Indonesia Art News Agency


Im Saturday dan Kenapa Saeful Borong Piala di Festival Film Banyumas
Juli 2, 2007, 12:59 am
Filed under: movie

Teks oleh Imam KJTP

Film Pendek “Im Saturday” garapan Ganesha Film SMU Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah memborong empat penghargaan di ajang Festival Film Banyumas (FFB) 2007. Malam Anugrah yang berlangsung di Cherrs Cafe Hotel Dinasty Purwokerto ini berlangsung meriah dengan dihadiri seribu lebih peserta dan penonton. Selain itu dua penghargaan lain direbut film “Kenapa Saeful” produksi Bikin Film Production Banyumas.“Im Saturday” menggondol empat kategori masing masing sutradara, cerita,pemain dan film terbaik. Setyo Wibowo sang sutradara “Im Saturday” sempat menitikan air mata saat berada di panggung menerima penghargaan tersebut. Pria gondrong yang dikenal getol membikin film indie ini memang mempersiapakan jauh hari untuk mengikutkan filmnya di FFB.Im Saturday untuk kategori sutradara dan ceritera terbaik diberikan kepada Setyo Wibowo.

Satu penghargaan lain di film yang sama berupa pemain terbaik Rizki Amalia. “Im Saturday” juga melengkapi kemenangan FFB yang diselenggarakan Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) ini dengan maraih penghargaan FILM Terbaik. Film yang berlatar tentang kepercayaan larangan pergi di hari Sabtu Pahing ini memang digarap serius Ganesha Film.

Film lainnya “Kenapa Saeful”, besutan anak anak Bikin Film Production Banyumas menggondol dua penghargaan di Sinematografi terbaik (Feri Ferdian) dan Ilustrasi Musik Terbaik (Agus dan Fredi). Film garapan pegiat film asal Banyumas dan Majenang Cilacap ini menyuguhkan ceritera tentang kecemburuan warga terhadap kemapanan hidup seorang perangkat desa.

Ketua FFB, Nanang Anna Noor mengatakan, FFB yang pertamakali digelar ini hanya melombakan film jenis fiksi/cerita. Hingga pendaftaran ditutup, yang masuk ke panitia sebanyak 30 film. Jumlah tersebut diluar dugaan, karena pantia hanya mentargetkan 20 quota film. Panitia juga hanya memberikan penghargaan terhadap enam jenis kategori , ceritera, sinematografi, ilustrasi musik, pemeran, sutradara dan film terbaik.

“Ini surprise, karena di karsidenan Banyumas, baru kali ini digelar sebuah ajang kompetisi bernama Festival Film, namun antusiasme peserta begitu tinggi. Insya Allah tahun depan kita akan gelar festival ini tak hanya wilayah karsidenan Banyumas,” ujar Nanang yang juga menjadi juri dalam FFB tersebut.

Nanang yang juga penyair dan pemain sinetron ini mengaku semangat sineas di Banyumas mengikuti FFB menjadi sebuah bukti kota kecil yang memiliki potensi besar terhadap produk produk film.

Sementara juri selain Nanang, Chaerul Umam, sutradara kawakan dan pemain sinetron Amoroso Katamsi. Chaerul Umam, mengaku tidak menduga jika semangat membuat film di Banyumas begitu tinggi. Namun dalam penilaian Mamang (panggilan akrab) Chaerul Umam, para pegiat di Banyumas harus banyak belajar tentang film. ” Membuat film itu ada ilmunya, jadi perlu banyak dipelajari.Tapi beberapa diantaranya sudah serius dan rada rada profesional dalam membikin film. Itu bagis dan sebuah bakat yang harus diteruskan,” ujar Mamang.

Malam Anugrah yang berlangsung di hotel termegah di Banyumas tersebut berlangsung meriah. Nampaknya KJTP sebagai panitia FFB benar benar serius menangangi acara tersebut sehingga membuat penonton tak mau beranjak hingga usai acara. ” Saya sama sekali tidak menduga jika acaranya begitu gebyar dan benar benar pesta para sineas Banyumas. Tak kalah sama penghargaan film di Jakarta,” ujar Lenita, seorang penonton.

