Indonesia Art News Agency


Bandung Kurang Melirik Lukisan Sebagai Barang Investasi
Juni 15, 2007, 2:20 am
Filed under: visual arts

Teks oleh Teguh Rahardjo

BANDUNG : Pengusaha di Bandung Jarang yang menginventasikan uang mereka pada karya lukisan tidak seperti pengusaha asal Jakarta, Yogyakarta atau Magelang. Kurator Red Point Gallery Heru Hikayat mengatakan belum banyak pengusaha di Bandung yang membeli lukisan untuk dijadikan sebagai investasi, kebanyakan membeli hanya untuk dipajang saja. Selain itu, kata dia, iklim investasi lukisan di Bandung masih belum terbuka sehingga pembeli lukisan lebih suka melakukanya diam-diam bukan di balai lelang lukisan seperti di Jakarta.

“Saya belum pernah menemukan ada pengusaha Bandung yang mengoleksi lukisan sebagai investasi, kebanyakan untuk dipajang saja atau sebagai klangenan,” kata dia kepada Bisnis, kemarin.

Sebenarnya, kata dia, investasi di bidang lukisan oleh pengusaha-pengusaha di Indonesia sudah terlihat pada akhir tahun 80-an, dimana banyak pengusaha atau orang-orang orde baru yang kebanyakan uang dan bingung mencari investasi. Lukisan kemudian dipilih seperti halnya mereka membeli batu akik atau ikan koi.

Booming periode kedua terjadi pada masa krisis moneter 1997/1998. Saat itu banyak perusahaan yang gulung tikar dan menjual aset mereka dengan harga murah, tetapi banyak koleksi lukisan yang malahan dijual dengan harga tinggi, sejak itulah masyarakat mulai melihat keuntungan lukisan sebagai barang investasi.

Pada saat itu ada beberapa pelukis di Yogyakarta yang lukisanya dibeli dengan sistem ijon, artinya pembeli sudah menawar lukisan meski baru berupa kanvas putih tanpa gambar. Pada waktu itu baik pelukis yang sudah terkenal atau yang baru memulai melukis mendapatkan penghasilan cukup besar.

Lukisan menurut Heru nilainya jarang turun bahkan selalu naik sehingga orang mulai sadar keuntungan dibalik investasi lukisan.

Pemilik Corridor Gallery, IbrahimA. Ludin juga mengatakan investasi lukisan memberikan keuntungan lebih, selain bisa menghibur pemiliknya juga bisa mendatangkan uang cukup besar. Biasanya lukisan yang dikoleksi adalah lukisan milik pelukis tekenal dalam dan luar negeri dan harganya mencapai ratusan juta rupiah.

“Harga lukisan setiap tahun bisa naik sebesar 30% dari nilai awal,” katanya kepada Bisnis, kemarin.

Dia kurang setuju dengan pendapat Heru terkait minat pengusaha berinvestasi di lukisan, karena menurut dia banyak juga pengusaha Bandung mulai dari bankir hingga penggemar otomotif yang mengoleksi lukisan mahal meski jumlahnya hanya sedikit saja.

“Saat ini banyak juga yang membeli lukisan dengan harga rendah, ini menunjukan mulai tumbuhnya minat untuk mengoleksi lukisan atau berinvestasi tergantung niat pembelinya,” katanya.

Haru membenarkan kalau pembeli lukisan di Bandung masih suka berhitung dengan nilai lukisan tersebut. Bahkan biasanya mereka baru membeli jika ada diskon atau pasar seni.

“Kalau ada pasar seni pembeli antri, bahkan sebelum pasar seni ditutup lukisan sudah habis terjual karena harganya bisa lebih miring,” katanya.

Harga Ditentukan Balai Lelang

Harga lukisan banyak yang menembus angka miliaran rupiah, seperti lukisan Affandi, Joko Pekik dan Abdurahman Saleh, tetapi banyak juga lukisan yang dikoleksi nilainya hanya menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah. Salah satu seniman Bandung, A.D. Pirous adalah pelukis yang nilai lukisanya mencapai harga ratusan juta rupiah dan saat ini menggelar pameran di Gallery Red Point.

