Indonesia Art News Agency


Sinema Reliji: Cermin Bangsa Frustrasi?
Mei 16, 2007, 2:35 am
Filed under: movie

Oleh Is Mujiarso*

Sinema Reliji Pilihan Minggu yang disiarkan TPI pukul 18.00 WIB, edisi 16 Juli 2006 menampilkan kisah berjudul Banci Tobat. Keesokan harinya, Senin (17/6) stasiun televisi yang sama, kali ini di bawah tajuk Rahasia Ilahi, menyajikan episode berjudul Jenazah Lesbian. Acara ini disiarkan pada pukul 21.00 WIB, dan tepat pada jam yang sama, SCTV menampilkan sinetron serial yang diberi nama Perempuan Teraniaya yang pada kesempatan tersebut menggulirkan lakon berjudul Suamiku Homoseksual.

Variasi tayangan drama serial semacam itu, baik yang berklaim relijius maupun yang bergaya “Oh Mama Oh Papa” semisal Perempuan Teraniaya itu, merupakan jenis tontonan (fiksi) yang bertendens. Artinya, tayangan-tayangan tersebut dibuat dengan kesengajaan dan penuh kesadaran untuk memberikan “pencerahan”, berpretensi menasihati serta diharapkan menjadi contoh dan pelajaran bagi penontonnya. Oleh karenanya, modus dan pola dari tayangan-tayangan tersebut semuanya sama dan sederhana saja, intinya “jaal haq wa dzahaqal bathil”. Kebenaran (yang datang kemudian) melenyapkan kebathilan. Tokoh-tokoh yang dalam kacamata agama dianggap dzalim akan menemui ajalnya secara mengerikan dan tidak wajar. 

Lewat tayangan-tayangan semacam itu, kita menyaksikan dramatisasi yang luar biasa atas sesuatu yang dianggap jahat, salah, dosa, terlaknat. Strategi naratif, kalau boleh dibilang begitu, semacam itu tentu saja dimaksudkan untuk memberikan efek tertentu bagi penonton, sesuai pesan yang hendak disampaikan. Karena dari awal memang bertujuan mengabdi pada pesan itulah, maka tayangan-tayangan jenis ini tak terlalu mementingkan alur cerita, bahkan termasuk premis-premis dasarnya maupun logika dan unsur-unsur lainnya. Apapun bisa terjadi begitu saja, tak perlu alasan dan penjelasan yang masuk akal. Yang penting tujuan tercapai: pesan tersampaikan.  

Begitulah, maka kita menyaksikan, tokoh Robby pengusaha salon yang gemar memelihara waria-waria dalam tayangan Banci Tobat itu dikisahkan mati begitu saja di pertengahan jalan cerita. Ia mati karena kecelakaan, dan tak perlu penjelasan lain. Bahkan adegan penguburan dan sebagainya tak perlu diperlihatkan, pokoknya ia mati titik. Agar: tokoh Mance, waria baru yang langsung mendapat tempat istimewa di hati Robby itu bisa berkata, “Aku tak ingin mati seperti itu.” Seperti apa? Mati tanpa dilayat oleh sanak-saudara –artinya, Robby yang gemar berhubungan dengan waria itu sudah dikucilkan oleh keluarga dan kerabatnya. Karenanya, Mance pun tobat dan kembali menjadi laki-laki.  

Ironis, dan oleh karenanya menjadi sangat menarik, tokoh Mance diperankan oleh Ivan Gunawan, artis yang dikenal luas masyarakat sebagai laki-laki yang berpenampakan feminin dan tak jarang berias wajah dan berdandan perempuan. Penonton akan membaca ironi itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar (tayangan) fiksi, melainkan seperti menonton kisah nyata dan dengan demikian hikmah yang didapat terasa konkret: bahwa orang-orang seperti Ivan Gunawan itu seharusnya bertobat dan kembali ke jalan yang benar sesuai kodrat kelelakian mereka. Bagi Ivan sendiri? Wallahu alam bishawab, alias hanya Ivan sendirilah yang bisa menjawab. 

