Indonesia Art News Agency


Merekam Kota
April 29, 2007, 9:56 am
Filed under: movie

Oleh : Frino Bariarcianur Barus 

Kota tak pernah berhenti berubah.

Sayangnya, perubahan –yang dapat disebut peristiwa—itu kerapkali tak disadari oleh kita. 

Waktu seorang teman mempercayakan alat rekamnya, hampir setiap peristiwa atau hal-hal yang menarik tak lepas dari bidikan. Mulai dari kehidupan teman-teman di kost, festival budaya, pameran seni rupa, diskusi, demonstrasi, sampai pada saya disidang untuk mengakhiri tugas kuliah. Semuanya saya rekam. Seakan-akan semua peristiwa itu penting bagi perjalanan hidup saya nanti. Dan selalu menduga-duga bahwa suatu saat orang akan mencari saya karena pernah merekam aksi corat-coret di tugu Perjuangan Jawa Barat yang terletak di Jalan Dipati Ukur Bandung.


Beberapa teman juga memiliki kebiasaan sama. Selalu merekam sesuatu yang dianggapnya menarik. Ada yang merekam melalui kamera handphone, kamera fotografi dan handycam [camcorder]. Ada yang suka merekam jalur kereta api, peristiwa budaya, polisi cepek dan kehidupan orang gila. Sehingga selalu ada visual baru yang bisa kami tunjukkan satu sama lain. Diskusi pun mulai terbangun dari tataran konsep sampai teknik pengambilan gambar.

Di sini saya melihat bahwa orang yang memiliki alat rekam ingin punya keinginan merekam segala hal. Kebanyakannya untuk kesenangan dan kenang-kenangan. 

Karena sering terlihat menenteng alat rekam alias handycam pinjaman, saya banyak diminta untuk mengambil gambar pada pesta perkawinan. Dari situ saya tahu bagaimana proses perkawinan ala orang Sunda. Mulai dari cara meminang, persiapan pengantin perempuan sampai akad nikah semuanya penuh dengan filosofi hidup. Meski agak berbelit-belit dan mahal, proses itu penting bagi orang Sunda. Sebab ada nilai yang sedang ditransfer kepada dua anak manusia yang menuju kehidupan baru.  

Untuk tambahan dalam proses dokumentasi perkawinan, biasanya saya melakukan wawancara kepada anggota keluarga. Testimoni biasanya lebih banyak berupa ucapan-ucapan selamat dan semangat kepada kedua pengantin. Namun kadang saya meminta anggota keluarga untuk menceritakan sekelumit kisah hidup pasangan pengantin. Ada kisah yang sedih, lucu, juga hal-hal yang cukup memalukan. Selain merekam proses perkawinan, saya juga merekam peristiwa sunatan. Pengalaman ini membuat saya banyak belajar tentang adat istiadat orang Sunda.

Kemudian pengalaman yang tak kalah menariknya ketika saya diajak untuk merekam peristiwa budaya “Seren Tahun” di desa Cikondang, Kabupaten Bandung tahun 2003. Lima belas hari saya dan teman-teman belajar hidup ala orang-orang Cikondang.

Seren Tahun merupakan peristiwa penting penduduk desa Cikondang dalam menyambut Tahun Baru Islam. Peristiwa ini juga dapat dibilang sebuah cara untuk melihat kembali kondisi desa. Ada proses dimana setiap penduduk datang ke rumah adat untuk bekerja; memperbaiki saluran air, menumbuk padi, membelah bambu, memperbaiki rumah, berdoa dan makan bersama. Mereka juga datang ke gunung mengambil daun pisang dan kayu bakar. Saya sempat bingung kenapa untuk mengambil daun pisang dan kayu bakar saja harus ke gunung Tilu yang jaraknya menempuh sekira 2 jam? Sementara pohon pisang dan kayu bakar banyak di sekitar desa.

Rupanya peristiwa ini merupakan metafor dari kegiatan untuk mengecek hutan. Mereka menjadi tahu batas desa dari tahun ke tahun, tahu wilayah hutan mana yang sudah ditebang dan masih cukup baikkah sumber mata air mereka. Prasangka saya, leluhur orang Cikondang sadar untuk menyuruh anak melihat apa yang terjadi di hutan sulit dengan bahasa yang verbal. Maka dibuatlah ritual tersebut.

Saya juga menjadi tahu kalau sang ayah bertugas mengurus perbaikan rumah adat, maka anaknya nanti akan menggantikan peran sang ayah. Meskipun sang anak berada di luar desa Cikondang dan bekerja sebagai pegawai negeri atau pun pengusaha. Tugas ini adalah kewajiban setahun sekali yang harus dilaksanakan. Sejauh apa pun sang anak berada, sesukses apa pun dia, tetap harus kembali ke desa.

