Diarsipkan di bawah: theatre
Teks : Frino Bariarcianur Barus
Perempuan punya kegelisahan. Di waktu siang dan di waktu malam. Kegelisahan perempuan bisa soal tubuh, bisa juga soal eksistensi dalam masyarakat, politik, kesetaraan dan seterusnya. Kegelisahan perempuan adalah juga kegelisahan tentang kemanusiaan. Lantas kegelisahan perempuan yang tertuang dalam pentas teater monolog “Perempuan Menuntut Malam” memberikan apa kepada kita?
Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Irina Dayasih, Manager Publikasi, pentas teater monolog “Perempuan Menuntut Malam” yang diproduksi oleh Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka di Jakarta, ingin kembali membicarakan soal cinta, rumah, sex, politik dan kekuasaan. Kegelisahan ini akan diwakilkan oleh sosok perempuan Politisi Anggota Parlemen, Pekerja Sex dan Ibu Rumah Tangga.
Naskah teater ini pula ditulis oleh Rieke Diah Pitaloka dan Faiza Mardzoeki. Dengan para pemain Rieke Diah Pitaloka, Niniek L. Karim dan Ria Irawan.
Kata Irina,”Ketiganya telah melakukan latihan hampir 2 bulan penuh demi memainkan peran yang naskahnya sarat dengan sentilan kritis, diwarnai kelucuan-kelucuan dan hal-hal yang mengharukan.” Irina juga menjelaskan bahwa teater monolog yang akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, 8-9 Maret 2008, akan mengajak kita untuk merenungkan apa yang sedang terjadi dengan perempuan Indonesia dan merefleksikan situasi politik paling aktual yang terjadi di negeri ini.
Untuk sutradara pementasan didaulatlah Moh Marzuki atau kini dikenal dengan Kill The DJ, seorang seniman muda dari Jogyajakarta yang baru selesai menjadi pengarah dramartugi pada pertunjukan Monolog Sarimin oleh Butet Kertarejasa. Zuki dulu sangat dikenal dengan aksi performance art yang menyetrum dirinya dengan listrik. Bersama kawan-kawan di Jogyakarta ia membentuk Performance-Fucktory.
Dalam pementasan ini akan mengintegrasikan video rekam dengan naskah cerita. Videografinya dikerjakan Chandra Hutagaol, tata suara dan musik oleh Yoseph Herman Susilo. Tata cahaya dipegang oleh Aziz Dying. Sebuah komposisi tim yang mengedepankan eksplorasi visual, suara, cahaya dan tata gerak yang tak biasa. Kalau bisa dibilang pementasan ini, Zuki banget!
Jadi jangan heran pementasan yang dipersembahkan bagi perayaan Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret nanti penuh dengan kejutan. ”Kami ingin memaknai Hari Perempuan Internasional ini dengan sesuatu yang kreatif, kritis dan estetis,” kata Irina.
”Perempuan Menuntut Malam”, sebuah kegelisahan sosok perempuan Indonesia? Kegelisahan kemanusiaan? Atau hanya sekedar sebuah produksi teater yang berakhir dengan tepuk tangan. Kita lihat saja nanti. Yuuu, mari.[]
Informasi :
Irina Dayasih, Manager Publikasi
Telp. dan Fax: 021-8304531; HP: 08128362711 HP: 08158946404
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


good luck yah!
Komentar oleh Nisrina Maret 3, 2008 @ 6:33 ampunya naskahnya??
Komentar oleh rHe Maret 7, 2008 @ 3:12 pm