Diarsipkan di bawah: agenda
Teks : Frino Bariarcianur Barus
Dalam dunia sastra Indonesia nama Saut Situmorang termasuk kategori kontroversial. Ini akibat kiprah dan karya sastranya kerap kali menyinggung persoalan sosial budaya, politik dan dirinya sendiri yang mengundang perdebatan di kalangan sastra Indonesia. Dalam peluncuran buku kumpulan puisi berjudul ‘Otobiografi’ , Saut Situmorang akan berkeliling pulau Jawa sambil membaca puisi.
Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Haliam HD, Forum Pinilih, Solo, acara ini digelar oleh Forum ‘Pinilih’ Solo bekerjasama dengan berbagai jaringan komunitas sastra, dewan kesenian, Forum Sasterwan Indonesia dan Fakultas Sastera di 12 kota di Pulau Jawa. Menurut Halim terdapat 18 mata acara dalam peluncuran buku dan pembacaan puisi penyair Saut Situmorang dalam kumpulan ‘otobiografi: kumpulan puisi 1987-2007′ yang diterbitkan oleh Penerbit [sic], jogja, 2007.
Lebih lanjut Halim menyatakan bahwa acara ini juga akan menggelar diskusi sastra dengan topik ‘Tradisi dan Bakat Individu’.
Saut Situmorang akan hadir di beberapa kota diantaranya : Ngawi [13-14 Februari 2008], Surabaya [15 Februari 2008, jam 13.30]di Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Pada tanggal 16 Februari 2008, 20.00 WIB, Saut hadir di Galeri Surabaya. Setelah itu hadir di kota Malang pada tanggal 17 Februari, 20.00 WIB di Komunitas Sastra Kayutaman. Berikutnya Saut juga akan hadir di Universitas Malang, Jember, Mojokerto, Stasiun Tua Gresik, Komunitas Sastra Kudus, Komunitas Sendang Mulyo Semarang, Tegal, Purwokerto, Sanggar Sastra Tasikmalaya dan Toku Buku Ultimus Bandung.
Pada pengantar kumpulan puisi ‘Otobiografi’, Saut berusaha membaca konstelasi dunia sastra di Indonesia. Menurut Saut,”Sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990-an adalah politik. Para penyair 1990-an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik, mempolitikan puisi, malah justeru pada periode inilah puisi politik mencapai puncak ekspresi artistiknya yang melampaui apa yang sebelumnya dikenal sebagai sajak-protes dan pamflet-penyair seperti pada puisi Wiji Thukul.”
Lebih lanjut Saut Situmorang dalam pengantar buku puisi ‘Otobiografi’ menyatakan bahwa pada puisi politik penyair seperti Wiji Thukul kita melihat betapa kemiskinan tidak lagi diromantiskan sebagai semacam ‘hidup alternatif’ dari ‘materialisme kota’ atau diabstrakan menjadi sekedar ‘teori pembangunan yang tidak membumi’ tapi merupakan pengalaman hidup sehari-hari yang harus dihidupi sang penyairnya sendiri. Subyektifitas pengalaman adalah realisme baru dalam puisi politik penyair 1990an.
Buku kumpulan puisi ‘Otobiografi’ memuat sekitar 185 puisi yang terbagi dalam tema Cinta, Politik, dan Rantau. Di akhir kumpulan pusi ini, Saut menulis tentang Tsunami dalam puisi Blues for Allah 1-3. Berikut petikan Blues for Allah 2,”The lonely moon and the silent night are what the tsunami left behind.”
Saut Situmorang adalah sosok penyair eksentrik dan kontroversial saat ini. Selalu gelisah dan rajin mengirim sms bila melihat persoalan yang menurutnya tidak benar. Salah satunya, ketika kematian Soeharto.
Ia termasuk orang yang tidak setuju dengan pembaptisan Soeharto sebagai pahlawan apalagi harus menaikkan bendera setengah tiang untuk menghormati seorang diktator seperti Soeharto. Ia mengirimkan sms bernada kemarahan. Bisa jadi juga kemarahan seperti di dalam beberapa puisinya atau statement di beberapa milis. Ia juga rajin minum bir bila malam tak lagi menjawab pertanyaannya. Banyak yang suka dengan Saut dan banyak juga yang tidak. Saut berdiri di tengah hiruk pikuk dunia sastra Indonesia saat ini.
