<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Komentar di: Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa</title>
	<atom:link href="http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/</link>
	<description>kantor berita seni indonesia</description>
	<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 01:43:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
		<item>
		<title>Oleh: Nurel Javissyarqi</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-859</link>
		<dc:creator>Nurel Javissyarqi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:07:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-859</guid>
		<description>Sebenarnya saya malas ikut campur soal ini, tapi adanya pemojokkan saudara Katrin dr sisi lahir, saya yg bernafas dari bumi pertiwi ini juga, merasa tak nyaman jika tak menghargainya. Kalau di kalangan nadzliyin ada istilah Setengah Wali, saya sebut Katrin itu setengah K'tut Tantri, pun saya rasa Said sepakat hal ini (pengelana dr tlatah lamongan).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya malas ikut campur soal ini, tapi adanya pemojokkan saudara Katrin dr sisi lahir, saya yg bernafas dari bumi pertiwi ini juga, merasa tak nyaman jika tak menghargainya. Kalau di kalangan nadzliyin ada istilah Setengah Wali, saya sebut Katrin itu setengah K&#8217;tut Tantri, pun saya rasa Said sepakat hal ini (pengelana dr tlatah lamongan).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: beritaseni</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-798</link>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 08:55:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-798</guid>
		<description>Bang Saut, terima kasih banyak. Dan turut berduka atas kejadian yang menimpa dikau. Di beritaseni, kami percaya, bahwa kita semua bisa menjaga kebebasan itu. 

O ya, dunia sastra Indonesia saat ini gak bekalan seru kalau gak ada kritik dari Saut Situmorang. Eh, kalau gak ada Katrin Bandel ding.

hehehe...

Tetap semangat dan jaga kesehatan Bang Saut!


salam
frino</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Saut, terima kasih banyak. Dan turut berduka atas kejadian yang menimpa dikau. Di beritaseni, kami percaya, bahwa kita semua bisa menjaga kebebasan itu. </p>
<p>O ya, dunia sastra Indonesia saat ini gak bekalan seru kalau gak ada kritik dari Saut Situmorang. Eh, kalau gak ada Katrin Bandel ding.</p>
<p>hehehe&#8230;</p>
<p>Tetap semangat dan jaga kesehatan Bang Saut!</p>
<p>salam<br />
frino</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-793</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 14:53:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-793</guid>
		<description>untuk KANTOR BERITASENI INDONESIA!

TERIMAKASIH BANYAK BAHWA KALIAN TELAH MEMBERIKAN RUANG UNTUK MELUASKAN DEBAT SOAL ESEI KATRIN BANDEL YANG TERBIT DI KORAN REPUBLIKA ITU! KALIAN JAUH LEBIH MENGERTI APA ITU "DEMOKRASI" DALAM MENGELUARKAN PENDAPAT DIBANDING MILIS GOMBAL JURNALPEREMPUAN. MILIS PARA KUNTILANAK ITU BERPRETENSI MENGERTI MAKNA "DEMOKRASI" (AKU MALAH DIKATAKAN "PENGKHIANAT DEMOKRASI" SETELAH AKU MEREKA CEKAL!), "FEMINIS", "ILMIAH" DAN SEDERET KATA-KATA BESAR LAINNYA TAPI DALAM PRAKTEKNYA JUSTRU MENGENTUTIN SEMUA ISTILAH TERSEBUT! MEREKA MAMPUNYA CUMAN MELAKUKAN CHARACTER ASSASINATION TERUTAMA ATAS DIRIKU SAUT SITUMORANG (KETAWA "HAHAHA..." AJA AKU DILARANG!!!) DAN ITU MAKIN INTENS MEREKA LAKUKAN SETELAH "MEMODERASI" AKU DI MILIS GOMBAL MEREKA ITU. BAHKAN UNTUK MENGATAKAN "MENCEKAL" AJA PARA KUNTILANAK BETINA DAN JANTAN HISTERIS MILIS TERSEBUT KAGAK BERANI!!! KANTOR BERITASENI INDONESIA MERUPAKAN CONTOH PAR EXCELLENCE DARI SEBUAH MEDIA INTERNET YANG MENGHORMATI EKSPRESI PENDAPAT SIAPAPUN! KARENA INTERNET ADALAH SEBUAH RUANG, SEBUAH CYBERSPACE, YANG PALING MENGHORMATI KEBEBASAN BEREKSPRESI PARA CYBORG YANG MENGHUNINYA! BETAPA DEKADENNYA INDONESIA KALAU "ELITE INTELEKTUALNYA" MELAKUKAN APA YANG KONON MEREKA BENCI DARI REJIM FASCIS MILITER SUHARTO!!!

HORAS JALA GABE!!!
HIDUP DAN BERKEMBANGBIAKLAH PEMIKIRAN KRITIS DI KEPALA-KEPALA ORANG INDONESIA, BAIK YANG PENUH INDONESIA APALAGI YANG CUMAN SETENGAH INDONESIA!!!

