Indonesia Art News Agency


Horlemann, Dewi Candraningrum dan Soal Rasisme Katrin Figge
April 16, 2008, 10:17 pm
Diarsipkan di bawah: Literature | Tag: , ,

Oleh : Katrin Bandel*
Sebetulnya tulisan Dewi Candraningrum berjudul “Politik Etik Kesusasteraan” yang dipostingnya di milis jurnal perempuan saya anggap kurang pantas ditanggapi. Kalimat pertama saja sudah bersalahan: “Membongkar Kasus `Politik Sastra Gombal’” (bukan “Membongkar Kasus Politik `Sastra Gombal’ seperti yang ditulis Dewi) adalah judul bagian 2 esei saya, bukan bagian 1 & 2 seperti yang ditulis Dewi – bagian pertama (oleh Republika) diberi judul “Saman dalam `Kebohongan’ Politik Sastra”! Isi tulisan Dewi selanjutnya hanyalah uraian panjang tentang hal-hal yang tidak relevan, dengan gaya sok berteori, tapi tanpa substansi sama sekali. Apa yang mau ditanggapi? Tapi karena beberapa orang mengontak saya, meminta saya menjawab tulisan itu, saya memutuskan untuk menggunakan kesempatan ini untuk mengklarifikasi beberapa hal. Rupanya banyak orang mengikuti perdebatan ini dan menunggu kelanjutannya, Dewi, maka jangan kelewat gegabah amat! Anda tak malu ditertawakan seantero jagat raya sastra cyber Indonesia?

Tulisan Dewi dimulai dengan penjelasan panjang lebar mengenai Horlemann yang sedikit pun tidak ada relevansinya sebagai kritik terhadap esei saya. Saking sibuknya Dewi itu dengan “moderasi”nya (meskipun dia “lupa” memoderasi tulisan Katrin Figge yang memakai “perolok” berupa kata “fucking”), tak tamatlah dia membaca teks esei saya yang tak seberapa panjang dan sulit dipahami itu. Di awal esei saya, saya mengatakan bahwa Horlemann “hanya penerbit kecil”. Kelewatan sekali kalau itu dibaca sebagai keterangan yang menjatuhkan atau melecehkan penerbit tersebut. Sejak kapan kata “kecil” bersifat melecehkan? Dan Horlemann memang kecil, begitulah kenyataannya. Lalu di pertengahan esei saya, ketika saya membahas tulisan Peter Sternagel di website Vienna Poetry School, saya mengatakan:

“Tulisan Sternagel merupakan ringkasan Saman, sekaligus pujian terhadap novel itu yang jelas-jelas ditulis antara lain dalam rangka menemukan penerbit untuk buku yang sedang diterjemahkannya tersebut [rupanya Sternagel dan Ayu Utami awalnya berharap menemukan penerbit yang lebih "bergengsi" daripada Horlemann, tapi tidak berhasil].”

Tak dilihat si Dewi bahwa ada tanda yang dalam bahasa Jerman disebut “kaki angsa” (Gänsefüsschen) alias tanda kutip di depan dan di belakang kata “bergengsi”! Bukankah sudah sangat jelas maksud saya di situ, yaitu bahwa bukan bagi saya “bergengsi” atau tidaknya Horlemann menjadi persoalan, tapi bagi Sternagel dan Ayu Utami?!

Tapi mungkin memahami makna tanda kutip (yang di Jerman disebut “kaki angsa” justru agar gampang diingat setiap anak SD!), adalah tugas yang terlalu berat untuk otak yang setumpul otak si “tabir bijaksana” yang sok berbahasa Jerman itu (memang hanya sok berbahasa Jerman – liebe ini, lieber itu, tapi sekali menulis salam penutup yang hanya terdiri dari tiga kata (“dich fest umarme”), sudah bersalahan!) . Maka saya akan mencoba menjelaskan secara lebih jelas lagi apa yang sebetulnya sudah jelas dalam esei saya:

Sternagel [penerjemah "Saman"] menutup tulisan pendeknya [2 halaman] tentang novel “Saman” seperti berikut: “Ayu Utami membawa angin baru ke dalam dunia sastra Indonesia. Dia mewakili generasi baru yang berorientasi pada masa depan, tampil percaya diri dan ingin menempuh jalannya sendiri. Dan mutu karyanya demikian tinggi sehingga pantas diberi perhatian. Pembaca Jerman pun perlu diberi kesempatan membaca buku yang telah dia tulis itu lewat sebuah terjemahan.”

