Indonesia Art News Agency


TOK TOK TOK PADA PINTU E(STE)TIK
Mei 13, 2007, 7:41 am
Filed under: visual arts

Oleh : Setiaji Purnasatmoko*

Sepertinya masih banyak hujan tak tertebak di tengah musim yang kacau ini. Banyak lumpur dari jalanan penuh lubang menuju Cigondewah. Oleh sebab itu, jangan membaca tulisan ini dengan memperlakukannya sebagai peta penunjuk jalan “kenyamanan“. Maklum, bahkan jika ada peta dengan rincian yang tinggi pun, Anda akan tetap berurusan dengan lumpur di sana. Cigondewah boleh jadi semata-mata lumpur, lumpur yang mengundang namun tentu saja bukan sebagai wisata akhir pekan. Hanya orang-orang yang terlibat yang akan berkunjung ke sana – demikianlah saya telah menorehkan kata genting untuk wilayah apa pun : “keterlibatan“ atau engagement.

Setelah melalui jalanan buruk dan udara busuk, sepetak kawasan di wilayah administratif Cimahi ini menampilkan pemandangan khas. Di jejalur jalan yang bersambungan, belok ke kiri kita temui deretan bangunan serupa rumah toko dipenuhi bergulung-gulung tekstil. Banyak kalangan akan segera maklum, mau cari kain murah dengan banyak pilihan, di sinilah tempatnya. Belok ke kanan, masih dengan bentuk bangunan serupa, gaya rumah pabrik, akan kita temui tumpukan-tumpukan tinggi sampah (plastik). Gunungan-gunungan plastik itu tengah dipilah-pilah dan sedikit diolah. Lantas nanti ada pabrik besar yang akan mengambilnya untuk diolah kembali menjadi bubur plastik, masuk mesin pembentuk dan kembali ke rumah Anda.  

Jika kita bayangkan sebuah sistem yang bersih dan mulus, mungkin kita akan berbahagia dalam buaian sistem plastik yang berdaur-ulang itu. Celakanya, hidup tak semulus buah apel. Bandung toh bukan hanya kota kembang namun juga kota sampah. Campuran kedua hal itu, bisa juga menghasilkan Adipura, fashion, aneka jajanan, jubelan kampus, seni tinggi maupun rendah, industri kreatif atau pun koruptor tak kreatif. 

Adapun plastik, dia produk hasil olahan tinggi. Plastik sepenuh-penuhnya hasil peradaban manusia. Maka, tak akan pernah ada istilah plastik organik atawa plastik alamiah! Dengan kata lain, sekali ia tak terolah kembali – dan begitu bejibun sampah plastik di sekitar kita, setiap hari – plastik tak pernah bisa diuraikan oleh alam. Ia sampah abadi. Manusia mencipta, mengabdi dan senantiasa (berambisi) mengabadikan. Dalam alur itu, salah satu bentuk konkritnya adalah plastik! Yang plastis, yang tak terurai. Alhasil, saya tengah meminjam karakter lentur plastik yang amat bandel itu untuk mulai menyinggung Cigondewah. Lebih persisnya satu titik di sana, satu titik di Baturengat (simaklah namanya, betapapun ia rengat atau retak, toh ia tetap batu!).

Kabar dari Pak haji Dadang sepintas menyiratkan sesuatu yang bertumbuh. Inilah kawasan yang pada 1984 satu tumbak tanah masih berharga sekitar Rp 49 ribu saja. Boleh jadi itu periode akhir manakala di masa-masa sebelumnya, masa kecil Tisna Sanjaya, mengalami hamparan kehijauan sawah dan ruang terbuka yang sedemikian luas namun beserta tali relasi manusia komunal yang kental. “Di sana banyak pendekar namun mengayomi,“ demikian sekali waktu Tisna pernah bercerita tentang sesuatu yang telah silam.  

