Indonesia Art News Agency


Kemodernan Kaligrafi Pirous
April 22, 2007, 11:55 pm
Filed under: visual arts

Oleh : Heru Hikayat*

Rabu 21 Maret 2007 Galeri Soemardja ITB dipenuhi puluhan orang yang menghadiri acara “75 Tahun A.D. Pirous dan 35 Tahun Seni Lukis Kaligrafi Modern Indonesia”. Acara berupa forum diskusi dan pameran singkat lukisan Kaligrafi A.D. Pirous (21-23 Maret). Forum diskusi selain menampilkan Pirous sendiri juga Abdul Hadi W.M.

Mengantar forum diskusi, moderator Aminudin T.H. Siregar memaparkan pengelompokan karya-karya yang dipamerkan. Pertama, lukisan kaligrafi yang mengutip Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kedua, lukisan kaligrafi bertemakan perlawanan, perang dan politik. Ketiga, lukisan yang mengutip sastra kuno, modern dan syair ma’rifat. Kelompok keempat bertemakan nilai-nilai moral dan problematika sosial dalam masyarakat. Terakhir adalah kelompok karya berupa pengelolaan huruf, seperti beberapa lukisan terbaru Pirous yang mengolah huruf-huruf pembentuk kata Allah. Sejak awal forum itu terasa sarat muatan.

Dr. Abdul Hadi W.M. mendapat kesempatan presentasi pertama. Ia mulai dari paparan prinsip estetika yang dikembangkan Islam. Poin awalan: tidak benar jika dinyatakan pelarangan penggambaran makhluk hidup menjadi prinsip utama yang mendasari seni rupa Islam. Penggambaran makhluk hidup menerapkan prinsip mimetik (peniruan). Dalam estetika Barat, mimetik menjadi dasar penting. Itulah kenapa mereka merumuskan teori perspektif. Bagi perupa muslim, mimetik tidak terlarang melainkan tidak menjadi obsesi, demikian Abdul Hadi W.M. Lebih lanjut ia memaparkan hal ini berkaitan dengan ajaran Al-Qur’an tentang penghargaan lebih pada pencapaian akal budi manusia dibandingkan dengan pengamatan inderawi. Pendek kata, obsesinya adalah melampaui materi, menggapai yang transenden.

Kaligrafi seluruhnya hasil cipta manusia dan merupakan dasar dari budaya literer. Ini sangat sesuai dengan ayat pertama yang diturunkan pada Muhammad: “iqra” (bacalah). Abdul Hadi melanjutkan, bahasa Arab mendapat derajat tinggi karena digunakan dalam kitab suci kaum muslim. Sangat wajar jika kaligrafi arab menjadi ikon dari seni rupa Islam.

Mengenai seni lukis kaligrafi dan seni modern, Abdul Hadi menggaris-bawahi titik temunya adalah lukisan abstrak. Dalam lukisan abstrak ia menyatakan ada sikap ketidak-tergantungan pada bentuk objektif. Sikap ini dipercaya dapat mengantar karya ke jenjang yang lebih tinggi dalam seni murni. Pengesampingan peniruan, kata lainnya adalah representasi, membuatnya terhubung dengan prinsip seni rupa Islam yang lebih mengedepankan creatio. Ini soal penciptaan oleh si seniman.

Selanjutnya, Prof. A.D. Pirous. Lahir di Meulaboh, Aceh, 11 Maret 1933. Ia hijrah ke Bandung tahun 1955, mulai studi di Seni Rupa ITB, menggondol gelar sarjana tahun 1964, langsung menempati posisi pengajar. Tahun 1969-1970 mendapat tugas belajar di Rochester Institut of Technology-New York, kemudian pulang dan merintis Program Studi Desain Grafis. Patut dicatat pula kiprah perintisan Studio Decenta. Menggunakan istilah lebih mutakhir, Decenta merupakan artist initiatives spaces —ruang yang dikelola seniman, dibedakan dari galeri yang dikelola oleh pemodal-pengusaha. Pada masa infratsruktur seni rupa masih lebih miskin dibanding kondisi sekarang, Decenta mengakomodasi kerja kreatif sekelompok seniman; bukan hanya bengkel kerja dan ruang pamer tapi juga penerbitan (pada hari itu di Soemardja panitia juga menjual buku pendamping pameran retrospektip A.D. Pirous tahun 1985 terbitan Galeri Decenta). Di antara sekian banyak pencapaian studio ini, patut ditekankan soal pengembangan seni grafis.

