Indonesia Art News Agency


TEATER GARASI SUGUHKAN SERI SOLO SEMBILAN AKTOR
April 26, 2007, 7:27 am
Filed under: theatre

Pertunjukkan Seri Solo Sembilan Aktor mengetengahkan kembali hal ihwal posisi seorang aktor di dalam pertunjukkan. Benarkah seorang aktor harus melepas ketergantungannya dari seorang sutradara?

Mulai April hingga Mei tahun ini, Teater Garasi, Laboratory of Theatre Creations, menggelar delapan pertunjukan, bertajuk Seri Solo Sembilan Aktor. Pergelaran dengan bentuk monolog dan ensamble ini merupakan presentasi akhir dari program Solo Project Teater Garasi yang telah berlangsung sejak akhir 2005.

Dalam siaran persnya, Reni Karnila Sari, Pimpinan Produksi Seri Solo Sembilan Aktor, menyatakan Solo Project adalah program yang dirancang untuk memberi ruang bagi proses penciptaan karya teater yang diinisiasi, dikelola, dan dimotori oleh masing-masing aktor Teater Garasi.

Dalam program tersebut, menurut Reni, masing-masing aktor menentukan bentuk proses penciptaan yang akan mereka kelola sendiri dari proses pengembangan gagasan, perwujudan idiom-idiom kreatif  sampai strategi dan bentuk presentasi karya di depan publik.

Teater Garasi melibatkan sembilan aktor dalam program ini; delapan orang menginisiasi dan mengelola sebuah proses penciptaan karya teater dengan melibatkan beberapa orang di luar disiplin teater; rupa, musik, aktivis perempuan, video artist, dan lain-lain. Sementara satu aktor menginisiasi dan mengelola sebuah event workshop story telling kepada remaja di tiga Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta melalui kerjasama dengan seorang psikolog. 

Satu aktor Teater Garasi, Hindra Setya Rini, telah menginisiasi dan mengelola sebuah event workshop story telling kepada remaja dari SMU Negeri 3 Yogyakarta, SMU de Britto, dan SMU Stella Duce I pada 7-10 Maret 2007. Sementara delapan aktor yang lain akan mempresentasikan karyanya pada bulan April – Mei ini; Erythrina Baskoro dalam “Monolog Sungai” pada tanggal 5-6 April, Verry Handayani dalam “Bunga Lantanya” pada tanggal 12-13 April, Citra Pratiwi dalam “Ophelia dan Rahasia Kolam Kematian” pada tanggal 19-20 April. Ketiganya mengambil tempat di Museum Benteng Vredeburg.

Lain lagi dengan Theodorus Christanto, seorang aktor, yang bekerjasama dengan Kusen Alipah Hadi (co-actor) dan Moh. Marzuki (artistic director) akan mementaskan “Kisah Kebun Binatang” pada tanggal 26-28 April di Whatever Shop Jl. Abubakar Ali no. 2 Yogyakarta. Pada 3-4 Mei, Jamaluddin Latif akan mementaskan naskah “Laki-laki itu Mengaku Sebagai Jamal”.

Aktor lain yakni Naomi Srikandi bekerjasama dengan seniman rupa Tita Rubi dan kelompok musik Airport Radio akan mementaskan “Shakuntala” pada tanggal 18-19 Mei. Kedua pertunjukan tersebut akan digelar di Lembaga Indonesia Perancis. Dua aktor Teater Garasi yang lain, Bahrul Ulum akan mementaskan “Hati yang Meracau” pada minggu kedua Mei di beberapa kampus di Yogyakarta, sementara Sri ‘Uung’ Qadariatin akan mementaskan “Kisah Eréndira dan Angin Petakanya” pada tanggal 25-26 Mei di Studio Teater Garasi.