HAHAHA...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk KANTOR BERITASENI INDONESIA!</p>
<p>TERIMAKASIH BANYAK BAHWA KALIAN TELAH MEMBERIKAN RUANG UNTUK MELUASKAN DEBAT SOAL ESEI KATRIN BANDEL YANG TERBIT DI KORAN REPUBLIKA ITU! KALIAN JAUH LEBIH MENGERTI APA ITU &#8220;DEMOKRASI&#8221; DALAM MENGELUARKAN PENDAPAT DIBANDING MILIS GOMBAL JURNALPEREMPUAN. MILIS PARA KUNTILANAK ITU BERPRETENSI MENGERTI MAKNA &#8220;DEMOKRASI&#8221; (AKU MALAH DIKATAKAN &#8220;PENGKHIANAT DEMOKRASI&#8221; SETELAH AKU MEREKA CEKAL!), &#8220;FEMINIS&#8221;, &#8220;ILMIAH&#8221; DAN SEDERET KATA-KATA BESAR LAINNYA TAPI DALAM PRAKTEKNYA JUSTRU MENGENTUTIN SEMUA ISTILAH TERSEBUT! MEREKA MAMPUNYA CUMAN MELAKUKAN CHARACTER ASSASINATION TERUTAMA ATAS DIRIKU SAUT SITUMORANG (KETAWA &#8220;HAHAHA&#8230;&#8221; AJA AKU DILARANG!!!) DAN ITU MAKIN INTENS MEREKA LAKUKAN SETELAH &#8220;MEMODERASI&#8221; AKU DI MILIS GOMBAL MEREKA ITU. BAHKAN UNTUK MENGATAKAN &#8220;MENCEKAL&#8221; AJA PARA KUNTILANAK BETINA DAN JANTAN HISTERIS MILIS TERSEBUT KAGAK BERANI!!! KANTOR BERITASENI INDONESIA MERUPAKAN CONTOH PAR EXCELLENCE DARI SEBUAH MEDIA INTERNET YANG MENGHORMATI EKSPRESI PENDAPAT SIAPAPUN! KARENA INTERNET ADALAH SEBUAH RUANG, SEBUAH CYBERSPACE, YANG PALING MENGHORMATI KEBEBASAN BEREKSPRESI PARA CYBORG YANG MENGHUNINYA! BETAPA DEKADENNYA INDONESIA KALAU &#8220;ELITE INTELEKTUALNYA&#8221; MELAKUKAN APA YANG KONON MEREKA BENCI DARI REJIM FASCIS MILITER SUHARTO!!!</p>
<p>HORAS JALA GABE!!!<br />
HIDUP DAN BERKEMBANGBIAKLAH PEMIKIRAN KRITIS DI KEPALA-KEPALA ORANG INDONESIA, BAIK YANG PENUH INDONESIA APALAGI YANG CUMAN SETENGAH INDONESIA!!!</p>
<p>HAHAHA&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-792</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 14:32:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-792</guid>
		<description>coba kita simak "bahasa" postingan dari salah seorang "moderator" (moderat?!) milis jurnalperempuanhisteris yang mencekal aku Saut Situmorang untuk merespons serangan-serangan personal (gak ada yang di luar itu!) dari para kuntilanak betina dan jantan di milis gombalnya itu! namanya dewi chandraningrum.

Kawan-kawan yang indah,!
greetings macam apa ini! apa ada greetings kayak gini di bahasa apapun di planet ini! dalam bhs Inggris ada "beautiful friends" tapi apa itu artinya "kawan-kawan yang indah"! gawat! ato mungkin yang doi maksudkan kawan-kawannya yang "namanya" adalah "Indah"!!! hahaha...

Kawan-kawan yang indah,!
coba lihat istilah "pengawak" yang dipakeknya dalam pengawak penerbitan Horlemann itu. "pengawak"! macam mana pulak istilah ini! awak sampek kentut membacanya bah! hahaha... awak kapal itu semua orang tahu ada! awak urang awak pun ada! tapi "awak penerbitan"!!! alamakjang oi...

ada lagi!
dalam tulisan jeleknya yang konon untuk merespons esei mukjijat Katrin Bandel berjudul "Politik Etik Kesusasteraan", dia pakek istilah "Kesusasteraan". mana ada lagi istilah ini dalam sastra kontemporer Indonesia! mana ada itu "Fakultas Sastera"! mana ada itu "sasterawan", ato "sastera(wan)wangi"! ke mane aje lo!!!

lalu soal "humanisme" dalam kritik sastra.
parah kali kadaluarsanya pengetahuan sastra dosen universitas muhamadiyah surakarta ini! dasar bukan orang sastra seh lo, hahaha... humanisme abad sembilanbelas yang lo pakek itu udah gak gaul lagi dalam membicarakan sastra! udah lama mampus. (kok gak Frankfurt School yang lo baca!)  di sastra bhs inggris, mampus bersama mampusnya FR Leavis. tau lo siapa doi?! dimampusin ama TS Eliot dan New Criticism amrik dan Formalisme Rusia. kerna kritik "humanis" itu gak "ilmiah", gak bawa studi sastra ke mana-mana! lalu tambah dimampusin ama Strukturalisme Prancis dan Pascastrukturalisme. baca lagi dong buku A Teeuw kalok lo gak bisa baca nyang versi internasional, hahaha...

humanisme diltheymu itu gak gitu berpengaruh dibanding humanisme Matthew Arnold dari inggris di dunia sastra! nah kalok elo emang cuman mampu nyang ngumanis, bacalah Arnold. bacalah Leavis. bacalah HB Jassin, hahaha...

untung elo gak nulis tulisan jelekmu itu di kalangan orang sastra Jerman. bisa dipertanyakan-kembali tuh beasiswa yang membuatmu bisa sekolah di negeri Katrin Bandelku sayang itu!!!

