<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Art News Agency</title>
	<atom:link href="http://beritaseni.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beritaseni.wordpress.com</link>
	<description>kantor beritaseni indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 May 2008 17:59:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='beritaseni.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/942493fba1b7811c8babe93930606ea1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indonesia Art News Agency</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Beritaseni Punya &#8220;Rumah Baru&#8221;</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/19/beritaseni-punya-rumah-baru/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/19/beritaseni-punya-rumah-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 17:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[rumah baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=647&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://beritaseni.com" target="_blank"><img class="alignnone size-full wp-image-646" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/pindah-rumah.jpg?w=420&#038;h=265" alt="" width="420" height="265" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/647/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/647/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/647/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=647&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/19/beritaseni-punya-rumah-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/pindah-rumah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Festival Air Internasional 2008 di STSI Bandung</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/17/festival-air-internasional-2008-di-stsi-bandung/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/17/festival-air-internasional-2008-di-stsi-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 05:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[festival air internasional]]></category>
		<category><![CDATA[stsi bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Frino Bariarcianur
Sekolah Tinggi Seni Indonesia [STSI], Yayasan Teater Payung Hitam dan The Royal Netherlands Embassy menggelar Festival Air Internasional 2008 di STSI, jalan Buah Batu No.212 Bandung. Festival ini menyuguhkan berbagai pertunjukkan dan pameran seni yang mempersoalkan air.
Pada pembukaan [16/05/08], pukul 19.00, Jumat tadi malam menyuguhkan pertunjukkan “Perahu Noah” oleh Teater Payung Hitam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=645&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Teks : Frino Bariarcianur<br />
</strong>Sekolah Tinggi Seni Indonesia [STSI], Yayasan Teater Payung Hitam dan The Royal Netherlands Embassy menggelar Festival Air Internasional 2008 di STSI, jalan Buah Batu No.212 Bandung. Festival ini menyuguhkan berbagai pertunjukkan dan pameran seni yang mempersoalkan air.<span id="more-645"></span></p>
<p>Pada pembukaan [16/05/08], pukul 19.00, Jumat tadi malam menyuguhkan pertunjukkan “Perahu Noah” oleh Teater Payung Hitam di Lapangan depan Gedung Kesenian [GK] Sunan Ambu, video art installation oleh Mark Salvatus dan Hendra “Takoer” Prawira di GK. Sunan Ambu, dan pertunjukkan tari oleh Miroto Dance Theatre juga di GK. Sunan Ambu.</p>
<p>Pada hari Sabtu [17/05/08], pukul 13.00, acara dimulai dengan Seminar Air dengan pembicara Prof. Jakob Sumardjo, Endo Suanda MA dan Iwan Abdulrachman di Ruang Serba Guna GK. Sunan Ambu. Malam hari Rah Bachtiar menyuguhkan karya video art pada pukul 20.00. Setelah 15 menit berselang Putu Wijaya menyuguhkan pertunjukkan teater monolog. Malam kedua festival air ditutup dengan pertunjukkan musik oleh I Wayan Sadra. Semua kegiatan di laksanakan di GK. Sunan Ambu.</p>
<p>Malam ke-3, Minggu [18/05/08] pada pukul 20.00, Ivana Stojakovic [Serbia] menyuguhkan video art installation, Godi Suwarna menyuguhkan pembacaan puisi dan ditutup dengan pertunjukkan musik oleh Iwan Abdulrachman.</p>
<p>Pada malam ke-4, Senin [19/05/08], pukul 20.00, festival air internasional menyuguhkan kolaborasi pertunjukkan teater “Airmataair” dan video art oleh Rachman Sabur, Tikka Seas dan Manuel Castro di GK. Sunan Ambu.</p>
<p>Dari seluruh rangkaian acara, Rachman Sabur, penanggung jawab festival dan ketua yayasan Teater Payung Hitam, mengatakan, nilai penting dari proyek festival air ini adalah bagaimana kita “manusia” sadar akan lingkungan, baik secara personalitas maupun universalitas.</p>
<p>Sementara itu Dr. Nikoalos van Dam, Duta Besar Belanda di Indonesia mengatakan festival air Internasional merupakan contoh yang baik dan kreatif yang dengan senang hati didukung oleh Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.</p>
<p>Indonesia sendiri yang memiliki masalah dibidang air pernah mendapatkan bantuan dari pihak Belanda selama bertahun-tahun. Bantuan tersebut untuk menangani bencana ekologis yang besar dan masalah kesehatan, misalnya bencana banjir yang seringkali melanda Jakarta dan kota-kota lain, tanah longsor, penyakit-penyakit yang berkaitain dengan masalah air dan kebersihan, dan sistem perairan yang tidak memadai.</p>
<p>Bantuan yang diberikan pihak Belanda tersebut sekira 15 juta Euro setiap tahun kepada Indonesia.</p>
<p>Air memang menjadi perhatian besar pemerintah Belanda. Dan keahlian Belanda menangani air selama beabad-abad lamanya menjadikan Putra Mahkota Willem-Alexander selama beberapa tahun yang lalu bersedia menjadi penggerak dalam menangani masalah air di seluruh dunia.</p>
<p>Menurut Dr. Nikoalos van Dam, persoalan air tidak hanya menuntut kerjasama berbagai pihak internasional tetapi juga menuntut peran masyarakat lokal untuk menerapkan jalan keluarnya.</p>
<p>Rachman berharap festival air ini menjadi sebuah ruang alternatif kesadaran untuk membaca alam. Selain itu masyarakat sekaligus diajak untuk menyaksikan bagaimana air menjadi sumber alam namun juga melihat air dapat menjadi sebuah sumber malapetaka.</p>
<p>“Kita ingin memuliakan air lewat festival,” kata Rachman.</p>
<p>Dan pemuliaan air dalam perhelatan festival air ini merupakan silahturahmi dan ritual bersama untuk membangun kesadaran dan mengembangkan wacana budaya air. “Betapa sangat berharganya air, sering kita lupa merawat, memuliakan dan mensyukurinya,” kata Rachman.  <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/645/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/645/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=645&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/17/festival-air-internasional-2008-di-stsi-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festival Budaya di Pasar Tradisional</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/festival-budaya-di-pasar-tradisional/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/festival-budaya-di-pasar-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 11:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[festival pasar kumandang solo]]></category>
		<category><![CDATA[pasar tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Frino Bariarcianur
Pasar tradisional merupakan institusi sosial yang memiliki peran strategis di dalam proses pembangunan dalam berbangsa dan bernegara. Sayangnya pasar-pasar tradisional yang juga merupakan pusat kebudayaan kian tergerus keberadaannya di era globalisasi ini. Dan pada perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini, apakah Pasar Tradisional juga tetap menjadi pilihan –untuk berbelanja—kita di masa mendatang?
