<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Komentar di: ruang kritik</title>
	<atom:link href="http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beritaseni.wordpress.com</link>
	<description>kantor berita seni indonesia</description>
	<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 01:44:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
		<item>
		<title>Oleh: Foye</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-886</link>
		<dc:creator>Foye</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 14:21:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-886</guid>
		<description>Apa berita seni, mau ngunjung2 pesantren untuk ngasih workshop? Kalau bisa ditunggu konfirmasinya bung Huntu. 

annurcyberworks@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apa berita seni, mau ngunjung2 pesantren untuk ngasih workshop? Kalau bisa ditunggu konfirmasinya bung Huntu. </p>
<p><a href="mailto:annurcyberworks@yahoo.com">annurcyberworks@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: narARTpidana (the ART of prisoner)</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-615</link>
		<dc:creator>narARTpidana (the ART of prisoner)</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 17:44:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-615</guid>
		<description>narARTpidana (the ART of prisoner)

NARAPIDANA melukis,
kegiatan mengisi waktu
dibalik jeruji besi.
Lukisan-lukisan ini akan dipamerkan

narARTpidana
KREATIFITAS DI BALIK TERALI BESI

tanggal 22-26 February 2008
Hotel NIKKO Jakarta.
Keterangan lengkap, Klik :
http://narARTpidana.lcpalace.com

Saksikan juga Lukisan MISTERIUS.
yang diberi judul "Seribu Wajah di POLDA",
lukisan abstrak yang di buat di Kamar
mandi PENJARA.

jika, tidak bisa datang saat pemeran
silahkan mengunjungi Official WebSite
kami di
http://narARTpidana.lcpalace.com

Terima Kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>narARTpidana (the ART of prisoner)</p>
<p>NARAPIDANA melukis,<br />
kegiatan mengisi waktu<br />
dibalik jeruji besi.<br />
Lukisan-lukisan ini akan dipamerkan</p>
<p>narARTpidana<br />
KREATIFITAS DI BALIK TERALI BESI</p>
<p>tanggal 22-26 February 2008<br />
Hotel NIKKO Jakarta.<br />
Keterangan lengkap, Klik :<br />
<a href="http://narARTpidana.lcpalace.com" rel="nofollow">http://narARTpidana.lcpalace.com</a></p>
<p>Saksikan juga Lukisan MISTERIUS.<br />
yang diberi judul &#8220;Seribu Wajah di POLDA&#8221;,<br />
lukisan abstrak yang di buat di Kamar<br />
mandi PENJARA.</p>
<p>jika, tidak bisa datang saat pemeran<br />
silahkan mengunjungi Official WebSite<br />
kami di<br />
<a href="http://narARTpidana.lcpalace.com" rel="nofollow">http://narARTpidana.lcpalace.com</a></p>
<p>Terima Kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nurul huda</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-538</link>
		<dc:creator>nurul huda</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 14:54:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-538</guid>
		<description>kajian kaligrafi masa depan adalah bagaimana eksistensinya terhadap keilmuan lain. adalah griya seni kaligrafi arabiyaa yogyakarta berusaha mengembangkan dalam dunia pendidikan formal sebagai muatan pelajaran maupun ekstra kurikuler. kami di jalan kaliurang km 7. babadan baru condongcatur. Tidak hanya itu, kami ingin mengadakan kajian khusus kaligrafi sebagai wacana menarik untuk dikaji secara mendalam dan ilmiah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kajian kaligrafi masa depan adalah bagaimana eksistensinya terhadap keilmuan lain. adalah griya seni kaligrafi arabiyaa yogyakarta berusaha mengembangkan dalam dunia pendidikan formal sebagai muatan pelajaran maupun ekstra kurikuler. kami di jalan kaliurang km 7. babadan baru condongcatur. Tidak hanya itu, kami ingin mengadakan kajian khusus kaligrafi sebagai wacana menarik untuk dikaji secara mendalam dan ilmiah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: RAIN</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-523</link>
		<dc:creator>RAIN</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 16:42:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-523</guid>
		<description>lihatlah! di masa pergantian tahun membicarakan karya seni. Lihat pula www.lullaby-art.blogspot.com !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lihatlah! di masa pergantian tahun membicarakan karya seni. Lihat pula <a href="http://www.lullaby-art.blogspot.com" rel="nofollow">http://www.lullaby-art.blogspot.com</a> !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: aghi</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-519</link>
		<dc:creator>aghi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 03:57:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-519</guid>
		<description>dana kesenian dari pemerintah setiap tahun untuk daerah kurang lebih 150 juta lebih teralokasi hanya untuk formalitas hanya kemasan tanpa pengembangan mutu..alias event bohong-bohongan...
fenomena ini terjadi di banyak daerah di indonesia...
benarkah...
mohon di komentari...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dana kesenian dari pemerintah setiap tahun untuk daerah kurang lebih 150 juta lebih teralokasi hanya untuk formalitas hanya kemasan tanpa pengembangan mutu..alias event bohong-bohongan&#8230;<br />
fenomena ini terjadi di banyak daerah di indonesia&#8230;<br />
benarkah&#8230;<br />
mohon di komentari&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pasarseni</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-471</link>
		<dc:creator>pasarseni</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 07:32:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-471</guid>
		<description>Seniman; Antara Jogja dan Jakarta

