Indonesia Art News Agency


Politik Komunitas Sastra*
April 26, 2007, 11:28 am
Filed under: Literature

oleh Saut Situmorang** 

The philosophers have only interpreted the world, in variousways;

the point, however, is to change it.

-Karl Marx 

During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act.

-George Orwell 

Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama prose-poem Afrizal Malna yang berjudul “Persahabatan Dengan Seekor Anjing” dari bukunya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (Bentang, 2002). Sajak-prosa Afrizal tersebut, bagi saya, merupakan semacam metafor atas apa yang selama ini dikenal sebagai “sastra Indonesia”. Saya bilang selama ini karena, bagi saya, saat ini sudah tak ada lagi “sastra Indonesia” itu. Walau bahasa ekspresinya masih memakai bahasa “Indonesia”, tapi isi dari “sastra” yang disebut sebagai “sastra Indonesia” tersebut sudah bukan sastra lagi melainkan sesuatu yang cuma berpretensi sebagai “sastra” belaka.

Dunia “sastra Indonesia” saat ini telah menjadi sebuah “negara” dalam sebuah “kulkas” dengan “partai-partai spanduk dan kaos oblong”. Sebuah negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” sambil “mencekik suara rakyat”nya sendiri, yaitu para sastrawan, para seniman sastra, yang dalam kepala masing-masing tak ada ambisi ekstra-literer kecuali hanya bagaimana mencipta karya-karya sastra yang baik dan perlu untuk dibaca oleh pembaca lokal maupun internasional.

Baik karena memang ditulis sebagai sebuah karya seni dan perlu untuk dibaca karena memang menawarkan sebuah ide, sebuah pemikiran yang bisa memperkaya pengalaman intelektual pembacanya. Para seniman sastra yang mempertaruhkan reputasi kesenimanannya hanya pada mutu karyanya, bukan pada politik berkesenian yang semata-mata didukung oleh besarnya jumlah uang dan dusta belaka.

Arogansi yang cuma bersandar pada besarnya jumlah uang dan retorika dusta sudah merajelela dalam dunia kang ouw sastra Indonesia. Para dilettante sastra, para petualang sastra merajalela, menjadi paus-paus sastra baru, mencipta kanon-kanon sastra baru. Tapi tak pernah sekalipun para paus-paus sastra baru ini mampu membuktikan di mana sebenarnya kedahsyatan kanon-kanon sastra baru yang mereka ciptakan itu. Berhasilnya mereka menjadi paus-paus sastra baru yang mencipta kanon-kanon sastra baru pun bukan disebabkan oleh kedahsyatan argumentasi teori seperti yang biasanya terjadi dalam sebuah dunia yang demokratis dan beradab tapi cuma karena dominasi besarnya jumlah uang dalam bentuk media massa yang mereka miliki semata.

Media mereka inilah yang menjadi alat retorika dusta mereka. Media mereka inilah arogansi mereka.  Impotensi kritik sastra di Indonesia merupakan sebuah penyebab utama merajalelanya para dilettante sastra. Otoritas akademis/teoritis sebuah institusi kritik sastra di “negara yang sibuk mengurus makanan anjing” ini sudah digantikan oleh otoritas modal kapitalis. Kondisi pascakolonial ini makin diperparah oleh munculnya sebuah fenomena baru, yaitu maraknya keberadaan apa yang disebut sebagai “komunitas sastra” atau pengarang. Komunitas pengarang yang sejatinya adalah perkumpulan sekelompok pengarang independen yang berideologi artistik yang sama, seperti yang kita kenal dalam sejarah peradaban Barat pada para pengarang Neo-Klasik, para pengarang Romantik, para pengarang Simbolis, para pengarang Ekspresionis, para pengarang Futuris, para pengarang Imagis, Dada, Surrealis, Absurd, Eksistensialis, Realis-Magis, Beat, L-A-N-G-U-A-G-E, Konkrit, Marxis, Feminis, Pascakolonial, Posmo…, di negeri ini ternyata cuma menjadi komunitas sastra arisanis belaka. Namanya saja “komunitas pengarang” tapi orientasi hidupnya bukanlah mengarang dalam pengertian kreatif kata tersebut melainkan menunggu antrean arisan untuk diundang baca puisi atau baca prosa oleh komunitas sastra lain yang paling dominan kekuasaan uangnya.

