Indonesia Art News Agency


Bahasa Tubuh yang Berwarna
Mei 24, 2007, 3:15 pm
Filed under: theatre

boneka6.jpg

Teks/foto oleh Adi Marsiela*

Bahasa tubuh atau gesture memang layak mendapat sebutan sebagai bahasa universal. Sebuah bahasa sederhana yang mampu menembus batas-batas perbedaan daerah bahkan rasionalitas.

Konsep itu pula yang coba diangkat oleh grup sandiwara boneka C Koi Ce Cirk asal Perancis. Dalam pergelarannya di Auditorium CCF, Selasa, 22 Mei 2007 kemarin, boneka-boneka yang tidak berbicara dengan bahasa ibunya itu mampu memberikan sebuah hiburan segar yang terasa baru.

Kebaruan itu coba ditampilkan oleh Ludovic Harel, Eglantine Le Coz, Maud Beraudy, dan Jerome Guillot di depan sebuah panggung berlatar hitam. Mereka memainkan boneka-boneka berbentuk bulan sabit, ikan, ular, laba-laba, semut, hiu martil, jamur, bunga, kupu-kupu, sampai lebah dengan sebuah teknik pencahayaan yang memikat dengan bantuan sinar ultra violet. Glow in the dark, mungkin itu istilah yang tepat.

boneka3.jpgGrup yang lahir pada tahun 2001 ini mempersembahkan pertunjukkan mereka kepada remaja dan juga kaum muda, bahkan anak kecil sekalipun bisa mengapresiasinya.

Cerita bisu penuh warna-warni itu sendiri awali oleh rutinitas bulan sabit yang memahat bintang dengan menggunakan palunya. Satu persatu bintang itu menerangi panggung yang gelap. Di tengah keasyikannya, sang bulan kebingungan karena palunya hilang, dia pun melayang-melayang melawan hukum gravitasi sampai akhirnya tiba di bumi.
Ternyata di bumi, sang bulan yang ukurannya lebih besar dari postur orang dewasa ini menemui banyak hal baru. Kupu-kupu, lebah, bunga, dan jamur-yang lagi-lagi penuh warna-warni itu-memukau bulan. Bahkan dia sampai mabuk sempoyongan sehabis mencium aroma jamur.

Kelucuan sendiri semakin terasa saat bulan berhadapan dengan ular cobra yang ukurannya tidak kalah besar dengan tubuhnya. Untung saja, lebah datang membawakan seruling yang membuncit di bagian tengahnya, seperti suling-suling yang banyak dipakai pawang ular di India. Dari pemahat bintang, jadilah bulan sebagai pawang ular.

boneka-lucu.jpg

Pertemuan bulan dengan semut di bumi ternyata memberikan keuntungan tersendiri. Pasalnya, dia harus berhadapan dengan laba-laba berkaki delapan yang jahat dan menyerangnya. Untung saja semut mau berkorban untuk bulan.

boneka5.jpgDia pun melanjutkan perjalanannya ke dalam laut. Mimik bulan semakin lucu ketika dia harus mengenakan masker dan snorkel (alat pernafasan). Di alam bawah air itu, bulan juga menemukan cintanya, sang bintang laut. Mereka berdua bahkan sempat berciuman dan menari bersama layaknya anak remaja yang baru jatuh cinta, lengkap dengan rona pipi yang memerah.

Kejelian para pemain boneka ini patut diacungi jempol. Selain hanya memainkan bonekanya dengan tangan, tampilannya secara visual cukup memukau mata. Kisah itu sendiri ditutup dengan pertemuan antara hiu martil dengan sang bulan. Ternyata palu yang selama ini dicarinya, ada di mulut ikan tersebut.
Menemukan palunya, sang bulan pun kembali melayang ke langit. Dia kembali duduk dan memahat bintang untuk menerangi malam-malam kita di dunia.[]

  

* Adi Marsiela, alumni Jurnalistik Unpad, sehari-hari bekerja untuk Surat Kabar Suara Pembaruan. Aktif di Forum Diskusi Wartawan Bandung dan Wartawan Foto Bandung. Tahun 2006 mendapatkan penghargaan “Adiwarta Sampoerna” [penghargaan terbaik kepada jurnalis Indonesia] untuk kategori hardnews bidang seni dan musik dan kategori hardnews bidang social. Kini do’i sedang menyelesaikan buku fotografi Konferensi Asia Afrika bersama Wartawan Foto Bandung [WFB].


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wow!!! menurut saya ini adalah sebuah konsep cerita seni yang menarik walaupun saya tidak menyaksikannya secara langsung. Dapat dibayangkan betapa warna-warninya panggung boneka itu dan cukup memukau mata. Dan saya yakin pasti penonton serasa dibawa ke “dunia baru” yang penuh dengan kejutan.
Oia, bisa tidak konsep baru ini masuk dalam kategori “Nu Media Art”?

Komentar oleh Yayu A.R.

keren deh…

Komentar oleh arul

Wah ceritanya asyik.

Saya tertarik untuk menonton, tapi sayang terlambat…

Oh ya, kalau ada yang tahu informasi tentang bahasa – bahasa tubuh yang universal lainnya, mohon infomasinya ke ebeth@fitzeman.com

Saya butuh sekali informasi tersebut untuk materi saya dengan judul “Bahasa Tubuh” yang harus diajarkan dalam bahasa Jerman.

Terima kasih atas bantuannya!

Komentar oleh Ebeth Resmol

keren banget…
saya nonton waktu show di surabaya

gila inspiratif banget….
salut buat C Koi Ce Cirk

Komentar oleh meta

memangsih suatu konsep yang lain dari pada yang lain biasanya akan memukau semua orang good for gays yang telah mendapatkan ide cemerlang seperti itu dan nantinya pasti akan ada yang akan mencuangkan ide seperti kamu semoga cepat ada dan pasti aku tunggu……………

Komentar oleh ervin




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s