Beberapa minggu lalu saya ketemu teman di TIM Jakarta. Dari ngobrolin anthurium yang lagi booming, eee... lhah kok tiba-tiba ngomongin Schopophilia, sebuah tema Jambore Pasar Seni di tahun jebot.
Teman saya itu tiba nyletuk, nlekop. "Dulu jaman schopophilia." Katanya, tentu saja dalam bahasa Jawa. "Ada semacam gap antara seniman Jogja dan Jakarta. Malah sering "beradu"... ya adu argumentasi, ade karya malah juga adu otot! Tapi dalam kondisi seperti itu, kehidupan seni, terutama seni jakarta-jogja, jadi berkembang lebih dinamis. Karena ada beberapa sudut pandang dalam memandang suatu masalah. Sekarang yang saya rasakan malah seniman kota kita, di Jogja, generasi sekarang ini malah lebih terseret pada arus seni yang dari Jakarta. Makanya kesenian sekarang ini terasa monoton dan banyak jiplak menjiplak!"

Hah! Ya ampun! Sampai adu otot juga. Moga-moga otot mulut, karena terlalu ngotot beragumentasi. Edan tenan!
Ning. Tapi. Kalu saya rasa-rasakan iya juga ya. Ada satu kiblat (halah... koyo arep sholat ae). yang membikin kesenian jadi homogen. Beberapa masih saya rasakan kesenian yang betul-betul beda dari seniman angkatan jadhul. Mungkin masih ada rasa rivalitas antara Jogja-Jakarta ya.
Jadi, apa mungkin ya keadaan seperti itu juga yang bikin Pasar Seni di Ancol, yang dulu jadi komunitas seni, jadi tenggelam ditelan jaman? Atau karena sebab lain ya?
Seniman pada mencar jadi individual, karena seni yang monoton tadi dapat ditemui di mana-mana. Tak perlulah bikin komunitas kalau seninya sama kan?