Suprapto [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=641&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Teks : Frino Bariarcianur<br />
Pasar tradisional merupakan institusi sosial yang memiliki peran strategis di dalam proses pembangunan dalam berbangsa dan bernegara. Sayangnya pasar-pasar tradisional yang juga merupakan pusat kebudayaan kian tergerus keberadaannya di era globalisasi ini. Dan pada perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini, apakah Pasar Tradisional juga tetap menjadi pilihan –untuk berbelanja—kita di masa mendatang?<span id="more-641"></span></p>
<p>Suprapto Suryodarmo, Ketua Pelaksana Festival Pasar Kumandang Solo, menyatakan perkembangan setiap wilayah di Indonesia baik desa kota ataupun negara tidak akan lepas dari peran dan keberadaan pasar tradisional. Artinya pasar tradisional merupakan cermin dari keberadaan kehidupan sosial di dalam satu wilayah tertentu.</p>
<p>Selain itu pasar juga merupakan pusat kebudayaan, dimana segala macam ekspresi perilaku dan nilai yang melekat dalam masyarakat terekspresikan dan diproduksi serta dipasarkan didalamnya.</p>
<p>Pasar Tradisional sebagai Pusat Budaya yang menjadi tema Festival Pasar Kumandang Solo 2008 digelar pada  tanggal 18-20 Mei 2008. Festival ini akan menyuguhkan beragam kegiatan seni- budaya dan kunjungan ke pasar-pasar tradisional di kota Solo seperti Pasar Gede, Pasar Kembang, Pasar Triwindu dan Pasar Legi. Festival yang sudah dimulai tahun 2005 ini dipusatkan di Pasar Kumandang dan Pasar Gede Solo.</p>
<p>Rangkaian festival terdiri dari Sesaji Kraton Surakarta, peragaan busana di tengah pasar atau Fashion On The Pasar oleh anak-anak SMK Marganingsih, Sarasehan &amp; Pameran Profile Pasar Tradisional, Eksibisi Budaya Multi Etnik Nusantara, &#8216;Dialog Interaktif Nilai-Nilai Nasionalisme&#8217; dengan tema: Strategi Menumbuhkan Ekonomi Pasar Tradisional, Ketoprak Taruna Budaya ISI Surakarta, Pidato Kebudayaan oleh Goenawan Mohammad dan Prof Dr.Waridi S.Kar. M.Hum, pertunjukan tari dari Aneuk Nangroe Community, Pentas Tari Sahita : Srimpi Kesrimpet, Pentas Kesenian Rakyat, Pameran dan Workshop Batik &amp; topeng-tatah sungging, dan lain-lain.</p>
<p>Festival Pasar Kumandang Solo 2008 mengajak masyarakat untuk melihat kembali bagaimana kondisi pasar tradisional. Dan tentunya melihat secara kritis kondisi pasar tradisional yang menjadi tumpuan harapan masyarakat banyak. Dengan harapan, pasar tradisional dapat terus hidup di tengah masyarakat.</p>
<p><strong>Matinya Pasar Tradisional</strong><br />
Di dalam pasar tradisional kita dapat melihat ke-ika-an [kesatuan] dalam multikulturalisme, di dalam pasar tradisional kita melihat bahwa kesepakatan dibangun dengan tawar-menawar yang merupakan bangunan dasar demokrasi dalam arti membangun kesepakatan untuk mufakat.</p>
<p>Sayangnya, menurut Suprapto perkembangan terakhir pedagang di pasar tradisional mengalami kemunduran tergencet dan termarjinalisasikan. Menurutnya itu merupakan akibat dari kebijakan dan sistem ekonomi yang tidak lagi berpihak dan berpijak pada kepentingan masyarakat banyak. Pasar tradisional dikorbankan.</p>
<p>Kondisi tersebut menurut Suprapto,”akan memunculkan bentuk kesenjangan yang semakin nyata yang mampu menciptakan ruang konflik.”</p>
<p>Jika pasar tradisional mati maka yang terjadi, menurut Suprapto, akan berdampak luas pada keberadaan jaringan ekonomi desa kota. Pada wilayah pen-supply komoditas maupun produsen berikut penunjang kegiatan pasar jasa maupun yang lain.</p>
<p>Jika pasar tradisional mati, kita akan merindukan proses tawar-menawar dan teriakan-teriakan para pedagang yang menjajakan dagangannya. Kita akan rindu bau tanah, bau keringat, dan hiruk-pikuk khas pasar tradisional Indonesia. Kita kehilangan kebudayaan. <strong>[]</strong></p>
<p><strong>Informasi :</strong><br />
Heru Prasetya [0816675808], email infomataya@yahoo. com, udandawet@gmail. com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/641/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/641/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/641/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=641&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/festival-budaya-di-pasar-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIM Gelar Pameran Lukisan “Sabang Merauke”</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/tim-gelar-pameran-lukisan-%e2%80%9csabang-merauke%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/tim-gelar-pameran-lukisan-%e2%80%9csabang-merauke%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 03:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[visual arts]]></category>
		<category><![CDATA[jeihan sukmantoro]]></category>
		<category><![CDATA[sabang merauke]]></category>
		<category><![CDATA[taman ismail marzuki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Frino Bariarcianur
Dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, sejumlah seniman memamerkan karya dalam tema “Sabang Merauke”. Pameran ini berlangsung mulai 22-30 Mei 2008 di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya 73 Jakarta.
