Indonesia Art News Agency


Seni Rongsokan
April 23, 2007, 4:13 pm
Filed under: visual arts

disorder-1.jpgdisorder-3.jpg  Oleh : Heru Hikayat

Bagaimana bisa sekelompok orang bekerja keroyokan mengumpulkan berbagai rongsokan lalu menjadikannya karya seni? Tentu saja bisa, kata si Kakatua, karena dalam era kontemporer ini apa saja bisa jadi seni. Kotak semir sepatu bertumpuk di rak pajang toko swalayan adalah kotak semir sepatu. Kotak semir sepatu bertumpuk di dalam galeri adalah seni. Seniman punya kemampuan sulap: benda biasa-biasa saja, sim salabim, disulap menjadi seni dan diperlakukan secara sangat luar biasa.

Ya sudahlah. Diskusi kita berhenti saja di sini.


Tapi itulah. Kalau benar-benar berhenti di sini, bukan seni namanya. Karena seni tidak ada yang ujug-ujug. Dalam seni tidak ada yang terjadi begitu saja, tiba-tiba, dan apa adanya. Segala sesuatu dalam seni bisa ditelusuri keterhubungan sekaligus keterputusannya dengan apa-apa yang telah lebih dulu ada sebelumnya. Istilah kerennya: menyejarah. 

Mari kita perhatikan baik-baik gejala-gejala di ruang ini, yang dipicu oleh gagasan berjudul “Disorder-Beauty”.

Begitu masuk, sebelah kanan ada serupa kerangkeng besar—lebih tinggi dari rata-rata orang—dengan mekanik yang memutar-mutar drum di poros tengah. Di pusat ruangan adalah ranjang kayu-putih, dipenuhi rumput pada bagian atas, dengan sebuah cangkul di tengah-tengahnya. Tengok ke kolong, ada pecahan cermin berserak. Ada 2 kotak persegi yang menjadi dudukan alat elektronik. Satu untuk kamera yang berputar dan satu lagi serupa alat pemindai.

Keduanya, kalaupun bisa disebut alat elektronik, tanpa kulit kemasan hingga bagian dalam yang rumit terlihat, ditempali pula dengan berbagai material lain. Di sisi ranjang lain, berhadapan dengan panggung, adalah sofa panjang warna merah, bagus dan nyaman diduduki. Ini satu-satunya benda yang tampak utuh dan sopan—kecuali bahwa permukaannya dilumuri minyak—karena dinding ruang selebihnya dipenuhi panel-panel dengan gambar-gambar yang bayak diimbuhi tempelan. Tambah permainan cahaya, di satu sisi ada lampu kelap-kelip-berputar seperti yang biasa kita lihat di diskotik, di sisi lain ruang dibikin temaram. Seperti tak ada pola yang dipakai untuk pijakan pengaturan cahaya. Unsur bunyi, ragam dan campur-aduk.  Apakah kesannya berantakan, seperti disarankan dalam judul ‘disorder’ = ketidak-beraturan? Tapi kata kedua dalam judul adalah keindahan. Keindahan menyaran pada kebagusan, kecantikan, harmoni, keselarasan, keberaturan. Dengan kata lain ada pola.disorder-4.jpg

