Indonesia Art News Agency


Nayuban di Kademangan
Mei 14, 2007, 9:49 am
Filed under: traditional

Oleh Kiki Kurnia

Waktu sudah larut malam. Tapi tak seperti biasa halaman Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang berjejer kereta kuda atau delman. Para kusirnya dengan setia menunggu para tamu undangan yang akan masuk ke dalam komplek museum. Hanya kendaraan delman yang boleh masuk. “Aturannya memang seperti itu untuk menghadiri acara Nayuban di Kedemangan,” kata seorang kusir.  

Mobil-mobil pembesar itu pun terparkir di luar pekarangan komplek. Dan satu demi satu mereka diantar menggunakan delman. Di dalam museum telah berkumpul seluruh tamu undangan. Semuanya mengenakan pakaian adat Sunda kaum priyayi. Kalangan pria mengenakan jas tutup dengan bawahan kain dan bagian kepala ditutup dengan bendo. Sementara kalangan perempuan mengenakan kain kebaya lengkap.

Tamu-tamu itu akan didaulat untuk menari tayub. Acara tradisi ini digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sumedang, Jumat (11/5) malam. 

Acara dibuka dengan Ibing Paksi Tuwung yang dibawakan lima gadis cantik. Tarian ini masuk ke dalam tari tayub, yang dibawakan oleh para gadis sebagai tarian pambagea kepada para tamu undangan. Selang beberapa lama, satu persatu tamu kehormatan diminta menari tayub diawali penampilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, H. I. Budhyana disusul penampilan Sekda Kabupaten Sumedang, H. Ace Arifin dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Sumedang serta Ketua Yayasan Pangeran Sumedang.

Di Jawa Barat, tari tayub merupakan tarian kalangenan kalangan ningrat atau demang jaman baheula lalu menyebar masuk ke kalangan priyayi. Sehingga tak heran, yang menari tayub adalah kalangan pejabat pemerintahan, seperti bupati maupun pejabat lainnya. Mereka menari sendiri-sendiri maupun beramai-ramai dengan penari lainnya. Namun pada malam itu, yang menari tayub sebagian besar menari sendiri-sendiri memperlihatkan keahliannya.

Beberapa seniman tayub yang melihat merasa kecewa dengan kegiatan tersebut. Mereka menganggap penampilan itu, seperti keurseus (pintonan) tarian para tamu kehormatan.

Menurut Anis Sudjana, seorang pakar tari tayub mengatakan tari tayub tidak dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus ada yang mairan (ikut) dari penari lainnya, namun tidak mengindahkan pola tari tayub. “Sekalipun ada yang mairan, namun si penari utama harus tetap lebih dominan dan kreatif dalam ngigelkeun pertunjukan dan gamelan. Dan hal itu yang dilakukan para demang baheula bersama para seniman tayub,” katanya.

Kekecewaan para pakar tayub langsung cair, ketika para penari tayub lainnya mampu menampilkan tari tayub sebenarnya hingga pertunjukkan yang disetting festival semakin cair dan penuh gelak tawa. 

*** 

DILIHAT dari kaca etimologis, kata tayub merupakan hasil rubahan dari kata sayub, artinya minuman yang mengandung alkohol. Namun, dalam arti yang sebenarnya, kata tayub adalah sebuah tarian (social dance) yang diiringi gamelan. Seluruh penarinya adalah kaum pria. Biasanya, si penari ini ditemani oleh penari ronggeng (perempuan). Sehingga tak salah, jika pada pelaksanannya si ronggeng mendapat saweran dari penari pria maupun penonton. Unsur lainnya dalam tari tayub ini, adanya minuman. Bagi yang menggemari, minuman ini dijadikan alat penyemangat untuk si penari agar lebih semangat dan sonagar. Tayub seperti itu, telah menyebar di wilayah yang menggunakan bahasa Kawi, diataranya suku Jawa dan Sunda. Bahkan, pada sebagian tempat disebut janggrungan. Sebagai seni tradisional, tayub sudah terbilang tua (buhun) karena sudah tercatat dalam perpustakaan kuno diantaranya buku Gatotkacasraya dan Sumanasantaka. Dalam kitab Centini yang beredar di Solo, Jawa Tengah tahun 1800-an, sangat jelas digambarkan bagimana pementasan seni tayub yang tidak lepas dari unsur-unsur di atas.

