Indonesia Art News Agency


Sekelumit Pandangan Atas Novel “Putri” Karya Putu Wijaya
Juni 3, 2007, 10:20 am
Filed under: Literature

Sebuah catatan Ikranagara*

Novel Putu Wijaya “Putri” harus diakui sebagai novel yang hebat dan wajib dibaca bagi pencinta sastra kontemporer Indonsia, bukan khusus hanya oleh masyarakat Hindu-Bali, melainkan juga masyarakat Indonesia umumnya, sebab yang menjadi inti masalahnya adalah kondisi  kemanusiaan itu sendiri dalam pergolakannya menghadapi berbagai tantangan hidupnya, maka kisahnya bisa dijabarkan ke manusia-manusia di daerah-daerah lainnya yang punya adat/tradisi yang bukan Hindu-Bali. Ini sebuah novel yang mengungkapkan perbenturan nilai-nilai budaya dalam peradaban manusia di mana saja, bukan khas di Bali, yang mengalami future schock di dalam intern masyarakat budayanya sendiri maupun cultural shock dalam pergaulan dengan masyarakat budaya lain. 

Singkatnya, novel ini mengungkapkan pergolakan yang menyangkut masalah adat/tradisi di kalangan masyarakat Hindu-Bali dalam konteks desa-kala-patra (tempat-waktu-kondisi) yang sudah berobah sejalan dengan perkembangan zaman. Masalahnya, apa yang ada di dalam Tradisi Lama yang usianya sudah ratusan tahun itu dalam realita sekarang sudah banyak yang tidak sejalan lagi dengan desa-kala-patra yang baru, karenanya harus ada tafsiran baru/rasional atau singkatnya harus ada Tradisi Baru. Misalnya saja, posisi Puri di zaman feodal dahulu kala itu sebagai yang menyediakan biaya untuk segala macam uparacara yang mahal-mahal itu.

Dulu, praktis tanah pertanian yang menjadi sumber kehidupan rakyat dalam masyarakat agraris memang berada di dalam genggaman tangan Puri, sehingga aset wilayahnya sebagian terbasar berada di kalangan ningrat di lingkungan wangsa Puri tersebut. Rakyat banyak hanya kecipratan sedikit saja dari hasil kiprah perekonomian di wilayahnya. Dengan adanya upacara, maka rakyat mendapat tambahan cipratan lagi, antara lain berupa makanan dan minuman gratis yang disediakan untuk menyiapkan dan menjalankan upacara itu. Makin sering dilakukan upacara maka makin banyak jumlah kecipratan yang diterima oleh rakyat. Struktur ekonomi feodal seperti itu memang sejalan dengan struktur dalam political economy kapitalisme yang sekedar percaya kepada adanya “trickle down effect” sebagai sarana pemerataan hasil pertumbuhan ekonominya tanpa harus dikontrol oleh kekuasaan pemerintah. Dan nyatanya, meskipun yang diteorikan itu terjadi, toh ketimpangan sosial ekonomi tidak bisa dihindari, karena memang political ekonomi kapitalisme ini tidak punya sarana untuk bisa memberikan pemerataan yang melekat dalam sistem dan praktiknya.

Kata “justice” dalam wacananya hanyalah dalam kaitan dengan perbuatan kriminal (misalnya KKN), dan bukan dalam pengertian “socio-economic justice.” Maka yang ada hanyalah berupa tambal sulam itu saja, lewat pajak misalnya, atau juga antara lain (dalam konteks di Bali itu) adalah berupa kewajiban Puri menyediakan dana untuk segala macam upacara tradisional yang dilaksanakan oleh seluruh anggota kerama banjar, sebagaimana diungkapkan di dalam novel Putu ini.