Sepertinya memang segala rupa ada di sana. Segala sesuatu yang ada di sana yang dibentuk oleh pembangunan, proses yang koersif itu. Dari bertumbak-tumbak kehijauan, kawasan yang sama ini, menurut pak Haji, pada 1992 oleh gubernur pada waktu itu, toh dinyatakan sebagai kawasan termiskin di Indonesia. Boleh jadi jejak-jejaknya kini adalah pemandangan setiap sore ketika kerumunan besar pada keluar bubar setelah kerja pabrik : para buruh yang sebagian besar remaja dengan segala himpitan hidup di sebaran pojok-pojok pondokan bersanitasi buruk – nyaris di setiap titik air tanah di sana, mestilah berwarna kuning kecoklatan. Di balik pemiskinan itu, pesanan partai besar maupun eceran kecil pasar barang di sana tampaknya tak pernah sepi : dari gulungan tekstil hingga paku-paku bekas pilahan rongsokan. Omzet dan uang beredar dibaliknya boleh jadi sama menggunungnya dengan gundukan tinggi di pool-pool sampah di sana.

Namun jangan tanya seberapa lama dan seberapa besar uang yang hinggap mengendap sehingga tak mampu menggusur tampilan “abadi” Cigondewah yang tetap kekumuhan besar itu.  

Uang terbang secepat merpati dan hanya hinggap di tangan pemeliharanya. Setiap 2 pekan sekali ada kompetisi merpati di Baturengat. Ini kompetisi bukan main-main. Jenis adu merpati di sini terbagi dua kelas, kelas A dan B. Dan itu bukan merpati sembarangan. Yang beradu merpati berkelas yang harganya mulai Rp 20 jutaan sampai ratusan juta rupiah. Hadiah dwi-mingguan paling sedikit berupa motor Mio hingga Tiger. “Setiap adu kelas A, mobil-mobil yang parkir banyak sekali dan bagus-bagus,” ujar pak Ena.

Adapun Pak Ena, atau biasa dipanggil “Mas”, ia adalah sosok yang sudah terlibat di pusat-pusat pemilahan sampah di Baturengat sejak dua tahun belakangan ini. Dari rumahnya di Cipaheut, pak Ena perlu waktu satu setengah jam perjalanan, setiap hari, sejak pagi buta. Pak Ena naik sepeda tua. Perlu banyak uang jika naik angkutan umum. Rekannya, Enden yang masih pemuda, sudah lebih lima tahunan bekerja di rongsokan seputar Baturengat Cigondewah.  

Mereka bekerja memilah-milah rongsokan. Prioritas yang dikumpulkan pun tentunya bertingkat-tingkat. Yang pertama masuknya golongan mainan serupa plastik bekas kemasan susu, aqua gelas, jerigen atau mereka sebut rigen; yang dihargai tertinggi yakni Rp 4 ribu per kilo. Kelas kedua disebut sampah emberan serupa aqua botol dan ember besar yang harganya Rp 2 ribu per kilo. Lalu menyusul pilahan berupa besi dua, maskudnya, besi bekas seharga Rp 1.600 sekilo dan yang paling murah adalah golongan kaleng-kaleng seharga Rp 400 setiap kilonya.

Semakin banyak yang dikumpulkan dan, meminjam dari arena adu merpati dahsyat itu, semakin berkelas sampah-sampah yang Anda pilah dan kumpulkan, semakin kenyang perut Anda dan anggota keluarga yang bergantung di sekitar Anda. Dengan kata lain, urusan pilah-memilah ini adalah urusan keterlibatan harian : tak dapat barang pada hari itu, maka Anda tak makan. Namun dibalik pemiskinan sedemikian rupa – sebab nyaris tak ada istilah tumbuh atau menabung dalam ritme harian serupa ini – jejak-jejak kedekatan komunal sebagaimana dahulu pernah tertanam di tubuh Tisna, rupanya masih ada. Pak Ena dan Enden masih cukup bisa tenang hati sebab masih ada saja menemui warung-warung makan yang mau memberi hutang kepada mereka. Artinya setiap hari masih bisa makan andaikata tak dapat sampah pilahan. “Keunging Alhamdulillah, teu keunging luh lah,” demikianlah alunan rima bahasa pak Ena dalam irama keseharian yang meletih-diri. 

