Indonesia Art News Agency


Lomba Macapat Tingkat Nasional di Solo
Juni 2, 2007, 1:50 am
Filed under: traditional

Peringatan 250 tahun “Hadeging” Puro Mankunegaran

Teks oleh Muhammad Latief

Kiranya, urusan macapat telah betul-betul membuat Djuritno Yudohadinagoro ekstra sibuk. Kesibukan yang tak seperti biasanya: menjadi Ketua Panitia Lomba Macapat Tingkat Nasional. Walhasil, mulai dari persiapan pendaftaran, menyiapkan materi lomba, hingga mengurus teknis akhir perlombaan di lakoni serius.

Djuritno, –begitu dia disapa, memang telah bersikeras. Dalam rangka memeringati 250th “Hadeging” Puro Mangkunegaran, Solo, dia ingin sekali lomba macapat ini berjalan lancar dan maksimal. Alhasil, dia berusaha pandai-pandai mengasah kreatifitas, supaya acara ini tidak sama dengan daerah lainnya yang pernah berbuat serupa. Dan sebaik mungkin, Djuritno memodifikasi gelaran ini, agar tidak terkesan membosankan penontonnya.

”Aku ingin lomba ini juga menjadi sarana penghibur masyarakat, harus meramunya menjadi pertunjukan yang mampu memberikan muatan nasihat disela guyonan dan goro-goro khas macapatan,” kata Djuritno.

Namun ternyata, Djuritno tidak sibuk sendirian. Di sampingnya, ada Agus Haryo, Ketua Panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran dan beberapa rekan lain dari Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran, serta kerabat dan keluarga besar Puro Mangkunegaran. Lomba ini membuat mereka sibuk menyiapkan diri.

Tak mudah, memang. Baik bersikerasnya Djuritno atau Agus Haryo dan lain-lain dengan adanya lomba ini, tentu digaungi lebih dulu oleh sebuah alasan. Mungkin, lebih tepat menyebutnya dengan misi. Yakni, bagaimana lomba macapat kali ini tidak saja disenangi para orang tua, melainkan juga oleh kaum muda.

“Karena generasi muda yang akan meneruskan kesenian semacam ini, sementara kita tahu kondisi anak muda sekarang semakin jauh dan bahkan banyak yang sudah kurang tertarik pada kesenian adhi luhung seperti macapat ini,” kata Agus Haryo. Haryo mengatakan, peringatan 250th usia Puro Mangkunegaran adalah saat tepat dijadikan momentum “berbenah diri” bagi pelestarian seni macapat, khususnya di lingkungan Mangkunegaran sendiri dan umumnya di tengah-tengah masyarakat Solo. 

*** 

Peringatan 250th Puro Mangkunegaran Momentum Tepat Lestarikan Tradisi Macapat

Macapat adalah seni baca atau waosan kitab-kitab lama Jawa yang memiliki kaidah-kaidah tertentu. Beberapa pendapat tentang macapat di antaranya adalah uraian dari R. Ng. Rangga Warsita dalam serat Mardawa Lagu. Berdasarkan sumber lain yang paling tua, tradisi macapat diperkirakan telah ada sejak zaman Majapahit bersamaan dengan tradisi membaca Kakawin Sekar Ajeng maupun Sekar Tengahan. 

Lebih lanjut dalam perkembangannya, macapat semakin digemari oleh segala kalangan etnis Jawa. Selain sebagaii waosan buku, macapat juga seringkali digunakan untuk gerongan dan bahkan lagu-lagu campur sari yang kian hari kian populer di tanah Jawa.

Namun miris, kepopuleran campur sari dan”budaya pop” lainnya perlahan justeru kian menggerus ”keberadaan” macapat. Macapat sepertinya semakin kalah atau malah tidak populer, dan seakan-akan ditinggalkan. Hanya orang-orang tua zaman dulu, dan mungkin seniman-seniman di sanggar-sanggar seni saja yang masih sering melakukan tradisi ini, baik untuk upacara-upacara pernikahan atau acara-acara seni budaya. 

Menukil pendahuluan bukunya yang berjudul Etika Jawa (1984), Franz Magnis Suseno telah menengarai terpisahnya masyarakat Jawa dengan budaya Jawanya sendiri. Sungguhpun, mereka adalah para pelaku budaya Jawa yang masih menunjukkan kejawaannya yang kental. Bahwa, keterpisahan pelaku budaya dengan budayanya sendiri lebih berkenaan pada urusan akademis.

