Indonesia Art News Agency


Memilih Biskuit*
Juli 6, 2007, 7:08 pm
Filed under: photography

Teks oleh Heru Hikayat

“Finally, the most grandiose result of the photographic enterprise is to give us the sense that we can hold the whole world in our heads—as and antology of images”.

(Susan Sontag)

“One of the marks of our world is perhaps this reversal: we live according to a generalized image-repertoire…”

(Roland Barthes)

Hidup ini mirip sekaleng biskuit, kata tokoh Midori dalam novel Norwegian Wood karya Murakami: bila kau terus-terusan mengambil biskuit yang kau suka, maka dalam kaleng itu akan tinggal tersisa jenis-jenis biskuit yang tidak kau suka. Memotret merupakan kegiatan memilih biskuit.

Melihat yang Keras Kepala

Refleksi Roland Barthes atas fotografi justru mulai dari keheranan dia atas ketidak-terpisahan sebuah foto dengan objeknya. Jika memotret merupakan kegiatan memilih biskuit kehidupan, maka yang menjadi pertanyaan adalah kenapa biskuit yang itu dan bukan yang ini? Memilih biskuit berkaitan dengan rasa, dengan kesukaan. Tapi biskuit kehidupan tidak punya tepian yang menegaskannya sebagai suatu entitas, tidak juga rasa yang dikenali indera pencecap. Barangkali ini yang dibilang Barthes bahwa pada dasarnya tidak ada alasan dalam memilih biskuit kehidupan tertentu untuk ditandai.

Selain ketidak-adaan alasan untuk menandai, Barthes juga menganggap fotografi justru dipisahkan dari prinsip-prinsip penandaan. Saya membayangkan perbandingannya dengan tugu Km. 0 Bandung. Di titik Km. 0 itu ada tugu dengan tulisan 0, menandai titik pusat Kota Bandung. Di sana juga ada monumen yang mengabadikan sabda Deandels pada tahun 1810: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota). Tugu dan monumen sama-sama menjelaskan kenapa titik itu ditandai. Sebuah foto membekukan momen spesifik. Taruhlah peristiwa pemakaman. Peristiwa itu sendiri tentu penting. Tapi kenapa pemotret membekukan momen itu, detik itu, dari sudut pandang itu; tak akan ada penjelasan memadai. Signifikansi selembar foto numpang pada signifikansi peristiwa yang ia potret. Hal ini membuat Barthes, ketika ia ingin menelaah selembar foto dengan memilah dari acuannya, merasa “scientifically alone and disarmed”.

Ini prinsip pertama: ada kekeras-kepalaan—meminjam istilah Barthes—yang melekatkan selembar foto dengan acuannya. Setiap kali seseorang melihat selembar foto, selalu akan terjadi, “lihat! Itu pacar saya; itu saya waktu wisuda; itu pantai Pangandaran”. Selalu perkara melihat, kata Barthes. Yang dilihat adalah … “it is not it that we see” (Barthes, 2000: 6). Karena foto selalu mewakili sesuatu. Si sesuatu yang diwakili itulah yang keras kepala tampil mengemuka, dan itulah selalu yang kita lihat.