Malam terakhir.

Setelah penduduk sholat magrib terdengar pengumuman dari pengeras suara mesjid,”Ka Bapak-bapak, Ka ibu-ibu wargi Cikondang, engke wengi ba’da Isya, bade diputar film Cikondang! Datanglah beramai-ramai!” Suaranya lantang dan bergema ke seluruh penjuru desa. Saya kaget mendengarnya. Jantung saya berdetak kencang. Seakan-akan film yang nanti diputar adalah film garapan sekelas Garin Nugroho. Padahal saya hanya merekam saja kehidupan mereka dengan teknik-teknik yang standard. Berbondong-bondong mereka datang. Di tengah tanah lapang layar putih dan lcd proyektor telah siap, handycam pinjaman teman dan lima buah kaset telah siap diputar. Ratusan penduduk siap menonton dari dua arah, depan dan belakang. Setelah semuanya siap, saya menekan tombol play camcorder. Satu demi satu gambar Cikondang terhampar. Saya khawatir pengambilan gambar yang ala kadarnya tak memuaskan hati orang Cikondang.Layar putih itu bagaikan cermin yang menyuguhkan wajah-wajah orang Cikondang. Berikutnya pemandangan sawah, hutan, ratusan anak tangga, ibu-ibu tua yang menumbuk padi, anak-anak yang mandi dan beningnya air yang mengalir. Jantung saya dag dig dug tak menentu.

Orang-orang Cikondang berharap wajah itu terlihat baik sementara saya berharap “cermin” itu tak salah memantulkan bayangan.

Saya lihat orang Cikondang serius melihat dirinya di layar. Ada yang tertawa ada juga yang terdiam. Mereka senang melihat wajah mereka terpampang di layar putih besar itu. Beberapa orang tua merenung ketika Cikondang menjadi sebuah “citra” dalam gambar-gambar bergerak. Potongan demi potongan gambar itu membuat mereka memandang lain atau berbeda tentang lingkungan dan diri mereka sendiri. Setidaknya pada malam itu.

 Akhirnya setelah kurang lebih 4 jam berlalu film itu usai. Mereka pun pulang beramai-ramai.

“Film” yang jauh dari standard sinematografi itu diputar dari satu kaset ke kaset berikutnya, sedikit pun tak mengalami editan. 

Pengalaman berikutnya ketika saya merekam kehidupan orang transmigrasi di Singkawang, Kalimantan Barat. Menurut saya orang-orang dari tanah Jawa ini seakan-akan dibuang ke Kalimantan Barat. Sebelumnya, walikota pertama Singkawang, Awang Ishak, yang pernah tersangkut kasus mesum dengan seorang perempuan, membujuk mereka untuk tinggal dengan jaminan bahwa tanah kalimantan menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Janji semanis madu itu pun membuat ratusan orang-orang dari tanah Jawa tergiur. Mereka gadaikan seluruh harta lalu berlabuh ke daerah hutan Pangmilang. Jarak daerah ini hanya sekira 12 Km saja dari pusat kota Singkawang ke arah selatan.

Tetapi saat mereka menginjak tanah Kalimantan Barat, kenyataan itu jauh dari haparan. Janji semanis madu itu hanyalah mimpi tak bertepi. Tapi apa daya. Nasi telah menjadi bubur. Akhirnya mereka hidup jauh dari fasilitas yang layak, tanpa listrik dan pasokan air bersih selama beberapa tahun. Bahkan sarana pendidikan pun harus mereka bikin sendiri, mereka guru bagi anak-anak mereka. Sementara tanah yang dijanjikan subur tak semuanya dapat ditanami. Kalaupun ada hasilnya, tak tahu kemana harus menjual hasil kebun mereka. 

Banyak orang transmigrasi yang pulang ke tanah Jawa karena merasa tak berguna. 

Video ini tak begitu diminati oleh petinggi kota Singkawang. Katanya membuat citra Singkawang jelek. Ditambah teman saya, Agus Sutomo, yang bertugas mewancarai orang transmigran, termasuk “musuh” walikota Singkawang. Sehingga video sederhana ini dianggap merongrong kekuasaan sang walikota. Video tentang transmigrasi Singkawang saya putar di sebuah cafe milik teman di Singkawang, Jatiwangi Kab. Majalengka dan Sabuga Bandung. Harapannya agar yang menonton video menjadi tahu bahwa program transmigrasi khususnya di Singkawang tidak semuanya mampu mewujudkan harapan.

