Indonesia Art News Agency


Narasi Di Balik Jeruji Lori
Mei 11, 2007, 2:05 pm
Filed under: visual arts

titarubi1.jpg 

Oleh : Alia Swastika*

Awalnya, saya tidak tahu, tepatnya tidak paham, apa yang akan dibuat Titarubi ketika ia sibuk mencari rongsokan besi bekas rel kereta pabrik gula. Saya pikir ia akan mengolah besi itu menjadi satu bentuk yang sama sekali baru. Ketika kemudian ia mendapatkan apa yang ia cari dan sungguh-sungguh memulai prosesnya, kami tidak terlalu intens bertemu. Kira-kira tiga minggu sesudahnya, saya mulai berkunjung lagi ke studionya. Dan saya agak terperanjat melihat sebuah lori—kereta tebu—lengkap dengan jalinan relnya, terpasang kokoh di studionya yang luas. Ternyata dari rongsokan rel itu Titarubi merekonstruksi kereta tebu, dan, kemudian, meletakkan patung-patung tubuh manusia di atasnya. Itulah versi pertama dari karya Kisah Tanpa Narasi, yang kemudian dipamerkan di Summit Bali Biennale, 2005 yang lalu.

Pada versi pertamanya itu, Kisah Tanpa Narasi diciptakan sebagai metafor atas kisah-kisah pembantaian massal yang terjadi di sepanjang sejarah tragedi kemanusiaan. Titarubi mengambil peristiwa pembakaran Shinta pada cerita Ramayana—momen ketika Shinta dibakar untuk membuktikan kesetiaannya pada Rama—sebagai inspirasi atas bentuk metafornya. Ide tentang pembakaran ini kemudian diolahnya sedemikian rupa, saling kait dengan kegelisahannya atas modernitas dan efek-efek yang ditimbulkannya pada masyarakat sekarang (yang pada saat itu membawa Titarubi pada pandangan bahwa manusia-manusia itu adalah korban). Pemikiran atas modernitas ini membawa Titarubi untuk memilih kereta sebagai bentuk visual dari metafornya. Ia merangkai instalasi kereta, kemudian meletakkan patung-patung manusia dari tanah liat di dalamnya, kemudian membakarnya. Sebagai sebuah instalasi, pilihan atas kereta—yang diwujudkan dengan ukuran life-size—dengan segera memberikan kesan massif dan gigantik. Sesuatu yang bagi saya menunjukkan intensitas dan totalitas pada proses berkarya. Pada saat yang sama, di luar bentuknya yang seketika mengikat kita, Titarubi memberikan efek dramatik terhadap karyanya melalui adegan pembakaran dan sisa abu yang berserakan di sekitar lori.

Instalasi ini, dengan demikian, menjadi sebuah imaji diam (still image) yang sedemikian kuat dari rangkaian peristiwa yang datang bertubi dalam narasi besar kehidupan masyarakat Indonesia: dimulai dari datangnya modernitas, sejarah pertumbuhan industri, hingga berlangsungnya peristiwa pembantaian massal. Ironisnya, atas deretan narasi besar itu, Titarubi menandai karyanya dengan judul yang puitik: “Kisah Tanpa Narasi”.

Dalam pandangan saya, dengan memilih judul ini Titarubi sesungguhnya, dengan cara yang baru, menghadapkan soal yang bagi kita mulai jadi klasik: (pe)lupa(an). Frase “tanpa narasi” dimunculkan bukan sebagai pernyataan atas ketiadaan melainkan sebuah pertanyaan tentang mengapa kita mengabaikan atau melupakan. Deretan peristiwa yang terbentang sejak masuknya arus modernitas di Indonesia tersusun menjadi kisah yang berserakan, tanpa ada narasi besar yang diberi makna bersama. Sebuah pengetahuan tentang masa lalu yang dimiliki bersama. Beberapa bagian dari kisah itu bahkan lewat begitu saja, entah karena tak ada dokumen fakta yang tersimpan atau karena disensor oleh penguasa. Kita kemudian dibiasakan untuk melupakan, tak berusaha untuk menelusuri jejak yang memungkinkan kita melihat masa lalu sebagai sebuah cermin besar yang memberi tanda tentang siapa kita.