hahaha...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>coba kita simak &#8220;bahasa&#8221; postingan dari salah seorang &#8220;moderator&#8221; (moderat?!) milis jurnalperempuanhisteris yang mencekal aku Saut Situmorang untuk merespons serangan-serangan personal (gak ada yang di luar itu!) dari para kuntilanak betina dan jantan di milis gombalnya itu! namanya dewi chandraningrum.</p>
<p>Kawan-kawan yang indah,!<br />
greetings macam apa ini! apa ada greetings kayak gini di bahasa apapun di planet ini! dalam bhs Inggris ada &#8220;beautiful friends&#8221; tapi apa itu artinya &#8220;kawan-kawan yang indah&#8221;! gawat! ato mungkin yang doi maksudkan kawan-kawannya yang &#8220;namanya&#8221; adalah &#8220;Indah&#8221;!!! hahaha&#8230;</p>
<p>Kawan-kawan yang indah,!<br />
coba lihat istilah &#8220;pengawak&#8221; yang dipakeknya dalam pengawak penerbitan Horlemann itu. &#8220;pengawak&#8221;! macam mana pulak istilah ini! awak sampek kentut membacanya bah! hahaha&#8230; awak kapal itu semua orang tahu ada! awak urang awak pun ada! tapi &#8220;awak penerbitan&#8221;!!! alamakjang oi&#8230;</p>
<p>ada lagi!<br />
dalam tulisan jeleknya yang konon untuk merespons esei mukjijat Katrin Bandel berjudul &#8220;Politik Etik Kesusasteraan&#8221;, dia pakek istilah &#8220;Kesusasteraan&#8221;. mana ada lagi istilah ini dalam sastra kontemporer Indonesia! mana ada itu &#8220;Fakultas Sastera&#8221;! mana ada itu &#8220;sasterawan&#8221;, ato &#8220;sastera(wan)wangi&#8221;! ke mane aje lo!!!</p>
<p>lalu soal &#8220;humanisme&#8221; dalam kritik sastra.<br />
parah kali kadaluarsanya pengetahuan sastra dosen universitas muhamadiyah surakarta ini! dasar bukan orang sastra seh lo, hahaha&#8230; humanisme abad sembilanbelas yang lo pakek itu udah gak gaul lagi dalam membicarakan sastra! udah lama mampus. (kok gak Frankfurt School yang lo baca!)  di sastra bhs inggris, mampus bersama mampusnya FR Leavis. tau lo siapa doi?! dimampusin ama TS Eliot dan New Criticism amrik dan Formalisme Rusia. kerna kritik &#8220;humanis&#8221; itu gak &#8220;ilmiah&#8221;, gak bawa studi sastra ke mana-mana! lalu tambah dimampusin ama Strukturalisme Prancis dan Pascastrukturalisme. baca lagi dong buku A Teeuw kalok lo gak bisa baca nyang versi internasional, hahaha&#8230;</p>
<p>humanisme diltheymu itu gak gitu berpengaruh dibanding humanisme Matthew Arnold dari inggris di dunia sastra! nah kalok elo emang cuman mampu nyang ngumanis, bacalah Arnold. bacalah Leavis. bacalah HB Jassin, hahaha&#8230;</p>
<p>untung elo gak nulis tulisan jelekmu itu di kalangan orang sastra Jerman. bisa dipertanyakan-kembali tuh beasiswa yang membuatmu bisa sekolah di negeri Katrin Bandelku sayang itu!!!</p>
<p>hahaha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-791</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:30:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-791</guid>
		<description>untuk Sri Ningsih

setelah membaca promosi anda atas Horlemann, bukankah Katrin Bandel memang benar! penerbit Horlemann itu memang kecil! dan apa bukan karena kecilnya itulah maka Horlemann berusaha mencari pasar "lain" alternatif untuk bisa hidup! tentu saja dengan menjual/menerbitkan buku-buku dari Dunia Ketiga seperti Indonesia. dan ini klise! terutama di Barat sono. apalagi dengan makin malunya Barat saat ini dengan masa lalu mereka sebagai kekuatan kolonial di "Timur"! bukan cuman penerbitan buku aja yang mereka lakukan, pameran seni rupa, festival film Dunia Ketiga, sampai pemberian "beasiswa" kepada para elite intelektual Dunia Ketiga!

Salman Rushdie pernah bilang, dalam konteks pascakolonial negeri-negeri bekas jajahan Inggris, "The empire writes back!" dan Rushdie adalah salah satu dari mereka yang menulis kembali itu. apa Indonesia pernah menulis kembali?! cuma Pramoedya Ananta Toer!!! kenapa? kerna mayoritas "elite" Indonesia itu seperti anda, membela-bela sebuah aksi Barat yang konon "humanis" walo sebenarnya tak beda ama "kolonialisme terselubung"! kerna Horlemann "menerbitkan" seleksi fiksi Indonesia, dan ikut jadi sponsor kedatangan Pak Pram ke Jerman!, maka hebatlah Horlemann itu! walo hasil kerjanya secara umum di pasar pembaca sastra Internasional Jerman belom menunjukkan apa-apa!!! apa penerbitan fiksi Indonesia itu memang sudah membuat para pengarang yang beruntung itu dikenal luas di Jerman, di luar lingkaran akademik mahasiswa dan dosen yang belajar "bahasa" Indonesia!

jangan mengada-ada ah. kalok penerbitan fiksi Indonesia oleh Horlemann sudah menunjukkan hasil yang memuaskan pasti para penerbit besar Jerman akan berusaha menerbitkan karya sastra Indonesia juga! mereka akan berusaha ambil-alih hak terbit dari Horlemann! kerna sudah ada pasar yang menunggu karya-karya sastra Indonesia. kenyataannya apa begitu?!

justru karena hal ini tidak terjadi maka benarlah bahwa Horlemann itu cuma sebuah penerbit kecil doang. bahkan kecil dalam arti pengaruh penerbitannya atas dikenal luasnya atau tidak sastra Indonesia di Jerman. jadi benarlah tesis Katrin Bandelku tersayang itu!!!