Tapi kemudian tanah-tanah yang menjadi sumber hidup bersama tidak lagi berada di tangan Puri, akibatnya sumber kekayaan Puri pun amat sangat berkurang, terlebih lagi setelah adanya land-reform. Kalau sudah tidak ada lagi tumpukan harta yang menggunung di Puri, lalu bagaimana mendanai upacara itu semua? Adat/tradisi yang dulunya sebagai pilar keseimbangan berobah menjadi goncangan gempa dan bencana.Kalau saja sejak awal tokoh-tokoh certita Putu seperti Putri, Wikan, Mangku, Kepala Adat dan seluruh Kerama Banjar Desa Meliling memiliki kecerdasan sebagai hasil pendidikan tentang political economy seperti itu, maka masalahnya tentu akan tidak serumit yang terjadi di Bali sebagaimana yang diungkapkan di dalam novel Putu itu. Meskipun, drama akan tetap muncul, artinya benturan-benturan itu akan tetap saja ada, misalnya saja seperti yang terjadi di negeri kita di Zaman Perang Dingin itu: Kapitalisme yang punya sistem pertumbuhan ekonomi vs Komunisme yang punya sistem pemerataan. 

Sekarang sistem komunisme sudah tumbang karena gagal sebagai realita, maka yang sedang mengglobalisasi adalah political economy Kapitalisme Neo-liberal, dengan ujung tombaknya berupa Trisula WB-IMF-WTO. Maka tidak heranlah jika ketimpangan sosial ekonomi masih terus berkepanjangan di seantero permukaan bumi, bukan? Ya, bahkan di AS pun! Dan secara global yang namanya kemiskinan struktural itu makin bertambah jumlah dan kwalitasnya di zaman ekonomi global ini, antara lain yang mencolok adalah apa yang sekarang di kenal sebagai “African Tsunami” — kemiskinan struktural di Afrika yang menelan korban jiwa dalam hitungan menit!

Pernah negeri kita, di bawah Suharto sempat menikmati “booming” pertumbuhan ekonomi, sehingga digolongkan sebagai salah satu Asian Miracle, setelah di zaman Soekarno kita merasakan “sama rata sama rasa” tapi di dalam kemiskinan. Dalam hal ketimpangan sosial ekonomi, yakni berupa jurang menganga antara yang (diper)-kaya dan (yang di)-miskin-(kan) begitu dalam dan lebar, yang terjadi sekarang ini pun terjadi pula di Zaman Soeharto. Karena, sistem ekonomi yang kita jalankan sekarang ini masih tetap sama dasarnya dengan yang dipakai oleh Soeharto, bahkan ekonom-ekonomnya pun jebolan dari kubu yang sama.

Di zaman paska Soeharto ini, negeri kita setelah mengalami krisis moneter yang berlarut-larut menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, tanpa adanya booming ekonomi lagi, sehingga bisa difahami jika jurang menganga itu makin lebar dan makin dalam saja di negeri kita. Nah, kondisi sekarang ini bisa diparalelkan dengan yang menimpa Puri dan Wikan, serta penduduk di desa Meliling, di dalam novel “Putri.”

Di bagian awal buku kedua, Putri mengambil alih peranan Puri itu dengan pindah ke Tabanan, hanya saja lahannya bukanlah tanah pertanian, melainkan perusahaan pembuatan T-shirt Sukseme.

Dengan pemahaman seperti itu, maka saya melihat adanya keparalelan antara yang dikerjakan oleh Putri dengan T-Shirt Sukseme itu dengan yang dikerjakan oleh Pak Palakarma (kebalikan dari Karma Pala?) dengan Mahakaryanya. Kedua-duanya sama-sama berada di panggung political economy Kapitalisme Neo-liberal. Perbedaannya adalah pada karakternya, bahwa seorang Putri adalah manusia yang jujur, sederhana dan baik hati, sedang Palakarma adalah menipulatif, megalomaniak dan rakus. Maka, kalau pun dalam praktiknya di dunia ekonomi ada perbedaan, tampaknya mirip dengan perbedaan antara kaum konservatif (Partai Republik, di AS) dan kaum liberal/humanis (Partai demokrat, di AS).