Baiklah, dalam usaha yang paling kecil untuk tidak menjadi lupa, ketika menuliskan catatan ini, saya menelusuri lagi ingatan saya tentang sebuah mesin bernama “kereta”, dan mencoba membaca cerita di balik datangnya kereta ke Indonesia (pada waktu itu: Hindia Belanda). Gambaran saya tentang kereta yang demikian romantik, yaitu sebuah mesin dengan deru dan asap mengepul yang membelah hamparan sawah hijau dan melintas di atas jembatan di atas aliran sungai, ternyata sama betul dengan situasi lebih dari satu abad yang lalu, ketika para petinggi Belanda bertamasya dengan kereta. Jendela kereta adalah bingkai dari lukisan keindahan alam. Mooi Indie.

Kereta api Hindia Belanda adalah salah satu dari kereta api pertama yang dibangun di kawasan Asia. Mesin transportasi yang bisa mengangkut massa dalam jumlah banyak ini kemudian menjadi tanda masuknya modernitas di Indonesia. Pada 1842, dalam catatan yang saya kutip dari buku Rudolf Mrazek, The Engineers of Happy Land, Raja Belanda Willem I mengeluarkan dekrit tentang pembangunan kereta di Indonesia. Duapuluh lima tahun sesudahnya selesailah pembangunan 25 km rel kereta api yang pertama. Butuh sepuluh tahun lagi untuk membangun rel sepanjang 300 km. Tahun 1888, delapan jalur utama kereta telah beroperasi, semuanya di Jawa, dan kelimabelas kota besar pulau itu telah memiliki sambungan kereta api. Hampir seluruh catatan penting tentang pembangunan jalur kereta api ini menyebutkan tentang bagaimana besarnya pengaruh adanya transportasi kereta ini terhadap kemajuan hidup kaum pribumi, terutama dalam kaitannya dengan perekonomian.

Yang unik, Mrazek mengungkapkan tentang bagaimana mesin modernitas dihadapi: “Orang-orang kecil, pria dan wanita, dan anak-anak, tampaknya tidak gugup sewaktu jalur kereta menyentuh habitat mereka, tetapi tampaknya mereka pun tidak takjub pula atas teknologi modern itu. Sungguh, mereka tampak tidak terlalu banyak mengubah cara-cara tradisional mereka. Tampaknya mereka sekadar menambah sedikit pada tradisi itu.” Penyikapan terhadap masuknya modernitas, sebagaimana yang digambarkan Mrazek, bisa jadi menunjukkan bagaimana orang Indonesia selalu bersikap pragmatis atas kemajuan. Setelah kereta, berbagai ikon modernitas lain datang bertubi-tubi. Mulai dari jalan raya, mobil, hingga bahasa. Perlahan, para penduduk pribumi melalapnya satu persatu, dan bergerak menuju sebuah zaman baru. Sebagai sebuah industri transportasi, kereta api juga melahirkan serikat pekerja yang besar. Para pribumi pun mulai memasuki pusaran konflik “buruh-majikan” dalam industri modern yang penuh dengan tekanan politik. Pemogokan buruh kereta api di Semarang pada Mei 1923 adalah pemogokan terbesar dalam sejarah jajahan Belanda.

titarubi4.jpg

Titarubi juga dengan jitu memilih bentuk lori sebagai rekonstruksi kereta yang dibuatnya. Lori, hingga 1980an, masih digunakan sebagai alat pengangkut tebu dari kebun-kebun menuju pabrik. Lori dan pabrik gula merupakan penanda lain yang penting dalam kerangka datangnya modernitas. Dalam catatan Dennys Lombard, seorang sejarawan Prancis dalam bukunya yang berkembang menjadi salah satu sumber penting sejarah Indonesia, industri gula merupakan industri andalan Hindia Belanda yang memainkan peranan sangat penting pada abad 17 dan 18. Sebelum ditemukannya kereta dan mesin, industri gula sangat bergantung pada lembu. Pada musim panen tebu, di tengah riuhnya pesta panen di perkebunan yang biasanya dimeriahkan dengan pertunjukan wayang dan tari/ronggeng, kereta lembu ini mulai bergerak mengangkut tebu ke tempat penggilingan. Setiap penggilingan berfungsi rata-rata dengan empat belas gerobak yang ditarik seekor lembu, dan setiap gerobak pulang pergi dua kali dalam sehari. Bayangkan saja jumlah gula yang dapat diproduksi setelah ditemukannya teknologi transportasi yang baru ini. Sebuah catatan bahkan menyebutkan bahwa produksi gula ini menyebabkan Batavia yang perdagangannya menurun tidak sampai runtuh sama sekali.