hahaha...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>untuk Sri Ningsih</p>
<p>setelah membaca promosi anda atas Horlemann, bukankah Katrin Bandel memang benar! penerbit Horlemann itu memang kecil! dan apa bukan karena kecilnya itulah maka Horlemann berusaha mencari pasar &#8220;lain&#8221; alternatif untuk bisa hidup! tentu saja dengan menjual/menerbitkan buku-buku dari Dunia Ketiga seperti Indonesia. dan ini klise! terutama di Barat sono. apalagi dengan makin malunya Barat saat ini dengan masa lalu mereka sebagai kekuatan kolonial di &#8220;Timur&#8221;! bukan cuman penerbitan buku aja yang mereka lakukan, pameran seni rupa, festival film Dunia Ketiga, sampai pemberian &#8220;beasiswa&#8221; kepada para elite intelektual Dunia Ketiga!</p>
<p>Salman Rushdie pernah bilang, dalam konteks pascakolonial negeri-negeri bekas jajahan Inggris, &#8220;The empire writes back!&#8221; dan Rushdie adalah salah satu dari mereka yang menulis kembali itu. apa Indonesia pernah menulis kembali?! cuma Pramoedya Ananta Toer!!! kenapa? kerna mayoritas &#8220;elite&#8221; Indonesia itu seperti anda, membela-bela sebuah aksi Barat yang konon &#8220;humanis&#8221; walo sebenarnya tak beda ama &#8220;kolonialisme terselubung&#8221;! kerna Horlemann &#8220;menerbitkan&#8221; seleksi fiksi Indonesia, dan ikut jadi sponsor kedatangan Pak Pram ke Jerman!, maka hebatlah Horlemann itu! walo hasil kerjanya secara umum di pasar pembaca sastra Internasional Jerman belom menunjukkan apa-apa!!! apa penerbitan fiksi Indonesia itu memang sudah membuat para pengarang yang beruntung itu dikenal luas di Jerman, di luar lingkaran akademik mahasiswa dan dosen yang belajar &#8220;bahasa&#8221; Indonesia!</p>
<p>jangan mengada-ada ah. kalok penerbitan fiksi Indonesia oleh Horlemann sudah menunjukkan hasil yang memuaskan pasti para penerbit besar Jerman akan berusaha menerbitkan karya sastra Indonesia juga! mereka akan berusaha ambil-alih hak terbit dari Horlemann! kerna sudah ada pasar yang menunggu karya-karya sastra Indonesia. kenyataannya apa begitu?!</p>
<p>justru karena hal ini tidak terjadi maka benarlah bahwa Horlemann itu cuma sebuah penerbit kecil doang. bahkan kecil dalam arti pengaruh penerbitannya atas dikenal luasnya atau tidak sastra Indonesia di Jerman. jadi benarlah tesis Katrin Bandelku tersayang itu!!!</p>
<p>hahaha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-790</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:10:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-790</guid>
		<description>Untuk Katrin F yang Rasis!

USE YOUR FUCKING HEAD YOURSELF, WOMAN!

do you think that just by being a "half" Indonesian it's okay for you to use "sterotypes" of US Indonesian in an article intended to be read by Western foreigners! who created those stereotypes? US Indonesians? or white people the colonizer of the islands of Indonesia? not just white people created and used those fucking racist stereotypes but also "half" Indonesians or Indos like yourself! the so-called stereotype of "Indonesians are always late" (a habit typical for Indonesians!!!) was created together with another "stereotype": THE LAZY MALAYS!

so you are one of US, eh! just because you are "half" Indonesian! look at your name. is it very "Indonesian" to you!!!

full-blooded Indonesians themselves can be racist towards Indonesia(ns), why a "half" Indonesian" can't! are "half" Indonesians better "Indonesian"!!!

most racisms are unconscious, but in your case it is very obvious! as a full-blooded "Indonesian" I'm very very fucking pissed off with you, woman!

use you fuckin' head next time you write about US!

how come a racist like you work for Goethe Institute?! you are only a disgrace to Goethe's name!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Katrin F yang Rasis!</p>
<p>USE YOUR FUCKING HEAD YOURSELF, WOMAN!</p>
<p>do you think that just by being a &#8220;half&#8221; Indonesian it&#8217;s okay for you to use &#8220;sterotypes&#8221; of US Indonesian in an article intended to be read by Western foreigners! who created those stereotypes? US Indonesians? or white people the colonizer of the islands of Indonesia? not just white people created and used those fucking racist stereotypes but also &#8220;half&#8221; Indonesians or Indos like yourself! the so-called stereotype of &#8220;Indonesians are always late&#8221; (a habit typical for Indonesians!!!) was created together with another &#8220;stereotype&#8221;: THE LAZY MALAYS!</p>
<p>so you are one of US, eh! just because you are &#8220;half&#8221; Indonesian! look at your name. is it very &#8220;Indonesian&#8221; to you!!!</p>
<p>full-blooded Indonesians themselves can be racist towards Indonesia(ns), why a &#8220;half&#8221; Indonesian&#8221; can&#8217;t! are &#8220;half&#8221; Indonesians better &#8220;Indonesian&#8221;!!!</p>
<p>most racisms are unconscious, but in your case it is very obvious! as a full-blooded &#8220;Indonesian&#8221; I&#8217;m very very fucking pissed off with you, woman!</p>
<p>use you fuckin&#8217; head next time you write about US!</p>
<p>how come a racist like you work for Goethe Institute?! you are only a disgrace to Goethe&#8217;s name!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: beritaseni</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-789</link>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:10:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-789</guid>
		<description>Penerbit Horlemann &#38; Kesusasteraan Indonesia di Jerman 

Kawan-kawan yang indah,

Berikut adalah tulisan dari Mbak Sri, seperti yang telah tempo hari kami janjikan bersama. Terima kasih kawan-kawan JP, yang telah sudi
memuatnya. Semoga berkenan dan selamat membaca. Dan, salam indah dari Aachen &#38; Munster, (Mbak Sri &#38; dewi).

http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-88%7CX

Artikel Perempuan
Jumat, 11 April 2008

Penerbit Horlemann dan Kesusasteraan Indonesia di Jerman
Oleh: Sri Ningsih

(Catatan atas tulisan Katrin Bandel di Harian Republika, Membongkar Kasus `Politik Sastra Gombal', 23 Maret 2008).

Novel Saman karya Ayu Utami telah diterjemahkan dan diterbitkan di Perancis dan Jerman serta pemberian Prince Claus Award untuk Saman telah mengundang diskusi dan perdebatan yang cukup hangat dalam mailing list Jurnal Perempuan. Perbedaan terjadi dengan munculnya beberapa esei Katrin Bandel di Republika beberapa waktu yang lalu.