Informasi tambahan, di daerah Monterado di Kabupaten Bengkayang, ada transmigrasi yang sudah 20 tahun masih belum mendapatkan sertifikat tanah. Padahal mereka-lah yang membuka hutan untuk ditanami pohon karet.

Di waktu lain, saat Pemilu misalnya, berbondong-bondong partai politik dan calon legislatif mendatangi mereka untuk meminta dukungan dengan imbalan sertifikat tanah. Lagi-lagi janji tinggal janji. Belum lagi rasa khawatir dan trauma pada peristiwa perang suku yang pernah terjadi di kalimantan Barat masih membuat mereka was-was. Kalau menimpa mereka, kemana lagi harus pergi. Penyebab lain kenapa mereka tak dapat memiliki sertifikat tanah, karena kita mengenal istilah pendatang dan pribumi kepada saudara sendiri, lantas dianggap tak pantas memiliki tanah yang telah mereka garap! Ditambah mentalitas pemimpin yang korup.

Maka lengkaplah penderitaan orang-orang transmigran. Kampung mereka diberi nama Gemah Rimah dan berbahasa kumaha damang.

Realitas ini membuat saya –yang kebetulan memiliki handycam—harus merekamnya. Lalu menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya agar apa yang dialami oleh transmigran tak terulang kembali. Utopia memang. Tapi setidaknya telah menuntaskan kegelisahan yang mengganggu pikiran saya ketika berada di kampung halaman, Singkawang. Dari uraian pengalaman sederhana ini, saya melihat bahwa alat rekam memiliki fungsi yang strategis untuk menyampaikan pendapat dan sikap seseorang dalam melihat sebuah persoalan.

Memang tidak bisa dipaksakan bahwa orang yang memiliki alat rekam lebih banyak untuk bersenang-senang. Namun bukan berarti dari kesenangan itu tidak memiliki efek yang membuat jantung penonton berdegup kencang. Malah dari kesenangan atau perbuatan iseng atau tak sengaja merekam, konstelasi sosial-politik menjadi berubah. Kasus-kasus seperti video perselingkuhan walikota, video mesum anggota perwakilan rakyat, video adegan seks artis, video casting, video tsunami Aceh, video ospek STPDN, dsbnya merupakan contoh nyata betapa video sangat mempengaruhi hidup orang. Hampir seluruh video itu pada awalnya tak pernah diniatkan.

Seluruh video-video spektakuler ini menjadi dokumen penting dalam sejarah kehidupan manusia yang hidup di negara bernama Indonesia. Sampai kapan pun, video ini akan terus diputar dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kalau sudah begitu keadaannya, alat rekam memang sangat menakutkan. Tapi bila digunakan sebaik mungkin ia bagai guru yang membuat kita sadar, mengingatkan bahwa ada hal yang tak boleh terulang tapi ada hal yang rasanya ingin kita lakukan kembali. Saya suka melamun bila melihat gambar-gambar lama baik foto dan video mengenai kota Bandung. Ingin rasanya hidup di masa itu. Tapi tak masuk akal. Karena saya berjarak dan datang dari zaman yang berbeda. Kalau pun bisa tentu belum se-asyik sekarang. Nggak bisa bikin video dokumenter. Pasti saat itu saya menjadi tenaga kerja paksa dan disiksa oleh William Herman Daendels. Akhirnya saya hanya bisa berangan-angan hidup di kota Bandung yang lama.

Dari dokumentasi itu saya menjadi tahu bahwa telah banyak perubahan yang terjadi di kota Bandung. Tidak hanya hutannya yang ditebang atau macetnya transportasi di kota, tapi pola pikir manusianya sudah jauh berubah. Hal itu dapat dilihat dari hasil karya manusianya yang berupa; kebijakan publik, tradisi baru, cara makan, jenis pekerjaan, bentuk rumah, gaya hidup, dsbnya. Sayangnya kebanyakan gambar-gambar –yang bisa membawa saya melamun—itu diambil ketika Belanda menjadikan Bumi Parahyangan sebagai salah satu sapi perahan yang produktif dieksploitasi sampai masa-masa Revolusi. 