Dari kereta api dan pabrik gula, Titarubi membentangkan bagaimana kolonialisme bekerja dalam proyek modernisasi. Titarubi mempertahankan besi-besi itu sedikit berkarat, memberi kita ruang untuk menyelami sesuatu yang lama, yang telah tua. Kenyataan bahwa modernisasi dibangun dengan menggunakan ribuan tenaga manusia, dengan upah rendah dan kekejaman tak tertanggungkan, adalah sebuah harga yang rasanya terlalu mahal untuk dibayar. Setelah era kolonialisme berakhir, eksploitasi dan pembantaian manusia bukannya berhenti. Percepatan industri, yang berimbas pada sistem-sistem ekonomi dan politik dunia, telah menuntut manusia untuk dikorbankan. Para penguasa berperang atas nama ideologi, mempertaruhkan ribuan nyawa untuk dibantai dan ditangkapi. Merefleksi jalinan peristiwa ini, Titarubi membuat patung-patung tanah liat yang ia tumpuk di atas kereta. Di dalam gerbong yang dahulu menjadi sebuah ruang vakansi, manusia-manusia itu terjerat dan tak bisa menghindar. Menjadi korban dari usaha yang panjang dan melelahkan dalam membangun peradaban.

Versi kedua dari karya ini ditampilkan di Singapore Biennale 2006, yang dikolaborasikan dengan karya Agus Suwage: Crossroad. Di atas lori itu, dipasang sebuah roket yang dipenuhi dengan bunga-bunga kayu berwarna merah jambu. Si lori kemudian menampilkan sebuah sisi baru yang terasa feminin: sebuah persilangan. “Crossroad”.

Pada Januari 2007, Titarubi mendapatkan kesempatan untuk bergabung bersama “delegasi” Indonesia menuju World Social Forum, sebuah forum pertemuan aktivis dari berbagai penjuru dunia yang diadakan di Nairobi, Kenya. Dalam forum ini, Titarubi melihat bagaimana aktivis-aktivis anti perdagangan bebas berkumpul, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan merumuskan ulang strategi-strategi perjuangan mereka di tataran global. Petani, buruh industri, kaum miskin kota, minoritas yang terdesak, semuanya hadir di depan Titarubi sebagai manusia-manusia yang berani dan masih punya semangat untuk bergerak dan berjuang. Di tengah “petualangannya” yang mendebarkan, dalam situasi serba terbatas dan harga serba mahal di negeri yang miskin, Titarubi mendapatkan cara pandang baru dalam melihat persoalan-persoalan industri dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Pada versi pertama Kisah Tanpa Narasi, refleksi pemikirannya membawanya untuk melihat manusia sebagai korban dari proyek kolonialisme, modernitas dan industrialisasi. Sosok-sosok kecil yang tak berdaya menghadapi kekuasaan dan arus perubahan dunia yang berlangsung dengan pesat.

Dalam pandangan Titarubi, perdagangan dunia yang timpang adalah bentuk yang nyata dari neo-kolonialisme. Penggunaan sumber daya alam dan manusia di negara-negara miskin untuk melayani kebutuhan masyarakat negara maju, setelah dilakukannya serangkaian lobi politik global dan penyusunan strategi ekonomi jangka panjang yang rinci dan matang, merepresentasikan bentuk-bentuk baru perbudakan. Sampai pertengahan dekade 1990an, tercatat bagaimana ide-ide tentang pembangunan, yang menjadi lokomotif utama pergerakan ekonomi pasca Perang Dunia, justru menunjukkan menurunnya kualitas hidup manusia.