Bila Anda berminat mengikuti ‘jalan-jalan’ ala Forum Pinilih Solo dan Saut Situmorang, silakan hubungi Halim HD di 081 331 607 420. []
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


SAUT… SAUTT,….
Mabokkk…. Baca puisi… debat…. mabok lagiiii….
aku mencintaimu sebanyak ketombe di rambutmu…. hahahaha
Komentar oleh qizinklaziva Februari 11, 2008 @ 3:01 pmWaow, Saut yang pendek itu kan? Lagi butuh duit ato ksistensi tuh, smp keliling kampung jual mulut bau :p
Komentar oleh wulan Februari 11, 2008 @ 3:33 pmPertanyaan buat wulan : tau mulut Saut bau darimana? pernah cium ya?
Komentar oleh beritaseni Februari 11, 2008 @ 6:04 pmwah mau keliling ya bang….. Selamat ya..oke kita tunggu omong besarmu itu, jangan yang biasa-biasa aja ya….yang rame, yang kisruh tapi jangan kau jadi Suharto lagi, dipuja orang, lalu dimaki seperti makian yang selalu kau bawa kemana-mana…”Taik Kucing!!” mudah-mudahan geliatmu bikin dunia sastra dan seni jadi lebih bersemangat. Balik dari tur kelilingmu itu jangan lupa bawa bekonang sama arak. Kita tunggu di Tirtodipuran.
Komentar oleh alfred pontolondo Februari 12, 2008 @ 6:32 amAda kejadian ajaib waktu aku buka web ini.
Komentar oleh Eny D. Setiawan Februari 20, 2008 @ 1:41 pmkejadian apa tuh?
Komentar oleh beritaseni Februari 20, 2008 @ 1:56 pmsang “penyair jembut” itu baru saja pentas di purwokerto
toh gayanya yang sederhana dengan setelan kaos oblong putih dan celana pendek tidak pernah menyurutkan antusiasme hadirin di tengah derasnya hujan
melihat rambut gimbalnya aja sudah sangar ahahaha, memang tokoh yang karismatik
Komentar oleh shinobigatakutmati Februari 28, 2008 @ 12:12 amMabok bir di tengah bulan yang telanjang
Mabok bir lagi,kemudian bercinta dengan katakata
mabok bir, ku nyanyikan blues buat saut yang tak takut TUK
Komentar oleh Ringo Mei 7, 2008 @ 12:37 pmBang Saut kapan bikin ribut di Jakarta bang???
Komentar oleh puncakdewa Mei 29, 2008 @ 5:23 pmsaut kerjaannya baca puisi…mabuk…puisi…mabuk
Komentar oleh shelton siage Juni 6, 2008 @ 5:53 pmsudah saatnya makan!
hati-hati di jalan ya Goenawan …
dag…
(seorang nirwan tiba-tiba menyeru)
Komentar oleh ab amarbi Juni 19, 2008 @ 8:30 pmBang Saut itu ibarat Thio Bu Kie yang lagi nemu ilmu Kiu Yan Sinkang yang dah lama ilang dari dunia Kangouw Sastra Indonesia. Bikin orang kecut.. Cepat atau lambat dia akan menggilas jago-jago tua yang dah loyo dan pendekar-pendekar muda yang ga berbakat tapi ngaku hebat. Dia adalah bengcu Sastra Indonesia masa depan.. Pengganti Soetardji yang dah kehilangan tajinya karena disumpal sama lapindo.. Maju terus bang.. Haiiiiiiiiiiiiiittt….!!
Komentar oleh Bubeng Siawcut Maret 7, 2009 @ 6:55 pmBang Saut! Aku udah buka komentar untuk Bang Saut. Sorry ya Bang! Itu komentar teman aku yg ngajarin bwt adress email.
Komentar oleh Shelton Siage Juni 11, 2009 @ 10:33 amBang Saut, maju terus!
hajar trus lae,,,,orang batak ga nyiut klo dikomen khan,,,,percaya diri akan karyamu…..
Komentar oleh Sintong Pardosi September 24, 2009 @ 11:16 pm