Menurut panitia FFB, film film pemenang ini akan diikutkan dalam festival di tingkat nasional dan Internasional. Pantia juga akan memutar 8 film pilihan dan pemenang di sebuah teve lokal. “Kita juga jauh jauh hari sudah dipeseni sama produser sinetron di 7 teve nasional agar film film tersebuit segera dikirim ke mereka. Sementara sebuah teve Australia juga akan memutar dua pemenang film tersebut” ujar Ambarwoto, Humas FFB.[]

* Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP), email jurnalis_tv@yahoo.co.id


10 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saya tahu Setyo Wibowo, sutradara penyabet empat kategori FFmBanyumas, dua tahun silam, sebagai aktor di sebuah film pendek ‘fenomenal’ bertajuk “Peronika” besutan sutradara Bowo Leksono. Saya itu film “Peronika” diputar di kampus saya, Universitas Negeri Semarang.

Mengapa saya katakan film “Peronika” fenomenal? Film berdurasi 13 menit itu ‘tak ade matinye’. Tidak hanya menyandang berbagai penghargaan, tapi sudah melanglang ke berbagai negara sebagai film yang sangat khas icon mBanyumas.

Dari nonton film “Peronika” inilah saya mencari komunitas film di Purbalingga, berharap bisa turut membangun bersama perfilman di Purbalingga, karena saya aseli wong Purbalingga. Dan ketemu langsung dengan sang sutradara “Peronika”. Dan terus memperlajari peta perfilman di Purbalingga.

Di film “Peronika”, Setyo Wibowo bermain alami. Saya juga turut menikmati penampilan Setyo Wibowo di film yang disutradarai Bowo Leksono lainnya, “Gajian”. Mungkin dari pengalaman inilah, Setyo Wibowo memberanikan diri menjadi sutradara film “I’m Saturday”, sebuah film pendek termahal Purbalingga yang pernah saya dengar dengan menghabiskan cost sebesar Rp 8 juta.

Saya sempat ditawari oleh Setyo Wibowo langsung, sebelum film itu dibuat, untuk bergabung dalam produksi “I’m Saturday”. Pada satu malam, di Alun-alun Purbalingga, Setyo Wibowo menyodorkan sebuah skenario film kepada saya dengan sembunyi-sembunyi. Tidak tahu kenapa, mungkin karena tak jauh dari kami berdua, Bowo Leksono dan beberapa pegiat film di Purbalingga turut nongkrong seusai pembuatan sebuah video musik Kamuajo.

Dengan rasa rikuh, saya baca setengah halaman pertama, saya cuma tersenyum sedikit agak rikuh. Terang saya tidak langsung mengiyakan atau menolak tawaran Setyo Wibowo untuk menjadi kru atau apalah, karena dia juga tidak jelas menawarkannya.

Cuma yang terus terngiang saat itu, dan sampai saat ini, film itu mendapat sokongan dana yang suangat suangat besar dari sebuah sekolah negeri di Purbalingga. Dahsyat. Karena dari film-film independen di Purbalingga, Rp 100 ribu atau bahkan lebih kecil dari itu pun bisa menghasilkan karya film yang berkualitas bahkan juga memperoleh banyak penghargaan di berbagai ajang festival, baik dalam maupun luar negeri.

Mungkin Setyo Wibowo hendak menunjukkan bahwa film pendek dibangun dengan sebuah kemewahan, seperti halnya kemenangan film yang disutradarainya, menang di sebuah ajang yang sangat mewah secara penyelenggaraan. Luar Biasa!

Kukuh D. Loekito
Loekita Films Purbalingga

Komentar oleh Kukuh D. Loekito

FFB? aku jadi penasaran dan buru buru ke telp Dik Nanang. Bocah yang dulu kukenal kurus dan berambut gondrong sampai ke pinggang ini habis habisan kupermak.Karena tak mengabari aku. Mbok yao telp sebulan sebelumnya sehingga aku bisa pulang dulu ke tanah air nonton FFB.