Seniman yang berpartisipasi antara lain : Jeihan Sukmantoro, Lian Sahar, Yusuf Affendi, Remmy Sylado, Sri Warso Wahono, Syahnagra Ismail, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=640&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Teks : Frino Bariarcianur<br />
Dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, sejumlah seniman memamerkan karya dalam tema “Sabang Merauke”. Pameran ini berlangsung mulai 22-30 Mei 2008 di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya 73 Jakarta.<span id="more-640"></span></p>
<p>Seniman yang berpartisipasi antara lain : Jeihan Sukmantoro, Lian Sahar, Yusuf Affendi, Remmy Sylado, Sri Warso Wahono, Syahnagra Ismail, Sapardi Djoko Damono, Jakob Sumardjo,, Syah Ida, Tjandra Djohan, Jose Rizal, Azasi Adi, Dodo Abdullah, Eddy Hermanto, Abun, Winiarti, Patrick, dan Iconk.</p>
<p>Menurut Jeihan Sukmantoro, salah satu seniman yang berpartisipasi, mengatakan, pameran ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan kita bersama.</p>
<p>“Semua orang terikat oleh takdir baik itu budayawan, seniman maupun pelukis, sejatinya menggambarkan takdirnya sendiri dalam hidup dan karyanya. Takdir juga yang menghimpun kita bersama mengadakan pameran lukisan ini di TIM. Semoga takdir kita sebagai bangsa cinta tanah air dan punya jatidiri,” kata Jeihan di dalam pernyataan tertulisnya.</p>
<p>Tjok Hendro, salah seorang pengamat seni, melihat kegiatan pameran ini merupakan wujud dari kebangkitan rasa, yakni sebagai manifestasi dari bentuk ekspresi yang selama ini bertautan dengan deburan jiwa masing-masing. Terutama di dalam menanggapi dunia penciptaan pluralitas dan egois.</p>
<p>“Setiap seniman harus terus menyatakan semangat integritasnya ke dalam proses kreatif.” Kata Tjok Hendro.</p>
<p>Pameran bersama ini menyuguhkan sekitar 50 buah lukisan dari berbagai bentuk ukuran dan gaya. Dengan corak ragam jenis lukisan realis-naturalis, abstrak, ekspresionis, modern-kontemporer, impresionis, ornamen hias dan lain-lain.</p>
<p>Menurut rencana pameran ini akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, pada tanggal 22 Mei 2008, pukul 19.00 WIB di Galeri Cipta II TIM, Jakarta. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/640/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/640/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=640&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/13/tim-gelar-pameran-lukisan-%e2%80%9csabang-merauke%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dendang Daging Berirama Trauma</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/dendang-daging-berirama-trauma/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/dendang-daging-berirama-trauma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[visual arts]]></category>
		<category><![CDATA[cemara 6 galeri]]></category>
		<category><![CDATA[loranita theo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=635</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Frino Bariarcianur
Seorang perempuan biasanya sangat akrab dengan daging tapi bagi Loranita Theo daging punya cerita yang lain. Ia trauma dengan daging.
Pada daging mentah biasanya ada darah yang masih segar, itu yang membuat Nita, panggilan akrab Loranita Theo, menjadi trauma. Kejadian sewaktu Nita kecil yang “biasa” bagi banyak orang itu membuat dirinya dalam beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=635&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Teks : Frino Bariarcianur<br />
Seorang perempuan biasanya sangat akrab dengan daging tapi bagi Loranita Theo daging punya cerita yang lain. Ia trauma dengan daging.<span id="more-635"></span></p>
<p>Pada daging mentah biasanya ada darah yang masih segar, itu yang membuat Nita, panggilan akrab Loranita Theo, menjadi trauma. Kejadian sewaktu Nita kecil yang “biasa” bagi banyak orang itu membuat dirinya dalam beberapa waktu tak bisa mengkonsumsi daging. Lantas ia pun berusaha memupus rasa jijiknya dengan mengakrabi daging-daging. Ia melukis daging mentah. Ia berusaha melawan rasa takut.</p>
<p>Pada pameran tunggal pertama yang berjudul “Dendang Daging” di Galeri Cemara 6, Jl. HOS. Cokroaminoto No 9 – 11 Menteng, Jakarta, 22 April – 15 Mei 2008, Nita tidak hanya menghadirkan sebuah pencitraan daging tapi juga hasil proses “penaklukkan” trauma. Dan proses terapi tersebut terlihat artistisk.</p>
<p><img class="alignright" style="float:right;" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/daging-dombret-100-x-135-cm.jpg" alt="" />Menurut Rifky Effendi, kurator pameran, citra daging – daging dalam pandangan Nita menjadi berbeda, baik penggarapan secara visual maupun maknanya. Daging sebagai organ tubuh manusia atau mahluk hidup lain merupakan elemen penting karena daging berfungsi sebagai pengikat organ-organ tubuh yang vital, seperti tulang, urat syaraf maupun lainnya. Daging menjadi pelindung dan sekaligus membentuk dasar tubuh sebelum bagian terluar, yakni lapisan kulit. Daging bisa dilihat sebagai aspek perantara ruang internal maupun eksternal dalam konteks anatomi tubuh.</p>
<p>Pada karya berjudul “Daging Dombret” dan “ Duet Dombret” , menurut Riffky, Nita seolah sedang bermain-main dengan hubungan tanda atau bentuk formal dengan tubuh manusia, terutama bagian bokong. Dengan menambahkan obyek gelang resin pada imaji daging paha maupun menggambarkannya dari sudut tertentu.</p>
<p>“Nita menggarap daging itu secara seksama baik itu tekstur, lapisan, dimensi warna, dan bentuknya,” kata Riffky.</p>
<p>Padahal beberapa tahun ke belakang Nita praksis tak bersentuhan dengan kuas dan kanvas. Waktu datang ke rumahnya di Jatiwangi, tak ada lukisan Nita. Tapi sang suami, Arif Yudhi, selalu bercerita kalau Nita akan melukis kembali. Lulusan FSRD ITB tahun 1999 ini adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari tenggelam dalam kesibukan mengurus anak dan suaminya. Namun bukan berarti melupakan dunia seni rupa karena dibalik sepak terjang Arif Yudhi [suaminya] selama ini, Nita adalah orang yang selalu memberikan semangat.</p>
<p>Ibu dari Adanya Kenayah ini selain melukis juga aktif dalam komunitas Jatiwangi Art Factory di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Komunitas ini didirkan oleh pemuda-pemuda Jatiwangi dengan mengusung semangat seni yang berpartisipasi pada masyarakat. Salah satu kegiatan yang pernah digagas komunitas Jatiwangi Art Factory pada tahun 2006 adalah “Jatiwangi International Performance Artist in Residence 2006”.</p>