Beberapa tahun yang lampau, seorang anak muda pernah mempertanyakan "bagaimana sejatinya kearifan bisa dicapai? Apa bentuknya? Dan bagaimana pula ukurannya? Apakah kearifan adalah semata-mata sekumpulan teori dan adagium—atau sebaliknya, dibutuhkan kerangka dan cara pandang lain untuk mendapat penjelasan yang lebih masuk akal (?) Atau sedikit "bergenit" dengan istilah ilmiah: lebih empirik dan emplementatif?" (Agus Haryadi, 16 November 2004).

Pertanyaan ini menjadi aktual dalam menghadapi perbedaan pendapat baru-baru ini dalam memberikan penilaian terhadap Saman dan penulisnya. Sayang sekali, diskusi yang cukup hangat itu, hanya berputar-putar di sekitar kehidupan pribadi penulisnya—terutama hal-hal yang dianggap kelemahan-kelemahannya, bukan penilaian terhadap Saman sebagai hasil karya sastra. Perbedaan akan selalu dibutuhkan untuk bisa terus maju. Masalahnya, apakah kita sudah cukup menggunakan sekadar kearifan yang ada? Sehingga perbedaan-perbedaan itu bisa dihadapi dengan tujuan mencapai langkah-langkah yang lebih jauh maju.

Horlemann Verlag adalah penerbit yang menerjemahkan dan menerbitkan
Saman di Jerman, yang disebut oleh Katrin Bandel "hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman" oleh
karena itu "penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar". Apa ukuran besar kecilnya Penerbit Horlemann itu? Apakah yang dimaksud `besar-kecil' adalah jumlah omsetnya? Berapa kali bisa "melakukan obral buku" dan menurunkan harga yang disebabkan oleh over produksi? Apakah ukuran stand di Pameran Buku di Frankfurt? Apakah publikasinya di media-media besar? Atau penerbitannya yang bisa disinetronkan, lantas ia bisa disebut penerbit besar?

Dari segi fisik, memang Horlemann hanyalah sebuah penerbit kecil. Kalau dilihat dari ukuran gedung, jumlah pegawai, dan jumlah agennya. Kalau dibandingkan dengan Springer, atau Burda, atau RoRoRo di Jerman, Horlemann tentulah "hanya penerbit kecil, imut-imut'. Tetapi tunggu dulu, tengoklah hasilnya! Horlemann tidak hanya menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya dari Indonesia, namun dari hampir semua negara Asia Tenggara: Vietnam, Kamboja, India, Malaysia. Juga dari beberapa karya dari negara Amerika Latin, Afrika dan lain-lain. Kadang Horlemann justru menerbitkan karya-karya "kecil" dari Dunia Ketiga yang dikenal hanya oleh "segelintir orang". Disinilah letak kebesaran Horlemann. Membuat penulis atau sastrwan yang tidak dikenal, menjadi dikenal. Membuat dari yang segelintir menjadi dua, tiga, seribu gelintir. Membuat publik Jerman mengenal dan bisa membaca karya-kaya dari berbagai bangsa dan tradisi-tradisi di luar Jerman.

Perjuangan Horlemann untuk terus memperkenalkan karya-karya kecil dari Dunia Berkembang merupakan jembatan di bumi manusia yang "tak kan lekang oleh panas, tak kan lapuk oleh hujan". Juga tidak oleh perubahan klima. Untuk Indonesia saja, sudah beberapa hasil karya penulis Indonesia yang sudah diterbitkan oleh "penerbit kecil" ini. Mulai dari Armin Pane sampai Umar Kayam. Juga Leila S. Chudori dan sekarang Ayu Utami. Kunjungan Pramoedya Ananta Toer dan keliling Jerman di tahun 1999, antara lain didukung oleh Horlemann Verlag, dan bukan oleh penerbit lain. Buat pencinta sastra Indonesia di Jerman, penerbit Horlemann memiliki tempat istimewa tersendiri.

Di setiap Pameran Buku di Frankfurt, stand Horlemann terasa kecil memang apabila dibanding dengan penerbit-penerbit besar lainnya. Tetapi, ketegarannya untuk tetap bertahan dan hadir bukan hal yang sepele. Di pasaran buku Jerman, Horlemann nampak bagaikan ikan kecil yang sigap dan berani berenang di perairan yang penuh arus, di tengah ikan kakap dan hiu yang sewaktu-waktu bisa menelannya. Seperti pedagang kecil namun tangguh berjualan di tengah persaingan pasar bebas yang kejam.

Kleine Schritte, grosse Wirkung, langkah kecil, berakibat besar! 

Aachen, 09 april 2008.

*Penulis adalah Board LSM Eine Welt Forum Aachen, Jerman.