Eh jawabnya cuma,ketawa ngekek…. wait for me.. wait for me.
Cobalah sekali kali serius sih Nang, bercanda mulu. Jangan jangan FFB cuka untuk bercanda…. hayoooooooooo
Apapun dan siapapun penyelenggara FFB, aku salut. Kutunggu kirimanmu untuk diputar di negeri Kanguru

Fedri Alamsyah
Cuma Penggemar Film ‘angry angry red’

Komentar oleh fedri

terima kasih atas segala yang teman-teman berikan, tanpa teman-teman saya tidak akan jadi begini. Film I’m Saturday garapan dari SMA 1 PBG memang banyak mengundang kontrofersi. memang film ini menghabiskan dana yang tidak sedikit, bahkan saya pun belum mengetahi secara pasti berapa jumlah yang dikeluarkan, karena dalam hal ini merupakan kewenangan dari produser (SMA1 PBG). Jadi kalau ada yang mengatakan jumlah sampai dengan angka 8 juta, saya malah heran dari mana dia tahu angka tersebut sedangakan saya saja belum dikasih tahu.
seluruh anggaran dalam pembuatan film I’mSaturday sepenuhnya dianggarkan oleh sekolah.
Maaf jika saya banyak menyinggung teman-teman, karana keadaan yang menyebabkan.
saya pun berjanji akan terus berkarya, dan saya pun masih butuh bantuan, kritik, saran dan cercaan dari teman-teman.
tunggu film saya selanjutnya bersama teman teman “Sambel Ketjap Film” dari komunitas film maker yang terpinggirkan tapi dengan kualitas yang insya Allah berkualitas.
“MARI KITA BERKARYA, JANGAN ASAL BICARA ATAU BAHKAN HANYA BICARA”

Komentar oleh SETYO WIBOWO

Saya orang paling cemburu atas kemenangan Bang Setyo Wibowo dkk. Dendam terasa menyengat di dada. Bagiamana tidak, bocah kemarin sore yang kulihat masih belajar itu tiba tiba mengejutkan. Saya seperti mau tersalip. Dan suatu saat pasti tersalip.

Sejak awal aku sudah melihat gelagat dan perilaku Setyo dkk memang beda. Bocah gondrong ini memiliki bakat yang boleh dibilang tak dimiliki orang lain. Nalurinya memetik judul dan mengelola konflik dalam setiap adegan bukanlah hal gampang (im Saturday). Pasca FFB aku coba pinjam dan puter pelem tersebut.

Sebelumnya aku tak tertarik FFB. Tetapi begitu melihat materi sang juri. Aku bertekuk lutut, Chaerul Umam, adalah pendekarnya film. .

Setyo juga memiliki kekhasan dalam mengambil kesimpulan ending ceritera. Film ini sengaja dibuat kejutan kejutan, terutama pemilihan diski per sin. Meski aku yakin pasti ada ratusan tik untuk mengclearkan film ini.

Tetapi ketika aku sadar, seni adalah seni. Kenapa aku harus membikin dikotomi senior yunior, dikotomi populer dan tidak populer, dikotomi siapa dan siapa, apa dan apa. Kalau aku cemburu atau memboikot nonton pelemnya setyo atau kegiatannya setyo, bisa bisa aku disebut seniman KETAKUTAN. Malah setyo bisa menuduhku wanita seniman gadungan.

Setyo, aku cemburu dan membencimu tetapi aku juga mencintaimu. Sebab aku yakin, Purbalingga, Banyumas, Jawa Tengah, bahkan Indonesia, tak lama lagi akan menyalamimu. Dunia film internasional akan memburumu. Ih terlalu deh………Setyo………

Nindiya Indra Penusa
mampir menjadi penonton FFB
Yang Mengagumimu

Setyo Wibowo memang anak kemarin sore yang ora ndue wudel, seharian kerjanye bikin pelem.

Komentar oleh NI Penusa

Apa sudah copy ke Cd buat dijual, saya minat untuk koleksi,
Sama pesen saya, agar sineas prbalingga juga paham hukum, terutamanya uu haki, emang film2 itusudah didaftarkan ke dirjen haki buat dapat perlindungan hukum?
Kalo filmnya sedehana…gakush pake software yang gede2 tapi bajakan.
Tetep orisinil, ide, dan juga tools nya bikin film.
Enak anak sekarang gak perlu editing film di lab…tinggal di kamar aja.

Komentar oleh tjeng yusup

Ada tulisan menarik menyangkut FFB. Berikut saya copy-kan dari blog Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB). jkfb.blogspot.com

BILANG CABUT, GITU AJA REPOT!
:: Sigit Harsanto

GENAP 35 hari sejak malam pemberian anugerah Festival Film Banyumas (FFB) yang digelar untuk kali pertama. Selama itu, Bikin Film Production (BFP) yang membuat film “Kenapa Ful” dan Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) sebagai penyelenggara, belum juga menyadari kekhilafannya. Para pegiat film yang mengetahui bahwa telah terjadi kekeliruan fatal dalam ajang ini, hanya berani bisik-bisik di belakang panggung.