<p>Hadir saat itu seniman performance dari beberapa negara luar, seperti Jepang, Turki, Yunani, Finlandia dan Australia.</p>
<p>Pada project ini seniman-seniman menyelami kehidupan masyarakat Jatiwangi. Ada yang membuat film bersama masyarakat, ada yang menjadi buruh pabrik genteng, ada yang menjadi petugas kelurahan dan ada juga yang belajar soal makanan dan kebiasan-kebiasaan orang Jatiwangi. Pada rangkaian kegiatan saat itu Nita terlihat sibuk mendokumentasikan kerja seniman dan masyarakat melalui handycam.</p>
<p>Meski mereka senang projek ini disambut oleh masyarakat Jatiwangi, mereka keteteran juga. Tapi tentu tidak seperti daging mentah yang bisa menimbulkan trauma. Dan kalau pun trauma, Nita sudah punya cara untuk menanggulanginya. <strong>[]</strong></p>
<p>sumber image : <a href="http://cemara6galeri.wordpress.com/event-2008/dendang-daging-online-catalogue/">Galeri Cemara 6 </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/635/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/635/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/635/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=635&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/dendang-daging-berirama-trauma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/daging-dombret-100-x-135-cm.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi Indonesia : Trauma atawa Utopia?</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/mimpi-indonesia-trauma-atawa-utopia/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/mimpi-indonesia-trauma-atawa-utopia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[visual arts]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[unpar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[
Teks/foto : Frino Bariarcianur
Para perupa yang berpameran di Lobby Rektorat Universitas Katolik Parahyangan [Unpar] mengungkap mimpi mereka tentang konsep ke-Indonesia-an.
Perupa yang berpameran itu antara lain: Tisna Sanjaya, Deden Sambas, Marintan Sirait, Diyanto, Rahmat Jabaril, dan Isa Perkasa. Mereka menyuguhkan karya instalasi, lukisan, dan grafis. Pameran yang berlangsung 3-10 Mei 2008 ini dikurasi oleh Prof. DR. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=633&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/topeng-deden-sambas.jpg?w=445&#038;h=289" alt="" width="445" height="289" /></p>
<p>Teks/foto : Frino Bariarcianur<br />
Para perupa yang berpameran di Lobby Rektorat Universitas Katolik Parahyangan [Unpar] mengungkap mimpi mereka tentang konsep ke-Indonesia-an.<span id="more-633"></span></p>
<p>Perupa yang berpameran itu antara lain: Tisna Sanjaya, Deden Sambas, Marintan Sirait, Diyanto, Rahmat Jabaril, dan Isa Perkasa. Mereka menyuguhkan karya instalasi, lukisan, dan grafis. Pameran yang berlangsung 3-10 Mei 2008 ini dikurasi oleh Prof. DR. Bambang Sugiharto.</p>
<p>Menurut Bambang pameran di Unpar dalam rangka peringatan Seabad Kebangkitan Nasional dengan tajuk “Mimpi Indonesia” ini, bermaksud mengamati gelagat baru tentang fenomena dunia politik, sosial dan budaya yang semakin kompleks lewat karya seni. Sangat beralasan pula jika Prof. Bambang “memilih” seniman yang turut berpameran berdasarkan kiprah mereka selama ini. Ke-enam nama seniman Bandung itu adalah jaminan.</p>
<p>Seniman Deden Sambas misalnya selalu memamerkan karya yang tak pernah lepas dari persoalan sosial-budaya yang melingkupinya. Ia sepanjang yang saya kenal, pernah terlibat aktif bersama kawan-kawan seniman Bandung lainnya saat “menyelamatkan” Babakan Siliwangi yang ingin dijadikan kawasan kondominium. Saat itu Deden menjadi ketua kelompok Sanggar Olah Seni Bandung.</p>
<p><img class="alignright" style="float:right;" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/diyanto-2-beritaseni.jpg" alt="" />Pada pameran kali ini Deden menyuguhkan karya instalasi berupa patung bertopeng setengah badan yang berjudul ”Pemandangan Negara” [2007]. Karya yang terbuat dari resin dan timah itu diletakkan di atas piano besar. Ia juga menampilkan topeng baja seperti topeng iron man dalam film-film kartun.</p>
<p>Deden Sambas tengah mencari titik fokus politik Indonesia. Dan wajah yang bertopeng atau topeng itu adalah salah satu bagian penting untuk membaca politik Indonesia yang carut marut saat ini. Deden bertanya,”Dibagian tubuh mana politik Indonesia itu ada? Selain hanya wilayah masyarakatnya yang ada dan hanya seperti kaca cermin yang terbuat dari daging-daging.”</p>
<p>Kemudian pada karya Tisna Sanjaya yang menyuguhkan 10 gambar dari 99 seri berjudul ”Atas Nama Tuhan” yang ia buat pada tahun 2007 terdapat sobekan lukisan pemandangan yang dirusak, flyer promosi, surat yasin, dan kantong plastik lumpur lapindo [Tisna menyebutnya lumpur Sidoarjo]. Kolase dari beberapa item tersebut kemudian ia ”corat-coret” sehingga mengaburkan semuanya.</p>
<p>Ia sedang menyoroti situasi chaos di Indonesia.</p>
<p>”Saya merasa senang sekaligus gelisah, berada dalam dunia mimpi di negeri Indonesia yang chaos. Sebuah catatan dari hidup seharian yang chaos di negeri mimpi, yang saya bangun dari imajinasi yang saya temukan dari kehidupan yang mengalir, keseharian yang chaos,” kata Tisna.</p>
<p>Dengan menggabungkan semua benda-benda yang ia temukan dari situasi Indonesia yang chaos, Tisna mengatakan ia tak ingin cepat-cepat membuat bentuk. Apalagi mendorong menjadi fragmatis seperti para teknolog atau mereka yang tergesa-gesa ditarik menjadi peristiwa yang berujung atau dibentengi moral.</p>
<p>”Biarkan saja,” kata Tisna.</p>
<p>Dan saran Tisna untuk menyikapi situasi chaos ini,”kita format menjadi ritual, menjadi komposisi, menjadi peristiwa estetik. Biar kita bisa bareng-bareng mem-blok segala konspirasi yang membuat kita jadi tak mau berpikir lagi, menjadi tanpa kritik, menjadi konspirasi tahu sama tahu.”</p>
<p>Seperti lukisan Tisna yang chaos ia mengajak kita menjalani duka dengan keberanian. Dan seniman seharusnya gelisah melihat peristiwa ini. Ia juga tak ingin di tengah konspirasi yang begitu telanjang kita sebagai bangsa Indonesia yang tengah bangkit ini tak bisa apa-apa.</p>
<p>”Jika punya energi yang baik, berjiwa dan berpihak pada kesejatian kemanusiaan akan mampu mengatasi kondisi ini dan membimbingnya menjadi mimpi yang inspiratif.” Kata Tisna.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/marintan-sirait.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;">Marintan Sirait, Indonesia Landscape in My Mind [2007]</p>
