Indonesia Art News Agency


Maulid Nabi yang Berwawasan Lingkungan
April 19, 2007, 4:42 pm
Filed under: festival

Menyambut Maulid Nabi Muhammad 2007, warga desa Tegalrandu yang berada di kawasan wisata Segi Tiga Ranu di Kecamatan Klakah – Kabupaten Lumajang, Jawa Timur akan menyelenggarakan Maulid Hijau II, pada tanggal dari 20 – 22 April 2007. Maulid Nabi di Desa Tegalrandu ini akan melakukan penanaman pohon untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Maulid Hijau merupakan sebuah metode penyelamatan ekosistem yang dikemas dalam nuansa religi dan budaya tradisi khas masyarakat di desa Tegalrandu. Selain memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, maulid nabi yang unik ini bertujuan melestarikan tradisi dan adat istiadat lokal, meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam untuk kelangsungan hidup manusia.  Maulid Nabi masyarakat desa Tegalrandu juga bertujuan meningkatkan peran serta masyarakat dalam melestarian hutan dan ekosistem di sekitar Ranu Klakah dengan cara menanam secara bersama-sama serta mempromosikan keberadaan Ranu Klakah, Ranu Pakis dan Gunung Lamongan sebagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Lumajang.  Untuk memeriahkan acara panitia yang berasal dari Perguruan Rakyat Merdeka – Simpul Tapal Kuda dan masyarakat Tegalrandu menggelar Pasar Rakyat yang memamerkan sekaligus menjual hasil karya berupa makanan, garment, hasil kerajinan tangan, foto-foto kegiatan dan sebagainya. Kelompok masyarakat seperti Karang Taruna, Muslimat, PKK, Gerbang Mas, Sanggar Kesenian turut terlibat pula dalam mengisi acara.

Pasar Rakyat ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk-produk rakyat desa Tegalrandu kepada public sebagai sebuah potensi yang layak untuk dipasarkan lebih luas.   Ada juga perlombaan rakyat seperti klompen, balap karung, rakit, tarik tambang, catur, panjang pinang, volley ball, tinju gala di air, enggrang, dsbnya. Ada juga teater yang diperankan oleh anak-anak dari Sekolah Rakyat Merdeka – Ranu Klakah. Juga ada kesenian tradisional pencak silat, hadrah, jaffen, glipang dsbnya.

Tak ketinggalan pemutaran film dan pertunjukkan performent art dari beberapa seniman serta marching band dari remaja setempat.  Sementara kegiatan penghijauan dan reboisasi yang menjadi nafas utama kegiatan Maulid Hijau ini tetap mengambil kawasan Ranu Klakah. Target masyarakat Tegalrandu mampu menanam sekira 10.000 pohon terutama pohon buah dan pohon yang berdaun lebar yang berfungsi sebagai penyubur mata air. Ada sekira 28 mata air di pinggiran Ranu Klakah yang sudah mati selama beberapa tahun. Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa langsung merasakan dampaknya. 

Desa Tegalrandu termasuk desa tua, sudah berdiri sejak tahun 1779. Secara geografis berada pada 113°16’18.64” bujur timur dan 7°59’08.02” lintang selatan dengan ketinggian kurang lebih 230 M diatas permukaan air laut. Sementara luas wilayahnya 649.945 Ha dengan jumlah penduduk berdasarkan sensus tahun 2000 sebanyak 4.564 jiwa.

Desa Tegalrandu merupakan satu-satunya desa di kecamatan Klakah yang memiliki potensi alam yang sangat eksotik berupa dua buah Ranu atau dalam bahasa yang banyak di kenal adalah Danau. Kedua Danau tersebut adalah Ranu Klakah dan Ranu Pakis.

Denga potensi alam, serta kemauan masyarakat untuk membangun desa, kiranya maulid nabi ini dapat dijadikan momentum untuk bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Dan terutama penentu kebijakan pemerintah mampu menjadi fasilisator yang bijak. [frino bariarcianur]

Info :

A’ak Abdullah Al-Kudus

Tlp/Fax  : 0334-442805

Mobile   : 081 55 9000 37

E-mail    : pansaka@gmail.com


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

ini adalah awal kebangkitan kebudayaan rakyat
salam untuk masyarakat di Ranu Klakah

Merdeka !

Komentar oleh Maulana

Meyeka !!!!!

Mbahe melu seneng maju terus……

Meyeka…meyeka…meyeka!!!

