Indonesia Art News Agency


Haru Biru Sebuah Pesawat Tempur
April 24, 2007, 12:30 pm
Filed under: visual arts

Oleh : Frino Bariarcianur Barus

Kemenangan dari sebuah perang itu semu karenanya menjadi mellow.

Ungkapan ini kiranya menjadi salah satu dasar pemikiran Iswantoro Hartono saat mengerjakan proyek pameran tunggalnya di Galeri Soemardja. Pameran tunggal berjudul “Blue” [5-27 April 2007] ini menyuguhkan sebuah replika pesawat jenis F-1117A Nightwalk atau Stealth Fighter yang pernah populer saat Perang Teluk 1990-1991 di Timur Tengah. Di dalam Galeri Soermadja ITB mesin kekejaman itu menjadi sendu dan meng-haru biru.
Kerangka pesawat siluman karya Iswantoro terbuat dari besi baja yang bersambung-sambung. Penyambungan besi baja menggunakan metode las. Ukuran karya hampir tak berbeda dengan pesawat aslinya sekira 12 X 15 X 5 M. “Dibanding dengan aslinya, replika yang saya buat lebih pendek,” kata Iswantoro kepada saya saat berproses di Galeri Soemardja. Ukuran karya yang besar seperti itu tak pelak membuat Galeri Soemardja terlihat penuh.

Di tiap besi dipasang lampu neon yang memancarkan cahaya biru. Sementara tali-tali kabel listik berjuntai di lantai. Lalu di salah satu dinding galeri terdapat tulisan bergerak,”Victory is Mellow.”

Pada saat pembukaan pameran banyak pengunjung yang tak kuat menatap lama karya Iswantoro. Mata pengunjung agak perih dan kepala sedikit pusing. Cahaya biru itu seperti ‘tameng’ atau ‘kabut’ yang menyelubungi body pesawat yang terbuat dari besi.Dengan kata lain cahaya biru itu juga seperti menyamarkan identitas pesawat siluman yang kejam dan keras.

Pesawat F-1117A Nightwalk memiliki kemampuan masuk ke wilayah musuh tanpa terdeteksi oleh radar. Pesawat ini pula mampu menghancurkan sebuah wilayah dalam hitungan detik. Tidak heran dalam Perang Teluk, pesawat ini sangat diandalkan untuk merebut kemenangan dalam sebuah perang.

Tetapi di dalam pameran ini, kalau pun ingin mengenang kemenangan perang, kita terlalu jauh alias nggak dapat feel-nya. Lagi-lagi ingatan yang kuat selalu kehancuran dari perang itu. Air mata, darah, kekejaman, intimidasi dan segala macam hal kesedihan.

Menurut Aminudin TH Siregar yang menjadi kurator pameran, kerangka pesawat dengan material keras dan pendaran lampu berwarna biru akhirnya membangun sebuah pemaknaan yang seperti dikonsepsikan oleh Iswantoro sebagai perpaduan ironis antara kekerasan dan kelembutan, seolah-olah seperti penyamaran dari suatu peristiwa, suatu situasi yang menyiratkan kesenduan dibalik kekerasan.

Sementara teks “Victory is Mellow” merupakan kenyataan tak terbantah dari situasi setelah perang, dimana di satu sisi orang sangat bersuka cita tapi di sisi yang lain orang menjadi sangat menderita dari arti sebuah kemenangan. Di sini Iswantoro sedang mengajak bermain ke dalam wilayah yang gamang lantas mempertanyakan posisi kita di dalam kegamangan itu?

Di dalam konteks kenegaraan, kita dapat melihat negara [atau pemerintah] Indonesia juga gamang saat menentukan sikap politik luar negeri, semisal, berkaitan dengan projek nuklir yang dikembangkan oleh Iran. Kegamangan juga terjadi pada kaum intelektual ketika pemerintah presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu. Kegamangan inilah yang coba disodorkan oleh Iswantoro melalui replika pesawat siluman yang berselimut cahaya biru.

Secara tegas,”Saya tidak ingin membicarakan tentang anti perang tetapi isu ‘budaya’ dibalik sebuah perang,” kata Iswantoro.

Ia seperti sedang membenturkan pikirannya dengan pikiran orang banyak bahwa untuk membicarakan perang tak harus menggunakan cara yang vulgar. Dengan menggunakan visual yang tampak lembut maka kekerasan perang itu akan lebih terasa. Pada akhirnya kita pun bertanya, untuk apa berperang.

Selama proses memasang karya ia dibantu rekannya Amrizal Sulaiman yang tinggal di daerah Batu, Jawa Timur. Dulu Amrizal pernah menyuguhkan pertunjukkan Mystical Machine di CCF tahun 1999 bersama kelompok performance art Modus Operandi asal Jogyakarta. Mereka berdua memang kawan karib sejak lama dan sering terlibat diskusi serius perihal dunia seni rupa juga masalah keluarga.

Pada tahun 2004 misalnya di Universtias Tarumanegara mereka pernah membuat karya yang menggunakan game elektronik, play station. Karya berjudul “Game Is Not [Yet] Over, With AK-47 di Galeri Lawang Jakarta ini menyuguhkan perihal perang dalam konteks permainan. Sekaligus memicu kesadaran kita untuk aktif melihat situasi –meski dalam game—yang mampu memunculkan perang atau konflik pada diri kita.

Ini juga sebuah kenyataan ironis bahwa perang –melalui game—menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Eksplorasi yang dilakukan Iswantoro Hartono melalui beberapa karya tak bisa dilepaskan dari disiplin ilmu yang selama ini digelutinya, yakni dunia arsitektur. Tak heran bila ia sangat teliti membangun sebuah karya dan memperhitungkan segala aspek visual. Iswantoro adalah seorang arsitek sekaligus dosen di Universitas Tarumanegara Jakarta. Ia beberapa kali mengikuti program residensi, pameran dan mendapatkan beasiswa luar negeri diantaranya India, Amerika Serikat, Korea dan New Zealand. Beberapa karyanya pernah dipajang di Galeri Red Mill, Vermont Studio Center [USA], Galeri seni Govett-Brewster, New Playmouth, [New Zealand], dan masih banyak lagi.[]

Berita terkait : Making the Stealth


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s