Lautan Keren-Norak

Beberapa waktu lalu, lewat Jalan Siliwangi. Di sana ada mural bikinan Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) ITB. Mural diperbaharui beberapa waktu lalu, hingga area itu menjadi segar kembali dan menarik perhatian. Para pejalan kaki melalui area itu mungkin akan merasa lebih terhibur menempuh trotoar sempit-menikung-menanjak, ditingkahi para pengendara kendaraan bermotor yang seringkali egois. Dan tentu saja mengundang orang-orang untuk sejenak berhenti, memperhatikan, juga mengambil foto. Dari atas angkot, saya melihat 2 orang pemuda. Satu memegang kamera, mengarahkannya pada pemuda lain yang sedang berpose. Kamera membuat mereka terpilah: satu pemotret, satu yang dipotret. Pemuda yang dipotret menyandarkan punggungnya pada dinding yang miring, kaki kanan bertumpu pada sempadan trotoar, kaki kiri menjejak trotoar. Pose itu membuat posisinya merendah, kaki kiri menyangga sebagian besar berat badannya. Sambil wajahnya berusaha tetap frontal memandang kamera, kedua tangan tidak membantu meringankan beban kaki kiri, melainkan menjulur dari siku masing-masing sisi seolah membingkai wajah. Kedua tangan membentuk pose khas: jempol dan telunjuk membentuk sudut 90°. Saya melihat pose tangan ini di Iklan bioskop Blitz Megaplex. Iklan itu ditutup dengan gambar seseorang yang tengah duduk di kursi, badan agak miring, pose tangan khas itu, lalu ada suara “and……cut!”. Barangkali memang itu adalah pose khas seorang sutradara yang sedang memeragakan dirinya sebagai penangkap fenomena. Pose tangan meniru bingkai lensa kamera. Tepatnya, saya mencurigai pose tangan macam ini merupakan gestur tiruan dari prinsip kerja camera obscura. Apakah si pemuda di Jalan Siliwangi itu membayangkan dirinya sebagai seorang sutradara? Tapi ia tak bilang “and…..cut!” (kalaupun ia bilang itu, kamera foto toh tidak akan bisa merekam suaranya). Ataukah ia sedang membayangkan camera obscura ? Satu-satunya alasan yang paling baik dijadikan dugaan adalah ia menganggap pose itu menarik ditangkap oleh kamera. Kameralah yang membuatnya mau bertahan dalam posisi kurang nyaman (sementara ia sudah siap dengan posenya, si pemotret masih mengutak-atik kamera, mungkin sedang menyetel fitur tertentu atau kebingungan dengan tombol-tombolnya).

Saya duga kamera yang dipakai oleh pemuda di Jalan Siliwangi adalah kamera digital. Kita cenderung menganggap teknologi digital mengkonstruk budaya instan. Semua serba bersicepat. Bandingkan dengan kamera jadul, yang pada saat hendak dipotret, orang (-orang) harus berpose, diam sepenuhnya selama beberapa menit. Ini yang dibilang Barthes: kamera merubah subjek menjadi objek. Ini prinsip kedua.

Sempat saya menganggap pernyataan Barthes itu sudah harus direvisi di jaman kamera digital ini. Tapi mengingat kejadian di Jalan Siliwangi itu, jadi teringat juga, pernahkah kita dipotret dengan kamera digital langsung-langsung saja tanpa menunggu-dalam-pose ketika si pemotret menyetel fitur-fitur kamera? Menunggu-dalam-pose tetap terjadi baik di hadapan kamera analog jadul maupun kamera digital termutakhir. Dan si pemuda itu berpayah-payah mempertahankan posisinya demi sesuatu yang ia anggap bergaya, sambil menanggung resiko dianggap kampungan.

Resiko ini adalah resiko sebagai objek, sekaligus sebagai sesuatu citra. Ia bukan lagi manusia otentik yang bisa membela diri. Sebagai objek, ia terombang-ambing antara dua kutub penilaian: keren dan norak.

Makna dan Efek

Flags of Our Father, sebuah film arahan Clint Eastwood. Ini bukan film perang walaupun didasarkan pada kisah pendaratan tentara Amerika Serikat di Pulau Iwo Jima waktu Perang Dunia II. Ini film tentang selembar foto.

Citra dari foto ini begitu terkenal sampai-sampai dibuat banyak replika dalam bentuk tiga dimensi, ukuran besar maupun mini. Citra berupa sekelompok tentara mengibarkan bendera Amerika Serikat di puncak bukit karang. Diceritakan foto ini mendapat perhatian dari presiden AS karena hampir semua koran harian pada masa itu memuatnya di halaman depan. Pihak pemerintah AS lalu melihat harapan.

Pemerintah AS kemudian memerintahkan untuk memanggil pulang para prajurit pelaku pengibaran bendera. Tiga orang prajurit kemudian berlayar pulang. Mereka adalah yang tersisa. Para prajurit lain telah mati dalam pertempuran keras di pulau gersang itu. Mereka bertiga ditarik dari kekejaman pertempuran bersenjata, untuk menempuh misi berbeda: menggalang dana. Pemerintah AS pada ketika itu memang tengah terancam. Pemerintah membuat hutang dalam jumlah amat besar untuk membiayai perang. Sedemikian besar hingga mengancam nilai dolar Amerika di pasaran. Ini amat serius, terutama karena dolar AS dijadikan patokan mata uang oleh sebagian besar negara di dunia. Jika yang dijadikan patokan tidak lagi dipercaya, maka kedigjayaannya akan runtuh. US $ 14 milyar, harus diraup dalam kampanye itu. Demikianlah Prajurit Rene Gagnon dan Ira Hayes, serta Navy Corpsman “Doc” Bradley keliling negeri digadang-gadang sebagai “Pahlawan-pahlawan Iwo Jima”.