Atas dasar akhir tulisan tersebut saya mengatakan bahwa tulisan Sternagel “jelas-jelas ditulis antara lain dalam rangka menemukan penerbit untuk buku yang sedang diterjemahkannya tersebut”. Ayu Utami menjadi “guru mengarang” di website itu pada tahun 2002; Horlemann menerbitkan novel “Saman” pada akhir tahun 2007. Mengapa ada rentang waktu 5 tahun antara usaha “pengiklanan” Sternagel di atas dengan penerbitannya oleh penerbit Horlemann? Apakah karena Horlemann begitu sulit di”lobby” sehingga setelah dirayu selama 5 tahun barulah penerbit yang memang sudah punya perhatian khusus terhadap sastra Indonesia itu (seperti yang dijelaskan panjang lebar oleh Dewi sendiri) bersedia menerbitkan “Saman”? Tentu tidak. Sudah bertahun-tahun sebelum “Saman” terbit di Jerman, saya mendengar dari
seorang pengarang Jerman yang kenal dengan Ayu Utami bahwa novel itu sudah selesai diterjemahkan, dan penerbit yang bersedia menerbitkannya sedang dicari. Dan yang ditawari naskah itu awalnya bukanlah penerbit Horlemann, tapi penerbit lain yang lebih besar dan lebih terkenal! Karena rupanya tidak berhasil – menurut pengarang Jerman itu (yang sempat dimintai tolong menawarkannya kepada penerbit) alasannya adalah bahwa mutu novel itu memang kurang memadai, sehingga tidak ada penerbit yang tertarik – akhirnya Horlemannlah yang menjadi alternatif terakhir. Maka, kalau memang ada yang ingin dituduh melecehkan Horlemann, seharusnya Ayu dan Sternagel yang menjadi sasaran! Mereka tidak puas melihat novel “Saman” bersanding dengan karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Oka Rusmini, Leila S. Chudori, Armijn Pane dll di Horlemann. Mereka memilih Horlemann bukan atas dasar penghargaan terhadap penerbit kecil yang “berjasa” menerbitkan terjemahan sejumlah karya sastra Indonesia itu, tapi sekadar karena terpaksa – tak ada penerbit lain yang mau menerima novel yang konon “bermutu tinggi” itu!

Maka, Dewi, baca dong esei saya dengan benar sebelum menyerang! Sudah capek-capek melakukan “investigasi informasi”, ternyata salah sasaran melulu …Kalau memang ingin menanggapi esei saya di Republika itu, tanggapilah kritik yang benar-benar saya lakukan, bukan kritik yang hanya ada dalam imajinasi Anda belaka!

Dalam kaitannya dengan penerbit Horlemann, yang saya kritik bukanlah kecil atau tak “bergengsi”nya Horlemann, atau perhatian Horlemann pada sastra Indonesia, tapi 1. pilihan Horlemann untuk menerbitkan “Saman”, dan 2. teks yang dipakai Horlemann untuk mengiklankan “Saman”. Apa keberatan saya, tak perlu saya ulangi lagi di sini!

Ada hal lain yang tidak saya singgung dalam esei saya, tapi menarik dibahas dalam konteks membicarakan kebijakan Horlemann dalam kasus novel “Saman”. Ada sesuatu yang cukup mencolok pada “Saman” versi Horlemann dibandingkan buku Horlemann yang lain, yaitu sampulnya.

Kebanyakan buku sastra Indonesia terbitan Horlemann menggunakan lukisan sebagai gambar sampul. Pilihan lukisan itu dan design sampulnya menurut saya sering tidak begitu menarik, tapi tidak juga jelek. Bisa dibilang biasa saja: norak tidak, istimewa juga tidak. Tapi sampul “Saman” berbeda: Yang tampil di sampul itu adalah foto Ayu Utami yang jelas “dicantik-cantikkan “, dengan pakaian seksi [belahan dada rendah]. Gambar itu membuat Birgit Koss [yang resensi radionya saya bicarakan di bagian akhir esei saya) berkomentar dengan agak sinis tentang tahi lalat di kening Ayu Utami yang rupanya dihilangkan [mungkin pakai photoshop atau program sejenis].