<p>Saya ingat ketika mengambil dokumentasi video Tisna pada tahun 2004 saat merespon pembangunan jalan layang Paspati atau Pasupati di simpang jalan besar Ir.Djuanda dekat taman Cikapayang. Ia mengajak kita bermain bola di sebuah kawasan yang pada saat sekarang telah menjadi kolong. Selain menyiapkan gawang kecil ia juga memasang beberapa kolecer [permainan khas orang Sunda seperti kincir angin yang terbuat dari bambu]. Menurut saya, Tisna mampu membungkus kesinisan dirinya terhadap pembangunan melalui permainan bola. Sebelumnya ia pernah menanam pohon jengkol di areal jalan Pasupati di dekat jalan Cihampelas. Tapi sayang, sudah sekian tahun tak tumbuh juga.</p>
<p>Kini Tisna lebih dikenal sebagai Kabayan Nyintrek karena sering muncul di sebuah stasiun televisi lokal Bandung. Dia si Kabayan yang suka membuat sketsa dan menyindir pemerintah kota Bandung.</p>
<p>Berikutnya karya Diyanto yang membawa tanah dan alat bajak sawah ke lobby rektorat Unpar. Tanah itu kering tak berair. Beberapa mahasiswa Unpar yang melewati lobby sering berhenti untuk melihat karya tersebut. Agak aneh memang, ada alat bajak ”ngeceng” di lobby Unpar. Karya Diyanto menyedot banyak perhatian pengunjung. Ia juga memajang 3 lukisan bergambar orang yang tengah melihat sebuah kapal kertas yang perlahan-lahan tenggelam. Karya itu diberi judul “Horror Planning” yang dibuat tahun 2008, cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 100 X 100 Cm.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/diyanto-beritaseni.jpg" alt="" /></p>
<p>Kedua karya tersebut kontekstual dengan situasi sosial Indonesia saat ini. Tanah tempat dimana para petani menanam padi kini menjadi persoalan besar rakyat Indonesia. Banyak sawah dijual untuk kepentingan perumahan, banyak sawah dijual karena petani juga butuh televisi, mini compo, hp dan segala macam alat teknologi, banyak sawah tak lagi berair karena sumbernya sudah diambil. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan dasar rakyat Indonesia yang jumlahnya ratusan juta ini, pemerintah kita pun harus mengimpor beras dari negeri seberang lautan.</p>
<p>Kita tengah melihat persoalan yang sangat dekat dengan mata kita, seperti orang yang melihat kapal kertas yang tenggelam, kita memang tak bisa berbuat banyak. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/633/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/633/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/633/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=633&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/10/mimpi-indonesia-trauma-atawa-utopia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/topeng-deden-sambas.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/diyanto-2-beritaseni.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/marintan-sirait.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/diyanto-beritaseni.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Unisba Tolak Rencana Kenaikan BBM</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unisba-tolak-rencana-kenaikan-bbm/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unisba-tolak-rencana-kenaikan-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 05:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[social-culture]]></category>
		<category><![CDATA[theatre]]></category>
		<category><![CDATA[demo tolak bbm]]></category>
		<category><![CDATA[stuba]]></category>
		<category><![CDATA[unisba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[
Teks/foto : Frino Bariarcianur
Mahasiswa Universitas Islam Bandung [Unisba] menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM [8/5/08]. Mereka menilai  kebijakan tersebut sebenarnya sebuah ancaman yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Selain itu mereka juga menyesalkan SBY yang hanya bisa berurai air mata saat nonton film “Ayat-ayat Cinta” ketimbang melihat kesengsaraan rakyat dengan kenaikan BBM.
Dalam aksi demonstrai itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=629&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/unisba-tolak-bbm.jpg" alt="" /></p>
<p>Teks/foto : Frino Bariarcianur<br />
Mahasiswa Universitas Islam Bandung [Unisba] menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM [8/5/08]. Mereka menilai  kebijakan tersebut sebenarnya sebuah ancaman yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Selain itu mereka juga menyesalkan SBY yang hanya bisa berurai air mata saat nonton film “Ayat-ayat Cinta” ketimbang melihat kesengsaraan rakyat dengan kenaikan BBM.<span id="more-629"></span></p>
<p>Dalam aksi demonstrai itu, Studi Teater Unisba [STUBA] menyuguhkan teaterikal yang menggambarkan bagaimana tingkah pejabat atau konglomerat yang tertawa melihat antrian BBM. Tokoh tersebut berdiri di atas meja dengan lagak yang pongah. Dia mengunyah makanan dan melempar kunyahan tersebut kepada rakyat yang mengelilinginya. Begitu juga BBM yang ia hamburkan seenaknya. “Semuanya milikku…!” teriak tokoh tersebut.</p>
<p>Aksi demonstrai menolak rencana kenaikan BBM yang memblokir jalan Tamansari tersebut ditutup dengan sholat dzuhur bersama di tengah jalan Tamansari tepat di depan kampus Unisba. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/629/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/629/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/629/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=629&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unisba-tolak-rencana-kenaikan-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/unisba-tolak-bbm.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Unpar Gelar Peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unpar-gelar-peringatan-satu-abad-kebangkitan-nasional/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unpar-gelar-peringatan-satu-abad-kebangkitan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 17:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[social-culture]]></category>
		<category><![CDATA[humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[intelegensia indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[unpar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=627</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Frino Bariarcianur
Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung menggelar peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional dengan tema “Intelegensia Indonesia.”