Konflik pertama mengenai siapa-siapa saja yang sesungguhnya menjadi pengibar bendera; siapa yang saat itu “ada” dalam gambar (who was in the picture). Muncul perdebatan mengenai seorang prajurit bernama Hank. Ira dan Doc bersikeras bahwa Hank tidak ada dalam foto itu, karena mengibarkan “bendera yang asli”. Maka sang pejabat terkejut, apa pula maksudnya “bendera yang asli”? Diceritakan setelah gelompang pasukan Marinir AS berhasil mendarat setelah berhasil bertahan melalui serang artileri Jepang, satu peleton merintis jalan ke puncak bukit karang. Kolonel komandan divisi meminta Danton untuk mengibarkan bendera jika mereka berhasil mencapai puncak. Begitu bendera berkibar, beribu-ribu prajurit bersorak, terbakar jiwanya.

Bendera berkibar berarti kemenangan.

Setelah yakin keadaan aman, beberapa politisi turut mendarat di pantai. Salah seorang dari mereka, karena cukup tinggi jabatannya, meminta bendera terkibar itu untuk dirinya sendiri. Maka kolonel komandan divisi, sambil menggerutu, kembali memerintahkan prajuritnya untuk mengibarkan bendera, mengganti bendera pertama. Bendera pertama itulah yang disebut “bendera yang asli”. Foto yang kemudian terkenal adalah gambar dari pengibaran bendera kedua, bendera pengganti, yang bahkan di fotografernya sendiri tidak yakin gambar itu terambil dengan baik.

Adalah Rene Gagnon, si runner, yang menyusul teman-temannya ke puncak bukit membawa bendera-kedua untuk mengganti “bendera yang asli”. Ia pula yang diminta oleh pejabat militer untuk menunjukan siapa-siapa yang turut ambil bagian dalam pengibaran bendera. Diceritakan ada 6 orang yang terlibat. 3 di antaranya telah mati. Dalam kebingungan perang, Rene membaurkan peristiwa pertama dan kedua. Begitu daftar itu masuk, nama-nama beredar hampir secepat dan se-eksesif penyebaran fotonya. Para ibu dari prajurit-prajurit itu pun telah dikejar-kejar wartawan, ditanya “bagaimana rasanya menjadi ibu dari seorang pahlawan”.

Pemerintah AS menularkan harapan melalui reproduksi terus-terusan dari foto tersebut. Rasa kemenangan menjalar. Di sisi lain, seiring jalannya kampanye, spekulasi bergulir bahwa foto itu direkayasa, “dipanggungkan” (staged). Ketika verifikasi atas siapa saja sesungguhnya pengibar bendera tak lagi mendapat tempat dalam euforia menyongsong harapan–menyambut kemenangan, apalagi sekedar spekulasi sederhana macam ini; sama sekali tak penting.

Kisah berpuncak pada ketidak-siapan para prajurit untuk menanggung harapan di pundak sebagai pahlawan. Menjadi pahlawan, betapa absurd. Barthes membedakan efek dan makna. Seperti dalam film ini, sebagian orang berusaha mencari makna, memverifikasi kebenaran. “Heroes are something we create, are something we need”, kata Narator. Begitulah makna. Setiap orang bisa menciptakan makna, semau-maunya. Makna jamak dan mungkin simpang-siur, tapi efeknya jelas.

Lorong Waktu

Susan Sontag mengaku terpikat pada fotografi karena kualitas omnipresence-nya. Menilik istilah omnipresense, awalnya ia merupakan perbincangan tentang sifat Illahiah. Tuhan ada di mana-mana, kehadirannya jamak. Kebisaan fotografi untuk direproduksi dan kemampuannya bertahan menempuh lorong waktu, mengangkatnya pada kualitas Illahiah itu.

Apa yang membuat fotografi demikian penting? Sontag dan Barthes tampak bersepakat pada satu hal: kemampuan foto menyentuh pelihatnya. Tepatnya bukan hanya menyentuh, tapi memancing, memprovokasi, menggoda, menghantui, menghibur, merangsang, dan lain-lain.]