Kematian juga menjadi jalan pertobatan bagi tokoh lesbian dalam Jenazah Lesbian. Alkisah, lesbian bernama Dian itu mati dan jenazahnya mengeluarkan darah. Tak ada penjelasan tentang itu dan sudah barang tentu memang tak perlu. Pokoknya, agar orang-orang kampung bisa bergunjing dengan mengaitkan darah itu dengan homoseksualitas yang bersangkutan. Adegan berikutnya: Dinda, pasangan lesbian Dian, menangis meraung-raung di atas pusara. Tak jauh dari situ, dua perempuan berjilbab dan seorang lelaki membicarakan Dinda, bahwa dulu dia juga perempuan normal. Sedangkan ketika membicarakan Dian, muncul ucapan “si tomboy” dan “lesbian sejati”. Selanjutnya, penonton diajak mengilas balik: karena berkali gagal menjalin hubungan dengan laki-laki, Dinda jadi tak percaya dengan makluk lawan jenisnya itu. Puncaknya, ia kabur dari rumah ketika orangtuanya mencoba menjodohkannya dengan lelaki pilihan mereka. 

Dalam pelariannya, ia bertemu Dian dan kisah selanjutnya bisa dengan mudah ditebak. Kecuali soal dramatisasi yang membumbui, misalnya ketika kedua orangtua menyusul Dinda setelah mereka mengetahui keberadaan anaknya itu yang tinggal serumah bersama Dian –Dinda dengan kasar menghardik dan mengusir mereka. Adegan ini mudah dibaca sebagai strategi untuk menanamkan kesan yang mendalam di benak penonton bahwa seorang lesbian itu sama dengan anak durhaka. Dengan demikian hal ini akan memperkuat alasan untuk menolak keberadaannya, dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar –inilah pesan utama tayangan ini. 

Modus yang agak lain terjadi pada tayangan Suamiku Homoseksual. Di sini, laki-laki gay digambarkan sebagai bagian dari entitas besar penindas perempuan. Ini hal yang cukup “baru”, mengingat secara teori kaum gay justru boleh dibilang senasib dengan perempuan sebagai manusia kelas dua, marginal, subordinat terhadap maskulinitas. Serial Perempuan Teraniaya memang tak berwarna relijius sehingga episode Suamiku Homoseksual ini memberi perspektif yang semakin menegaskan bagaimana homoseksualitas dipandang dalam produksi fiksi televisi. Tampak: baik dalam tayangan yang berklaim relijius –atau yang dengan gagah mereka sebut sinema reliji- maupun yang bersifat lebih “umum”- homoseksualitas hanyalah objek penderita –ia ditampilkan bukan sebagai (upaya untuk memahami) dirinya sendiri melainkan sekedar dijadikan alat untuk menjelaskan kebenaran dari sebuah subjek yang ditampilkan. 

***   

Sebenarnya, tanpa harus merinci isi kisah masing-masing tayangan tersebut, kata-kata “banci”, “lesbian” dan “homoseksual” dari judul-judulnya sudah langsung memberi kita sebuah benang merah yang serta-merta terpahami dengan mudah. Dalam bahasa Michel Foucault, dalam dua hari telah terjadi “pelipatgandaan produksi wacana seksualitas” yang luar biasa lewat tayangan (media) televisi. Jika produk media (massa) adalah cermin dari realitas masyarakat di ruang dan waktu di mana ia lahir, maka kita pun barangkali menjadi bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi di “luar sana”? 

Saya membayangkan sebuah masyarakat yang sedang dilanda kepanikan moral yang luar biasa, yang disebabkan oleh masalah seksualitas. Yakni, banyak perempuan tiba-tiba menjadi lesbian, dan laki-laki menjadi gay atau pun banci. Hal itu tentu saja mengancam masa depan anak-anak, dan keutuhan keluarga sebagai pilar masyarakat. Kepanikan semacam itu tentu saja dirasakan pula oleh para pembuat tayangan fiksi berklaim relijius sehingga mereka beramai-ramai mengakat kisah yang memberi peringatan akan ancaman yang sedang melanda masyarakat itu.  

Begitulah bayangan saya.  Namun, apa yang saya bayangkan itu buyar ketika saya menonton berita-berita di TV dan membaca koran. Tak ada masyakarat yang panik karena anak-anak mereka terancam menjadi lesbian atau gay atau banci. Yang terlihat dan terbaca adalah masyarakat yang mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya karena tiba-tiba saja desa tempat mereka membangun kehidupan dibanjiri lumpur panas bocoran dari sebuah pabrik. Yang terlihat dan terbaca adalah pencurian beribu-ribu kayu glondongan di Kalimantan yang tak ternilai harganya. Yang terlihat dan terbaca adalah banjir di sejumlah wilayah karena penggundulan hutan di sekitarnya. 