Sampai saat ini, di daerah pedesaan di Jawa, seni tayub masih digunakan oleh masyarakat. Walaupun hidup di jaman modern, seni tayub termasuk seni populis. Keadaan seperti itu masih ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat yang masih kuat. Katanya, menari dengan ronggeng bukan sekedar mengungkapkan keindahan, tapi maksud yang disembunyikan. Tegasnya, menari ronggeng dianggap akan memberi kesuburan bagi tanaman.

Menurut para akademisi, menari dengan ronggeng merupakan perlambang makna kesuburan atau gerakan erotis yang bisa dianggap membawa tarekah untuk mendatangkan magi, mana atawa cakti, pertanda bisa mempengaruhi tumbuh suburnya tanaman.

Sedangkan di tatar Sunda sendiri, seni tayub pernah tumbuh subur yang didorong oleh dua lapisan sosial saat itu,  yakni kalangan priyayi dan masyarakat biasa, baik yang hidup di daerah perkotaan maupun pedesaan. Namun sampai saat ini, seni tayub di tatar Sunda belum diketahui siapa yang mempopulerkannya. 

Walaupun demikian, siapa pun yang pertama kali mempopulerkan seni tayub di tatar Sunda bisa diterima oleh siapa pun.  Mengenai seni tayub yang hidup dikalangan menak, belum tercatat berapa bupati di Priangan yang menyenangi seni tayub. Sejumlah Bupati Sumedang yang pernah menggemari tayub, diantaranya Pangeran Suria Dinata (1836-1882), Pangeran Suriaatmadja (1882-1910), dan bupati R.A.A Kusumadilaga (1919-1937). Seni tayub pun tidak hanya di Sumedang, seni tayub pun tumbuh subur di kademangan lain seperti Cianjur dan Sukabumi.  Di kalangan ningrat, kebiasaan tari tayub turun ke golongan priyayi intelektual, yaitu kalangan menak bentukan penjajah kolonial Belanda. Bahkan seni tayub ini sangat digemari oleh kalangan terpelajar yang hidup diperkotaan.

Dari hasil penelitian, pada saat itu, seni tari tayub menjadi lambang status. Orang dianggap sebagai menak apabila orang itu bisa menari tayub. Sehingga seni tayub dianggap milik bangsawan (menak). Dan tak heran, seni tayub lebih sering dipentaskan di pendopo-pendopo kabupaten dan bangunan besar milik bangsawan. Sedangkan seni tayub di lingkungan masyarakat biasa dipentaskan di dalam balandongan; dari pesta sunat sampai sedekah bumi.

Setelah masa perang kemerdekaan, seni tari tayub di lingkungan bangsawan mulai hilang. Hal itu disebabkan semakin hilangnya pamor kaum priyayi (bangsawan). Sedangkan di lingkungan masyarakat biasa, seni tayub masih dipentaskan walaupun pementasannya sudah banyak berubah dan berkurang. Hal ini akibat pengaruh seni lainya, seperti jaipongan dan dangdut.

Seni tayub yang banyak berubah terjadi di wilayah Ciamis dengan sebutan ronggeng amen, di daerah Sumedang seperti di daerah Situradja disebut bangreng, di daerah Buahdua disebut popdut. Di Bandung sendiri, tari tayub lebih dijadikan sebuah pintonan (keurseus) bukan tari kebiasaan (kalangenan).

Karena itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, Budhyana bersama Bupati Sumedang, Don Mardono mencoba menggalakan tari tayub dari sebuah tontonan menjadi kebiasaan masyarakat maupun pejabat. Selain itu, upaya lainnya ingin memperkenalkan kembali seni tari tayub kepada kalangan generasi muda yang selama ini memang tidak mengenali seni tari tayub.  

“Dilihat dari pakaiannya saja, kita sudah bisa menggambarkan bagaimana watak dari si penari tayub. Belum dengan gerakan tarinya. Dari sana, kita bisa mengambil sikap dengan terpeliharannya dan dikenalnya seni tayub dikalangan generasi muda, maka kita akan mudah membangun watak suatu bangsa,” papar Budhyana. 

Kumaha mekarna ibing tayub mangsa-mangsa ka tukang, kumaha nerekabna ka unggal madhab, kumaha ebreh rasa jeun estetikana, kumaha rembes peurah pangaruhana kana ibing-ibing sapanadeurianana ngebrehkeun yen ibing tayub geus jadi sala-sahiji cirri budaya Sunda. Piraku teu dimumule jeung dipiara ku urang.[]

* Sehari-hari bekerja di Harian Umum Galamedia Bandung. Selain melakukan kerja jurnalistik Kiki juga menulis puisi. dewekeuy@yahoo.com


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s