Indonesia Art News Agency


Rindu Peresensi Asik di Media Lokal
Juni 30, 2007, 9:00 am
Filed under: movie

Teks oleh Wisnu Wage*

Ya Tuhan, saya kadang memekik sendiri melihat banyaknya film Indonesia di bioskop. Saya juga terhuyung-huyung mendengar begitu banyak band dan penyanyi baru bermunculan di tanah air ini. Namun, saya ternyata lebih sering mengumpat-umpat ketika menyimak resensi film atau kaset baru di media cetak yang terbit di Jawa Barat, Bandung khususnya. Mari kita simak beberapa contoh. Saat film “3 Hari Untuk Selamanya” karya Riri Riza muncul, banyak media mainstream Jakarta meresensi-nya dengan cergas. Menarik. Karena bumbu kritik, sama porsinya dengan pujian. Begitupula saat film “hantu-hantu sampah” menyeraki bioskop kita, resensi yang sinis dan manis juga muncul.

Bagaimana dengan kaset-kaset baru. Di Ibu Kota, masih ada yang bersusah payah mengulik menu yang disajikan oleh band dan penyanyi baru. Satu persatu lagu diperdengarkan, ditilik dari soal lirik hingga musiknya. Ujungnya, muncul resensi kaset yang menarik, kasar, dan berisi.

Tapi ketika saya menengok ke kota ini, sumpah, mesti narik napas. Saya membaca sebuah artikel di harian Pikiran Rakyat soal “3 Hari Untuk Selamanya”, penulisnya peresensi kawakan di Kota Bandung. Eh, sugan the, tulisannya bakal menarik, doi malah membahas film Indonesia judulnya hebat-hebat. Ada lebih dari enam kolom dia ngomongin salut ama judul film-film kita. Dari yang drama hingga horor.

Saat orang lain bersusah-susah mengeryitkan dahi membahas segi teknis dan cerita suatu film, orang ini malah ngebahas soal judul. Entah apa maksudnya? Pertama bisa jadi, itu adalah kritik sang penulis pada bombastisnya judul-judul film Indonesia, sementara di isi film sendiri sangat memprihatinkan. Kalau alasannya ini, di resensi tersebut penulis ini tidak menyebutkan soal kritiknya. Ya bagus-bagus saja.

Kedua, sang penulis bisa jadi sangat terkagum-kagum pada kemauan film maker kita membuat judul. Karena tidak sempat menonton sejumlah film yang dia sebutkan di tulisannya, ya sudah, saya bahas judulnya saja. Walah.

Resensi film yang ditulis oleh media semacam Pikiran Rakyat, Galamedia, Tribun Jabar, Radar Bandung, bahkan Kompas tak kalah keringnya. Rata-rata wartawannya menulis berdasarkan sinopsis dari pihak pembuat film tersebut. Jatuhnya, tulisan tersebut jadi lebih banyak puja-puji—yang dengan sendirinya diciptakan oleh para pembuat film tersebut.

Kita jarang menemui wartawan lokal yang menyediakan waktunya untuk benar-benar menelik logika cerita film, dialog, akting dari pemeran film tersebut. Jadi saat ada acara pemutaran perdana sebuah film, wartawan rubrik film di Bandung ngapain aja? Atau mungkin saya melewatkan sebuah resensi yang keren dari media-media tersebut.

Setali tiga uang dengan film, resensi musik media mainstream lokal Bandung pun garing-garing saja. Kebanyakan resensi kaset atau musik hanya berdasarkan press release dari pihak recording. Wartawan jadi malas untuk membuat sebuah analisa yang kritis terhadap karya musik tersebut. Alasannya bisa jadi, tidak memahami musik tersebut, tidak menyukai jenis musiknya, jarang membaca referensi musik?