Mereka barangkali begitu tak enak hati menyinggung perasaan KJTP, sehingga tak berani mengkoreksi. Misalnya, seperti kita ketahui, melalui press-release di beberapa media cetak KJTP pernah mengancam memboikot Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga agar tidak bisa ikut dalam event perfilman yang diadakan seluruh stasiun di negeri ini. Semua bermula tatkala CLC menyatakan tak bisa mengikuti FFB, karena saat itu tengah berkonsentrasi pada rangkaian workshop pelajar SMA di Purbalingga.

Saat saya menulis ini, stasiun Trans7 telah memastikan untuk menayangkan program Fenomena, Jumat 27 Juli pukul 23.30. Tapi bukan untuk menyiarkan pernyataan KJTP yang gembar-gembor hendak memboikot CLC dan film Banyumas. Sebaliknya, stasiun televisi itu malah menampilkan betapa riangnya para sineas Purbalingga membuat film di bawah payung CLC. Kesimpulannya, ancaman KJTP terdahulu itu hanyalah bagian dari perang urat syaraf yang wajar terjadi di kalangan politikus, namun sudah tentu sangat abnormal dan menggelikan bagi kalangan seniman, termasuk film.

Keengganan sineas lokal berkomentar jelas menjadi preseden buruk bagi perkembangan dunia film. Di sini ada dua kemungkinan, pertama para sineas lokal dari berbagai komunitas film di Banyumas telah merasa gerah terlebih dahulu terhadap FFB, mengingat KJTP telah menyerang CLC yang notabene telah berjalan beriringan dengan mereka selama ini, dalam kerangka membangun jejaring antarkomunitas film. Sehingga ini mengerucut pada hal yang kedua, bagi mereka FFB bukanlah satu bentuk perayaan yang patut karena toh selama ini KJTP tak berjalan bersama untuk turut merawat jalinan komunitas demi kemajuan film Banyumas.

Apapun, film dan ajang festival film yang tanpa kritik membangun, bakal menjadi mercusuar: menjulang di luar namun kosong di dalamnya. Apa susahnya bilang terus terang bila film “Kenapa Ful” besutan BFP tidak pas meraih penghargaan FFB. Gitu aja kok repot! Alasannya, surat kabar telah menulis dengan jelas bahwa “Kenapa Ful” diproduksi di Desa Datar Kecamatan Warungpring Kabupaten Pemalang.

Publikasi KJTP sedari awal telah membuat aturan main bahwa FFB hanya menerima film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas, tidak termasuk Kabupaten Pemalang.

Kalau toh BFP tidak mengetahui aturan main itu, presenter Ayumi dan Braham sesaat sebelum penganugrahan sudah mengutip aturan tersebut.

Dalam tempo yang bisa dibilang terlampau lama untuk sebuah kelalaian mahadahsyat ini, saya kira lebih dari cukup untuk memberi waktu pada KJTP menyadari noda yang tak semestinya itu sekaligus berharap BFP mengambil sikap ksatria. Bila nyatanya tidak, melalui catatan ini saya mengusulkan pencabutan penghargaan untuk kategori Sinematografi Terbaik atas nama Feri Ferdian dan Penata Musik Terbaik yang digarap Aji Triyanto dan Agung Doso. Ketiga kru BFP itu bukannya tidak berkualitas, karena seperti diketahui, “Kenapa Ful” juga meraih predikat Film Terbaik pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) 2006 di Makassar.

Kekeliruan jatuhnya penghargaan pada pihak yang tidak tepat itu bukanlah tanggungjawab dewan juri. Seperti festival umumnya, dewan juri tentu hanya menerima dan menilai film yang sebelumnya telah diloloskan oleh komite seleksi, atau kurator film.

Pada sebuah festival film yang baik dan terkonsep matang, formulir pendaftaran yang diisi setiap peserta jelas bisa menjadi profil yang berguna bagi seleksi administratif seperti ini. Artinya, film-film yang tak sesuai dengan kriteria dan aturan main sudah bisa dideteksi dari semula. Ini merupakan hal yang sangat konyol dan aneh jika ‘sampe hari gini’ penyelenggara tak kunjung menyadari cacat hasil dari aturan yang mereka bikin sendiri.

