Indonesia Art News Agency


Mimpi-mimpi Dewantoro
Juni 7, 2007, 8:23 pm
Filed under: visual arts

 

Teks/foto oleh Frino Bariarcianur

Ada yang kusimpan dalam kepala, semua cerita yang mengalir di dunia nyata, ada suka yang kusimpan dalam kotak berhias permata, ada duka yang kusimpan dalam kotak tembaga  

Penggalan puisi di atas dibacakan oleh Wienny, seorang guru TK yang mantan aktivis pers mahasiswa UPI Bandung, ISOLA Pos. Puisi tersebut merupakan hasil persepsi atas drawing karya S.E. Dewantoro. Karya-karya S.E Dewantoro atau biasa dipanggil Gepeng terpajang di dinding-dinding Potluck Coffebar. 

Malam itu Gepeng tampak bahagia.

Pameran Gepeng diselenggarakan di Potluck Coffebar sejak Rabu, 6 Juni dan berakhir pada tanggal 30 Juni 2007. Ada 20 drawing yang dipamerkan dalam pameran tunggal Gepeng. Semuanya menceritakan kegelisahan Gepeng.

Dalam surat tertulis Gepeng yang ditujukan kepada Don Kabo, salah seorang sahabatnya, ia mencurahkan isi hati. “Don apakah ini hanya imajinasiku semata karena telah memikirkan kenyataan kehidupan yang semakin sengkarut yang terwakili lewat tatap-tatap manusia yang semakin hari semakin kehilangan makna hidup, berubah menjadi makhluk menyeramkan yang tega membantai sesama bahkan tega menghabisi nyawa anaknya?” 

Gepeng gelisah melihat realitas. Ia seakan-akan tak berdaya, tak mampu mengubah realitas itu seperti yang ia inginkan, sebuah realitas yang tanpa kesengsaraan.

Realitas yang bisa jadi juga sama seperti yang kita lihat. Terlalu banyak keterpurukan, kehinaan, juga beragam kesengsaraan umat manusia. Meletakkan karya-karya drawing ”Mimpi-mimpi” di sebuah cafe bisa juga dibaca sebagai usaha peringatan atau mengingatkan bahwa di dalam suasana cafe yang nyaman, di belahan bumi yang lain, terjadi kesengsaraan.

Mimpi-mimpi Gepeng setidaknya ingin realitas itu ”nyaman” seperti di dalam suasana caf yang hangat, bebas mengobrol, dan akrab satu sama lain. Pada sisi yang lain, Gepeng ingin sekaligus mengingatkan kepada kita, para pengunjung cafe, tentang pengalaman spiritualnya dalam memahami realitas. 

Ada goresan-goresan pena pun sapuan warna yang hadir entah dari mana, ingin kubertanya namun tak bisa, hanya bungkam dan menerima meski tersika. 

Dan malam itu aku mendengar puisi Wienny dengan sungguh-sungguh.[]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s