Namun tentu, bukan berarti mereka tidak melakukan. Sebab, justru merekalah wujud utuh budaya itu sendiri. Jadi, tidak mengherankan jika masyarakat lokal Jawa seringkali menjadi ajang penelitian kebudayaan dari para ahli. Dan tidak heran pula, jika banyak literatur ilmiah tentang berbagai budaya daerah di Indonesia justru datangnya bukan dari para ahli bangsa Indonesia sendiri.

Ya, banyak literatur kebudayaan ditulis dan dipublikasikan oleh para ahli asing. Walhasil, tidak mengejutkan jika akhirnya muncul pemeo, ”Jika ingin belajar bahasa dan budaya Jawa, maka pergilah Belanda dan belajarlah kamu di Universitas Leiden”.

Sejatinya, berangkat dari kondisi seperti inilah Panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran menggelar Lomba Mocopat Tingkat Nasional yang digelar pada hari Minggu, 3 Juni 2007, mulai pukul tujuh pagi di Pendapa Ageng Mangkunegaran. Lomba ini akan memperebutkan Piala Tropi dari KGPAA Mangkunagoro IX.

Sampai saat ini, peserta yang sudah melakukan registrasi ulang mencapai jumlah 40 orang dan masih akan terus bertambah lagi. Menurut Djuritno, materi macapat yang akan dilombakan antara lain Waosan Serat Wedhatama dan Pupuh Pangkur untuk bacaan wajib, serta Gambuh dan Pucung sebagai bacaan pilihan.

”Waosan Pupuh Pangkur akan menggunakan Laras Pelog Nem dengan Cengkok Suryadarsanan gubahan Mas Demang Edy Sulistiono,” terang Djuritno. Tak lain, Edy Sulistiono adalah seorang Dwija di Pasinaon Dalang Mangkunagaran. Dia juga seorang dosen di ”Akademi Seni Mangkunegaran, Bidang Pedalangan dan Karawitan”.

Sementara itu, kata Djuritno, Pupuh Gambuh yang memakai Laras Slendro Manyura juga akan dimainkan dengan Cengkok Suryadarsanan. Sedangkan untuk Pucung, Djuritno akan menggunakan Cengkok Pucung Sumirat yang bersumber dari buku macapat tulisan atau karangan almarhum Gunawan Sri Hascarya.

Terkait hal tersebut, Haryo ikut menimpali keterangan yang diberikan oleh Djuritno. Kata Haryo, memang, dalam campur sari banyak diperdengarkan lagi tembang-tembang macapat. Namun, tembang-tembang yang diperdengarkan lagi dan mendapat darah dan greget baru tersebut kebanyakan tembang-tembang yang sangat umum dan cenderung poluler.

”Tembang-tembang klasik sekelas Wirangrong dan Girisa umpamanya, itu  sudah sangat jarang yang mengetahui. Begitupun dengan jenis tembang mocopat lain yang cenderung serius seperti Asmaradana, Dhandhanggula, Kinanthi dan Megatruh jarang pula yang tahu,” kata Haryo. Haryo menurutkan, kemungkinan besar hal itu terjadi lantaran pembawaan tembang-tembang tersebut itu yang kurang ngepop. Alhasi, dunia pop adalah salah satu sebab mundurnya budaya lokal Jawa, salah satunya adalah macapat.

”Kalau generasi muda tidak digerakkan untuk menyenanginya atau paling kita mengenalkannya, kesenian ini akan punah,” kata Haryo. ”Selain itu, dengan mempelajari seni budaya ini mereka akan tumbuh jiwa patriotisme karena di dalam mocopat terkandung banyak ajaran moral,” kata Agus Haryo, Ketua Panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran.  

Lomba Mocopat Tingkat Nasional yang diselenggarakan dalam rangka ”Peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran” ini, turut didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program Sampoerna Untuk Indonesia yang memiliki visi sama dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, diantaranya seni musik tradisional Jawa.[]

* M. Latief – PR Manager Idekami Communication, Telp : 021 766 9870, Mobile : 0812 829 1263, email : latipuscaverius@yahoo.com


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

mantap, lanjutkan…

Komentar oleh jasa penerjemah




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s