Pada awal 1990an, sebagian besar orang di gurun Sahara, Afrika, menjadi lebih miskin ketimbang tigapuluh tahun sebelumnya. Dua pertiga produk minyak yang dihasilkan di negara berkembang dan negara minyak diekspor ke Amerika dan Eropa serta negara-negara Dunia Pertama lainnya. Persentuhan Titarubi dengan para aktivis dan kelompok akar rumput di Nairobi telah memberikan padanya sebuah kacamata baca yang lain. Mendengar pengalaman kelompok-kelompok tertindas dari berbagai negara ini, terutama tentu saja dari negara-negara dunia ketiga, Titarubi melihat bagaimana manusia tidak selamanya menjadi korban. Distribusi pengetahuan, pada titik tertentu, membawa manusia untuk berjuang untuk mencapai situasi yang lebih adil dan lebih manusiawi. Kesadaran untuk melihat posisi manusia Dunia Ketiga dalam perspektif yang baru, yang bukan korban, membawa Titarubi untuk membuat versi ketiga dari karya Kisah Tanpa Narasi ini. Mayat-mayat manusia yang selesai dibakar, atau berserakan di sepanjang jalur-jalur besi, ia singkirkan. Para korban sudah disemayamkan, tetapi tidak untuk dilupakan. Fase tumbuhnya kesadaran bahwa seseorang telah menjadi korban adalah satu fase yang harus dilewati, demi melihat posisi diri dalam peta pertarungan yang menghampar di depan mata.Tapi selanjutnya fase yang lain harus dihadapi: memperjuangkan diri untuk lepas dari ketertindasan.Dalam kaitannya dengan perjuangan di ranah industri global, hampir seluruh dunia bersepakat bahwa era baru ini adalah titik matinya sejarah, dalam bahasa Fukuyama, ketika kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang bertahan dan memaksa hampir semua peradaban berada dalam sistemnya. Titarubi mempertahankan patung-patung manusia itu dalam situasi seadanya, dalam kondisi serba rapuh dan serba tak sempurna, kaki-kaki yang terlepas, semua simbol yang menunjukkan luka-luka dari masa lalu mereka. Luka yang tak akan terhapus, tapi pengalaman atas rasa sakit itu memberi mereka sebentuk kekuatan baru. Toh dengan semua keterbatasan itu, korban-korban itu tetap berdiri. Dengan konstelasi objek yang macam ini, Titarubi menegaskan bahwa ia menolak istilah “korban” setelah ia melihat bahwa belakangan ini istilah tersebut telah mengalami eksploitasi dan komodifikasi sedemikian rupa.Siapakah yang sesungguhnya mengidentifikasi mereka sebagai “korban”? Jangan-jangan, ada yang terus mengatasnamakan mereka tanpa pernah sungguh-sungguh berbagi?Bangkit dari situasi korban (survivor) bukanlah hal yang gampang, apalagi berhadapan dengan sistem yang sedemikian besar dan menggurita. Soalnya, dengan apa kita akan berjuang untuk mencapai situasi yang lebih adil? Senjata apa yang kita punya? Strategi apa yang mau kita gunakan? Momen Nairobi, dalam pandangan saya, membantu Titarubi untuk melihat bagaimana mimpi yang teramat besar itu bagi sekelompok orang bukanlah sesuatu yang cuma utopia. Karena ada harapan yang terus dibangun, sekelompok orang ini membangun jejaring dan melihat kemungkinan adanya strategi bersama yang bisa mereka susun. Dan, dari sinilah, konsep baru dari karya Kisah Tanpa Narasi mendasarkan dirinya: Harapan.

 tita-gabung.jpg 

Narasi besar tentang modernitas, globalisasi dan kolonialisme industri dalam perspektif semacam yang ditawarkan Titarubi ini sesungguhnya bukan isu yang populer belakangan ini. Tapi ini mengingatkan kita pada  “ideologi” Titarubi pada masa mahasiswa. Titarubi sempat secara aktif terlibat dalam kerja sinergi mendukung gerakan-gerakan melawan rezim Orde Baru. Ia bergaul dengan para aktivis, mensupport sistem dan kinerja mereka. Di masa awal meneguhkan dirinya sebagai seniman, karya-karya Titarubi mempunyai dimensi politik yang kuat, sebagaimana kesadaran umum di kalangan seniman pada waktu itu yang melihat dirinya sebagai bagian dari agen perubahan.

Pasca runtuhnya Orde Baru, sebagaimana seniman lainnya, juga seiring dengan kesibukannya mengurus kedua anaknya—yang membawanya pada satu spektrum baru tentang laku kehidupan—Titarubi kemudian seperti mendefinisikan ulang makna menjadi politis, berkaitan dengan proses kreatifnya sebagai seorang seniman. Keluar dari teks-teks politik dengan “P” besar, dan merefleksikan pengalamannya sebagai perempuan, istri, dan ibu, Titarubi banyak mengolah isu yang dilihat personal dan memberinya makna politis. Meski demikian, praksis sosial masih berlangsung dalam laku hidupnya. Ketika gempa bumi yang besar melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006 lalu, Titarubi dengan cepat bergerak untuk mengorganisir distribusi bantuan. Kemudian, melihat situasi yang demikian parah, ia pun bergerak lebih jauh. Bernaung dalam posko Studio Biru yang ia dirikan bersama teman-temannya, ia bahkan berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar dan memungkinkan mereka membangun 500 rumah-sementara.