Tema “Intelegensia Indonesia” erat kaitannya dengan pemikiran Soekarno yang pernah menyebut intelegensia hidup berbangsa sebagai nyawa, asas-akal, yang tumbuh dalam jiwa rakyat. Untuk itu menurut Panitia Satu Abad Kebangkitan Nasional Universitas Katolik Parahyangan [Unpar] – Pusat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=627&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Teks : Frino Bariarcianur<br />
Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung menggelar peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional dengan tema “Intelegensia Indonesia.”<span id="more-627"></span></p>
<p>Tema “Intelegensia Indonesia” erat kaitannya dengan pemikiran Soekarno yang pernah menyebut intelegensia hidup berbangsa sebagai nyawa, asas-akal, yang tumbuh dalam jiwa rakyat. Untuk itu menurut Panitia Satu Abad Kebangkitan Nasional Universitas Katolik Parahyangan [Unpar] – Pusat Kajian Humaniora mengatakan ide dasar penyelenggaraan acara peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional Indonesia adalah melacak kembali atau meneropong “asas-akal” macam apa yang diam-diam kini menggerakkan kehidupan rakyat bangsa Indonesia dan kemana negeri ini akan dibawa.</p>
<p>Peringatan ini diwarnai dengan beragam acara, antara lain : orasi kebangsaan, pameran seni rupa, pameran fotografi, pementasan teater, pemutaran film dan seminar nasional. Acara digelar sejak tanggal 3 Mei – 10 Mei 2008.</p>
<p>Sayang dalam acara orasi kebangsaan yang bertema “Menjadi Indonesia Kini”, Presiden RI DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, pada hari Sabtu, 3 Mei 2008, tidak bisa menghadiri kegiatan. Pada pameran seni rupa bertema “Mimpi Indonesia” menyuguhkan karya-karya perupa Bandung seperti Tisna Sanjaya, Rahmat Jabaril, Isa Perkasa, Juliansyah, Diyanto, Marintan Sirait dan Deden Sambas. Pameran seni rupa ini digelar di Lobby Rektorat Unpar, sejak 3 – 10 Mei 2008.</p>
<p>Ada juga pameran fotografi di tempat yang sama dengan menyuguhkan karya-karya bertema Pergumulan Batin Manusia Indonesia. Foto-foto banyak diambil pada peristiwa keseharian rakyat Indonesia khususnya di kota Bandung. Pembicara diskusi fotografi menghadirkan Hary Pochang, Herman Effendy dan Andhika pada Rabu pagi tadi [7/5/08].</p>
<p>Pada pementasan teater bertema “Absurditas Manusia Indonesia” menyuguhkan pementasan lakon “Dalam Bayangan Tuhan” karya Arifin C. Noer. Pementasan yang digelar kemarin [5-6/5/08] di Gedung Serba Guna Unpar ini merefleksikan ke-Indonesia-an, terutama berkaitan dengan persoalan-persoalan pelik manusia Indonesia. Pementasan teater ini disutradarai Fathul A. Husein.</p>
<p>Pada acara pemutaran film bertema “Paradoks Manusia Indonesia” [6-7/5/08] menyuguhkan film berjudul “Betina” [Lola Amaria] dan “Lari Dari Blora” [Akhlis Suryapati]. Selain pemutaran film juga diisi dengan kegiatan diskusi bersama para kritikus dan pegiat film seperti Christin Hakim, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, dan Prof. Jacob Sumardjo.</p>
<p>Dan pada puncak acara peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional panitia penyelenggara akan menggelar seminar nasional dengan tema “Intelegensia Indonesia” di Gedung Serba Guna Unpar, jalan Ciumbuleuit 94 Bandung, pada hari Sabtu, 10 Mei 2008, pukul 08.00 – 15.30 WIB. Para pembicara antara lain : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, Surya Paloh, Prof. DR. Bambang Sugiharto, Letjen. Purn. Sutiyoso, Eep Saefulloh Fatah, Miranda S. Gultom dan Prof. DR. Franz Magnis-Suseno.<strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/627/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/627/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/627/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=627&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/08/unpar-gelar-peringatan-satu-abad-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pasukan Elite Indonesia</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/05/pasukan-elite-indonesia/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/05/pasukan-elite-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 07:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Performance Art]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>
		<category><![CDATA[priston]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/05/pasukan-elite-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[
Priston dan kawan-kawan melakukan performance art di tengah-tengah aksi demo buruh dan tani, Kamis, 1 Mei 2008, di sepanjang jalan Supratman Bandung. Priston dan kawan-kawan menyoroti situasi sosial Indonesia saat ini. Mulai dari sistem kepemerintahan yang bobrok, buruh kontrak sampai kepemimpinan SBY-JK yang tidak memihak rakyat. Mereka menyuguhkan performance art ini dengan bergaya seperti sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=623&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/priston-performance.jpg" alt="" /></p>
<p>Priston dan kawan-kawan melakukan performance art di tengah-tengah aksi demo buruh dan tani, Kamis, 1 Mei 2008, di sepanjang jalan Supratman Bandung. Priston dan kawan-kawan menyoroti situasi sosial Indonesia saat ini. Mulai dari sistem kepemerintahan yang bobrok, buruh kontrak sampai kepemimpinan SBY-JK yang tidak memihak rakyat. Mereka menyuguhkan performance art ini dengan bergaya seperti sebuah pasukan elite. [Frino Bariarcianur/beritaseni]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/623/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/623/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/623/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=623&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/05/pasukan-elite-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2008/05/priston-performance.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Multikulturalisme sebuah Perjuangan Panjang Bangsa Indonesia</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/03/multikulturalisme-sebuah-perjuangan-panjang-bangsa-indonesia/</link>
		<comments>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/03/multikulturalisme-sebuah-perjuangan-panjang-bangsa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 12:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
				<category><![CDATA[social-culture]]></category>
		<category><![CDATA[hamengku buwono x]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia baru]]></category>
		<category><![CDATA[multikulturalisme]]></category>
		<category><![CDATA[open society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X
Secara umum, kompleksitas masyarakat mejemuk tidak hanya ditandai oleh perbedaan-perbedaan horisontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, ada-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capain yang diperoleh melalui prestasi [achievement].
Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam strata sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=616&subd=beritaseni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X</strong><br />
Secara umum, kompleksitas masyarakat mejemuk tidak hanya ditandai oleh perbedaan-perbedaan horisontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, ada-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capain yang diperoleh melalui prestasi [achievement].<span id="more-616"></span></p>
<p>Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam strata sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan kondisi permukiman.</p>
<p>Sedangkan perbedaan horizontal diterima sebagai warisan, yang diketahui kemudian bukan faktor dalam insiden kerusuhan sosial yang melibatkan antarsuku. Suku tertentu bukan dilahirkan untuk memusuhi suku lainnya. Bahkan tidak pernah terungkap dalam doktrin ajaran mana pun di Indonesia yang secara absolut menanamkan permusuhan etnik.</p>
<p>Sementara itu, dari perbedaan-perbedaan vertikal, tedapat beberapa hal yang berpotensi sebagai sumber konflik, antara lain perebutan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi lainnya. Selain itu juga benturan-benturan kepentingan kekuasaan, politik dan ideologi, serta perluasan batas-batas identitas sosial-budaya dari sekelompok etnik.</p>
<p><strong>Sumber Konflik</strong><br />
Berbeda dengan perbedaan horizontal, perbedaan vertikal diasumsikan sebagai factor yang menentukan tercetusnya konflik sosial. Karena status sosial dan ekonomi serta kedudukan politik signifikan dalam setiap interaksi sosial antara kelompok-kelompok etnik. Apakah interaksi sosial tersebut akan bersifat positif atau negatif, sangat ditentukan oleh kadar perbedaan-perbedaan vertikal di antara kelompok-kelompok etnik. Dan bukan dari perbedaan-perbedaan horisontal, sebagaimana yang banyak diyakini selama ini.</p>
<p>Semakin tinggi posisi politik dan peran dominatif suatu kelompok etnik, akan semakin kuat menimbulkan prasangka [stereotype negative] yang menjadi sumber ketegangan dan konflik antarkelompok etnik. Apalagi kalau mengacu konsep dominatif yang lebih menekankan pada aspek kualitatif daripada aspek kuantitatifnya. Di mana suatu kelompok etnik minoritas juga berpeluang memiliki peran dominatif, jika kelompok tersebut secara substansial menguasai struktur politik atau ekonomi di daerah [negara] tertentu.</p>
<p>Sehingga dari pola interaksi sosial dalam masyarakat majemuk, jangan terpaku hanya pada perbedaan-perbedaan horisontal yang ada. Artinya dalam menghindari atau meminimalkan konflik hanya dengan mengatasi masalah perbedaan aspek-aspek sosial budayanya. Seperti penyatuan kelompok-kelompok sosial yang berbeda, dengan mengangkat pernik-pernik budaya daerah menjadi identitas nasional. Atau gerakan pergantian nama dalam masyarakat Cina, memasyarakatkan batik sebagai identitas nasional. Atau dengan penataran untuk menanamkan norma-norma bersama yang mengatur tingkah-laku, bagaimana menjadi warga negara Indonesia yang baik.</p>
<p>Tetapi hendaknya menaruh perhatian yang lebih pada pemecahan masalah-masalah persaingan dalam memperebutkan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi-politik. Kenyataan di lapangan seperti kasus insiden Maliana di Timor Timur menunjukkan, bahwa sebelum terjadinya perluasan daerah batas-batas wilayah sosial ekonomi suku pendatang [umumnya beragama Islam dan Protestan], hubungan antara individu yang beridentitas Katolik dengan nonKatolik semasa kolonial cukup harmonis dan menghormati keyakinan masing-masing.</p>
<p>Jadi secara hipotesis dapat disimpulkan, bahwa sumber konflik sosial antara berbagai etnik atau golongan bukan didominasi oleh perbedaan horisontal. Tetapi yang lebih menonjol disebabkan oleh faktor perbedaan-perbedaan vertikal. Karena interaksi dalam perbedaan vertikal antaretnik [suku] dan golongan lebih berdimensi kalah-menang, bermuara pada munculnya kekuatan yang mendominasi dan yang didominasi. Kemudian terjadi ketidakseimbangan, prasangka dan ketegangan. Dan apabila tidak segera diantisipasi, maka kondisi itu sangat rentan dimanfaatkan oleh mereka yang tak bertanggung jawab untuk memicu konflik sosial dan kerusuhan massal.</p>
<p><strong>Dari Masyarakat Majemuk ke Multikultural</strong><br />
Landasan sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang bercorak masyarakat majemuk [plural society] sudah saatnya dikaji kembali. Ideologi masyarakat majemuk yang menekankan pada keanekaragaman suku bangsa tidak akan mungkin mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis. Untuk mencapai tujuan demokratisasi, ideologi harus digeser menjadi ideologi keanekaragaman budaya atau multikulturalisme.</p>
<p>Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk, terdiri atas suku-suku bangsa, yang baik langsung maupun tidak langsung, dipaksa bersatu di bawah kekuasaan sebuah sistem nasional. Yang mencolok dari ciri kemajemukan masyarakat Indonesia adalah penekanan pada pentingnya kesukubangsaan yang terwujud dalam komunitas-komunitas suku bangsa, dan digunakannya kesukubangsaan sebagai acuan utama bagi jatidiri individu.</p>
<p>Ada sentimen-sentimen kesukubangsaan yang memiliki potensi pemecah-belah dan penghancuran di antara sesama bangsa Indonesia. Antara lain karena masyarakat majemuk menghasilkan batas-batas suku bangsa yang didasari oleh stereotip dan prasangka, yang menghasilkan penjenjangan sosial seara primordial yang subyektif. Konflik antaretnik dan antaragama yang terjadi, berintikan pada permasalahan hubungan antara etnik asli setempat dengan pendatang. Konflik-konflik itu terjadi, karena adanya pengaktifan jatidiri etnik untuk solidaritas memperebutkan sumberdaya yang ada.</p>