Idealisme para leluhur mereka yaitu para pengarang Barat (yang sering mereka ejek atau puja-puji setinggi langit walau tak pernah mereka baca/pahami dengan sebenarnya itu meskipun “sastra” sebagai sebuah Seni mereka peroleh dari kolonialisme Barat) yang telah berhasil mewariskan beragam aliran estetika di atas telah mereka campakkan ke dalam tong sampah. Akibatnya, bukan pluralisme gaya menulis yang terjadi tapi keseragaman estetika fascis. Bukan keseragaman eksplorasi artistik yang menghasilkan gerakan seni (art movement), tapi fetishisme selera seseorang, atau dua orang, yang menjadi duta besar kepentingan politik komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya.

Koran dan majalah adalah kedutaanbesar komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya dan menjadi orientasi publikasi/sosialisasi karya para pengarang komunitas sastra lainnya. Skandal sastra biasanya adalah kanonisasi sastra tapi dalam versi Indonesia skandal sastra cuma sekedar skandal sastra. Skandal sastra yang disebabkan buku puisi Baudelaire Les fleurs du mal (1857) di Prancis, yang disebabkan novel esek-esek Henry Miller Tropic of Cancer (1934) di Amerika Serikat atau novel Lady Chatterley’s Lover (1928) DH Lawrence di Inggris, yang disebabkan buku puisi Howl (1956) Allen Ginsberg di Amerika Serikat, misalnya, telah membuka sebuah horison kemungkinan gaya mengarang yang baru pada masing-masing budaya, telah menyebabkan musim semi artistik pada dunia sastra masing-masing budaya.

Tapi skandal sastra pada apa yang dulu disebut “sastra Indonesia” itu cuma memperparah kondisi impotensi kritik sastra dan meningkatkan kekuatan dominasi komunitas sastra tertentu yang memang sengaja menciptakan skandal-skandal sastra tersebut.

Skandal sastra adalah alat untuk melegitimasi sekaligus memperkokoh status quo komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya tersebut. Skandal sastra itu sendiri bisa mengambil bentuk pembuatan klaim-klaim pseudo-kritik sastra atas karya-karya sastra tertentu, biasanya menjatuhkan untuk karya produk komunitas lain dan mengelu-elukan kalau dikarang anggota komunitas sendiri.

Klaim-klaim pseudo-kritik sastra itu sendiri diumumkan bukan lewat jalur komunikasi informasi yang netral tapi melalui media massa nasional yang dimiliki komunitas yang berkepentingan dimaksud. Skandal sastra juga dilakukan lewat pemberian hadiah sastra kepada pengarang-pengarang tertentu atau, ini yang paling sering menjadi pilihan strategis, melalui undangan festival sastra yang diselenggarakan komunitas yang berkepentingan dimaksud. Tapi dengan satu catatan pinggir: para pengarang “tertentu” yang dipilih tersebut memang sudah tertentu ideologi kepengarangannya, yaitu minimum bukan merupakan pengarang yang akan kritis terhadap sepak-terjang komunitas dimaksud.

Seorang pengarang boleh saja kritis atas dekadensi kultural yang dikembangbiakkan komunitas dimaksud tersebut tapi asal dia tutup mulut dan pura-pura tidak tahu maka kesempatan untuk terpilih dalam arisan menikmati kue kesastraan ala komunitas tersebut sudah jauh lebih terpastikan. Seperti yang diteriakkan penyair Beat Allen Ginsberg dalam baris pembuka yang sangat terkenal dari puisi panjangnya Howl yang kontroversial itu, “I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked”, begitulah yang saya lihat sudah dan sedang terjadi pada otak-otak cemerlang generasi saya yang rusak karena gila ketenaran instan 15-minute fame ala MTV, lapar histeris akan legitimasi status kesastrawanannya, oleh silau ilusi pseudo-kosmopolitanisme yang dengan naif disangkanya direpresentasikan oleh komunitas yang “kekuatannya” semata-mata bersandar pada besarnya jumlah uang yang dimilikinya, bukan pada canggihnya pengetahuan dan kemampuannya.

