Indonesia Art News Agency


Perempuan Masa Kini : Ada Dimana, Mau kemana?
April 29, 2007, 11:08 am
Filed under: Literature

Oleh : Santi Indra Astuti

Entah ‘kutuk’ macam apa yang menghinggapi perempuan kita. Dari dulu sampai sekarang persoalannya adalah representasi.

Coba cermati heboh yang terjadi ketika seorang perempuan bernama Nadine maju ke arena Miss Universe untuk memperebutkan gelar Wanita Sejagat mewakili ‘perempuan Indonesia.’ Banyak kalangan mempersoalkan ini sebagian merasa tidak layak diwakili oleh mbak Nadine yang cantik banget, atau justru sebaliknya: layakkah Nadine mewakili apa yang disebut sebagai perempuan Indonesia?

Gantilah Nadine dengan puteri Indonesia lainnya. Angelina Sondakh, Angelique Wijaya, Mooryati Soedibyo, atau sekalian saja Kartini. Persoalannya akan kembali ke wilayah yang itu-itu juga.

Persoalan representasi adalah ihwal sangat pelik, dan tiap orang, kalau sudah masuk wilayah ini, bakal punya klaim pribadi yang sulit ‘didamaikan’ dengan yang lain. Maka biarkan saja setiap sosok muncul mewakili apa yang mereka persepsikan sebagai kualitas kejatidirian ‘perempuan Indonesia.’ Sehingga warna dunia akan lebih indah, dan wanita Indonesia tak cuma satu macam saja: hitam putih. Niscaya, akan lebih banyak lagi tokoh yang muncul, mewakili lebih banyak kualitas, dan tentunya menginspirasi lebih banyak perempuan.

Indonesia sesungguhnya tak pernah kehabisan stok perempuan hebat.

Mari belajar dari spirit intelektualitas seorang Karlina Leksono-Supelli astronom kita. Mari cermati keindahan kata yang mengguncang dunia dari seorang N.H. Dini sampai Eliza Handayani sastrawati kita. Mari belajar dari semangat mulia Ibu Guru Kembar Rosy dan Rian yang secara konsisten mengembangkan sekolah gratis di kolong jembatan tol Jakarta untuk mendidik generasi muda bangsa ini.

Apa kabar Ibu Sumanto? Nama ini nggak akan ditemukan di media mana pun. Tapi kalau suatu waktu iseng-iseng ke Jetis, Imogiri, kita bisa menemui sosok perempuan hebat ini mendampingi suaminya mendirikan perpustakaan gratis sambil mengasuh anak-anak bakul pasar di kelompok bermain sederhana di rumahnya.

Ketika gempa mengguncang Yogya meluluhlantakkan rumah serta perpustakaannya, ia tidak berhenti mengebulkan asap di dapur umum sambil mengasuh anak didiknya yang masih tersisa; menghibur, menangis bersama mereka. Lantas, ketika tangis dan tawa kadang gagal menghapuskan kesedihannya, ia akan bangkit menyibukkan diri: memasak, mengangkat batu dari reruntuhan, mengais-kais reruntuhan mencari sesuatu yang masih bisa diselamatkan.

Dalam kesederhanaannya Ibu Sumanto mengajarkan kita betapa kayanya kehidupan ini. Dalam tangisnya Ibu Sumanto mengajarkan kita akan ketangguhan dan keberdayaan perempuan menghadapi bencana.

Perempuan Indonesia sungguh-sungguh keren!

Demikianlah, sosok perempuan hebat ada di mana-mana. Mereka menginspirasi kita dengan banyak cara, sah-sah saja. Kalau pun berbeda itu masalah pilihan. Tak perlu dijadikan polemik, apalagi sampai berseteru satu sama lain. Tentu, pilihan yang ideal adalah yang punya landasan, tak sekadar emosional saja. Hal-hal seperti ini, bisa kan kita pelajari atau kita ajarkan pada yang lain? []

* Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba, ahli cultural dan media studies


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s