Indonesia Art News Agency


Sastra Rancagé : Sebuah Kebanggan Kepada Bahasa Daerah
Juni 4, 2007, 12:57 pm
Filed under: Literature

Teks oleh Frino Bariarcianur

Sabtu [2 Juni 2007] lalu saya menyaksikan sebuah peristiwa penting sejarah kebudayaan yakni prosesi penganugerahan Sastra Rancagé. Acaranya sederhana, hadiahnya pun tak besar, tapi pemegangnya merasakan bangga yang amat sangat. 

Meski sebuah acara besar, di dalam ruangan Aula Utama Unisba, jalan Tamansari No.1 Bandung, hari itu tak sesak seperti acara penganugerahan yang lain. Lebih tenang dan hanya terdengar bisik-bisik tamu undangan. Musik angklung dan juga tari tradisional Sunda menjadi penghias suasana bagi tamu undangan yang rata-rata lansia.

Saya sendiri tak begitu mengenali tamu-tamu itu. Paling-paling Hawe Setiawan [Pemimpin Redaksi Majalah Cupumanik], Soni Farid Maulana [wartawan Pikiran Rakyat], Septiawan Santana Kurnia [dosen dan penulis berbagai macam buku jurnalisme], Adiyanto [perupa], dan beberapa jurnalis. Kalaupun kenal yang lain hanya hapal wajahnya saja, seperti Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, yang sering saya baca buah pemikirannya di buku atau di media massa.

Saya hanya mengenali mereka sebatas itu.

Tapi saya yakin yang hadir dapat dikatakan orang-orang yang setia mencintai dan memelihara bahasa daerah, mereka-lah yang bergelut mati-matian melawan lupa agar bahasa daerah tak mati ditelan zaman. Selain mereka, anak-anak muda tak terlihat. Kata beberapa kawan, penyelenggaraan tahun ini paling sepi. Saya berdiri di barisan belakang dan melihat mereka duduk dengan tenang mendengar segala macam pidato.Lalu penganugerahan Sastra Rancagé 2007 dibacakan. Tak ada bunyi-bunyi atau hal-hal yang membuat jantung bergedup kencang. Para pemenang pun satu demi satu naik ke atas panggung. Mereka sudah tua tapi semangatnya tetap bergelora.

Untuk karya dalam bahasa Sunda diberikan kepada pengarang “Oléh-oléh Pertempuran” karya Rukmana HS. Karya sastra ini merupakan kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Penerbit Kiblat Buku Utama [KBU]. Cerita-cerita pendek karya Rukmana Hs tersebut berlatar revolusi kemerdekaan [1945-1949]. 

Di dalam analisa Aji Rosidi menyebut bahwa cerita yang dibangun oleh Rukmana meski merupakan imajinasi tetap meyakinkan. Rukmana mengetengahkan berbagai pperistiwa historis yang selama ini beredar secara lisan dengan latar yang wajar, sepertikiriman kosmetik kepada para pemuda Bandung dari para pemuda Surabaya yang mengejek karena dianggap tidak terjun berjuang, tetapi dibalas oleh para pemuda Bandung dengan mengirimkan kepala Gurkha.

Untuk penghargaan karena dianggap berjasa dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda jatuh ke tangan R. Rabindranat Hardjadibrata. Sesepuh ini lahir di Bandung, 22 Oktober 1933. Pernah menjadi dosen bahasa Indonesia di Departemen Bahasa Indonesia dan Malaya, Universitas Monash, Melbourne, Australia sampai masa pensiun pada tahun 1996.

Rabin menyusun dan mengumpulkan keping demi keping bahasa Sunda kemudian menjadikannya Kamus Bahasa Sunda – Inggris.  Kamus bahasa daerah – bahasa internasional ini pernah disusun oleh Jonathan Rigg [1862] dengan judul Sundanese English Dictionary yang terbit tahun 2003. Namun Rabin memuat lebih banyak.

Bapak tua itu menghabiskan puluhan tahun, bahkan lebih lama ketimbang umur saya sekarang yang hampir 30 tahun, untuk menyusun kamus bahasa Sunda – Inggris.

Kemudian karya “Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan” diberikan kepada Ahmad Tohari untuk kategori Hadiah Sastra Rancagé bahasa Jawa. Pria kelahiran 13 Juni 1948 di Tinggarjaya, Jatilawang ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa itu tidaklah tunggal, yaitu bahasa Jawa Jogjakarta-Solo saja.

Penulisan kembali dalam bahasa ibu yang dilakukan oleh Ahmad Tohari, menurut Ajip,”Merupakan hasil transformasi dan dalam karya transformasi niscaya ada perubahan yang dalam hal ini nampak pada emosi pengarang sebagai penutur asli ragam bahasa Jawa Banyumasan yang meluncur dan mewarnai karya tersebut menjadi bernuansa khas, nuansa lokal.”

Maria Kadarsih, penulis naskah drama berbahasa Jawa yang produktif sejak tahun 1983 sampai sekarang mendapatkan Hadiah Sastra Rancagé untuk kategori jasa. Maria selama 23 tahun telah membuat 1.196 judul naskah drama radio yang disiarkan setiap minggu di RRI Jogjakarta.

Maria Kadarsih adalah seorang penulis, sutradara dan pemain sandiwara radio berbahasa Jawa yang berkali-kali mendapatkan penghargaan karena kecintaannya kepada bahasa daerah.

Berikutnya Hadiah Sastra Rancagé bahasa Bali jatuh pada seorang sastrawan Bali I Made Suarsa, yang oleh kritikus Nyoman Tusthi Eddy disebut sebagai karya prosa liris pertama dalam bahasa Bali modern. Cerita-cerita pendek Made Suaras merupakan bukti kemampuan seorang pengarang dalam menggunakan bahasa Bali dan sekaligus menunjukkan potensi bahasa Bali itu sendiri dalam penciptaan prosa liris.