Dan seorang kawan, mahasiswi S3 jurusan bahasa dan sastra Indonesia di Hamburg, berkomentar seperti berikut (japri pada saya, terjemahan saya dari bahasa Jerman):

“Kau sudah lihat cover versi Jerman `Saman’? Tak kusangka Horlemann bisa seperti itu, covernya seperti sebuah brosur `istri impor’: `Wujudkan impian Anda tentang surga dunia – pilihlah di antara perempuan eksotis dan seksi ini’ … mengerikan sekali.

Sepertinya mereka tidak yakin bahwa `subversifnya’ `Saman’ yang diheboh-hebohkan itu akan cukup sebagai stategi pemasaran … lebih baik menambah sedikit kulit telanjang perempuan coklat dan mata berbentuk amandel!” Terlepas dari apakah kita menyukai novel “Saman” atau tidak, bukankah eksotisme yang dikritik secara tepat sekali oleh kawan saya itu sudah jelas pantas disesalkan? Di manakah suara Anda sebagai “feminis” dalam kasus ini, Dewi? [Sampul lain yang juga cukup norak adalah sampul novel Oka Rusmini, dengan foto penari Bali berlatar laut, sunset, dan pohon palem – persis seperti brosur turisme! Silakan melihat daftar buku Horlemann di http://www.horleman n.info/joomla/ asien/b-cher/belletristik/asien.html [seksi sastra Asia]. Nah, sekali lagi, Dewi, di mana suara Anda sebagai “feminis”? Di antara tiga penulis perempuan Indonesia yang karyanya diterbitkan oleh Horlemann, dua dipasarkan lewat stereotipe eksotisme perempuan Asia semacam itu, dan Anda tetap merasa tak ada persoalan?!]

Ada satu lagi persoalan seputar penerbit Horlemann yang ingin saya komentari.

Dalam tulisan Dewi maupun tulisan Sri Ningsih disebut bahwa Horlemann antara lain menerbitkan karya Pramoedya. Tapi mereka “lupa” menerangkan bahwa terjemahan Jerman karya Pram juga diterbitkan oleh penerbit lain, yaitu Rowohlt (salah satu penerbit terbesar di Jerman) dan Unionsverlag (juga penerbit besar). Kalau di antara penulis Indonesia (yang semuanya kurang dikenal di Jerman) Pramoedyalah yang paling terkenal, itu bukan terutama berkat jasa Horlemann! Saya bukan ingin menjatuhkan nama penerbit Horlemann, tapi sikap Dewi dan Sri yang membela dan mempromosikan Horlemann secara sangat berlebihan, tidak bisa saya terima. Dalam hal penerbitan dan promosi “Saman” menurut pandangan saya jelas
Horlemann pantas dikritik. Di samping itu, secara umum saya kurang menyukai kebijakan Horlemann yang menerbitkan hampir semua bukunya (termasuk “Saman”) hanya dalam edisi hardcover yang relatif mahal.

Bagi saya kebijakan semacam itu terkesan elitis dan tidak sesuai dengan citra diri Horlemann sebagai penerbit alternatif. Sebuah komentar menarik tentang Horlemann saya dapatkan dari seorang pengarang senior Indonesia yang eksil di Jerman. Antara lain beliau mengatakan (japri pada saya):

“Tahun 1971 saya pernah bertemu Horlemann di Berlin sebagai ketua KPD-AO (Komunistische Partei Deutschland – Aufbau Organisation) yang banyak membantu usaha eksistensi kami waktu itu. Kini KPD-AO tak ada lagi. Beberapa tahun lalu Horlemann meninggal dunia tetapi sebelumnya sempat mendirikan Penerbit Horlemann (Horlemann Verlag). [...] [Tentang tema perjuangan HAM dalam "Saman" dan keterlibatan Ayu Utami di AJI] dapat dibaca pada sebuah resensi yang ditulis oleh Peter Sternagel yang tentu saja penting buat reklame komersial Horlemann Verlag yang banyak bau-bau seksualitasnya. “

Bagi saya sikap pengarang senior itu sangat menarik: Jasa Horlemann (dalam konteks ini jasa Horlemann secara pribadi, bukan sebagai penerbit) dihormati dan dihargai, tapi kebijakan penerbit Horlemann tetap ditanggapi secara kritis dan kontekstual!