Lebih jauh lagi, tentunya, selain keletihan, yang terlatih kemudian adalah tangan-tangan manual yang terampil dan mata yang cermat memilih. Dibalik tampilan yang menempel di dinding maupun patung instalasi, secara tak tertolak ada sosok-sosok terlibat setempat yang lahir-batinnya ikut tersemat dalam karya : haji Dadang, kang Enuh dan keluarga, Jajang, Koko, si Mas, Enden, kompor minyak tanah, lem aci, obrolan tentang sekolah dan segala macamnya; ada Atep dan kawan-kawannya seumuran Sekolah Dasar – mereka yang diharu-biru proyek pendidikan serupa Ujian Nasional (UN) itu – yang begitu riang dan bersemangatnya ikut menata-nata objek di kanvas; ada Yudi pelukis otodidak bertangan terampil menggambar, membikin ram lukisan hingga bikin pisang aroma, yang bersetia saban seminggu dua kali ikut berurun rembug. Ada  Zico, ada kita dari bangku-bangku kuliah dalam gedung-gedung berbuku-buku, akan menemui itu sebagai craft atau kriya. Semacam seni keterampilan.  

Yang membeda-bedakan atau yang menggolong-golongkannya supaya berkelas-kelas – demikianlah ilmu atau sains dalam salah satu fungsi penuhnya sebagai perkakas kategorisasi – adalah bentukan ruang konteks penempatannya. Di Cigondewah itu adalah gunungan sampah dan itu pun bertingkat-tingkat berdasarkan pilahan harga kiloannya. Di galeri kota seni sekaligus kota sampah ini, ia dirangkai menjadi seni sekuat wacana yang menopangnya. Dalam banyak sisinya, segala rupa itu, secara tak tertolak, senantiasa beririsan melumerkan atau secara terus-menerus mengajukan daya kritis tentang batas-batas : mana medium mana objek penuh, mana seni mana sampah, mana individu mana komunal, mana kultur mana nature, mana etik mana retorik, mana Satpol mana preman. 

Andaikata Anda tak nyaman menatap bahan atau mediumnya, maka cobalah bertahan sebentar.  Barangkali ada pola-pola visual mirip Jackson Pollock, misalnya. Yang jelas, diantara yang terselip dalam kanvas banyak yang merupakan bagian intim keseharian. Kemasan odol dan sikat itu adalah bagian keseharian yang personal setiap pagi kita menggosok gigi. Ada kemasan bekas wadah, sesuatu yang sebelum “terbuang” di dalamnya adalah mentega yang kita oleskan pada roti atau menjadi bagian masakan yang kita santap. Batas antara yang intim dengan yang abjek atau yang dibuang, jika kita menteorikan sistem daur-ulang yang bisa diterapkan sempurna, secara logis menjadi tidak ada. Di sini kita berhadapan dengan paradoks teori : ia yang mengukuhkan batas sekaligus (pada gilirannya) juga merontokkannya.

Atau bilamana Anda bersikukuh menolak biografi dan tendens, maka Anda menempatkannya sebagai objek yang tengah dinilai kepatutan seni (estetiknya). Itu berarti Anda sedang mengerahkan segenap pranata dan infrastruktur sebagai bagian perkakas penilaian – untuk lagi-lagi kembali kepada keluhan betapa amburadulnya segenap infrastruktur seni di negeri yang tak kunjung “modern “. Sehingga kita lelah berdebat tentang ukuran kemajuan peradaban suatu kawasan. Dan itu toh bukan diskusi yang menggali objek semata objek. Dalam kancah demikian, mereka yang beruntung rejekinya adalah yang pandai berenang dalam ombak pasar untuk terus meninggikan nilai komoditi objek. Sebagaimana kita maklumi bersama, pada umumnya objek di wilayah terakhir ini adalah yang melulu bermain di zona kenyamanan. Bukan di wilayah persampahan seperti di Cigondewah.

Namun di Baturengat ada ketemu selembar kartu plastik bertuliskan “Don’t Bother Me! Don’t Touch Anything! I LIKE MY ROOM THIS WAY“. Dahulu mungkin kartu putih bersih itu tergantung di pintu kamar yang intim, suatu sore kemarin ia sudah teronggok di pool sampah.[] 

* Pelajar di kolektif studi Ekologi Sosial “Hijau Merdeka”


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s