<p>Dari hasil penelitian Dr. Persudi Suparlan di Kalimantan dan Maluku ditemukan, karena ideologi keetnikan dan pengaktifan jatidiri etnik. Seperti yang terjadi di Sambas, preman Madura yang mengawali konflik dianggap mewakili suku Madura, sehingga konflik berkembang menjadi konflik antaretnik. Demikian pula yang terjadi di Ambon, dimana bentrokan antara penduduk Ambon dengan penduduk Buton Bugis Makassar, menjadi konflik antaragama. Akhirnya menunjukkan, bahwa masyarakat majemuk tidak pernah menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan demokratis, melainkan berpotensi otoriter dan despotis, karena corak etniknya yang beraneka-ragam, dari feodalistis dan paternalistis sampat etnosentris.</p>
<p>Masyarakat majemuk yang menekankan keanekaragaman etnik perlu dikaji dan digeser pada pluralisme budaya [multikulturalisme], yang mencakup tidak hanya kebudayaan etnik, tetapi juga berbagai kebudayaan lokal y ang ada di Indonesia, dan harus dibarengi kebijakan politik nasional yang meletakkan berbagai budaya itu dalam kesetaraan derajat. Sehingga tidak ada lagi etnik yang merasa superior dan inferior, sebab tiada jenjang sosial karena asal etnik.</p>
<p><strong>Indonesia Baru Berbasis Multikulturalisme</strong><br />
Prinsip demokraksi hanya mungkin hidup dan berkembang secara mantap dalam sebuah masyarakat sipil yang terbuka [open society], yang warganya mempunyai toleransi terhadap perbedaan-perbedaan dalam bentuk apa pun, karena adanya kesetaraan derajat kemanusiaan yang saliang menghormati, dan diatur oleh hukum yang adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warganya.</p>
<p>Masyarakat terbuka adalah suatu masyarakat yang membuka diri bagi pembaharuan dan perbaikan. Zen [1998] menambahkan, harus ada suatu “built in mechanism” untuk self-renewal and self-rejuvenation. Masyarakat terbuka itu harus berorientasi ke depan, selalu mempertimbangkan globalisasi yang membawa serta kemajuan teknologi, dan berpijak pada kenyataan, bahwa kiat mendiami suatu Benua Maritim Indonesia serta aspirasi bangsa yang tertuang dalam nasionalisme baru yang menghargai pluralitas budaya [multikultural].</p>
<p>Dalam menyikapi pluralitas bangsa, pendekatan sentralistik dan totalitarian harus ditinggalkan. Sikap yang melihat perubahan [change], ketidakpastian [indeterminancy] dan ketidakberaturan [disorder] sebagai sesuatu yang menakutkan, sudah masanya ditinggalkan. Cara-cara pengendalian melalui pendekatan keamanan, keseragaman, keberaturan total sudah tidak dapat lagi dipertahankan.</p>
<p>Dikotonomi konsep keteraturan-kekacauan, kesatuan-separatisme, integrasi-disintegrasi, keseragaman-keanekaragaman, sentralisasi-desentralisasi, homogenitas-heterogenitas yang mewarnai kehidupan sosial, harus dicarikan sintesis baru, sehingga dapat mendorong daya kreativitas sosial. Selama ini kita membebani hidup kita dengan berbagai ketakutan; kekacauan yang tidak dapat dipahami, keanekaragaman yang tidak dapat disatukan, turbulensi yang tidak dapat dikendalikan, chaos yang tidak dapat diperkirakan.</p>
<p>Padahal keberaturan dan ketidakberaturan adalah dua hal yang saling mengisi. Melenyapkan ketidaberaturan berarti melenyapkan daya perubahan dan kreativitas. Dunia chaos adalah dunia yang selalu dipenuhi energi kegelisahan. Kebudayaan yang tidak gelisah adalah kebudayaan yang telah mati. Kegelisahan untuk bertumbuh inilah yang harus ditanamkan pada setiap komponen bangsa yang plural ini [daerah, suku, agama, ras].</p>
<p>Oleh sebab itu, setiap komponen bangsa harus merupakan sistem terbuka [open system]. Artinya, harus selalu mengantisipasi tantangan dan pengaruh dari luar dirinya, baik terhadap tantangan regional maupun global. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan untuk merasa, kemampuan berempati, dan kemampuan pemahaman, sebagai inti dari prinsip dialogis.</p>
<p><strong>Catatan Akhir</strong><br />
Di tengah arus reformasi dewasa ini, agar selamat mencapai Indonesia Baru, maka idiom yang harus lebih diingat-ingat dan dijadikan landasan kebijakan mestinya harus berbasis pada konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, sekali pun berada dalam satu kesatuan, tidak boleh dilupakan, bahwa sesungguhnya bangsa ini berbeda-beda dalam satu kemajemukan.</p>
<p>Maka, Indonesia Baru yang kita ciptakan itu, hendaknya ditegakkan dengan menggeser masyarakat majemuk menjadi masyarakat multikultural, dengan mengedepankan keBhinnekaan sebagai strategi integrasi nasional. Namun, jangan sampai kita salah langkah, yang bisa berakibat yang sebaliknya: sebuah konflik yang berkepanjangan. Harus disadari, bahwa merubah masyarakat majemuk ke multikultural itu merupakan perjuangan panjang yang berkelanjutan. <strong>[]</strong></p>
<p>Bandung, 26 April 2008<br />
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat</p>
<p>* Sumber makalah : Diskusi budaya &#8221;Menguak Tabir Multikulturalisme&#8221;, Bandung, 26 April</p>
<p>2008, di Gedung RRI Bandung</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/beritaseni.wordpress.com/616/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/beritaseni.wordpress.com/616/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beritaseni.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beritaseni.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beritaseni.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beritaseni.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beritaseni.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beritaseni.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beritaseni.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beritaseni.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beritaseni.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beritaseni.wordpress.com/616/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beritaseni.wordpress.com&blog=999810&post=616&subd=beritaseni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritaseni.wordpress.com/2008/05/03/multikulturalisme-sebuah-perjuangan-panjang-bangsa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c44851c2f9f4a307b7ac7ea4be3d4a80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beritaseni</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>