Kembali pada tulisan Dewi. Ulasannya di bawah judul “Politik Komunikasi” terdiri hanya dari sederet nama penulis Indonesia dan judul karya mereka dalam bahasa Jerman [paling tidak seharusnya ditambahi judul aslinya biar tulisan itu bermakna bagi pembaca Indonesia! sok berbicara tentang terjemahan sebagai "jantung komunikasi peradaban", tapi hal sesederhana itu saja tak diperhatikan!] dan komentar sok canggih tentang “multivokalitas” . Padahal yang disampaikan hanya bahwa novel Ayu Utami bukan satu-satunya karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Jerman.

Lha, terus kenapa rupanya? Yang bilang bahwa Ayu Utami satu-satunya siapa?

Horlemann memang menerbitkan cukup banyak terjemahan karya sastra Indonesia. Di antara buku terjemahan itu tentu bukan hanya “Saman” yang pantas dikritik atau dipertanyakan. Kita dapat saja bertanya, misalnya, mengapa kumpulan cerpen Leila S. Chuduri diterjemahkan ke bahasa Jerman – bukankah dia hanya menulis satu kumpulan cerpen, kemudian (sampai sekarang) tidak terlibat lagi dalam dunia sastra Indonesia? Tapi kritik seperti itu saya anggap kurang relevan dan tidak terlalu perlu pada saat ini. Penerbitan buku Leila S. Chudori tidak disertai klaim-klaim yang berlebihan seperti penerbitan “Saman”. Yang menjadi persoalan bagi saya justru bahwa Ayu Utami dicitrakan bukan sekadar sebagai salah satu dari sekian banyak suara dari Indonesia, atau dari Asia (artinya, bagian dari “multivokalitas” yang disebut-sebut Dewi), tapi sebagai suara yang lebih penting, lebih bermutu, lebih perlu diperhatikan daripada yang lain!

Dewi memberi data yang sok lengkap tentang penerjemahan karya Indonesia ke bahasa Jerman dan sebaliknya, tapi dengan cara yang menyesatkan bagi pembaca Indonesia. Bukan hanya dia tidak menyebut buku Pramoedya yang diterbitkan Rowohlt dan Unionsverlag. Cara dia menderet-deretkan judul terjemahan juga cenderung menimbulkan kesan yang salah. Mana bisa terjemahan di jurnal “Orientierungen” disamakan dengan buku-buku terbitan Horlemann?!

“Orientierungen” adalah jurnal untuk kalangan yang terbatas sekali, yaitu para akademisi dan segelintir orang lain yang punya perhatian khusus pada budaya Asia, sedangkan Horlemann menerbitkan buku untuk pembaca umum!

Dewi dkk menuduh saya “mengecilkan” alias melecehkan penerbitan karya sastra Indonesia dalam terjemahan Jerman. Lalu mereka menjawab dengan “membesar-besarkan” penerbit Horlemann dan jurnal “Orientierungen” . Lha! Saya tak punya persoalan dengan kecilnya Horlemann dan Orientierungen itu – yang punya persoalan dengan itu rupanya justru Dewi dkk! Sastra Indonesia memang tidak dianggap di Jerman sana! Di mana letak negaranya saja banyak orang tak tahu, apalagi membaca sastranya!

Kenyataan itu bisa saja kita sesalkan, tapi buat apa ditutup-tutupi?!

Dan apakah kemudian setiap usaha untuk “mengangkat” sastra Indonesia mesti dibela secara membabi-buta dan menghalalkan segala cara, termasuk eskploitasi seksual dan eksotisme seperti dalam kasus
sampul “Saman”?

