Indonesia Art News Agency


Melihat Dengan Bijak Festival Film Banyumas
Mei 30, 2007, 5:22 am
Filed under: movie

Oleh : Nanang Anna Noor*

MARI memahami dengan bijak produk kesenian, ujar Albert Camus. Ini merupakan kritik terhadap pemerintah yang kerapkali, memandang kesenian sebagai warning status quo. Pemerintah merasa terancam dengan produk produk kesenian tersebut. Filosofi Albert Camus, suara seniman adalah pintu penjara membuat tak terhitung jumlah seniman yang ‘berlibur’ di hotel prodeo. Diakui pada masa rezim orla dan orba, kekompakan seniman untuk memberontak melalui karya karyanya lebih membahayakan dari senjata kaum penjajah. 

Namun kini terjadi pergeseran yang tak terasa, bahwa seniman sibuk dengan arogansinya sendiri, sehingga terpecah belah. Komunitas seniman bahkan karyanya terbuat dari keramik yang mudah retak. Sehingga rezim kolonialis kesenian yang pernah menjadi partner di ring tertawa saat melihat kita bertempur di ruang kita sendiri. Tragedi pengembalian piala pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun lalu, salah satu contoh betapa rapuhnya paltform idealisme seniman. Pengembalian piala sebagian menganggap sebagai awal bangkitnya idealisme film indonesia, namun sebagian lagi menilai hilangnya standarsiasi kompetisi perfilman di Indonesia. Dan ini berbuntut adanya upaya membangun arena baru setara FFI yang tak mudah.


Terjadi diskursus yang tiada henti. Kelompok pemberontak yang disebut sebut tergabung dalam Masyarakat
Film Indonesia (MFI) dituduh telah melakukan kudeta terhadap legilitas FFI.Sementara masyarakat film menjadi terkotak kotak dalam ruang yang berseberangan.
Ditengah kisruh film di pusat kota itulah, lahir kegairahan produk produk film di daerah. Mas Mamang (Chaerul Umam-red) menyebut kegairahan ini sebagai credit point, atas sesuatu yang dianggap kekalahan kekalahan kurator film di daerah selama ini. Upaya desentralisasi film merupakan jalan lebar film daerah agar bisa menjadi produk yang bisa melintasi segala ruang. Ajang festival daerah yang membooming, patut disyukuri, karena akan melahirkan pluralitas karya film yang lebih unik dan segar.

Dalam diskusi lepas dengan dua tokoh film nasional, Imam Tantowi dan Chaerul Umam, menyebut kegairahan film Banyumas tak bisa dianggap sepele. Sejumlah film karya kurator negeri ngapak ngapak ini sudah terbukti banyak bicara di sejumlah ajang festival film. Contoh, film hasil karya kurator asal Purbalingga yang cukup mengejutkan lewat film dokumenter “Bioskop Kita Lagi Sedih”.

Kurator Film Purwokerto, Dimas Jayasrana mengungkap data, Setidaknya tercatat 3 komunitas aktif di eks karisidenan Banyumas; Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto, Komunitas Sangkanparan Cilacap, serta CLC Purbalingga, yang kemudian ketiga komunitas ini dengan sejumlah personal lainnya membentuk jaringan kerja bernama Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) untuk memperkuat basis kegiatan. Ketiga komunitas ini sejak lama aktif melakukan kegiatan edukatif ke sekolah menengah di kota masing-masing, bahkan Komunitas Sangkanparan memiliki agenda rutin mengadakan wokshop untuk siswa SMU di Cilacap.

Pada tahun 2002, untuk pertama kalinya Youth Power (YP), sebuah kolektif di Purwokerto mengadakan Pesta Sinema Indonesia (PSI), bekerjasama dengan Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang kemudian dilanjutkan oleh YP secara mandiri hingga tahun 2005.

Pesta Sinema Indonesia adalah sebuah platform ruang eksebisi film karya lokal Banyumas dengan mempertemukannya dengan karya film (pendek) dari luar Banyumas sebagai sebuah proses diskursus (baca: masyarakatfilmindonesia.com). Meski belum sampai pada tingkat kompetisi setara festival, namun upaya membangun dan menghidup hidupi kegiatan film di Banyumas patut dihargai.