Pada buku retrospektif A.D. Pirous itu, Machmud Buchari membuat pembedaan antara “kaligrafi murni”—yaitu kaligrafi yang dinyatakan tunduk pada konvensi—dengan lukisan kaligrafi. “Jadi, pemakaian istilah ‘lukisan kaligrafi’ di sini diartikan sebagai lukisan yang mengambil bentuk dan karakter kaligrafi dan mengubahnya dalam bentuk baru yang utuh”, demikian Machmud Buchari. Ini merupakan kredo tentang kemodernan lukisan kaligrafi.

Dalam presentasi tulisan Pirous menceritakan pengalaman belajar teknik etsa viskositi di New York. Dengan teknik etsa, jika kita mau menghasilkan gambar multi-warna biasanya harus digunakan beberapa plat. Dengan etsa viskositi, satu plat bisa menghasilkan banyak warna. Pirous menekankan soal efek visual dari teknik ini yang serupa relief timbul-kaya tekstur dan wewarna lembut menyatu bak beludru. Ia menyatakan efek visual ini menginspirasi lukisan-lukisan kaligrafinya di kemudian hari.

Dalam presentasi lisan Pirous, sambil menunjukan gambar-gambar pada proyektor, menceritakan riset yang ia lakukan di Aceh. Seni kaligrafi berkembang di Aceh sejak dulu. Artefak yang tertinggal hingga kini terutama adalah batu nisan dan manuskrip. Riset ini dilakukan sebagai suatu upaya mencari akar. Di Amerika Serikat, dalam keadaan berjarak, Pirous merasa desakan kuat untuk merumuskan identitas diri. Ditambah pengalaman menyaksikan pameran kaligrafi Timur Tengah, Pirous pun teringat kampung halaman: ia dibesarkan dalam tradisi yang menjunjung kaligrafi. Sejak itu Pirous merintis penekunan kaligrafi sebagai genre lukisan modern tersendiri.

Klaim 35 tahun seni lukis kaligrafi modern dihitung dari pameran kaligrafi Pirous di Chase Manhattan Bank-Jakarta tahun 1972. Pameran itu dinyatakan pameran lukisan kaligrafi modern pertama di Indonesia.

Dalam diskusi itu, saya sempat bertanya pada pembicara pertama, di mana letak kemodernan lukisan kaligrafi? Karena saat itu ia tidak melontarkan kredo seperti yang dilakukan Machmud Buchari. Abdul Hadi menanggapi pertanyaan saya dengan membalikan pertanyaan, apa itu kemodernan. Jika kemodernan berpijak pada sikap rasional, berdasar pengalaman empirik dan pembebasan dari mitos, hal ini tentu sudah tercapai bahkan oleh karya-karya lukisan dari Timur Tengah dari abad-abad lalu.

Kembali pada kredo Buchari karakter kaligrafi merupakan acuan untuk selanjutnya digubah ke “bentuk baru yang utuh”. Penggubah itu tentu saja seniman. Ini soal ke-aku-an. Ke-aku-an memang prinsip penting modernisme. Trisno Sumardjo dulu menyebutnya “tenaga perseorangan”. Tenaga perseorangan ini mendasari pencapaian seniman dengan melepaskan dirinya dari situasi komunal yang menghimpit karena feodalisme dan penjajahan. Pada masa itu kemodernan dibangun langsung bahu membahu dengan nasionalisme. Hal lain, kredo Buchari seolah mendampingi pernyatan Pirous hari itu, “…ini bukan dakwah, kita ini painter (pelukis)”. Pirous menekankan kerja pelukis menghasilkan lukisan sebagai karya seni. “Bentuk baru yang utuh” itu merupakan orientasi kerja pelukis kaligrafi modern.

Tak pelak lagi, forum itu merumuskan kemodernan lukisan kaligrafi karya A.D. Pirous. Maka, sungguh sayang pameran hanya dilangsungkan 3 hari, hingga tak banyak kesempatan bagi publik untuk memirsa karya-karya. Konon keunggulan karya seni terletak pada kemampuannya mendekati kualitas “das ding an sich” (benda sebagaimana adanya). Dengan begitu, sehebat apapun kredo yang terbangun dari tindak penafsiran, tetap saja yang terbaik untuk dilakukan adalah melihat secara langsung, hadapi sendiri si benda itu. Tantang diri anda untuk mencerna apa yang ada di hadapan anda. Anda sendirilah yang memutuskan untuk terpesona, atau sebaliknya; lalu tafsir pun bergulir terus.

* Penulis, kurator RedPoint Gallery-Bandung


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Salam, kenal.

Komentar oleh Ahmad samantho

BAGAIMANA CARANYA DAN CONTOHNYA?TLG KASIH TAU LEWAT MAIL
THANKS

Komentar oleh mid

Hey there just wanted to give you a quick heads up and let you know a few of the
images aren’t loading correctly. I’m not sure why but I think its a linking issue.

I’ve tried it in two different web browsers and
both show the same results.

Komentar oleh Hay Day cheats




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s