Indonesia Art News Agency


Kolaborasi Publik dan Seniman
Juni 27, 2007, 11:01 am
Filed under: visual arts

Oleh: Bayu Kesawa Jati

Meyakini bahwa bahasa visual yang paling efektif adalah gambar, dua perupa muda M. Ayat dan Mursalim berinisiatif menghelat project mural di Purwokerto. Rencananya, mereka akan menggandeng beberapa seniman muda lainnya untuk terlibat. Project seni ini menjadi ikhwal yang menarik tatkala kita memperbincangkannya dalam satu kancah keterlibatan publik nantinya, agar ia tak jatuh dalam corat-coret murahan.

Pemilihan tembok sebagai media menjadikan mural dengan serta-merta tak bisa steril. Artinya, mural tak sekadar diperlakukan sebagai seni an sich melainkan harus berbicara realitas sosial tanpa bermaksud untuk sok kritis. Selain itu, keberadaan karya di ruang publik mengharuskan para seniman untuk benar-benar mengurangi unsur ‘self’ dalam eksekusi. Keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar tembok menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Dengan kata lain, mural lantas menjelma sebagai proses sosial terjadinya interaksi nyata antara seniman dengan masyarakat.

Efek psikologis mural pada tingkah laku masyarakat di sekitarnya jelas akan muncul. Tak jauh berbeda dengan baliho dan poster komersil yang tumpang-tindih menghajar alam bawah sadar kita agar konsumtif.

 

Pentingnya Riset

Interaksi yang nyata terdapat dalam riset pada pra dan pasca-eksekusi karya. Seniman melakukan kerja-kerja riset pra-eksekusi dengan membuat catatan lapangan berisikan observasi dan wawancara. Penerapan dua metode ini memberikan kesempatan besar untuk terbinanya satu hubungan yang sangat personal antara seniman dengan masyarakat yang diwakili oleh satu atau beberapa komunitas di dalamnya. Namun, itu juga belum mencukupi.

Faktor mobilitas atau lalu-lalang penduduk, bangunan fisik di sekitar lokasi bahkan keadaan geografis juga membutuhkan kecermatan dari seniman. Ini membuahkan tuntutan bahwa fakta kesejarahan wilayah dan karakter kota juga tak boleh terlupa.

Ambillah contoh, di wilayah kota yang bercuaca panas macam Jakarta atau Semarang akan lebih nonjok apabila seniman menampilkan besar-besar gambar irisan buah semangka yang merah-merekah. Berbagai macam efek psikologis bisa tercipta hanya dari gambar sederhana itu, karena terdapat sugesti yang kuat dari kekontrasan yang tercipta: cuaca panas-terik dengan semangka segar.

Terkesan sederhana, memang. Namun jangan salah, gambar semangka tersebut bisa jadi merangsang pikiran publik untuk melihat realitas di sekelilingnya dan tanpa sadar merindukan hal-hal yang alami/natural. Ini jelas satu siasat bersikap dan mendorong publik untuk berpikir ulang di tengah terjangan minuman dan makanan yang serba instan.

Pada pasca-eksekusi, riset tetap berlanjut dengan fokus mengetahui respon publik sekaligus mengukur tingkat keberhasilan kolaborasi pemikiran antara seniman dan masyarakat sekitar. Seniman atau tim khusus melakukan interviu untuk mengumpulkan opini dan ekspektasi. Opini kita dudukkan sebagai respon terhadap karya mural yang telah jadi, sedangkan ekspektasi lebih pada bagaimana publik menilai kerja-kerja berkesenian yang telah dilakukan.

Biasanya, bila opini publik bagus, mereka akan berekspektasi lebih dan sangat apresiatif dengan seni mural. Jangan heran apabila nanti ada komunitas masyarakat yang berapresiasi tinggi namun di wilayahnya tidak dimural, niscaya para seniman akan diminta untuk memural tembok-tembok mereka. Yakinlah, apresiasi macam ini hanya akan tercipta apabila publik sedari awal dilibatkan.

Agaknya M. Ayat, Mursalim dan siapapun seniman yang nantinya terlibat, musti memiliki energi ekstra dan konsentrasi lebih. Seperangkat tim riset dan manajerial jelas dibutuhkan. Belum lagi soal kesulitan perijinan dan terutama sikap pemerintah kabupaten yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan komunitas seni: tak mau peduli![]

 

* Bayu Kesawa Jati. Kontributor Kamarbuku. Tinggal di Purwokerto.

(Tulisan ini adalah versi lengkap dari yang dimuat di Harian Suara Merdeka. Sabtu, 23 Juni 2007)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s