Akhirnya, tiga tayangan fiksi tentang banci, lesbi dan homo dalam dua hari berturut-turut itu seperti memberi tahu saya, mengapa bencana-bukan-alam melainkan bencana akibat kecerobohan segelintir manusia tak bertanggung jawab yang merugikan banyak orang bisa terjadi, selalu terjadi dan terus terjadi di negeri ini. Sebab, yang kita cemaskan selama ini –seperti tercermin dalam kepanikan masyarakat yang digambarkan oleh tayangan-tayangan fiksi berklaim relijius itu- adalah hal-hal yang sebenarnya tidak pernah menjadi ancaman apa-apa di masyarakat. Para penonton tayangan-tayangan tersebut, bahkan, dalam seumur hidupnya barangkali tak akan pernah bertemu langsung dengan seorang perempuan lesbian ataupun laki-laki gay. 

Yang mereka temui sehari-hari adalah kemiskinan, himpitan beban hidup yang antara lain diperparah oleh kondisi ekonomi negara yang dikendalikan oleh pejabat-pejabat bodoh, rakus, korup dan kebal hukum. Masyarakat penonton TV dijejali “kebenaran” bahwa menjadi banci –atau homoseks- itu terkutuk dan oleh karenanya harus kembali ke kodrat mereka, atau kalau tidak yang bersangkutan akan mati dengan jenazah penuh belatung atau tergenang darah. Namun, apa gunanya “kebenaran” itu bagi masyarakat? Bagi saya, tayangan-tayangan berklaim relijius itu adalah cermin yang memantulkan perasaan frustrasi masyarakat kita yang sudah sedemikian akut karena tak kunjung keluar dari situasi krisis.  

Bangsa ini telah terpuruk begitu jauh dalam kubangan situasi yang seakan tak bisa diperbaiki lagi. Orang-orang mendaftar menjadi anggota DPRD dengan ijazah palsu. Pilkada di mana-mana rusuh dan tak jarang sampai menimbulkan pertumpahan darah. Korupsi makin merajalela dan dilakukan secara transparan serta sistematis, namun tak satu pun bahkan yang paling teri sekali pun bisa diseret ke pengadilan. Harga BBM naik, tarif listrik naik, bahkan harga minyak goreng pun tak pernah stabil. Orang mulai merasa telah salah memilih presiden dan wakilnya, sekaligus menilai, mereka salah memilih tim ekonomi dalam cabinet. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kebingungan dan ketidakberdayaan melanda seluruh –meminjam istilah para pejabat- komponen bangsa. Dalam carut-marut semacam itulah, seksualitas dieksplorasi sedemikian rupa untuk –menurut Moh Yasir Alimi dalam buku Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial (Yogyakarta: LKIS, 2004)- mengartikulasikan perasaan the sense of self masyarakat.  

Dalam kebingungan dan ketakberdayaan, orang butuh pelampiasan, tempat atau cara untuk melarikan diri guna menemukan semacam musuh bersama yang bisa mengembalikan kekuatan moral dan rasa percaya diri. Dan, tayangan-tayangan berklaim relijius itu adalah bagian dari upaya ini. Orang-orang banci, lesbian dan gay ditampilkan sebagai makluk kotor, berdosa, terkutuk, terlaknat –dengan penggambaran yang luar biasa ekstrem hingga sampai ke titik absurd- agar masyarakat yang menonton tayangan itu merasa masih (lebih) punya moral, masih (cukup) berarti, bisa sedikit (merasa) bahagia kendati tengah berada dalam keterpurukan dan tak berdaya menghadapi masalah-masalah yang muncul dalam konteks kehidupan berbangsa.[] 

* jurnalis dan editor lepas


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

sepakat. saya sering berpikir kapan ada media televisi alternatif yang berdana kuat yang punya semangat memandaikan masyarakat:
– membuka berbagai pluralitas yang merupakan realitas di sekeliling
kita dari kacamata pelangi. Glorifying diversity kurasa sebenarnya
justru memuji ciptaan Tuhan. Daun saja punya bentuk, rajah,
warna, ketebalan, bau, kelembutan yang beragam.
– mengangkat upaya survival mereka yang marjinal
– mengangkat inisiatif2 untuk memberdayakan ataupun upaya
survival mereka yang marjinal

Ada nggak sih?

Komentar oleh nket

no comment ah…. suka — putar, gak suka — tinggalkan.

Komentar oleh suyadi san




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s