Indonesia Art News Agency


Festival: Pesta dan Bersenang-Senang
Juni 22, 2007, 1:30 pm
Filed under: movie

Teks oleh Bayu Kesawa Jati*

Entahlah. Saya tak dapat membuat prediksi dengan tepat: berapa film lagi yang akan diproduksi kawan-kawan kreatif Cinema Lovers Community (CLC) sepanjang sisa tahun ini. Kabar terakhir, Evi Cute membikin Tasmini dengan memasang Bowo Leksono sebagai aktornya. Berbarengan dengan Shuheto Hendry membesut Lunas dan film Boncengan karya sutradara berkebangsaan ‘Jepang dari Hongkong’, Narizawa Minori yang memasang aktor pesaing Bowo, Trisnanto Budidoyo sebagai salah satu pemikat filmnya. Tiga film ini hadir dalam momen yang sungguh tepat. Tasmini, Lunas dan Boncengan melengkapi satu perayaan yang bakal dihelat. Sebuah pesta, demikian saya berpikir, tatkala dalam satu pertemuan Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) di Ciruyung, CLC melalui Heru C. Wibowo, mengutarakan niatnya. “Tajuknya Parade Film Purbalingga,” tegas Heru. Maka, perkenankan saya untuk turut merasakan kegembiraan sebagaimana yang seharusnya ada dalam sebuah pesta.

Pesta, parade dan festival, bagi saya memiliki arti yang sama. Di sana ada banyak orang dengan keceriaan, wajah-wajah sumringah, tawa yang lepas, sembari berteriak: “Putar! Putar! Putar!”. Olala, apa yang akan diputar? Tentu saja: setumpukan lebih karya film. Dan yang lebih spesial adalah mulai pagi hingga malam, publik akan disuguhi film-film karya sineas kota sendiri. Lengkap sudah!

Pesta ini bagi saya memiliki dua pembuktian:

Pertama, CLC telah mampu menjawab satu kebutuhan mendasar bagi terselenggaranya satu festival film, yakni ketersediaan karya yang secara kuantitas sedemikian banyak. Dalam hal ini, ketersediaan karya menjadi hal yang mutlak harus terpenuhi. Adalah konyol dan tak patut, tatkala sebuah festival hendak digelar sedangkan pemrakarsa sendiri masih bertanya: “Film-filmnya dapat dari mana?”. Karena pada dasarnya, festival adalah sebuah perayaan. Bila tak memiliki dan malah kebingungan mendapatkan film-filmnya, maka apa yang mau dirayakan? Maka yakinlah, PFP bukan Festival Film Bingung yang berniat untuk merayakan kebingungan bersama-sama. Aduhh!

Kedua, CLC terbukti mampu meraih perhatian dan simpati publik yang peduli dengan perkembangan kesenian secara luas. Mulai banyaknya pelajar yang melek terhadap proses produksi film, bisa kita jadikan satu acuan bahwa para pegiat film yang telah eksis berpikir pula ikhwal klasik yang terus-menerus mendera dunia kesenian: regenerasi. Dan untunglah CLC segera bergerak: menyemai bibit baru dan merawat yang telah eksis.

Ayo kita mengingat. Film Purbalingga mulai menggeliat sejak tahun 2004. Orang Buta dan Penuntunnya menjadi salah satu tonggaknya. Tapi, aih! Jangan berpikir seorang Bowo Leksono sudah sangat mahir saat itu. Ia hanyalah seorang sarjana hukum yang tak tahu menahu bagaimana idealnya sebuah film diproduksi. Lihatlah secara eksekusi: banyak blooper di sana-sini. Namun, bukannya patah arang, berbekal kesenangan dan keyakinan yang tak kunjung habis, film-film pasca itu malah semakin banyak dibikin. Dan, hey! Tak perlu terlalu lama untuk melihat tunas-tunas muda tertarik masuk dalam dunia film pendek.

Hanya dalam rentang tiga tahun, muncul nama-nama Heru Catur Wibowo, Agus Darmawan, Niken Sarasvati Devi, Atik Rindarsih, sampai tiga sutradara yang saya sebut di awal. Sedangkan Bowo Leksono masih terus berkarya, sembari tetap merangkul beberapa seniman multibidang seperti May Suhardi dan Trisnanto Budidoyo. Delapanbelas rumah produksi di Purbalingga menjadi penyangga yang terbilang kokoh untuk sebuah bangunan yang pernah diporak-porandakan para preman berseragam, tepat setahun lalu.

Nah, mari CLC! Sesatkanlah para kawula muda Purbalingga yang terlalu banyak nonton sinetron itu! Sesatkanlah mereka ke jalan yang benar!

Sekarang, ijinkan saya untuk turut bersukacita, larut dalam pesta, bersenang-senang, merayakan bertaburan film dari kota kelahiran saya ini. Come on! Putar! Putar! Putar![]

* Programer Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto. Email : bayukaje@yahoo.com


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Mas Bayu, apa ada Festival Film Bingung ato FFB?
Di mana tuh, kalo boleh tahu… Kasihan amat ya, kalo ada
festival nyang kebingungan ga da pesertanya…

Komentar oleh katrin




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s