Nilai lukisan ditentukan oleh banyak faktor, antara lain oleh pelukisnya sendiri, dealer, dan balai lelang lukisan di Jakarta. Biasanya pelukis yang menemukan terobosan baru dalam melukis nilai lukisanya akan tinggi, seperti karya-karya bertema impresionisme.

Balai lelang lukisan adalah faktor yang sangat menentukan nilai sebuah lukisan hingga mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah karena disini terjadi tawar menawar harga antara kolektor secara terbuka.

Jual beli lukisan selain dibalai lelang juga bisa dilakukan di galerry lukisan atau di dealer/ toko lukisan, bahkan beberapa gallery dan dealer di Bandung berperang menentukan nilai lukisan. Gallery atau dealer tersebut berfungsi menjembatani antara pelukis dengan pembeli/ kolektor sehingga bisa bermain menentukan harga sebuah lukisan.

Ibrahim berharap balai lelang tidak hanya ada di Jakarta saja. Saat ini ada dua balai lelang lukisan disana dan mulai ramai dikunjungi kolektor jika ada lelang lukisan.

Sayangnya, kata dia, nilai lukisan di Indonesia tidak menggunakan pakem luar negeri yang menaikan harga lukisan 30% setiap tahun. Di Indonesia naik turunnya harga lukisan sangat ditentukan oleh pasar.[]

* Teguh Raharjo adalah jurnalis yang bekerja di Bisnis Indonesia, tulisan ini pernah dimuat pada tanggal 2 Juni 2007.


15 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bung Teguh, terima kasih untuk artikel yang mengemukakan soal bisnis lukisan di Bandung. Satu soal yang kadang dibicarakan dengan malu-malu di lingkaran medan sosial seni. Perlu saya tambahkan, pernyataan-pernyataan saya dalam artikel ini, pada saat wawancara saya terangkan bahwa saya mengambil kesimpulan dari representasinya saja. Misalnya dari kondisi sehari-hari pada pameran, terutama pada momen pembukaan pameran. Di Bandung, saat pembukaan pameran jarang terlihat kolektor-kolektor yang bersemangat membeli lukisan, apalagi berebut lukisan tertentu. Pemandangan ini berbeda sekali dengan kasus di Jakarta misalnya. Kesimpulan saya itu tidak didasarkan pada hasil survey khusus mengenai antusiasme kolektor di Bandung. Jadi memang perlu diperbandingkan dengan kesimpulan dari narasumber lain. Jadi membandingkan dengan Ibrahim A. Ludin sudah tepat. Tapi mungkin perlu juga narasumber ketiga-keempat. Satu lagi, kamu sebut pelukis Abdurahman Saleh. Maksudnya Raden Saleh kali ya?

Komentar oleh Heru Hikayat

ini sebuah artikel yang bagus.Bandung yang boleh dikatakan kota ‘produsen’ seniman di Indonesia saja kurang kolektor atau penikmat seninya. Bagaimana dengan Medan yah? Medan merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia, tetapi apresiasi seni betul-betul rendah. Padahal Bapak Seni Modern Indonesia Sudjojono lahirnya di kota Kisaran yang ada di Sumatra juga. Demikian juga seniman-seniman muda seperti KSR Jendela banyak yang berasal dari Sumatra. Apa yang salah dengan Medan? Adakah yang pernah melakukan penelitian di Medan mengenai pasar seni rupanya? Secara geografis Medan itu lebih dekat dengan Singapore – dimana merupakan gerbang seniman Indonesia menujur pasar dunia, karena banyaknya balai lelang di sana. Saya orang Medan saja sangat bingung dengan masalah tersebut. Bukan maksud hati mau menjadi art dealer, tetapi saya merasa ‘kering’ di Medan. hehehehe..