Diposting dimilis JP, 10 April 2008 dan dipublish di JP Onine tanggal 11 April 2008</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Penerbit Horlemann &amp; Kesusasteraan Indonesia di Jerman </p>
<p>Kawan-kawan yang indah,</p>
<p>Berikut adalah tulisan dari Mbak Sri, seperti yang telah tempo hari kami janjikan bersama. Terima kasih kawan-kawan JP, yang telah sudi<br />
memuatnya. Semoga berkenan dan selamat membaca. Dan, salam indah dari Aachen &amp; Munster, (Mbak Sri &amp; dewi).</p>
<p><a href="http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-88%7CX" rel="nofollow">http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-88%7CX</a></p>
<p>Artikel Perempuan<br />
Jumat, 11 April 2008</p>
<p>Penerbit Horlemann dan Kesusasteraan Indonesia di Jerman<br />
Oleh: Sri Ningsih</p>
<p>(Catatan atas tulisan Katrin Bandel di Harian Republika, Membongkar Kasus `Politik Sastra Gombal&#8217;, 23 Maret 2008).</p>
<p>Novel Saman karya Ayu Utami telah diterjemahkan dan diterbitkan di Perancis dan Jerman serta pemberian Prince Claus Award untuk Saman telah mengundang diskusi dan perdebatan yang cukup hangat dalam mailing list Jurnal Perempuan. Perbedaan terjadi dengan munculnya beberapa esei Katrin Bandel di Republika beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Beberapa tahun yang lampau, seorang anak muda pernah mempertanyakan &#8220;bagaimana sejatinya kearifan bisa dicapai? Apa bentuknya? Dan bagaimana pula ukurannya? Apakah kearifan adalah semata-mata sekumpulan teori dan adagium—atau sebaliknya, dibutuhkan kerangka dan cara pandang lain untuk mendapat penjelasan yang lebih masuk akal (?) Atau sedikit &#8220;bergenit&#8221; dengan istilah ilmiah: lebih empirik dan emplementatif?&#8221; (Agus Haryadi, 16 November 2004).</p>
<p>Pertanyaan ini menjadi aktual dalam menghadapi perbedaan pendapat baru-baru ini dalam memberikan penilaian terhadap Saman dan penulisnya. Sayang sekali, diskusi yang cukup hangat itu, hanya berputar-putar di sekitar kehidupan pribadi penulisnya—terutama hal-hal yang dianggap kelemahan-kelemahannya, bukan penilaian terhadap Saman sebagai hasil karya sastra. Perbedaan akan selalu dibutuhkan untuk bisa terus maju. Masalahnya, apakah kita sudah cukup menggunakan sekadar kearifan yang ada? Sehingga perbedaan-perbedaan itu bisa dihadapi dengan tujuan mencapai langkah-langkah yang lebih jauh maju.</p>
<p>Horlemann Verlag adalah penerbit yang menerjemahkan dan menerbitkan<br />
Saman di Jerman, yang disebut oleh Katrin Bandel &#8220;hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman&#8221; oleh<br />
karena itu &#8220;penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar&#8221;. Apa ukuran besar kecilnya Penerbit Horlemann itu? Apakah yang dimaksud `besar-kecil&#8217; adalah jumlah omsetnya? Berapa kali bisa &#8220;melakukan obral buku&#8221; dan menurunkan harga yang disebabkan oleh over produksi? Apakah ukuran stand di Pameran Buku di Frankfurt? Apakah publikasinya di media-media besar? Atau penerbitannya yang bisa disinetronkan, lantas ia bisa disebut penerbit besar?</p>
<p>Dari segi fisik, memang Horlemann hanyalah sebuah penerbit kecil. Kalau dilihat dari ukuran gedung, jumlah pegawai, dan jumlah agennya. Kalau dibandingkan dengan Springer, atau Burda, atau RoRoRo di Jerman, Horlemann tentulah &#8220;hanya penerbit kecil, imut-imut&#8217;. Tetapi tunggu dulu, tengoklah hasilnya! Horlemann tidak hanya menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya dari Indonesia, namun dari hampir semua negara Asia Tenggara: Vietnam, Kamboja, India, Malaysia. Juga dari beberapa karya dari negara Amerika Latin, Afrika dan lain-lain. Kadang Horlemann justru menerbitkan karya-karya &#8220;kecil&#8221; dari Dunia Ketiga yang dikenal hanya oleh &#8220;segelintir orang&#8221;. Disinilah letak kebesaran Horlemann. Membuat penulis atau sastrwan yang tidak dikenal, menjadi dikenal. Membuat dari yang segelintir menjadi dua, tiga, seribu gelintir. Membuat publik Jerman mengenal dan bisa membaca karya-kaya dari berbagai bangsa dan tradisi-tradisi di luar Jerman.</p>
<p>Perjuangan Horlemann untuk terus memperkenalkan karya-karya kecil dari Dunia Berkembang merupakan jembatan di bumi manusia yang &#8220;tak kan lekang oleh panas, tak kan lapuk oleh hujan&#8221;. Juga tidak oleh perubahan klima. Untuk Indonesia saja, sudah beberapa hasil karya penulis Indonesia yang sudah diterbitkan oleh &#8220;penerbit kecil&#8221; ini. Mulai dari Armin Pane sampai Umar Kayam. Juga Leila S. Chudori dan sekarang Ayu Utami. Kunjungan Pramoedya Ananta Toer dan keliling Jerman di tahun 1999, antara lain didukung oleh Horlemann Verlag, dan bukan oleh penerbit lain. Buat pencinta sastra Indonesia di Jerman, penerbit Horlemann memiliki tempat istimewa tersendiri.</p>
<p>Di setiap Pameran Buku di Frankfurt, stand Horlemann terasa kecil memang apabila dibanding dengan penerbit-penerbit besar lainnya. Tetapi, ketegarannya untuk tetap bertahan dan hadir bukan hal yang sepele. Di pasaran buku Jerman, Horlemann nampak bagaikan ikan kecil yang sigap dan berani berenang di perairan yang penuh arus, di tengah ikan kakap dan hiu yang sewaktu-waktu bisa menelannya. Seperti pedagang kecil namun tangguh berjualan di tengah persaingan pasar bebas yang kejam.</p>
<p>Kleine Schritte, grosse Wirkung, langkah kecil, berakibat besar! </p>
<p>Aachen, 09 april 2008.</p>
<p>*Penulis adalah Board LSM Eine Welt Forum Aachen, Jerman.</p>
<p>Diposting dimilis JP, 10 April 2008 dan dipublish di JP Onine tanggal 11 April 2008</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Beritaseni</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-787</link>
		<dc:creator>Beritaseni</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:44:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-787</guid>
		<description>Kawan-kawan yang indah,

1. Penerbit Horlemann yang kecil &#38; kurang bergengsi itu  Saya barusan mendapatkan informasi dari kolega perempuan yang mengawaki LSM Eine Welt Forum Aachen, Mbak Sri Ningsih. Mbak Sri menginformasi kisah yang sangat inspiratif. Dia menceritakan bahwa Penerbit Horlemann memang "kecil dan kurang bergengsi", seperti tulisan Katrin Bandel (Bag 1), tetapi karya pengawaknya luar biasa. 