Kita lihat lagi baik-baik. Ruangan ini tidak penuh-penuh amat. Pengunjung tidak sampai ada dalam keadaan sesak oleh berbagai rakitan benda. Bagian yang paling padat adalah dinding, hingga pengunjung, dalam keadaan cukup cahaya, bisa asik menelusuri rinci tiap panel. Keterampilan yang dibutuhkan dalam menghasilkan karya ini, bisa dibagi dua kategori besar: menggambar dan merakit. Dari pembagian ini, kita mulai mencium satu alur konvensional dalam disiplin seni rupa: drawing dan painting. Pada bagian dinding, anda bisa menemu bagian-bagian berupa gambar figur, gambar benda, motif cut out, grafiti, relief, kolase. Semuanya adalah varian teknik yang biasa ditemui dalam dunia lukisan. Bahkan atap pelindung telepon umum, dudukan kamera, keyboard, drum, dan lain-lain objek trimatra juga digambari. Ini adalah cara-cara menggambar dalam koridor disiplin seni lukis. Maksud saya, kalau diperhatikan cara menggambar figurnya, cara menggambar benda, menyusun komposisi kolase, karakter sapuan kuas, modifikasi motif, semuanya bisa dibayangkan menghasilkan lukisan yang bagus.  disorder-6.jpgAda satu lagi disiplin: patung. Beberapa objek trimatra punya keajekan dan kepadatan sosok khas seni patung. Ada kualitas “keteguhan, keajekan, keanggunan sosok objek yang mampu mengada untuk dirinya sendiri, hingga menuntut penempatan harmonis dengan lingkungan sekitarnya”—demikian nukilan dari penyair R.M. Rilke tentang Rodin. Ini semacam rumus dasar-klasik seni patung. Dan saya kira pada beberapa objek trimatra di sini, kualitas itu diperhitungkan. Artinya konvensi seni patung bukan tidak memainkan peranan dalam instalasi ini. Pada bagian dinding juga ada bagian menarik berupa lempengan logam digubah menjadi serupa siluet figur setengah badan. Tepian siluet berupa ‘sayatan’ kasar dari efek las, demikian juga garis yang membentuk citra mata dan mulut. Efek las menjadi garis menoreh ini, saya kira artistik. Dan efek semacam ini biasa dilihat pada karya patung yang menggunakan media logam. Hanya saja, figur ini dibentuk secara dwimatra.   Namun harus diperhatikan, bahwa objek-objek trimatra dituntaskan, diteguhkan sosoknya, dengan cara digambari. Tempelan objek-objek di dinding juga tampak disusun komposisinya dengan nalar dwimatra. Bilah-bilah papan, potongan besi, lempengan-lempengan, dan berbagai alat elektronik, tidak dipasang begitu saja, melainkan ditempel dengan memperhitungkan gambar yang telah lebih dulu dibuat pada panel. Hanya kawat dan kabel yang terlihat agak sembarang.Kita tahu, paradigma seni rupa didominasi seni lukis, melampaui pilihan trimatra yang didominasi seni patung. Dan fitrah bidang dwimatra adalah dinding. Menyaksikan komposisi instalasi yang memadat ke dinding, bisa diambil kesimpulan, instalasi ini masih terikat pada dinding. Artinya kerja menggambar masih dianggap lebih substansial daripada merakit.  

Dalam brosur pameran kita dapat keterangan tentang proses kerja. Ini adalah kerja kolektif. Tidak ada bagian karya yang diklaim sebagai hasil karya individual. Diceritakan bahwa tiap orang mulai dengan apa “yang dia punya”. Kepunyaan dalam hal ini bukan hanya alat melainkan keterampilan. Tiap orang tentu punya karakter sendiri-sendiri. Lalu ada proses saling menimpali produk awal, agar karakter individual terleburkan.

Sampai di sini kita membayangkan ada pertukaran yang riuh antar sejumlah orang dengan karakternya masing-masing. Ada situasi yang sengaja dibukakan demi keleluasaan kerja kolektif serta upaya “melepas batas dan berupaya menjangkau kemungkinan-kemungkinan baru”—untuk meminjam jargon Senirupabermain.

disorder-3.jpgDalam dunia seni rupa, modus kerja kelompok sudah biasa. Salah satu kasus paling ekstrem adalah “Seni Rupa Penyadaran” Moelyono. Ia melibatkan seluruh warga suatu kampung di Jawa Timur. Tapi kita juga harus ingat bahwa nama pribadi Moelyono tetap menjadi jaminan bagi keseluruhan hasil kerja kolektif. Dalam hal ini saya setuju dengan Ahda Imran, bahwa di karya Disorder-Beauty, karakter karya Nandang Gawe tampak kuat di beberapa bagian panel. Reputasi Nandang ternyata sampai batas tertentu mengatasi niat kerja kolektif.    

Pertama, sebuah kerja kolektif dalam dunia seni bukan hanya bergantung pada karakter individual orang-orang yang terlibat di dalamnya, melainkan tetap berhubungan dengan reputasi yang telah dimediasikan pada publik. Citraan yang telah diserap oleh publik bagaimanapun tidak bisa diabaikan. “Fitrah” individual karya seni rupa bagaimanapun merupakan resiko yang harus dihadapi pola kerja kolektif.  

Kedua, komposisi karya secara keseluruhan menunjukan hegemoni dwimatra dan gambar-menggambar dalam seni rupa. Jadi kebebasan yang dibukakan selama proses kerja ternyata tidak membuat orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan ini melepaskan diri dari sekat-sekat disiplin dalam seni rupa. Ketika objek-objek trimatra disusun berdasar nalar dwimatra, bahkan keterampilan merakit alat elektronik pun tak mampu mengatasi hegemoni gambar-menggambar.