Reproduksibilitas fotografi berupa pisau bermata dua. Di satu sisi ia memungkinkan foto tersebar-luas dan menyentuh secara eksesif, di sisi lain ia justru bisa menggerogoti kekuatannya sendiri. Lebih lanjut: “To suffer is one thing; another thing is living with the photographed images of suffering, which does not necessarily strengthen conscience and the ability to compassionate” (Sontag 1979: 20).

Reproduksibilitas ini pula yang mengaitkan fotgrafi dengan hal-hal lain, termasuk ideologi. Sontag mengingatkan tentang dampak foto-foto dari Perang Vietnam dibandingkan dengan kasus Perang Korea. Barangkali kita semua mudah mengingat sebuah foto yang memperlihatkan anak Vietnam korban bom napalm berlari–menangis kesakitan dengan kulit melepuh di tengah jalan menyongsong ke arah kamera. Sontag bilang, tahun 1972 foto ini terpampang di hampir semua korandi AS. Foto macam ini bisa amat menyentuh, punya daya amat besar dibandingkan puluhan jam program TV yang memperlihatkan sisi manusiawi dari “musuh”, persis karena foto adalah gambar-diam dan bukan gambar-bergerak, demikian Sontag. Dalam keheningannya ia merambah, menembus lorong waktu. Tapi tidak demikian dengan Perang Korea. Tidak ada foto-foto yang menggerakan emosi orang banyak. Perang Korea merupakan bagian dari pejuangan Dunia Merdeka melawan komunisme Uni Soviet dan RRC, hingga tak ada ruang secara ideologis untuk antipati pada kekejaman senjata tentara Amerika, kata Sontag.

 

Tugas Menamai

Ketika Barthes meyakini signifikansi sebuah foto selalu numpang pada signifikansi peristiwanya, Sontag meyakini memang si peristiwa itu harus didefinisikan dulu. Kesepahaman atas pelabelan peristiwa merupakan prakonsepsi dari ketersebaran citraan atasnya. Dengan begitu, citraan membuat kenyataan lebih terlihat nyata.

Penemuan camera obscura mendefinisi tempat-tempat mana saja di dunia ini yang “layak-potret”. Keberadaan kamar-gelap ini saja sudah mengangkat harkat ruang di mana ia ditempatkan, sebelum anda berkesempatan menikmati keindahan citra di dalamnya. Perkembangan kamera secanggih apa pun tidak meninggalkan prinsip pendefinisian ini, dan bukan hanya tempat, tapi segala objeknya. Maka bola salju bergulir terus: selembar potret membuka ruang partisipasi. Semua orang yang melihat foto bisa turut merumuskan signifikansinya. Jika anda memperhatikan foto seorang yang sangat cakap, anda punya keleluasaan untuk mendiskusikan kecakapan macam apa yang terlihat di situ. Suatu keleluasaan yang tidak akan pernah anda dapatkan dalam kehidupan nyata.

Saya sekarang membayangkan pilahan antara dunia-sebagaimana-adanya dengan dunia-sebagaimana-kita-lihat. Fotografi makin menjauhkan dunia-sebagaimana-adanya, lalu kita semua—seiring berbagai kemudahan dari pencanggihan teknologi fotografi—makin terampil menyatakan dunia-sebagaimana-kita-lihat.

( Panorama, 29 Juni 2007 )


 

* Makalah pada Diskusi “Seeing a Picture”, Komunitas Studi Seni Illuminati—Bandung, 29 Juni 2007

Daftar Bacaan

Barthes, Roland. 2000. Camera Lucida, London: Vintage.

Culler, Jonathan. 2003. Seri Pengantar Singkat: Barthes, Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Sontag, Susan. 1979. On Photography, London: Penguin Books.

Weatherford, Jack. 2005. Sejarah Uang, Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Situs Mayahttp://en.wikipedia.org/wiki/Camera_obscura

Omnipresence (Stanford Encyclopedia of Philosophy) http://plato.stranford.edu/entires/omnipresessence/


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Rieska, takjub saya membaca seluruh pengalaman rasamu atas dunia fotografi. Kata-kata tercurah, membentuk kalimat, alinea yang kemudian menjadi suatu bentuk kesatuan dari sebuah analisa rasa itu, berdendang demikian manis. Menghanyutkan. Andaikata catatan itu…, ya aku masih menganggapnya sebagai catatan yang belum selesai, alangkah indah bila kelak menjadi bagian dari sebuah novel yang manis, tentang pengalaman juru potret wanita Indonesia.

Baik, aku akan tunggu novel besar itu ya, Ries.

Komentar oleh Ani Sekarningsih




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s