Komentar oleh franky medan

saya ingin tanya apakah pelukis Hatta hambai berasal dari Bandung? berapa pasaran harga lukisan karya Hatta hambali di pasaran saat ini? saya ingin jual, karya Hatta hambali th 1990 tema perempuan bali

Komentar oleh diatri

Indonesian Art News Agency blog yang sedikit diantara yang ada.

mau nanya, nich…
bagaimana cara menawarkan karya rupa (lukisan) kepada kolektor atau art dealer bagi pelaku seni otodidak seperti saya?
saya ingin menawarkan karya saya tetapi selalu kesulitan untuk menembus komunitas tersebut.

terimakasih

Komentar oleh ubet

Gimana pak ubet,udah dapat jawaban belum?kalo udah bagi-bagi infonya ya.soalnya kita senasib nih.tks

Komentar oleh aérdé

Pak Ubet dan Pak Aerde,
Aminuddin TH Siregar, dosen seni rupa ITB dan juga kurator pernah bilang, kalau dunia seni rupa adalah milik segelintir orang alias elite. Untuk masuk ke dalam wilayah ini setiap orang termasuk seniman itu sendiri harus belajar memahami situasinya. Mulai dari memahami komunitas, kolektor, media massa, menjadi seniman, galeri, dan seterusnya. Katakalanlah membaca “trend” atau kecendrungan pasar mutakhir, halah..kayak pialang aja ya? Tapi memang begitu kok, bagaimana pun, seniman juga, baik secara diam-diam atau berterus terang, kudu juga memahmi pasar ini.

Sialnya, medan sosial seni rupa begitu tertutup, dan menurut gosip, bahwa kolektor dan art dealer-lah yang menentukan selera pasar seni rupa. Tapi memang butuh penegasan kembali, apakah benar, begitu berkuasanya kolektor dan art dealer.

Sepertinya nggak sulit tuk masuk ke dalam komunitas seni rupa. Sekedar masuk memang gak sulit, tapi tuk menjual “produk” karya memang masih sulit. Beberapa waktu lalu saya di Yogyakarta untuk menikmati acara Biennale Jogja 2007, katanya, karya-karya yang dipamerkan akan dijual. Bisa jadi Pak Ubet dan Pak Aerde bisa tanya-tanya ke panitia.

Seorang seniman bisa menjual sendiri karyanya. Tapi memang butuh kesabaran tinggi ya hihihi…kan sekarang bisa promosi dengan blog, web, berkirim email. Membangun kredibilitas itu yang sulit, apalagi sendirian. Tapi masa sih, usaha yang keras gak ada hasilnya. Saya yakin pasti ada.

salam
frino bariarcianur barus

Komentar oleh beritaseni

Buat Bung Ubet pameran aja dulu, nanti juga diapresiasi, salah satu apresiasinya ya laku🙂

Komentar oleh Ary

jual lukisan karya raden saleh dengan judul: Sri Sultan HB Vi
Conte

ukuran 55×75
bila berminat hubungi : saya di .:

zuliant_02@yahoo.com
website: http://zuliantart.co.nr/
no telp; 0274-6811931 & 0274-4477197

terimakasih.

Komentar oleh zuliant

harus ada Asosiasi Pelukis Indonesia seperti yang lain…dari Asossiasi banyak muncul ide2x cemerlang…

Komentar oleh Yan-arsitek

memang karya lukis bukan barang yang mudah liquid…

Komentar oleh yopie

saya punya lukisan karya pak Barli ukuran 100 x 120cm judul gadis bali mau saya jual bisa nego
hub 089639166916 (ensu)

Komentar oleh ensu

Hi there! Do you use Twitter? I’d like to follow you if
that would be okay. I’m absolutely enjoying your
blog and look forward to new updates.

Komentar oleh berks social media marketing

You really make it seem so easy with your presentation but I
find this topic to be actually something which I think
I would never understand. It seems too complex and very broad for me.
I’m looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

Komentar oleh Personal Injury Attorney Denver Colorado

Hello! I just wanted to ask if you ever have any issues with hackers?
My last blog (wordpress) was hacked and I ended up losing months of hard work due to no data
backup. Do you have any methods to stop hackers?

Komentar oleh grand theft auto news

I got this website from my buddy who told me on the topic of this
website and now this time I am visiting this website and reading very
informative content at this time.

Komentar oleh designer womens belts




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s