Lebih lanjut Reni menerangkan bahwa gagasan proyek ini muncul pada triwulan terakhir tahun 2005. Saat itu isu perihal otonomi keaktoran dan penyusunan sistem pengetahuan teater/keaktoran sedang hangat-hangatnya dibicarakan di lingkungan actor Teater Garasi.

Isu yang dilontarkan Yudi Ahmad Tajudin (Direktur Artistik Teater Garasi) tersebut berangkat dari perlunya, di tengah medan teater di Indonesia yang tidak kondusif, seorang aktor membangun kemandiriannya, melepas ketergantungan yang terlalu besar pada kelompok dan sutradara. Seorang aktor mesti otonom jika ingin terus tumbuh dan berkembang.

Salah satu halnya adalah dengan menyusun sistem pengetahuan yang telah didapat dalam serangkaian proses dan peristiwa teater yang telah dilakoninya. Dengan kata lain mengambil pengetahuan dari pengalaman.

Saat menguasai pengetahuan [keaktoran tertentu], seorang aktor telah membangun kemandiriannya, ia telah memutus ketergantungannya, dalam banyak hal, dari sutradara. Bahwa sutradara tak pernah bisa menjadi hanya sutradara, tetapi ia adalah sekaligus pemimpin, pelatih, motivator, dan [satu-satunya] sumber pengetahuan merupakan perkara lama teater di Indonesia. Hal mana membuat posisi aktor selalu berada di belakang sutradara.

Parahnya, sutradara dalam lingkungan semacam ini kemudian menjelma menjadi sosok—bukan fungsi—patron dan satu-satunya yang layak disebut seniman dalam sebuah peristiwa teater. Sutradara tak ada maka teater tak akan ada. Padahal, semestinya, berdasar sejarah dan logika: tak ada aktor tak ada teater.

Sutradara sebagai sebuah lembaga atau person, dalam sejarah pertumbuhan teater, bahkan baru muncul belakangan seiring dengan berkembangnya elemen dan unsur-unsur penyusun peristiwa teater.

Kerja teater yang makin tak sederhana membutuhkan seseorang yang menjalankan fungsi yang disebut sutradara, untuk mengatur lalulintas ide dan gagasan kreatif dari para seniman yang terlibat di dalamnya.  

Seri Solo Sembilan Aktor ini mengundang keterlibatan banyak pihak, dengan latar belakang yang beragam, dalam proses kreatifnya. Landung Simatupang (aktor dan sutradara teater), Tita Rubi, Ayu Arista Murti, Jompet (seniman rupa), Airport Radio,  Rizky Sumerbee, Septian Dwi Rima (seniman musik), Alia Swastika (penulis), Sri Wiyanti Eddyono (Komnas Perempuan), Marzuki A.K.A Kill The DJ (art desainer), Emilia Arifin (paedagog) adalah beberapa pihak yang mendukung Seri Solo Sembilan Aktor ini.  Proyek ini terselenggara berkat kerjasama Teater Garasi dengan Kedutaan Belanda dan didukung oleh Ruang Mes 56, Whatever Shop, Rumah Sakit Panti Rapih, Maneka, Teater Gadjah Mada, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta dan Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta.[frino]

Info

Teater Garasi

Jl. Bugisan Selatan No 36 A Tegal Kenongo, Yogyakarta

Telp/Fax : 0274 415844 E-mail: garasi@teatergarasi.org

Homepage: http://teatergarasi.org


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saluuut, Syukur alhamdulillah dengan eksistensi co-konco teater Garasi.

Komentar oleh yono

aku juga insan teater mau deh temenan sama insan teater lainnya…apalagi lain pulau…..

Komentar oleh raisa

sukses ja ye…..

Komentar oleh wanggihoed

sukses ja ye…..

Komentar oleh wanggihoed

wahh moga sukses saja ya buat teater garasi. aku kagum banget waktu liat pementasan teater garasi di Banjar Mili, Sleman.Saya yakin, teater garasi pasti berjaya di udara. amien

Komentar oleh awan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s