“Selama ini keindahan bahasa Bali nampak hanya dalam penulisan puisi tradisional [geguritan, kakawin], namun Made Suarsa membuktikan bahwa keindahan demkian dapat juga dicapai dalam sasra Bali modern,” kata Ajip Rosidi.

I Made Suarsa lahir di Gianyar 15 Mei 1954.

Tak hanya pengarang, orang yang turut membantu proses menerbitkan buku, menyusun program, dan membuat forum untuk pelestarian bahasa daerah khususnya bahasa Bali juga diperhatikan. Salah satunya Ida Bagus Darmasuta.

Darmasuta menurut Aji Rosidi telah menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh dan nyata dalam membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Bali ketika menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Denpasar [1999-2005]. Usai masa baktinya ia kemudia menjadi Wakil Ketua Badan Pembina Bahasa, Aksara dan Sastra Bali yang memastikan pelaksanaan Konggres Bahasa Bali setiap lima tahun.

Atas perhatiannya itu Yayasan Kebudayaan Rancagé memberikan Hadiah Sastra Rancagé untuk jasa-jasanya.

Saya melihat mereka berdiri di atas panggung sederhana. Untunglah semua tak berusia lansia. Mereka mengangkat piagam besar itu dengan jumlah uang yang tak begitu besar, 5 juta rupiah.

Tak ada pekik histeria apalagi kertas-kertas karton bertuliskan nama mereka, seperti anak-anak muda lakukan ketika melihat idola. Mereka jauh dari pesona itu. Dan mereka hanya berdiri, disalami dan difoto oleh jurnalis. Namun demikian saya melihat rasa bangga itu terpancar dari mata mereka. Memang ada rasa salut yang luar biasa tapi juga rasa miris yang teramat sangat.

Ajip Rosidi pun sempat ngambek melihat situasi yang tak begitu bagus di negeri ini. Ia kecewa melihat kelambanan pemerintah merespon kegiatan penting ini. Bukankah dunia internasional juga sudah mengakui bahasa daerah dengan Hari Bahasa Daerah Internasional [International Mother Tongue Day] yang jatuh pada tanggal 21 Februari?

Bahasa Daerah Bahasa Identitas

Mari kita melongok sejarah sejenak. Dan saya akan mengutip pelajaran dari bangsa Bangladesh. Peringatan Hari Bahasa Daerah Internasional sebenarnya merupakan wujud pengakuan terhadap perjuangan rakyat Pakistan Timur ketika memperjuangan bahasa Bengali [Bangla] menjadi bahasa resmi Pakistan selain bahasa Urdu. Peristiwa itu harus dibayar mahal. Pemerintah tak mengakui. Situasi politik kacau, kehidupan sosial menjadi carut-marut dan akhirnya mereka memisahkan diri dan membentuk negara Bangladesh. Dan bahasa Bengali menjadi bahasa negara.

Rabindranath Tagore, salah seorang sastrawan dunia yang mendapat penghargaan Nobel Sastra dari Bangladesh juga menggunakan bahasa daerah.

Lalu bagaimana dengan Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah?Jika tak ingin terjadi hal-hal seperti di negeri India-Pakistan-Bangladesh, tak bisa ditawar lagi, bahwa bahasa daerah mau tak mau harus hidup bersama dengan bahasa persatuan Indonesia dan bahasa internasioanl. Bahasa daerah tak bisa ditampik adalah kekayaan bangsa Indonesia sekaligus salah satu identitas pembentuk sebuah bangsa. Menurut saya, kita tak boleh terlambat menyadarinya.

Tahun ini tahun ke-19 penyelenggaraan Sastra Rancagé semenjak pertama kali diadakan pada tahun 1989. Sastra Rancage dibuat pun karena menyadari bahwa bahasa selalu berkembang dan bahasa bisa juga hilang. Apatah lagi di zaman yang serba canggih saat ini, kesadaran memiliki dan menggunakan bahasa daerah pun seakan menjadi tak penting. 

Dan kenyataan yang tak bisa ditampik, para pelaku, pemerhati, sastrawan yang berkarya menggunakan bahasa daerah semakin hari dimakan usia sementara generasi muda kurang peduli sehingga diprediksikan menjadi kendala besar bagi keberlangsungan bahasa daerah itu sendiri. 

Ya, Yayasan Kebudayaan Rancagé memang boleh berbesar hati, karena dunia internasional yakni UNESCO sudah mengakui kehadiran bahasa daerah di setiap negara. Saya tetap curiga bahwa mereka tetap was-was. Apalagi melihat arus globalisasi yang tak disikapi dengan bijak. Semoga tugas penting melanjutkan perjuangan mereka tak berhenti gara-gara kita yang sudah sok internasional.[]


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wakZ!!

aPa baHasa sUndanYa “KebebAsaN”??

sAyA mAu bikiN cEritA tEntAng sekOLah yAng mEnomoRsAtuKan kEbebAsaN,,
dAn…,
bAhaSa jEpanGnyA siH “jiYuu gAkuEn”

tApi bHs suNdanYa gAk kEtemU..

Komentar oleh ciyuDh...

salam,
untuk mengeskpresikan kebebasan, biasanya beberapa teman-teman suka ngomong, “bebaskeun…bebaskeun…” hehehehe… [frino, west borneo]

Komentar oleh beritaseni

My partner and I stumbled over here different website and thought I
might as well check things out. I like what I see so now i
am following you. Look forward to looking over your web page
yet again.

Komentar oleh Best DVD Copy Software Review




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s