Ngomong-ngomong soal “Orientierungen” , kebetulan saya baru saja dihubungi Pak Damshäuser yang ternyata memperhatikan debat kita ini, diminta menulis versi Jerman esei saya “Politik Sastra KUK di Eropa” untuk diterbitkan di “Orientierungen” , kalau bisa dilengkapi dengan komentar seputar polemik yang ditimbulkan esei itu. Nama Anda sebagai moderator pencekal tentu tak akan lupa saya sebut, Dewi Candraningrum …

“Argumen” kedua Dewi, yaitu bahwa saya melakukan “pencitraan kurang adil” terhadap Katrin Figge, sama tak berdasar dan tak relevan dengan ulasannya mengenai jasa penerbit Horlemann. Semakin menggelikan saja: Jadi sekarang saya disuruh bukan hanya mewawancarai GM dan Ayu Utami, tapi juga Katrin Figge? Kenapa tidak sekalian Martin Amanshauser, Peter Sternagel, Birgit Koss, penerbit Horlemann dan Prince Claus Fund?

Sekali lagi, Dewi: Baca dong esei saya! Sudah saya jelaskan di sana dengan sejelas-jelasnya bagian tulisan Figge yang mana yang saya anggap rasis, dan apa alasannya. [Kebetulan bagian 2 di Republika berakhir dengan pertanyaan "Bukankah penggambaran tersebut luar biasa rasis?", dan penjelasan seputar rasisme itu berlanjut di bagian 3.] Jadi kalau ingin menyerang saya, jangan ngawurlah, melantur ke mana-mana. Kalau argumentasi saya bahwa tulisan Figge itu rasis tidak masuk akal bagi Anda, tunjukkanlah di mana kelemahannya!

Terus-menerus di milis Dewi dan “kawan-kawan indah”nya itu saya dituduh “gosip” belaka. Sekarang yang sibuk menggosip siapa? Kritik saya terhadap tulisan Figge tiba-tiba digambarkannya seakan-akan tujuan saya adalah menjatuhkan dan menjelek-jelekkan nama Figge.

Saya tidak pernah bertemu dengan Katrin Figge. Mendengar namanya saja tidak pernah sebelum membaca laporan wawancaranya dengan Ayu Utami. Jelas saya tidak punya urusan pribadi apa pun dengan dia. Yang terjadi sederhana saja, tapi mungkin tak terbayangkan oleh otak si “tabir bijaksana” yang rupanya bekerja hanya berdasarkan perkawanan atau permusuhan pribadi itu (– kawan dibela, lawan disensor –): Saya membaca tulisan Figge, dan tulisan itu menurut pengamatan saya rasis, maka rasisme itu yang saya kritik.

Bisa saja Figge tidak merasa menulis sesuatu yang rasis. Bahkan sangat besar kemungkinannya, sebab kalau sebagai pegawai Goethe Institut dia dengan sadar bersikap rasis, kelewatan sekali! Tapi kalau Figge sendiri tidak merasa rasis, bukan berarti bahwa tulisannya memang tidak rasis! Anda ngerti nggak perbedaan itu, Dewi? Bukankah Anda dan “kawan-kawan indah” Anda sendiri yang terus-menerus mempertahankan bahwa sebuah teks tidak bisa dinilai (hanya) dengan melihat faktor ektratekstual? Lalu bagaimana Anda tiba-tiba bisa berargumentasi bahwa hanya karena Figge sendiri mengatakan dirinya tidak rasis, maka tulisannya memang tidak rasis? Dan apa pula relevansi pengakuan Figge bahwa dia “setengah Indonesia” dalam konteks itu? Kalau Figge berdarah Indonesia, berarti tidak mungkin dia rasis terhadap orang Indonesia? Dewi, Dewi … ternyata Anda pun rasis pula!

Bagian terakhir tulisan Dewi membuat saya semakin menggeleng-gelengkan kepala. Setelah sok posmo di bagian awal tulisannya (“multivokalitas” dst), kini dia tiba-tiba merujuk pada Wilhelm Dilthey! Tak tahukah Anda, Dewi, bahwa pandangan ala Dilthey yang melihat karya sastra sebagai ekspresi tertinggi otak genius atau “spirit” (Geist) sang pengarang sudah lama sekali ditinggalkan?