Seorang perempuan yang rela hidup sederhana agar penerbitannya tetap hidup. Saat-saat pameran buku, Buchmesse, Verlag Horlemann tampak kecil di sekitar penerbit-penerbit kakap. Tetapi stand Verlag Horlemann berdiri gagah dengan keyakinan mendukung penerbitan juga penerjemahan, karya-karya para penulis, Asia bahkan, yang sama sekali kecil dan tidak terkenal. Kawan-kawan dapat mengakses link berikut: 
http://www.horlemann.info/joomla/neuerscheinungen/neuerscheinungen.html

2.Sederhana, memperjuangkan suara yang jauh
Ada dua pelajaran yang saya petik dari kisah Mbak Sri ini. Pertama, kesederhanaan perempuan pengawak Verlag Horlemann untuk menghidupi penerbitannya yang idealis. Kedua, kesetiaan untuk memunculkan suara-suara dari jauh, yang bahkan tidak terdengar oleh publik di Jerman.

Lepas dari persoalan penerbitan, saya melihat bahwa Saman, karya Ayu Utami, tetap tumbuh, baik dikritik dan dipuji, di beberapa Universitas di Jerman.

 Terima kasih Mbak Sri. Mbak Sri ada di milis kita ini juga. Saya
 banyak belajar dari Mbak. Tentang perempuan dan negara, terutama.
 Selengkapnya Mbak Sri akan menuliskannya untuk kita, nanti.

Dich fest umarme,
Dewi Chandraningrum

[Diposting di milis Jurnal Perempuan, 10 April 2008]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan-kawan yang indah,</p>
<p>1. Penerbit Horlemann yang kecil &amp; kurang bergengsi itu  Saya barusan mendapatkan informasi dari kolega perempuan yang mengawaki LSM Eine Welt Forum Aachen, Mbak Sri Ningsih. Mbak Sri menginformasi kisah yang sangat inspiratif. Dia menceritakan bahwa Penerbit Horlemann memang &#8220;kecil dan kurang bergengsi&#8221;, seperti tulisan Katrin Bandel (Bag 1), tetapi karya pengawaknya luar biasa. </p>
<p>Seorang perempuan yang rela hidup sederhana agar penerbitannya tetap hidup. Saat-saat pameran buku, Buchmesse, Verlag Horlemann tampak kecil di sekitar penerbit-penerbit kakap. Tetapi stand Verlag Horlemann berdiri gagah dengan keyakinan mendukung penerbitan juga penerjemahan, karya-karya para penulis, Asia bahkan, yang sama sekali kecil dan tidak terkenal. Kawan-kawan dapat mengakses link berikut:<br />
<a href="http://www.horlemann.info/joomla/neuerscheinungen/neuerscheinungen.html" rel="nofollow">http://www.horlemann.info/joomla/neuerscheinungen/neuerscheinungen.html</a></p>
<p>2.Sederhana, memperjuangkan suara yang jauh<br />
Ada dua pelajaran yang saya petik dari kisah Mbak Sri ini. Pertama, kesederhanaan perempuan pengawak Verlag Horlemann untuk menghidupi penerbitannya yang idealis. Kedua, kesetiaan untuk memunculkan suara-suara dari jauh, yang bahkan tidak terdengar oleh publik di Jerman.</p>
<p>Lepas dari persoalan penerbitan, saya melihat bahwa Saman, karya Ayu Utami, tetap tumbuh, baik dikritik dan dipuji, di beberapa Universitas di Jerman.</p>
<p> Terima kasih Mbak Sri. Mbak Sri ada di milis kita ini juga. Saya<br />
 banyak belajar dari Mbak. Tentang perempuan dan negara, terutama.<br />
 Selengkapnya Mbak Sri akan menuliskannya untuk kita, nanti.</p>
<p>Dich fest umarme,<br />
Dewi Chandraningrum</p>
<p>[Diposting di milis Jurnal Perempuan, 10 April 2008]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dewi Candraningrum di milis JP, 12 April 2008</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-786</link>
		<dc:creator>Dewi Candraningrum di milis JP, 12 April 2008</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:33:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-786</guid>
		<description>Katrin Figge Keberatan Dicitrakan Rasis oleh Katrin Bandel 

Kawan-kawan yang indah,
Katrin Bandel yang indah,

1. Katrin Figge Bukan Orang Asing
Berikut ada kiriman lagi dari seorang sahabat. Tentang siapa sebenarnya Katrin Figge, yang dikutip pernyataannya oleh Katrin Bandel
dalam tulisan Bag 2 di Harian Republika. Katrin Bandel menyebutkan Katrin Figge sebagai "orang asing". Sementara Katrin Figge menulis bahwa dirinya "half Indonesian myself".

2. Katrin Figge sangat keberatan dicitrakan sbg "Rasis"
Ketika pernyataan Katrin Figge dicitrakan oleh Katrin Bandel sebagai "luar biasa rasis", Katrin Figge menulis: "Me, HALF INDONESIAN MYSELF,
is said to be racist against my own people? The people of this country I love? Please!"

Lengkapnya, silahkan dibaca tulisan Katrin Figge di bawah ini. Semoga Katrin Bandel bersedia membaca juga. Dan, memberikan tanggapan. Terima
kasih, 

dan salam indah, 

dewi.


3. Tanggapan Katrin Figge atas Katrin Bandel
Katrin Figge Menulis, sumber : http://smilefromheaven.blogspot.com/
Wednesday, April 02, 2008

Idyll's End

An abstract from an article by Katrin Bandel published in "Republika":

'Mari kita kembali sejenak pada laporan wawancara Katrin Frigge yang sudah saya bicarakan di awal tulisan ini. Figge membuka laporannya dengan kedua kalimat:

"Ayu Utami kommt zu spaet. Eine typisch indonesische Angewohnheit --
aber wohl ihre einzige." (Ayu Utami datang terlambat. Kebiasaan yang khas Indonesia -- tapi sepertinya satu-satunya kebiasaannya yang khas
Indonesia.")