Komentar oleh Yongki

ada beberapa kecerobohan dalam pengambilan keputusan oleh MUI kab Lumajang, terlepas dari sisi kontrofersi siapa yang sebenarnya berhak mengeluarkan fatwa haram. beberapa hal yang perlu kita catat adalah:
1. pencampuradukan hukum halal haram dalam konteks fiqh dan benar salam dalam kontejs aqidah. hal ini tercermin dari generalisir hukum yang di berikan. yang dijadikan landasan pengambilan hukum oleh MUI klakah adalah “larung sesaji” yang di anggap musrik. kita lupa bahwa wali songo berhasil berdakwah di indonesia yang lebih banyak karna kemampuan mengelola budaya dari hinduisme menjadi islamisme. betapa tidak selamatan orang meninggal itu adalah budaya ” roboh gunung” dalam tradisi jawa yang telah berhasil di islamisasikan, menggunakan aqik sebagai ajimat juga kontroversial, tetapi tidak ada yang menggugat, bahkan para kyai sendiri banyak menggunakannya, tapi apa jawab para kyai itu ketika di tanya” saya tidak meyakini kalau batu aqiq ini memberikan kemanfaatan padaku dan yang memberi kemanfaatan adalah allah, dus …. dalam persoalan larung sesaji perlu kita tanyakan kepada msyarakat klakah apakah dengan melaksanakan larung sesaji itu memberikan bahaya pada mereka? ataukah itu hanyalah melaksanakan sebuah pesta rakyat? dengan mengenang dan memberikan tontonan gratis pada masyarakat luar kota bahkan luar negeri agar klakah dikunjungi orang, dalam larung sesjai ini ada dua sisi yang harus kita perhatikn, yang pertama dari sisi aqidah jika melaksANAKAN larung sesaji tersebut dengan keyakinan kalau warga klakah akan mendapatkan musibah maka hukumnya adalah haram secara aqidah dan itu adalah syirik, tapi harap dicatat bahwa syirik bukan dan bahkan tidak sama dengan aliran sesat. kedua apabila larung sesaji itu tidak diyakini dan sebagai upaya untuk memberikan hiburan, maka perlu di lihat dari dua sisi.
sisi yang pertama apakah sesaji yang dibuang itu seimbang dengan asas manfaat yang di berikan ( baik secara sosiaL maupun ekonmi) jika tidak seimbang maka jelas idlo`atul mal atau menia niakan harta( membung harta yang tidak ada gunanya) dan itu hukumnya adalah haramjika yang dibuang tersebut nyata nyta tidak memberikan manfaat.
dari sisni kita dapat membedakan, antara sesatnya sebuah aliran dan haram dalam konteks fiqih (jika pendapat kami salah). dari sisni dapat kita lihat talbisnya hukum syirik dengan halal atau haramnya membuang makanan ke rnu klkah. maka jelas sudah fatwa tersebut perlu direvisi.
kita lanjut besok aja y ngantuk men!

Komentar oleh NAWAWI JAMALUDDIN

Maulid Nabi, Antara Bid’ah dan Gratisan

Artikel Oleh : m Nawawi Jmluddin

Dalam upaya mengenang tokoh terbesar dalam sebuah golongan, kita sering menemukan berbagai peringatan-peringatan yang diselenggarakan untuk mengenang jasa dan meneladani tindak lampahnya. Contoh kecilnya, di negara kita Indonesia, terdapat sebuah peringatan kelahiran Ibu Kartini, Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pahlawan dan peringatan-peringatan lainnya yang dijadikan sebagai hari besar negara.

Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah ke muka bumi ini, yang dengan dakwahnya, kita dapat merasakan nikmat iman dan islam merupakan sebuah tokoh yang seharusnya lebih berhak untuk diteladani dan dikenang jasa-jasanya. Maulid Nabi Muhammad (hari Kelahiran Nabi Muhammad) tentunya lebih pantas diperingati oleh umat Islam dari pada hari kelahiran Ibu Kartini, hari ulang tahun kita sendiri (Ultah) atau yang lainnya yang jelas-jelas kepribadian dan kedudukan beliau tidak sebanding dengan umatnya.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah “kasus” dari sekian banyak “kasus” yang sering menjadi sasaran pembid’ahan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan sebuah dalil bahwa peringatan semacam itu tidak pernah ada di zaman Nabi. Man Ahdatsa fi Amrina Hadza Ma Laisa minhu fahuwa Roddun – Khoirul Hadits Kitabullah wa Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Wa Syarrul Umur Muhdatsatuha wa kullu Bid’atin Dlolalah Wa Kullu Dlolalatin Fin Nar.