Kenapa saya terus menerus menyinggung soal “besarnya jumlah uang” yang dimiliki oleh komunitas (-komunitas) sastra tertentu dalam esei saya ini? Jawabannya sederhana; dalam bahasa bangsa saya bangsa Batak Toba dikatakan bahwa “hepeng do na mangatur negaraon”. Memang uanglah yang mengatur negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” ini, yang terpesona pada superfisialitas, pada kosmetik, pada obskuritas, pada mediokritas. Bagaimana mungkin bisa memiliki media cetak budaya yang art paper kertasnya dan berkilauan sampul pembungkusnya tanpa memiliki uang dalam jumlah yang besar, misalnya. Bagaimana mungkin bisa menyelenggarakan apa yang dengan arogan mereka klaim sebagai “festival sastra internasional” (walau tak ada orang yang pernah mendengar nama-nama apalagi membaca karya dari yang mereka katakan sebagai “para sastrawan internasional” yang mereka undang tersebut!) kalau tak punya uang dalam jumlah yang besar! Yang kemudian menjadi persoalan (di luar persoalan “keinternasionalan” dan “kesenimanan” para undangan dari luar tadi) tentu saja adalah asal-usul dari uang yang jumlahnya besar itu sendiri.

Kecurigaan saya, nama eksotis Dunia Ketiga “sastra Indonesia” yang digadaikan di luar sana (di mana konsep “dosa sejarah” kolonialisme Barat sudah menjadi moralisme baru political correctness dalam konteks wacana pascakolonialisme) untuk mengongkosi penyelenggaraan sebuah event sastra “internasional” yang sekaligus dijadikan alat legitimasi domestik atas kosmopolitanisme semu komunitas lokal yang menyelenggarakannya. Sangat minimnya pengetahuan para donatur internasional atas apa yang diklaim sebagai representasi “sastra Indonesia” kontemporer telah menyebabkan para donatur ini tidak perlu lagi repot-repot mempersoalkan benar-tidaknya klaim tersebut, apalagi kalau klaim itu sendiri dibuat oleh seorang dua orang sastrawan tua Indonesia yang namanya sudah dikenal di luar sana.

Di sisi lain, berhasilnya klaim tersebut diterima oleh para donatur internasional sehingga memungkinkan diselenggarakannya festival sastra “internasional” sebagai realisasi penggunaan dana yang diterima telah melegitimasi kosmopolitanisme prestise/identitas komunitas tersebut di dalam negeri sendiri terutama di kalangan komunitas-komunitas lainnya yang memang tidak punya akses ke pergaulan donatur internasional. Di sinilah retorika dusta telah menjadi diplomasi kultural yang canggih. Atau dalam bahasa pepatah orang awak di Sumatera sana: Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.

Politik representasi identitas “sastra Indonesia” oleh sebuah komunitas sastra tertentu semacam ini telah terbukti cuma menimbulkan krisis artistik. Di satu sisi, “seleksi” yang dilakukan atas sastrawan mana yang “pantas” untuk diikutkan dalam sebuah peristiwa “sastra internasional” untuk mewakili/atas nama “sastra Indonesia” lebih banyak diwarnai oleh faktor “keamanan ideologis” ketimbang pencapaian artistik. Seorang sastrawan yang memutuskan untuk “pura-pura tidak tahu” (lebih baik lagi kalau benar-benar tidak tahu!) politik kepentingan yang sedang dimainkan, bisa dipastikan, cepat atau lambat akan segera menerima surat undangan atau ditelepon langsung untuk mengambil bagian dalam proyek “sastra internasional” komunitas dimaksud.  