Berpuluh tahun lalu, Marchel Duchamp telah mencanangkan diktum ready-made (bisa diterjemahkan: barang-jadi). Penggunaan barang-jadi dalam seni menjadi tonggak penting karena hal ini menantang doktrin penciptaan. Istilah “mencipta”, “berkreasi”, menunjukan keyakinan bahwa dalam berkarya seni, seniman bukan hanya membuat sesuatu, melainkan menggubah dari ketiadaan menjadi ada. Penggunaan barang-jadi dengan demikian mereduksi langsung kepenciptaan seniman. Diktum Duchamp yang lain, adalah found object (objek temuan). Objek temuan mereduksi doktrin “kemuliaan” material seni. Seni rupa sesungguhnya tercipta dari material. Tapi material ini dibakukan dalam konvensi dan mengalami transendensi menjadi nilai-nilai. Penggunaan objek temuan mengutarakan bahwa material bisa apa saja, lalu transendensi merupakan efek dari diskursus artistik.   disorder-2.jpgPerlu diingat juga The Merzbau dari Kurt Schwitters. The Merzbau dianggap pelopor seni instalasi abad 20. Schwitters menggarap rumahnya di Hannover sejak 1923. Ia mengumpulkan dan merakit berbagai objek memenuhi relung-relung rumahnya. Sebagai orang Jerman, Schwitters cenderung tertib bentuk. Instalasi rakitan dia artistik. Ternyata bukan sembarang benda. Sebagian relung-relung di rumahnya didedikasikan bagi teman-temannya. Benda-benda yang dirakit di sana adalah serupa memorabilia. Tapi di atas semua itu adalah dedikasi seumur-hidupnya. Tahun 1937 ia mengungsi ke mengungsi ke wilayah Skandinavia, menghindari rejim Nazi. Ia lalu berusaha membangun The Merzbau di Oslo. Ia lari lagi ke Inggeris karena tentara Nazi berhasil mencapai Norwegia, The Merzbau II terbakar. Tahun 1947 ia berusaha membangun versi terakhir The Merzbau. Ia meninggal awal 1948. The Merzbau versi orisinal telah hancur terkena bom pada masa Perang Dunia II. Selain dedikasi seumur hidup, keintiman Schwitters dalam karya Merzbau mencolok. Di samping memorabilia menyangkut teman-temannya, ia menggarap rumah tinggal, yaitu ruang yang sangat pribadi bagi tiap orang. Pencapaian orang-orang seperti Duchamp dan Schwitters melegenda karena mampu mempengaruhi generasi kemudian. Dalam warisan sejarah seperti ini, maka cukup aneh jika di tahun 2007 ada orang-orang yang membuat karya instalasi dari objek temuan sambil terlihat tidak mampu lepas dari hegemoni dinding, padahal dihasilkan dari kerja kolektif. Kerja merakit seharusnya mengatasi kerja menggambar, analog dengan kolektifitas diniatkan mengatasi individualitas.  

Di karya Disorder-Beauty ada kamera berputar yang bisa ditampilkan langsung gambar tangkapannya. Rakitan ini sebenarnya sangat mampu menghasilkan efek penguasaan ruang besar. Walaupun berupa gambar, ia adalah gambar bergerak, dan merupakan hasil tangkapan langsung ruang aktual: mengaburkan secara telak kenyataan empirik yang dialami langsung di sini-saat ini dengan citraan, ruang aktual dan ruang maya. Kekaburan visual seperti ini sesungguhnya punya signifikansi artistik, dibandingkan dengan unsur bunyi yang hanya acak dan gaduh. Sayangnya ia tidak tercapai.

(Panorama, 21 April 2007)

Untuk diskusi pameran Disorder-Beauty, CCF Bandung, 21 April 2007 

Foto : Frino Bariarcianur


7 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Kalo yang ini bisa termasuk seni kontemporer ngga ya Ru?
http://odoygiantfansclub.multiply.com

Komentar oleh Quail Bloch

karya besar yg memang nyatanya kelihatan sekilas sepele,aku suka karena schwitters berjuang mempertahankan seni dan nyawanya dari kega.nasan perang.

Komentar oleh faris ramadhanl

karya besar yg memang nyatanya kelihatan sekilas sepele,aku suka karena schwitters berjuang mempertahankan seni dan nyawanya dari keganasan
perang.

Komentar oleh faris ramadhanl

karya mahal yang yang teranggap murah,makanya jangan sekali-kali meremehkan seni apapun!

Komentar oleh ryan

aq koleksi sebuah collage dari kurt schwitters,aq mau lelang,thn pembuatan 1929 uk.13x17cm,siapa minat? hub.085285291427

Komentar oleh indah

ilove nandang gawe…..
heheheh…

Komentar oleh waweng renoc

saya diwarisi ortu 1 bh kolase 13×17 cm Kurt Schwitters gambar abstrack.hub saya 081288801917

Komentar oleh ryan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s