Parah. Saya sebagai pembaca, ujungnya kesal sendiri. Apakah wartawan lokal ini tidak menyadari, kalau saja ada pembaca yang percaya saja pada tulisnnya, lalu pergi menonton bioskop, membeli kaset atau CD, setelah disimak ternyata karya itu butut? Betapa kesalnya bukan tertipu begitu, karena kemalasan wartawan mengapresiasi sebuah karya.

Jalan keluarnya bagaimana? Tampaknya, wartawan film dan musik kita mesti menambah lagi referensi soal film atau musik. Baik dari media lokal maupun luar. Terus terang saja, media-media indie dan komunitas keluaran anak-anak muda Bandung terkadang jauh lebih menarik. Mereka bisa dengan lantang menyoraki sebuah karya yang buruk, tapi juga tak segan memuji sebuah masterpiece.

Terakhir saat meresensi, wartawan butuh kesabaran dalam menulis. Meluangkan waktu sejenak untuk lebih intens melihat dan mendengar film dan musik kita. Jika tidak sabar, ya sudah, kita layak berkomentar, cuapee dechhhh! []

*Penulis adalah wartawan majalah Gatra perwakilan Bandung. Selain sibuk liputan, masih juga sempat meresensi film secara dangkal di www.bioskop-kecil.web.id garapannya bersama teman-teman.


6 Komentar so far
Tinggalkan komentar

ini dia masalahnya bung wisnu, terkadang teman-teman jurnalis juga perlu mendapatkan tambahan resensi atau masukan terkait penulisan film atau kaset/cd. Hanya saja, banyak teman-teman yang terkadang waktunya sudah habis ‘dihajar’ leh kantor dalam liputan lainnya (bukan membela, tapi memang demikian kondisinya).
mungkin bung wisnu bersama BF sebagai juragan kantor berita seni membuka ruang untuk teman-teman jurnalis di bandung bertukar pikiran atau penyegaran tentang apresiasi karya seni (bisa film, buku, kaset, dan lainnya).
usul saja, siap membantu….

Komentar oleh adi

yang coba dulu, baru beli, ada nggak…🙂
numpang baca, numpamg lewat, salam…

Komentar oleh mybenjeng

bener tuhh… garing bin kering

Komentar oleh Aulia AM

menarik Di…memang sih waktu kerap jadi batu sandungan para wartawan menghasilkan resensi yg menarik.tapi kan, yang jelas di koran-koran lokal itu, wartawannya sudah jelas desk-nya. nggak kaya kita yang lompat-lompat desk.seharusnya yang sudah punya spesialisasi itu bisa lebih menarik dalam menulis.bisa lebih dalam…

Komentar oleh wage

wah artikel ini mah ..gw banget.
emang banyak artikel film yang dangkal dan bahkan jauh dari maksud film tersebut, membuat kita malah bertanya-tanya apakah si pembuat resensi itu sudah nonton filmnya belum ya…
dan tampaknya hal itu disadari juga oleh pembuat film sehingga banyak yang membuat “the making of ….”. cara ini dirasa efektif karena mampu memunculkan maksud sebenarnya dari si pembuat film dan sekaligus promosi.
secara sederhana ada beberapa sebab mengapa resensi film kita “kacau” :
1. kavling yang kecil membuat penulis susah menyampaikan maksudnya. akhirnya pembaca jadi tidak menangkap maksudnya bahkan salah apresiasi.
2. film diapresiasikan sesuai dengan pengalaman penulis. semakin banyak pengalaman dan bahan pustaka yang dimiliki semakin mampu dia menangkap maksud film tersebut.
3. gunting sensor yang terlalu tajam membuat maksud dari film semakin kabur.
4. suasana hati penonton film, pengalaman gw menonton “the sixth sense”, dari 3 orang yang menonton semua memiliki ending yang berbeda.🙂
karena hal-hal seperti di ataslah yang membuat resensi film bukan menjadi daftar bacaan gw.
suwun.

Komentar oleh nindityo

emang salah siapa? baca resensi kok di PR! buang waktu aja.

Komentar oleh naz




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s