Semoga bukan karena kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Tentunya mari kita percaya bahwa semua ini terjadi semata karena keteledoran sebagai pemula yang kurang gaul, dan bukan karena pesan sponsor.*

(Kolom Padon, Harian Suara Merdeka. Tulisan ini adalah versi lengkap.)

Komentar oleh Usmar Ismail

Suara Merdeka dan sebuah Artikel “ber aroma” kecemburuan

……atau jangan jangan yang nulis di SM adalah salah seorang pegiat film yang menjadi pesaing FFB. Bahasanya emosional dan menggiring opini untuk membunuh karakter seseorang.
Bahasa yang dipakai seperti seorang misionaris yang sedang meruntuhkan iman para muslim

#selama tidak ada reaksi atau nota protes resmi dari peserta FFB, merupakan langkah yang bijak dan tepat jika panitia tidak menanggapi

#kayaknya setiap peserta sudah tahu aturan/ tentang konsekuensi atas kesalahan disengaja atau tidak atas perbuatan melanggar aturan. Sehingga ketika pelanggaran terjadi, kembalikan ke hati nurani.

#berdasar pengalaman saya beberapakali menjadi juri festival film,panitia tidak berhak menjawab dan atau menanggapi atas sebuah film yang ternyata tidak menaati aturan. Panitia bersifat pasif dan hanya menjawab dan atau menanggapi jika ada upaya hukum dari pihak pihak yang dirugikan

semoga saudaraku nun jauh di Banyumas, menjadi pegiat film yang berdada lebar. sadar akan kelebihan seseorang dan besar karena alam

tangerang 31122207
wismar ws

Komentar oleh wismar ws

hai wismar yang gundul
moga masih ingat adik kelasmu

wis, justru panitia harusnya pro aktif jika muncul ‘musibah tersebut’. Meski memang tak kewajiban hakiki panitai untuk menanggapi jika tak ada pernyataan resmi. Artinya secara nurani mereka harusnya mau peduli. Gitu aja kok rapot!

yui itulah Nanang Anna Noor, yang kukira sejak dulu lebih banyak bermain politik daripada berkesenian. Kerena selalu saja kegiatannya, bernuansa politik. atau mempolitikan kesenian. Latar belakangnya sebagai aktivis HMI dan kerabat wiji tukul ini masih sangat kental dijidatnya.

ada banyak yang curiga saat ramai ramai di media massa perseteruan antara FFB dan CLC. itu benar benar sebuah pertarungan antara FFB/ Nanang dan CLC/ Bowo, atau hanya trik Nanang dan Bowo, untuk sebuah target tertentu.

seorang yang dekat dengan KJTP secara tidak sengaja pernah melemparkan sebuah pernyataan, pembenturan FFB dengan CLC memang disengaja, oleh Nanang untuk mengangkat CLC. Meski harus mengorbankan FFB. Ada apa sebenarnya, misteri permainan politik Nanang memang membingungkan, seperti juga saat aksi protes penyair sumatra terhadap aksi baca puisi nanang yang menyinggung salah satu etnis di wilayah tersebut.

ada apa sebenarnya. Itulah buruknya seniman yang suka mempolitikan kesenian. Jadi politikus saja jangan jadi seniman.Jangan ditiru dan musnahkan

Bernedetus sutarman

Komentar oleh Bernedetus sutarman

cinquelementi.com

Im Saturday dan Kenapa Saeful Borong Piala di Festival Film Banyumas | Indonesia Art News Agency

Lacak balik oleh cinquelementi.com

Skraj budy to najszczęśliwszy dwadzieścia cztery godziny w roku gwoli Mikołajka oraz talii jego zwróconych przyjaciół.
Koniec spakować walizki natomiast wpływowa przesuwać w
wymarzoną wakacyjną podróż. Natomiast ta zaprowadzi bohatera w samodzielnie
połowa tajemniczej Bretanii. Od partyjki golfa w urokliwym pensjonacie,
na mocy rejs do Wyspy Mgieł, na harcerskim obozie przerwawszy
– wzdłuż i wszerz, dokąd pojawi się Mikołajek, wyczekuje go mrowie niezapomnianych historyj.

Komentar oleh Lucy lektor




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s