Bukankah penggambaran tersebut luar biasa rasis?'


I guess you can say many things about me. But being a RACIST is certainly the most ridiculous thing I've ever heard. At first, I was
really HURT by this accusation. Now I'm mostly pissed off.

Please, woman, use your head. Me, HALF INDONESIAN MYSELF, is said to be racist against my own people? The people of this country I LOVE?
Please!

If I use the sentence "Ayu Utami is late. A habit typical for Indonesians - but probably her only one" in an article, does that make me a racist? You could tell me, I use stereotypes, you can tell me I use clichés. But RACIST?

Are you fucking kidding me?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Katrin Figge Keberatan Dicitrakan Rasis oleh Katrin Bandel </p>
<p>Kawan-kawan yang indah,<br />
Katrin Bandel yang indah,</p>
<p>1. Katrin Figge Bukan Orang Asing<br />
Berikut ada kiriman lagi dari seorang sahabat. Tentang siapa sebenarnya Katrin Figge, yang dikutip pernyataannya oleh Katrin Bandel<br />
dalam tulisan Bag 2 di Harian Republika. Katrin Bandel menyebutkan Katrin Figge sebagai &#8220;orang asing&#8221;. Sementara Katrin Figge menulis bahwa dirinya &#8220;half Indonesian myself&#8221;.</p>
<p>2. Katrin Figge sangat keberatan dicitrakan sbg &#8220;Rasis&#8221;<br />
Ketika pernyataan Katrin Figge dicitrakan oleh Katrin Bandel sebagai &#8220;luar biasa rasis&#8221;, Katrin Figge menulis: &#8220;Me, HALF INDONESIAN MYSELF,<br />
is said to be racist against my own people? The people of this country I love? Please!&#8221;</p>
<p>Lengkapnya, silahkan dibaca tulisan Katrin Figge di bawah ini. Semoga Katrin Bandel bersedia membaca juga. Dan, memberikan tanggapan. Terima<br />
kasih, </p>
<p>dan salam indah, </p>
<p>dewi.</p>
<p>3. Tanggapan Katrin Figge atas Katrin Bandel<br />
Katrin Figge Menulis, sumber : <a href="http://smilefromheaven.blogspot.com/" rel="nofollow">http://smilefromheaven.blogspot.com/</a><br />
Wednesday, April 02, 2008</p>
<p>Idyll&#8217;s End</p>
<p>An abstract from an article by Katrin Bandel published in &#8220;Republika&#8221;:</p>
<p>&#8216;Mari kita kembali sejenak pada laporan wawancara Katrin Frigge yang sudah saya bicarakan di awal tulisan ini. Figge membuka laporannya dengan kedua kalimat:</p>
<p>&#8220;Ayu Utami kommt zu spaet. Eine typisch indonesische Angewohnheit &#8211;<br />
aber wohl ihre einzige.&#8221; (Ayu Utami datang terlambat. Kebiasaan yang khas Indonesia &#8212; tapi sepertinya satu-satunya kebiasaannya yang khas<br />
Indonesia.&#8221 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bukankah penggambaran tersebut luar biasa rasis?&#8217;</p>
<p>I guess you can say many things about me. But being a RACIST is certainly the most ridiculous thing I&#8217;ve ever heard. At first, I was<br />
really HURT by this accusation. Now I&#8217;m mostly pissed off.</p>
<p>Please, woman, use your head. Me, HALF INDONESIAN MYSELF, is said to be racist against my own people? The people of this country I LOVE?<br />
Please!</p>
<p>If I use the sentence &#8220;Ayu Utami is late. A habit typical for Indonesians - but probably her only one&#8221; in an article, does that make me a racist? You could tell me, I use stereotypes, you can tell me I use clichés. But RACIST?</p>
<p>Are you fucking kidding me?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/03/28/saman-dalam-kebohongan-politik-sastra/#comment-785</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:18:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=508#comment-785</guid>
		<description>buat si Nong, eks manajer JIL yang sekarang jadi manajer umum Freedom Institute si Om Bakrie di atas.

apa memang benar Goenawan Mohamad "selalu mengusulkan orang atau lembaga yang berhak mendapat penghargaan misalnya LKIS Jogya yg mendapatkan penghargaan ini di 2 tahun lalu"!!!
Dongeng dari mana ini, sayang? hahaha...

bukankah yang benar adalah Goenawan Mohamad yang mengusulkan kelompoknya sendiri yaitu Jaringan Islam Liberal alias JIL untuk menang tapi presentasinya dimentahkan oleh seorang peneliti Islam di Jawa asal Belanda (?) sehingga LKiS Jogja yang menang Prince Claus Award tahun itu!!! 

bo'ong mulu!!!

hahaha...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>buat si Nong, eks manajer JIL yang sekarang jadi manajer umum Freedom Institute si Om Bakrie di atas.</p>
<p>apa memang benar Goenawan Mohamad &#8220;selalu mengusulkan orang atau lembaga yang berhak mendapat penghargaan misalnya LKIS Jogya yg mendapatkan penghargaan ini di 2 tahun lalu&#8221;!!!<br />
Dongeng dari mana ini, sayang? hahaha&#8230;</p>
<p>bukankah yang benar adalah Goenawan Mohamad yang mengusulkan kelompoknya sendiri yaitu Jaringan Islam Liberal alias JIL untuk menang tapi presentasinya dimentahkan oleh seorang peneliti Islam di Jawa asal Belanda (?) sehingga LKiS Jogja yang menang Prince Claus Award tahun itu!!! </p>
<p>bo&#8217;ong mulu!!!</p>
<p>hahaha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