Akibatnya, kekritisan pemikiran yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang sastrawan sebagai seorang anggota elite intelektual masyarakat Dunia Ketiga (yang penuh dengan ketidakadilan sosial-ekonomi dan penindasan politik itu) telah dikompromikan hanya demi tujuan-tujuan pragmatis belaka. Di sisi lain, sosok “sastra Indonesia” yang ditampilkan dalam peristiwa “sastra internasional” tersebut telah mengalami reduksi besar-besaran terutama dalam konteks pluralisme ideologi artistik sastrawan Indonesia. Seleksi yang dilakukan atas para sastrawan yang “tidak membahayakan”, yang merupakan prosedur pemilihan yang jelas tidak bisa diganggu gugat, bisa dipastikan berakibat pada terciptanya orientasi artistik baru terutama di kalangan para pengarang muda yang berambisi untuk “go national and international” secara instan. Selera artistik komunitas tertentu tersebut dianggap merupakan “selera internasional/kosmopolitan” dan akhirnya terjadilah epigonisme gaya penulisan seperti yang sudah terjadi di kalangan pengarang muda di sebuah daerah tertentu. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi kalau wabah flu epigonisme ini makin meluas di negeri ini! Persoalannya bukanlah bahwa gaya penulisan komunitas dimaksud itu tidak bermutu tapi lebih kepada pertanyaan sederhana begini: siapa yang bisa membuktikan bahwa selera artistik komunitas dimaksud itu memang yang paling bernilai makanya harus diikuti? Di sinilah faktor ekstra-literer seperti uang yang jumlahnya banyak sehingga mampu menerbitkan media “budaya” yang glossy dan penyelenggaraan “festival sastra internasional”, lebih berpengaruh ketimbang karya sastra yang dihasilkan.

Begitulah ironi politik komunitas sastra di negeri ini. Kenapa semua ini bisa terjadi justru setelah negeri ini terlepas dari cengkraman kediktatoran penguasa militer? Jawab kenapa. 

*Makalah diskusi pada acara Pertemuan Penyair Muda 4 Kota (Padang, Bandung, Jogjakarta, Denpasar) 2-3 Februari 2007 di Jogjakarta. 

**Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta. Buku kumpulan puisi tunggalnya yang sudah diterbitkan: saut kecil bicara dengan tuhan (Bentang, 2003) dan catatan subversif (BukuBaik, 2004). Saat ini sedang menyiapkan kumpulan puisi lengkapnya (termasuk yang ditulisnya dalam bahasa Inggris) untuk dibukukan dengan judul “otobiografi” dan kumpulan esei-sastra “[sic]”.


8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bung Saut, provokatif seperti biasa. Ajo Boeng! tapi ngomong2 bagaimana dengan “Pertemuan Penyair Muda 4 Kota” itu sendiri. apakah cukup politically correct dalam perspektif bung?

Komentar oleh Heru Hikayat

Bang Saut anda kemana-mana terima undangan baca puisi atau seminar/festival dari berbagai komunitas sastra–apakah bukan berarti anda juga larut dalam politik sastra yang anda gugat–karena komunitas sastra yang mengundang anda juga sejenis dengan komunitas sastra yang anda gugat.

Komentar oleh bujang

bung b (saya gak mau menyebut nama Anda kerna artinya jelek dalam bahasa bangsa saya Batak Toba!),

coba buktikan kalok saya memang “terima undangan baca puisi atau festival” spt yang Anda tuduhkan! justru saya selalu mendapat undangan semacam itu dari anak2 muda yang buntut2nya saya sendiri yang keluar duit, terutama buat ngebir! hahaha… pernah dengar saya merecokin acara “sastra” TUK di solo beberapa waktu lalu gak? kalok gak, wah ke mana aza Anda selama ini!

soal “seminar”, saya pikir Anda gak paham isi esei saya! dan seminar pun seminar yang kayak apa! seminar itu bagus buat orang indonesia yang gak pe de ngomongin diri sendiri dan saya akan senang sekali kalok diundang komunitas2 kaya itu untuk bicara ttg mereka di acara mereka! tolong sampaikan ke mereka ya!!! hahaha…

-sweet as

Komentar oleh Saut Situmorang

Maaf, saya nggak tahu kalau yang Bang Saut maksudkan adalah komunitas TUK. Terakhir saya nonton Bang Saut baca puisi di TIM yang mungkin sejenis komunitas yang Bang Saut gugat, di situ ada Zaim Hae, Marko Kusumawijaya juga Ayu Utami yang notebene juga orang TUK