Percakapan tentang ini sedang hangat-hangatnya di forum www.milisi.org</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seniman; Antara Jogja dan Jakarta</p>
<p>Beberapa minggu lalu saya ketemu teman di TIM Jakarta. Dari ngobrolin anthurium yang lagi booming, eee&#8230; lhah kok tiba-tiba ngomongin Schopophilia, sebuah tema Jambore Pasar Seni di tahun jebot.<br />
Teman saya itu tiba nyletuk, nlekop. &#8220;Dulu jaman schopophilia.&#8221; Katanya, tentu saja dalam bahasa Jawa. &#8220;Ada semacam gap antara seniman Jogja dan Jakarta. Malah sering &#8220;beradu&#8221;&#8230; ya adu argumentasi, ade karya malah juga adu otot! Tapi dalam kondisi seperti itu, kehidupan seni, terutama seni jakarta-jogja, jadi berkembang lebih dinamis. Karena ada beberapa sudut pandang dalam memandang suatu masalah. Sekarang yang saya rasakan malah seniman kota kita, di Jogja, generasi sekarang ini malah lebih terseret pada arus seni yang dari Jakarta. Makanya kesenian sekarang ini terasa monoton dan banyak jiplak menjiplak!&#8221;</p>
<p>Hah! Ya ampun! Sampai adu otot juga. Moga-moga otot mulut, karena terlalu ngotot beragumentasi. Edan tenan!<br />
Ning. Tapi. Kalu saya rasa-rasakan iya juga ya. Ada satu kiblat (halah&#8230; koyo arep sholat ae). yang membikin kesenian jadi homogen. Beberapa masih saya rasakan kesenian yang betul-betul beda dari seniman angkatan jadhul. Mungkin masih ada rasa rivalitas antara Jogja-Jakarta ya.<br />
Jadi, apa mungkin ya keadaan seperti itu juga yang bikin Pasar Seni di Ancol, yang dulu jadi komunitas seni, jadi tenggelam ditelan jaman? Atau karena sebab lain ya?<br />
Seniman pada mencar jadi individual, karena seni yang monoton tadi dapat ditemui di mana-mana. Tak perlulah bikin komunitas kalau seninya sama kan?</p>
<p>Percakapan tentang ini sedang hangat-hangatnya di forum <a href="http://www.milisi.org" rel="nofollow">http://www.milisi.org</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rifky Effendy</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-421</link>
		<dc:creator>Rifky Effendy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 14:59:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-421</guid>
		<description>undangan diskusi di: http://diskusisenirupa.wordpress.com/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>undangan diskusi di: <a href="http://diskusisenirupa.wordpress.com/" rel="nofollow">http://diskusisenirupa.wordpress.com/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ayip</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-370</link>
		<dc:creator>Ayip</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 15:07:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-370</guid>
		<description>Kok posting saya sudah tiga kali ngga dipasang ya. Apakah....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kok posting saya sudah tiga kali ngga dipasang ya. Apakah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Heru Hikayat</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-282</link>
		<dc:creator>Heru Hikayat</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Aug 2007 05:11:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-282</guid>
		<description>Buat Bung Gian, konetar anda ok banget. soal karya seni dari "orang awam" dan master piece dari "maestro". "orang awam" dan "maestro" jelas merupakan istilah yg terkonstruksi. keduanya menunjukan tatanan hierarkies. dan tatanan ini persis telanjang dalam dunia seni. saya kira media seperti beritaseni kita ini efektif untuk menawar tatanan hierarkis tersebut. asal ada yg mau jadi kontributor saja, ya kan Bung Frino?
Frino lagi pacaran di Kalimantan!!! mau kawin!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buat Bung Gian, konetar anda ok banget. soal karya seni dari &#8220;orang awam&#8221; dan master piece dari &#8220;maestro&#8221;. &#8220;orang awam&#8221; dan &#8220;maestro&#8221; jelas merupakan istilah yg terkonstruksi. keduanya menunjukan tatanan hierarkies. dan tatanan ini persis telanjang dalam dunia seni. saya kira media seperti beritaseni kita ini efektif untuk menawar tatanan hierarkis tersebut. asal ada yg mau jadi kontributor saja, ya kan Bung Frino?<br />
Frino lagi pacaran di Kalimantan!!! mau kawin!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: beritaseni</title>
		<link>http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-257</link>
		<dc:creator>beritaseni</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 17:13:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://beritaseni.wordpress.com/ruang-kritik/#comment-257</guid>
		<description>Kang Wening_Galih, daku di Kalimantan Barat nih, lagi mententramkan hati hehehhe. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa Saiful Badar, Amin.

Kang Wening, jangan panggil bau cingur dong....bahayaa. Nanti teu aya yg deket ka urang. hehehehe

frino</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Wening_Galih, daku di Kalimantan Barat nih, lagi mententramkan hati hehehhe. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa Saiful Badar, Amin.</p>
<p>Kang Wening, jangan panggil bau cingur dong&#8230;.bahayaa. Nanti teu aya yg deket ka urang. hehehehe</p>
<p>frino</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