Lalu bagaimana dengan situasi kota Bandung pada kurun waktu 70-an, 80-an, 90-an atau tahun-tahun sekarang?   Sekali lagi telah banyak perubahan atau peristiwa yang terjadi di kota Bandung. Hanya masalahnya dapatkah kita melihat kembali situasi peristiwa saat itu. Semisal situasi ketika pusat-pusat perbelanjaan belum banyak di kota Bandung. Menurut saya agak sulit kita menemukan data dokumentasinya, terlebih-lebih dalam karya video. Jadi bila kita ingin sedikit beromantisme dengan kota Bandung, lagi-lagi jaman Belanda-lah yang selalu menjadi referensi. Bukankah ini kenyataan yang tragis? Ketiadaan data dokumetasi perubahan kota Bandung dari tahun ke tahun membuat kita tak memiliki memory visual. Bahkan visual mengenai situasi wilayah Balubur dan Tamansari sebelum berdirinya Jalan Layang Paspati sangat sulit untuk ditemukan. Kalau pun ada, itu dipegang oleh segelintir orang dan tak banyak yang bisa mengaksesnya.Kota Bandung butuh dokumentasi video yang berisi perubahan-perubahan itu.

Para ahli mengkategorikan gambar-gambar yang berisi fakta ke dalam genre video dokumenter. Secara ringkas definisi video dokumenter merupakan rekaman gambar dan suara (audio visual) dari peristiwa sehari-hari atau peristiwa kehidupan yang dianggap penting oleh pelaku video. Peristiwa itu dapat berupa cerita kehidupan seseorang, perang, kerusuhan, proses pembuatan karya seni, tentang adat dan budaya suatu tempat, kehidupan binatang, tentang seorang aktivis demonstran atau politikus, cerita seorang penjual es krim, tentang seorang petugas kebersihan, tentang seorang bunuh diri karena hutang, tentang kelompok pecinta lingkungan atau bisa juga cerita diri kita sendiri.

Seperti produk media massa yang lain, video dokumenter memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan, informasi sekaligus hiburan. Dan tentunya sebagai kontrol sosial. Kerjanya pun seperti jurnalis; melakukan pengamatan di lapangan, mencatat, mendengar desas-desus, mewawancarai orang, melakukan penelitian, studi literatur, juga melakukan pengecekan ulang terhadap data-data yang diperoleh [cover all side]. Tidak heran untuk mendapatkan data yang valid seorang videomaker bekerja tidak sebentar bahkan menghabiskan waktu berbulan-bulan sampai tahunan.

Dari sebuah karya video dokumenter kita dapat mengetahui persoalan dengan lebih jelas, membantu untuk menentukan sikap, bahkan kadang mampu memprovokasi penonton masuk dan terlibat dalam persoalan tersebut. Bila kesadaran ini muncul, artinya kita benar-benar butuh karya video dokumenter.  

Pertanyaannya bagaimana membuat video dokumenter itu? Kalau pertanyaan itu diberikan kepada seorang ahli sinematografi, seorang sutradara terlebih-lebih mahasiswa film, maka jawabannya tidak mudah untuk membuat video dokumenter. Jawaban itu tidak salah. Tapi kalau menurut saya, ambil handycam lalu keluar rumah dan pencet tombol record.

Saya berharap kita sama, ada harapan besar dari videomaker kota Bandung untuk rajin merekam situasi kota, peristiwa di lingkungan rumah, kampus, dsbnya agar di tahun-tahun mendatang kita tidak kehilangan memory visual tentang kota Bandung. Sehingga dengan kegiatan merekam situasi kota setidaknya kita menjadi tahu dan peduli.

Harapan ini berdasar atas beberapa kenyataan bahwa [1] Alat rekam video bukan lagi barang baru dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih orang yang memiliki video senang merekam berbagai hal. [2] Mulai bermunculnya pegiat video dokumenter di kota Bandung baik yang bekerja sendiri maupun berkelompok. [3] Karya-karya video dokumenter alternatif mulai banyak diminati dan dikoleksi. [4] Kompetisi dan festival video dokumenter menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para videomaker. [5] Semangat kumaha aing dan narsis yang sudah mendarah daging pada diri anak muda Bandung seharusnya membuat para videomaker tidak takut atau malu mempresentasikan karyanya di depan publik.  

Kalau jelek ya bikin lagi dong! J 

* Makalah ini dipresentasikan pada diskusi Psychologi Movie Festival Universitas Padjajaran di Kantor Pos Jalan Banda Bandung, Februari 2007


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bung Barus Bulbul tup, tulisanmu sangat deskriptif, seperti biasa. satu hal: “seren taun” dengan e diucapkan seperti pada kata enak, bukan “seureun taun”, hehe. dan deskripsi pada tulisan ini sebenarnya bukan hanya tentang kota ya. juga sampai pedalaman kalimantan segala. hebat euy!

Komentar oleh Heru Hikayat

Bung Heru, sudah kuperbaiki tuh. Maafkan atas kesalahan pengetikan. hatur nuhun.

Komentar oleh beritaseni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s