Ditengah hiruk pikuk gairah sineas di eks Karsidenan Banyumas berkarya,sebuah kelompok wartawan televisi yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) ingin mewadahinya dalam sebuah ajang kompetisi dalam Festival Film Banyumas (FFB).Tanpa diduga, kegiatan yang baru pertama kali ada di Banyumas ini langsung mendapat respon para pegiat film. Mulai dari yang memuji hingga yang mengkritisi. Bahkan polemik ini mencuat dan menjadi pembicaraan hangat teman-teman kurator di Jakarta. Beberapa teman mencoba untuk mengkritisi secara fulgar, bahkan mengancam memboikot kegiatan FFB.Sementara sejumlah pegiat lain, berebut untuk mengikuti kegiatan ini.

Mari memahami dengan bijak Festival Film Banyumas, bahwa seni adalah universal.

Memandang kesenian sebagai sebuah amanah untuk membebaskan diri dari keterkungkungan. Bahwa kesenian tidak bisa dibaca secara parsial dan menjadi berharga manakala tidak terikat dan mampu membebaskan diri dari subyektivitas. Memamandang FFB sebagai sebuah wadah tanpa harus melihat ideologi. FFB adalah hanyalah fasilitator menjembatani ribuan karya yang selama ini tersembunyi. Biarkan sebuah media bernama FFB dengan tulus hati menyediakan diri dengan niat suci tanpa prasangka. Seniman hendaknya tidak terjebak pada like and dislike, karena hanya akan melahirkan kekerdilan dan stagnasi kreativitas. Mari menghargai seniman sejalan bersama memahami kesenian. Bravo Pegiat Film Banyumas. Brafo FFB.[]

* Nanang Anna Noor, Ketua Festival Film Banyumas, email : nanangnews@yahoo.com


6 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Membaca tulisan ini, aku jadi kangen dengan Pak H. Chaerul Umam dan Pak H. Imam Tantowi (duet sutradara dasyat yang menggarap film kolosal “Fatahillah”). Saat itu, 5/6 tahun silam, aku sempat mewawancarai beliau berdua untuk rubrik Pengalaman Rohani di Harian Umum Republika. Mas Mamang di kantor PHnya, yang saat itu sibuk bikin sinetron “Jalan Lain ke Sana” dan giliran Pak H. Imam di kediamannya yang asri.

Aku gali kisah rohani mereka berkaitan dengan karya-karya film mereka. Banyak sekali yang menarik. Bagaimana kisah Mas Mamang yang pada akhirnya banyak menggarap film atau sinetron religi. Luar biasa, bikin aku ngiri. Tapi saat itu, aku belum bersentuhan dengan karya film. Walau sudah ada niatan, karena baru tahun 2004 aku menghasilkan karya film pendek.

Atau bagaimana pengalaman Pak H. Imam Tantowi yang merasa “diselentik” Alloh ketika ramai sinetron Angling Darma digugat masyarakat Bali. Dan pada akhirnya beliau menghentikan menulis skenarionya. Aku ingat betul itu, dan sungguh merasa terharu.

Ada kisah menarik dari beliau berdua. Bahwa sindiran Mas Mamang lah yang membuat Pak Imam naik haji. Aku lupa, mungkin harus membuka kliping tulisanku di Republika tentang mereka berdua, sesudah atau sebelum bikin “Fatahillah”. Kata Mas Mamang begini, “Sampeyan kan sudah kaya, apalagi yang mau dicari?”. Banyak lagi yang menarik dari mereka berdua.

Setiap kali aku wawancara untuk kepentingan pekerjaanku, aku selalu berusaha menyelipkan untuk kepentinganku. Menggali ilmu dan pengalaman dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Sampai akhirnya aku berani untuk membuat film sendiri, meski yang kutempuh film independen.

Saat itu aku merasa tidak adil bila aku cuma mengkritik karena pekerjaanku seorang jurnalis. Aku merasa bijak bila aku bikin film sendiri, jadi tahu bagaimana orang bikin film itu. (Mas Mamang, Pak Imam, saya sudah bisa bikin film sendiri lho…? hehe, semoga baca).