Tak sadarkah Anda bahwa pemikiran Dilthey dikembangkan menjadi dasar paham nasionalis yang mengagungkan “spirit”/semangat Jerman ["deutscher Geist"] di zaman republik Weimar? Dan bahwa nasionalisme semacam itu sudah tak jauh dari nasionalsosialisme yang memuja “ras Aria” dan ingin mengeliminasi “ras” lain? Dan tak tahukah Anda bahwa perlawanan terhadap paham ala Dilthey itu justru dilakukan antara lain oleh dua gerakan yang seharusnya mendapat simpati dan perhatian Anda sebagai perempuan Indonesia, yaitu feminisme dan studi pascakolonial?

Dan mengapa pula di saat orang Jerman sendiri sudah menggantikan konsep “Geisteswissenschaf ten” yang ketinggalan zaman itu dengan “Kulturwissenschaft en” – istilah “Geisteswissenschaf ten” paling-paling masih dipakai dalam formalitas dan admistrasi kampus [msl. nama fakultas], maklum administrasi memang sering lambat mengikuti perubahan –, Anda masih membela-belanya?

[Dulu orang Jerman membedakan antara "Geisteswissenschaf ten", "Naturwissenschafte n", ilmu "spirit"/jiwa dan ilmu alam. Karena kata "Geisteswissenschaf ten" yang berdasar pada konsep elitis tentang budaya/seni sebagai "pencapaian tertinggi peradaban" terasa tidak sesuai dengan zaman lagi, kemudian muncul istilah "Kulturwissenschaft en" [ilmu budaya] yang lebih netral dan egaliter.]

Apa nggak terbalik dunia ini – Anda menyerang saya dengan konsep-konsep yang sudah ketinggalan zaman dari budaya saya sendiri?! Dan apa pula hubungan semua itu dengan tema utama debat kita, dan tema esei saya, yaitu politik sastra KUK? Entah apa yang dimaksudkan Dewi dengan “politik etik” dalam bagian terakhir tulisan jeleknya itu. Apa “etik” itu? Kita mau diajak kembali pada etika ala Dilthey mungkin? Etika macam apa itu, dan bagaimana membayangkannya pada masa kini? Mungkin kita disuruh berlutut kagum di hadapan nilai-nilai kebijaksanaan hidup yang terpancar dari karya agung sang
genius Ayu Utami? Hahaha….[]

* Kritikus Sastra, tinggal di Yogyakarta, http://www.katrinbandel.com

** Sumber image Sampul buku Ayu Utami http://www.horlemann.info/joomla/virtuemart/autoren-und-herausgeber/s-z/utami/saman.html?flypage=garden_flypage. Image diambil oleh beritaseni

*** Judul asli tulisan Katrin Bandel : Polemik politik sastra KUK: tanggapan untuk Dewi Candraningrum, tapi kemudian diubah oleh Redaksi Beritaseni. Semoga pembaca terutama penulis tidak berkeberatan.


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Katrin yang indah,

Terima kasih atas tulisan yang indah ini. Sebagai manusia, untuk itulah saya harus belajar banyak. Anda benar sekali menyebut “otak saya tumpul”. Dengan begitu, semakin ingat akan raya yang hikmat
dengan pancaran cahayanya. Tulisan saya dulu, untuk memberikan “catatan kaki” atas tulisan anda yang dulu. Tidak diniatkan untuk “menyerang” dan bukan tulisan atas “sok” atau “canggih”. Dia hanyalah sekedar semir sepatu atas tulisan anda dulu.

“Ayu utami istri impor”? “Ayu Utami cantik”? Iya, jelas dia cantik. Sangat cantik. Dan, ketika saya melihat foto Katrin Bandel, saya melihat cahaya indah atas kecantikan serupa. Kita, para perempuan ini, dikaruniai angkasa raya dengan keindahan yang unik dan partikular.

Mengenai Dilthey, kebetulan saya mempelajari Hermeneutika. Yang salah duanya digugahkan oleh Dilthey dan Schleiermacher. Bagi saya, teori
itu sambung-menyambung. Saling mengisi. Saling melengkapi. Dan bukan saling menumbangkan atau saling membungkam. Tetapi informasi anda
sangat menarik. Saya belajar banyak dari anda. Keindahan untuk anda.

salam,
dewi.

[diposting di milis jurnal perempuan, Wed, 16 Apr 2008 20:55:37 -0000]

Komentar oleh beritaseni




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>