperti kata Arifin C. Noer almarhum. Kita masih terbelenggu dengan budaya paradigma lama yang paternal.
Pengertian antara teater sutradara dan teater aktor, bukanlah masalah penting. Yang harus kita tumbuhkan sekarang ini adalah sebuah teater yang benar-benar tanpa hubungan dengan para pendahulunya. Yang tidak membawa naluri tradisi paternalistik. Teater yang tidak peduli dengan masa lalunya sendiri. Teater yang berani memutus mata-rantai sejarah perkembangan sebelumnya. Tanpa masa silam yang sebenarnya.
Teater modern Indonesia kemudian lahir dari gagasan-gagasan dan kegelisahan sekumpulan orang yang meniatkan dirinya untuk melebur menjadi sebuah kelompok teater. Artinya: teater itu lahir bukan karena kegelisahan satu orang saja. Hal itu akan berpotensi ke arah teater sutradara seperti teater-teater Indonesia sebelumnya.
Niatan itu tentu saja harus didukung orang-orang dengan kemampuan dan kualitas yang memadai di bidangnya masing-masing. Baik itu pemain, sutradara, penulis naskah, bagian artistik, bahkan sampai di bidang manajerial. Semuanya dengan semangat dan visi yang sama. Tidak ada heirarki atas-bawah di dalamnya. Setiap individu mempunyai posisi yang sama pentingnya. Setiap orang berhak melemparkan gagasan untuk direspons dan didiskusikan bersama. Bagaimana individu yang memilih di bagian penulisan naskah kemudian serius mengerjakan tugasnya dari hasil diskusi itu. Bagian manajerial kemudian sibuk membuat surat-surat dan proposal pertunjukan. Para pemain giat mempersiapkan tubuhnya dalam latihan-latihan rutin. Bagian penyutradaraan memilih, siapa yang siap untuk menyutradarai gagasan itu.
Bagian-bagian itu kemudian dilembagakan. Setiap lembaga di dalamnya hanya mengurusi apa yang menjadi bagiannya. Orang yang harus menyutradarai, tidak serta-merta juga menjadi pimpinan produksi. Atau seorang pemain yang juga merangkap mengurusi surat-surat dan proposal yang harus dibuat. Dengan begitu, setiap orang akan mampu lebih maksimal mengerjakan apa yang menjadi tanggung-jawabnya.
Dalam teater seperti itu, akan lebih banyak memunculkan warna dan corak pada tiap produksi kreatifnya, karena setiap sutradara di dalamnya, dengan seluruh kapasitasnya, masing-masing mempunyai gaya dan cara pengucapannya yang khas. Seorang pemain akan lebih menemukan gaya aktingnya dari setiap sutradara yang berbeda.
Maka tidak penting lagi dipertanyakan, teater sutradara atau teater aktor yang muncul, atau malah teater naskah, karena ternyata naskah yang tertulis lebih kuat dibanding aktor atau sutradaranya, misalkan. Semuanya telah selesai ketika itu didiskusikan dan digodok hingga menjadi sebuah ide bersama yang lebih matang dan jelas.
Dalam teater seperti itu, keberagaman bentuk lebih berkemungkinan untuk menemukan semangat dan hidupnya. Dengan sendirinya, hal itu akan lebih memperkaya perkembangan teater modern Indonesia yang sudah memilih untuk melupakan masa lalunya dan menciptakan sejarah dan tradisinya sendiri.[]
* Penonton setia teater
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


pEnjelasan teNtang tEaterNa sUdah cUkp baEk,,
Komentar oleh titie Februari 7, 2008 @ 2:02 pmTapi, masih bElum sEsuai deNgan yaNg sEdang saya caRi..
GapapaLah, uNtuk rEfereNsi..
Gud luCk yaCh..
salam budaya to temen2 yang seneng seni, dan assalamua’alaikum wr.wb to saudara2ku muslimin.bsgus juga ada temen2 yang mempuyai kretivitas fresh seperti yang buat blesak, artinya penulis dapat memunculkan gagasan yang lain. n gara2 naskah diatas saya dapat menyelesaikan tugas. thanks ya frend.
Komentar oleh maxx_all Februari 7, 2008 @ 7:15 pm