Klaim bid’ah terhadap sebuah golongan atau individu yang memperingati maulid merupakan sebuah “lagu lama” yang tidak bisa dihindari. Hal itu bersumber dari pemahaman sebuah hadits Nabi yang sering dibaca oleh para khatib dan penceramah di setiap prolognya. Dari pemahaman terhadap nash tersebut, akhirnya muncullah berbagai pendapat yang berlawanan. Dalam Fiqh Ikhtilaf (Fiqh Perbedaan), dikatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah perbedaan pandangan dalam memahami sebuah nash. Jadi pantas kalau dalam memahami hadist bid’ah tersebut terjadilah perbedaan pendapat antar ulama.

Dalam hal ini, ada sebagian yang berpendapat bahwa Bid’ah ada yang hasanah (baik) dan sayyiah (jelek). Pendapat ini banyak menuai kritikan, bahkan ada yang menuduh bahwa pendapat itu merupakan pendapat yang menyesatkan, sebab telah menyalai dan menyimpang dari sabda Nabi SAW yang dikatakan secara jelas bahwa “ kullu Bid’atin Dlolalah” setiap bid’ah adalah dlolalah (sesat).

Namun anehnya, di satu kesempatan, sebagian yang lain berpendapat dan mengklaim bahwa pendapatnya merupakan sebuah solusi dari sekian pendapat masalah bid’ah yang ada. Tidak mengakui pembagian bid’ah hasanah dan sayyi’ah namun berpendapat dan memakai istilah lain, yaitu bahwa bid’ah ada yang bersifat diniyah (agama) dan ada yang bersifat dunyawiyah (dunia). Ketika mereka tidak menerima dan mengatakan bahwa pembagian bid’ah ada yang hasanah dan sayyiah adalah sebuah kebid’ahan karena tidak bersumber dari syari’, maka pembagian bid’ah dunyawiyah dan diniyah juga merupakan sebuah kebid’ahan bahkan lebih bid’ah daripada apa yang mereka tuduhkan.

Terlepas dari itu, Maulid nabi Muhammad SAW adalah sebuah fenomena yang masih tetap diperbincangkan masalah hukum memperingatinya. Bagi golongan yang mengatakan bahwa peringatan maulid hanyalah kegiatan biasa untuk menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual (ibadah) sehingga dapat dikategorikan bid`ah hasanah dan bukan bid’ah yang terlarang, sampai kini mereka tetap eksis menyelenggarakan peringatan maulid Nabi setiap tahun.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mungkin bisa dijadikan contoh dalam masalah maulid. Ormas-ormas yang ada pun juga berbeda pandangan dalam hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.Ada yang menerima dan memperingatinya seperti Nahdlatul Ulama’ dan ormas-ormas yang sependapatnya dan juga ada yang menentangnya dan mengatakan bahwa peringatan maulid adalah bid’ah.

Ada sebuah kejanggalan yang kiranya perlu penulis kemukakan dalam tulisan ini. Peringatan Maulid Nabi sudah tidak asing lagi dalam kehidupan warga Nahdliyyin, walaupun ada sebagian golongan yang mengkalim bahwa apa yang dilakukan oleh Nahdliyyin adalah bid’ah, namun peringatan maulid tetap diselenggrakan dengan berbagai acara yang amat variatif.

Pada tahun ini, 1428 H, Libya untuk yang kedua kalinya mengundang ormas-ormas dan tokoh-tokoh Islam sedunia untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Nigeria. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia juga mendapatkan undangan. Dalam kesempatan kali ini, Indonesia diwakili oleh 13 delegasi dari berbagai ormas yang ada. NU sebagai salah satu ormas yang mau merayakan maulid juga mengirimkan delegasinya, namun anehnya, golongan-goongan lain yang sementara ini berseberangan dengan NU dalam masalah Maulid dan sering membid’ah-bid’ahkan warga nahdliyyin dalam memperingati Maulid juga turut hadir dalam peringatan Maulid yang diselenggarakan oleh negeri hijau itu.

What’s up?. Apakah kini pemahaman mereka tentang bid’ah sudah ada perubahan ?. Apakah kini maulid menurut mereka bukan termasuk bid’ah karena disesuaikan dengan zaman ? atau karena diundang oleh luar negeri sehingga sedikit kendor dalam mengawal pemahaman mereka selama ini ? atau karena dapat tiket pesawat dan uang saku sehingga tidak ada bid’ah lagi ? Wallahu A’lam.

Komentar oleh NAWAWI JAMALUDDIN




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s