Komentar oleh bujang

buat bung B, maaf balasan saya terlambat. saya dihajar flu berat selama seminggu ini dan tergeletak kayak blandar rumah habis kena gempa di tempat tidur terus sampai saya bosan malam ini dan cabut ke Kedai Kebun untuk…menjawab posting Anda! hehehe…

saya memang diundang ke acara Tadarus Puisi oleh penyelenggaranya yaitu Dewan Kesenian Jakarta(DKJ) (Anda lupa menyebutkan siapa penyelenggaranya cuman tempatnya aja yaitu di TIM! saya maafin peristiwa amnesia Anda ini, hahaha…) tapi saya gak tahu apa memang DKJ itu bisa dikategorikan sebagai TUK. yang undang saya memang Zen Hae sebagai bos Sastra DKJ. apa Zen Hae orang TUK, seperti Ayu UTami? hm… saya gak bisa terima klaim Anda ini. tapi terlepas soal klaim-mengklaim tsb, saya menerima undangan baca-puisi itu kerna pertama yang undang adalah Zen Hae langsung yang memang saya kenal orangnya dan bahkan pernah main ke rumah saya, kedua kerna undangan itu atas nama DKJ. acaranya pun asyik… Tadarus Puisi…dan saya diundang sebagai “penyair Protestan”! mana mungkin saya bisa menolak!!! hahaha… apalagi saya “dilaga” ama Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo satu panggung, hehehe… kapan lagi, man!

saya bukan eksponen “Sastra Pedalaman” yang saya pikir gak dalam beneran itu! DKJ bukan sebuah komunitas seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. tiap provinsi di republik ini punya lembaga semacam DKJ dan lembaga ini jelas gak bisa disamakan ama komunitas petualang seperti yang saya maksudkan dalam esei saya. kapan saja saya akan bersedia datang kalau diundang oleh lembaga non-swasta semacam ini.

kalau Anda menganggap DKJ adalah sebuah institusi swasta seperti TUK, itu hak Anda. tapi yang pasti kalau ada sebuah “komunitas” seperti yang saya maksudkan dalam esei saya mengundang saya baca puisi, misalnya (sambil ngebir mungkin, hehehe…), percayalah saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti tidak akan diundang! Anda pasti tahu benar kenapa saya pasti akan menolak kalau memang pasti akan mereka undang! alasannya sederhana aja: saya kan sudah terlanjur menulis esei saya yang tentang mereka itu! hahaha…

-sweet as

Komentar oleh Saut Situmorang

Bung, aku dah baca esaimu! Menderu-deru… dan membuatku melihat “dunia sastra yang sesungguhnya”. Tapi apapun yang berlangsung di luar sana, negeri Kroya terus mempesonaku, mengasuhku dan menciumiku. Salam

Komentar oleh Badruddin Emce

Kenalkan saya pendatang yang sering terlambat. saya lihat tanggal pesan terakhir bulan juni sedangkan saya datang tanggal 5 sep 2007, tapi emang gua pikirin, yang penting bisa nanya-nanya. Realitas pada tulisan bang Saut apakah mampu menjadikan pesimisme terhadap kontribusi sastra indonesia itu sendiri. sebab realitas yang lebih mudah di akses oleh masyarakat luas tak tak lain aktifitas sastra yang telah di afirmasi oleh ruang-ruang berduait bahkan sebagai catatan dan telah di legitimasi dalam mengenal perjalanan sastra itu sendiri. Apalagi dalam ruang-ruang formal (akademi/sekolah) hal yg abang apungkan ini jarang dan bahkan tidak ada pembedaan mana yang sastra tunggangan dan mana sastra nasionalis.

Komentar oleh Ibrahim

An uncommon site that’s been unusually profitable since 2003.
Stunning Agony captures the true orgasms of everyday folks.
The catch is that you just only see their faces
once they come. The videos on this web site are shot either by
the performers or by someone near them and options all genders.
You get to enjoy the facial expressions of people in the throes of delight as they
masturbate. There’s additionally a confessions section the place contributors talk about what they discover sexy.
Real, personalised porn. Weeks just lately invited Rolling Stone onto the Duke Campus to shadow her
as she explained how she wound up paying her manner by way of school
by having sex onscreen for an in-depth interview. In the article, she revealed that she lost her virginity in highschool, that
she recently modeled for her own sex toy and that a few of her family members
have turned their back on her. In the end, she mentioned she
felt more respected at the Exxxotica porn expo than at
Duke.

Komentar oleh McGuire's




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s