Indonesia Art News Agency


Siaran Pers, Koper dan Hendro
Juni 8, 2007, 1:20 am
Filed under: visual arts

Teks oleh Frino Bariarcianur

Saya membaca ulang siaran pers yang dikeluarkan Rumah Seni Cemeti [Cemeti Art House] Jogyakarta, tentang pameran tunggal karya Hardiman Radjab. Di dalam siaran pers itu memuat pernyataan Hendro Wiyanto yang menjadi kurator pameran. Kata Hendro, “Saya terkesima, pertama-tama oleh kekayaan tematika yang dijelajahi Hardiman.” 

Saat itu Hendro Wiyanto sedang memperhatikan karya Hardiman di Galeri Lontar, Jakarta yang digelar pada 21 Juli 2006 – 16 Agustus 2006 lalu. Menurutnya pastilah, intensitas dan daya magis koper-koper itu yang telah menghisap dirinya begitu rupa. Dan Hendro merasa karya itu mengubah dirinya menjadi apa saja dan membiarkan dirinya diusung kemana pun. Hendro terperangkap dalam ruang temaram galeri dan merasa tubuhnya mengkerut di sana.

Karya Hardiman Radjab yang dilihat oleh Hendro adalah “Franki Menangis.”  Karya yang menghipnotis Hendro itu berupa koper. Koper yang tak henti-henti meneteskan air mata sehingga membuat lantai galeri menjadi basah dan dingin. Hendro tertegun di depan karya itu.

Karya “Franki Menangis” terdiri dari dua bagian, yakni tayangan sebuah video tentang koper yang berpindah-pindah tempat, mengesankan bahwa dia tersesat dan tak tahu harus mengikuti arus yang mana. Yang kedua menurut Hendro adalah sebuah koper lusuh yang digantung dengan bekas jahitan atau robekan di salah satu sudutnya. Dan dari celah itu, air mata ‘Franki’ menetes membasahi lantai galeri, seakan ingin menghubungkan ruang pameran itu dengan pojok dunia mana pun, di mana jutaan orang di masa kini tak sanggup menemukan jalan pulang.

“Luar biasa sederhana, betapa magisnya,” kata Hendro.

Karya yang luar biasa itu akan dipamerkan kembali di Rumah Seni Cemeti, jalan D.I. Panjaitan 41, Jogyakarta, mulai tanggal 8 Juni 2007 sampai 15 Juli 2007.

Saya membaca lagi siaran pers yang memuat pernyataan-pernyataan Hendro Wiyanto sebagai kurator. Lalu bertanya pada diri sendiri? Kenapa seniman lulusan Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakartaini  memilih koper sebagai bahasa ungkapnya? Apa gak ada benda lain? Apa ia sedang melakukan kritik sosial dari sekian banyak peristiwa mengenaskan di Indonesia? Korban gelombang Tsunami, korban lumpur lapindo, koruptor, wisatawan, atlit, tukang becak, semua punya koper. Dan koper itu tentunya punya cerita sendiri-sendiri. Apakah dia sedang menghamparkan sejarah manusia melalui koper? Wow.

Sepanjang yang saya tahu, seniman yang lahir di Malang pada tanggal 13 Juli 1960 ini beberapa kali terlibat dalam pameran penting seni rupa kontemporer Indonesia. Diantaranya Woodpecker Show [2005], CP Biennale [2005] dan Biennale Jakarta [2006]. Media-media nasional sering melaporkan kegiatan Hardiman. Dan para kritikus seni pun menganggap bahwa hasil kerja Hardiman memang menarik untuk dijelajahi lebih dalam. Kebanyakan karya-karya yang dibuat oleh Hardiman berasal dari barang-barang yang sering kita temukan sehari-hari. Namun entah bagaimana caranya, barang-barang itu menjadi sesuatu yang berbeda. Seperti ada cerita baru dan selalu menstimuli kita untuk memandang benda-benda tersebut dalam perspektif yang berbeda. Seniman yang suka mengkoleksi mainan-mainan klasik ini sekali lagi, piawai membuat orang terpana.

Koper….sekali lagi koper.

Lebih lanjut Hendro menyatakan bahwa Hardiman mantap memilih obyek berupa koper. Obyek koper itu ternyata cukup lebar untuk menampung wawasan, ide atau cerita Hardiman lewat bentuknya yang sederhana. Lewat perburuan koper-koper lusuh itulah Hardiman mengembangkan narasi atau makna seni rupanya yang ‘berkoper-koper’. Kentalnya upaya menyusun tema dalam obyek-koper Hardiman menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan wacana obyek dalam seni rupa kontemporer kita akhir-akhir ini.  

“Di sana letak kekuatan karya Hardiman,” kata Hendro tegas. 

Siaran pers yang saya dapatkan tanggal tanggal 2 Juni 2007 itu membuat bahagia. Tulisannya singkat, lugas, tak berbelit-belit, tapi terus terang membuat penasaran. Sehingga “menyuruh” saya untuk berkelana mencari tahu tentang Hardiman Radjab lebih jauh ke dalam dunia hypertext. Pastilah sangat dahsyat karya Hardiman Radjab berjudul ”Berkoper-koper Cerita” itu sehingga mampu menghipnotis Hendro Wiyanto. Kalau tak percaya saya akan kirim siaran persnya.[]  

Foto : Dokumentasi Rumah Seni Cemeti


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s