Sebagai seniman, memasuki proses kreatifnya, Titarubi selalu bergulat dengan tema, medium, dan bentuk dengan intensitas yang sama. Ia tak cuma menawarkan eksplorasi bentuk, tapi juga jelajah yang luas akan tema. “Kisah tanpa Narasi”, yang secara bentuk ia geluti semenjak 2005, pada akhirnya menunjukkan bagaimana bentuk dan medium dalam karyanya terus berkembang seiring dengan kegelisahannya atas tema-tema yang melatari penciptaan karyanya. Pada Titarubi, saya melihat totalitas yang sungguh dalam menerjemahkan gagasan abstrak menjadi bentuk visual yang nyata. Ia melakukan eksplorasi ulang-alik atas bentuk dan tema, atas fantasi dan interpretasi, atas pengalaman personal dan realitas sosial. Tidak hanya melakukan riset dan menelusuri referensi sejauh yang ia mungkin usahakan, Titarubi juga menantang batasan-batasan teknis yang muncul dalam proses penciptaan. Menciptakan replika lori bukannya soal yang gampang; kita paham perkara itu.

Untuk bisa membuatnya, Titarubi melakukan riset ke museum gula di Klaten demi mendapatkan akurasi dalam kaitannya dengan bentuk lori (termasuk bentuk sambungan, ukuran, bahan, dan sebagainya). Dan cetakan-cetakan patung seukuran manusia dalam jumlah yang banyak itu juga butuh kerja keras yang luar biasa. Bagi saya, Titarubi telah melakukan salah satu esensi penting dalam kerja kreatif, menguji dan mempertanyakan kembali batas-batas yang ada dalam pikiran kita, hingga kita bisa menjelajahi segala kemungkinan untuk mewujudkan yang fantasi menjadi realitas.  Sebagai seniman yang bergelut dengan karya instalasi, Titarubi juga melihat ruang sebagai elemen yang mendasar bagi terwujudnya sebuah karya. Setiap kali membuat karya, atau menciptakan versi baru dari karyanya, Titarubi sudah menimbang dengan baik ruang tempat di mana karya itu akan ditempatkan, dan membuat desain karya instalasinya dalam kerangka ruang tersebut. Versi karya Kisah tanpa Narasi yang ditampilkan di ajang Bali Biennale, dipajang di ruang terbuka. Dengan pilihan ini, karya yang menunjukkan sisa pembakaran manusia memang memberikan efek dramatis yang kuat kepada audiens. Asap, arang, manusia yang tumpang-tindih, berada di tengah hamparan rumput: mengingatkan kita pada api unggun. Apakah kita sedang merayakan kematian?

Di Singapore Biennale, karya ini ditempatkan di sebuah gedung tua bekas barak militer. Dengan tambahan roket berisi bunga berwarna merah jambu yang menyolok, Titarubi dan Agus Suwage menggelar rel kereta yang lebih panjang, menyimpang di ujungnya (dan itulah mengapa disebut “Crossroad”).

Di Cemeti Art House, Titarubi menambahkan dua lori lagi, sehingga ruang galeri terasa penuh tapi pekat dengan perasaan yang mencekam dari karyanya. Sebuah perpaduan antara kegagahan masa lalu ketiga lori dan kerapuhan jajaran manusia yang menjadi metafor atas korban.

Karena didasari oleh keinginan mencipta yang intens, Titarubi ingin membagi kisahnya dengan penonton. Dan itulah kenapa, dalam cara pandang tertentu, selalu seperti ada sisi yang dramatis dalam karya-karyanya: selalu ada cerita untuk dibagi dan fakta-fakta yang memaksa kita untuk percaya.

Sesungguhnya narasi itu ada, tapi selama ini cuma bergerak di ruang yang hampa, lalu Titarubi menangkapnya dan memasukkannya di gerbong-gerbong kereta tua. Tapi, percayalah, narasi ini bukan melulu soal nostalgia, jika Anda bisa menelusuri gagasannya lalu, dengan sedikit kemauan, mendapatkan deretan fakta yang membawa Anda berpikir kenapa sesungguhnya, di tengah kegairahan mengkonsumsi benda-benda, Anda justru menjadi semakin miskin dari hari ke hari.[]

* Kurator dan Manager Program Galeri Cemeti Yogyakarta


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

karya ini bagus,pengabungan antara modernisasi,idealis dan unsur kemanusiaan terserap menjadi satu.

Komentar oleh sony

I am really loving the theme/design of your site. Do you ever run
into any web browser compatibility problems? A handful of my blog readers have complained about my blog not
working correctly in Explorer but looks great in Chrome.
Do you have any tips to help fix this issue?

Komentar oleh download torrent movies




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s