Yah, komenku ini sekedar klangenan karna di tulisan sebelumnya mencantumkan nama Pak H. Chaerul Umam dan Pak Imam Tantowi, sutradara kawakan yang sudah tak muncul lagi di dunia persilatan film dan memang sudah giliran anak muda yang berkarya. Tapi aku yakin ilmu dan pengalamannya sangat berguna untuk generasi muda.

Mungkin biar kangenku terobati, beliau berdua hendak kutelpon saja, dan mereka harus nonton film-filmku.

yang lagi kangen,

bowo leksono
Ketua Karang Taruna Desa Bochary
sutradara film “Bioskop Kita Lagi Sedih”, email:
laleks_film@yahoo.com

Komentar oleh bowo leksono

Saya diam diam menangis membaca artikel yang ditulis Nanang Anna Noor. Betapa tidak, ditengah mobilitas yang tinggi untuk memburu berita, kawan kawan wartawan teve yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) menyempatkan diri melakukan sebuah kegiatan yang boleh dibilang akan menguras waktu dan fikiran mereka bernama Festival Film Banyumas (FFB).

Jika dihitung hitung secara matematik, menyelenggarakan FFB sama sekali hanya akan membuang sejumlah finansial. Namun ditengah niat baik mereka mewadahi kreativitas pegiat film, tiba tiba sejumlah pegiat film justru mencacinya dengan berbagai versi kemarahan. Yang intinya mereka menolak FFB.

Kisah ini mengingatkan saya pada beberapa berita yang selalu saya ikuti tentang pegiat film di Purbalingga. Saya diam diam menangis saat sebuah komunitas yang kalau ndak salah bernama CLC akan memutar film tetapi dilarang oleh pemerintah setempat.
Seandainya saya orang Banyumas, mungkin saya orang pertama yang akan membunuh para cecunguk Pemkab tersebut.Maka wajar jika kemudian Ketua CLC Mas leksono Wibowo (bowo) marah melalui media massa. Maka Lahirlah Bioskop Kita Lagi Sedih

Sekarang saya menangis lagi, saat mengikuti berita tentang penyelenggaraan sebuah festival di Banyumas yang ‘dilarang’ oleh sekelompok komunitas film. Jangan jangan akan lahir Festival Kita Lagi Sedih.

Saya sedang menunggu kapan Mas Nanang marah. Sebab selama tiga tahun bergaul dengannya saat di UAD Yogya, yang kutahu bisanya cuma ‘ngebanyol melulu’. Sesekali Marah dan Merah si kenapa, itulah salah satu filmnya (1989) yang secara sembunyi sembunyi diikutkan dalam sejumlah festival film Intrnasional.

Seandainya aku orang Banyumas. Aku ingin bersama mas Leksono Bowo yang filmnya selalu menang dan Mas Nanang Noor si pelit selangit yang suka menyembunyikan karya seninya. Aku dan keduanya akan memajukan geliat film Banyumas. Maap mas Bowo dan Mas Nanang kalau ada kata saya yang salah. Saya mah urang yang cuma bisanya ngedumel karena mengamati hanya dari koran koran bekas dan tumpukan situs.

Joni ‘keriting’ AD
Urang Mbandung di Umbulharjo

Komentar oleh Joni 'keriting' AD

Mentang mentang Mas Mamang (Chaerul Umam) satu Komunitas dengan Nanang di Ormas. Festival pilihan jurinya KKN…..he he he he..

Maaf…mas …mas

Komentar oleh Imaman Mahfud

[…] Nanang Anna Noor. Melihat dengan Bijak Festival Film Banyumas. Rabu, 30 Mei 2007. Berita Seni (diakses pada 2 September […]

Ping balik oleh Sejarah Alternatif Film Indonesia? | Cinema Poetica

[…] Nanang Anna Noor. Melihat dengan Bijak Festival Film Banyumas. Wednesday, May 30, 2007. Berita Seni (accessed on September 2, […]

Ping balik oleh Alternative Histories of Indonesian Cinema | Cinema Poetica

[…] Nanang Anna Noor. Melihat dengan Bijak Festival Film Banyumas. Rabu, 30 Mei 2007. Berita Seni (diakses pada 2 September […]

Ping balik oleh Sejarah Alternatif Film Indonesia | Cinema Poetica




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s