Jadi, tampaknya dua tokoh inilah yang baru tampil setelah saya membaca buku pertama ditambah dengan sepertiga buku kedua. Kedua tokoh inilah sekarang yang bersaing di panggung main-stream di panggung globalisasi zaman kita ini.

Jadi tampaknya, Anda tidak bisa berharap bahwa akan muncul tokoh lain, yakini tokoh ketiga, yang sekarang sedang merajai panggung di Amerika Latin. Bukan Castro yang komunis dan kolega-koleganya itu, melainkan “Mr Lula” yang sekarang menjadi presiden di Brazil itu. Dia mempraktikkan sesuatu yang lain, di luar yang Kapitalisme Neo-liberal dan juga di luar yang Marxisme Komunis. Dia berangkat dari kondisi riil di lokal-lokal yang aneka rupa di negerinya. Bagi seorang “Mr Lula” tidak ada obat mujarab yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit, sebagaimana yang diyakini oleh Kapitalisme Neo-liberal maupun Marxisme Komunis. Gerakan ini sebenarnya dimulai dari Peru oleh ekonom Hernando de Soto, yang kemudian sekarang ini dikembangkan oleh berbagai think tank antara lain kelompok “International Forum on Globalization” (ifg.org) itu.[] 

* Public Indonesia mengenalinya sebagai salah satu aktor yang diperhitungkan dalam dunia perfilm-an Indonesia. Telah berkiprah di dunia seni budaya selama 30 tahun baik itu di bidang teater, seni lukis, sastra, dan menulis esei budaya. Kini tinggal di Amerika Serikat. 


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

mas, mbak saya sudah baca “putri” 2 tahun kemaren…
cmn sayang sampe sekarang blom ketemu yg jilid 2 nya..

bisa kasih saya info dimana bisa diperoleh????

Komentar oleh owie

saya sudah baca putri buku pertama dan buku kedua
Di akhir buku kedua, ada tulisan DAN SEERUSNYA…
memang ada ya putri buku ketiga ? ko’ saya nyari di gramedia kagak nemu. Mohon pencerahannya. Thx

Komentar oleh dave

[…] https://beritaseni.wordpress.com/2007/06/03/188/ Diakses pada 18 Maret 2008 pukul 06:45 AM. […]

Ping balik oleh Marxisme-Leninisme « Rinatyassari’s Weblog

rek,,piye kabare ?

Komentar oleh a'ak budi

n0vel bagus.

Komentar oleh Jaja Suharja

Hello just wanted to give you a quick heads up. The words in your post seem to be running off the screen in Ie.
I’m not sure if this is a formatting issue or something to do with internet browser compatibility but I figured I’d post
to let you know. The layout look great though! Hope
you get the problem solved soon. Thanks

Komentar oleh Jane

I’m not that much of a online reader to be honest but your blogs really nice, keep it up!
I’ll go ahead and bookmark your website to come back in the future. Cheers

Komentar oleh modern leather chair recliner

I simply could not depart your website before suggesting that I actually
enjoyed the usual information a person provide for your guests?

Is gonna be again steadily in order to check out new posts

Komentar oleh fr.robotqc.org

It’s very easy to find out any matter on net as compared to textbooks, as I found this post at this site.

Komentar oleh Free Reading Horoscope

I do trust all the ideas you have introduced on your post.
They are very convincing and will definitely work.
Still, the posts are too quick for starters.

Could you please lengthen them a bit from subsequent time?

Thanks for the post.

Komentar oleh Castlepayday reviews

Hello Your main web site starts up really slow in my opinion, I not
really know who’s issue is that on the other hand facebook starts up pretty good.
Nevertheless, I appreciate you for writing an incredibly great blog post.
I suppose it has been useful to many individuals . I should mention that you have
done amazing job with this as well as wish to check out much more great stuff from
you. To get additional knowledge from posts that you publish, I’ve saved this web
page.

Komentar oleh gta 5 for psp

Saya belum baca novel ini .. tpi mungkin kelitannya menarik .. pergejolakan antara putri …

Komentar oleh ramdhan al-farizy




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s