Indonesia Art News Agency


Momentum Menjaga Tradisi, Memugar Jati Diri
Juli 14, 2007, 12:48 pm
Filed under: festival

250th Puro Mangkunegaran : A Reviving Movement

Teks oleh Muhammad Latief*

Ketika kokoh pondasi kian rapuh,

dan dinding – dinding putih semakin lusuh

oleh sang waktu yang tak henti menyepuh,

megah istana pun perlahan kian luluh,

lahirkan kegamangan, kobarkan kecemasan,

saat menyongsong angin yang terus meniupkan perubahan pada zaman

RENTANG waktu 250 tahun tentu sangat panjang. Dan muara kisah dibangunnya Puro Mangkunegaran adalah ketika R.M. Said, –atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa, menerima ajakan damai dan hidup berdampingan dengan Sunan Paku Buwono III. R.M. Said, yang selama ini turun naik gunung karena mengadakan perang gerilya, akhirnya mau keluar dari desa Danaraja menuju Surakarta. Saat itu, untuk sementara R.M. Said tinggal di rumah Tumenggung Mangkuyuda. Setelah melalui proses panjang antara pihak Belanda yang diwakili oleh Deler Nicholas Hartingh, Pakubuwono ke III, dan RM Said, pada Senin Legi, 5 Jumadilawal, tahun Alip Windu Kuncara, 1683 J/17 Maret 1757, diadakanlah Perjanjian Salatiga. Isinya, R.M. Said diangkat menjadi Pangeran Miji. Berdasarkan perjanjian inilah didirikan Puro Mangkunegaran yang letaknya di pinggir Sungai Pepe, –tempat yang telah dipilih sendiri oleh R.M. Said.

Selanjutnya, sejak itu pulalah istilah Puro Mangkunegaran digunakan secara umum karena dirasakan lebih tepat ketimbang menyebutnya Keraton Mangkunegaran. R.M. Said pun berhenti berperang. Memakai gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Hamengkunagoro yang mulai diperkenalkan pada tahun 1669J/1744M itu (Fananie, 2000: 104), R.M. Said memimpin Kadipaten Mangkunagaran.

Tahun ini, tepat memasuki usia 250 tahun, wajah Puro Mangkunegaran terlihat semakin menua. Tak terasa, kondisinya semakin rapuh. Sementara kini, keberadaannya bukan lagi sekadar saksi bisu sejarah dan budaya Indonesia, melainkan juga cagar wisata bagi siapapun warga dunia yang ingin menikmati keeksotisannya.

Pendapa Ageng adalah satu dari beberapa bangunan utama Puro Mangkunegaran. Seluas kurang lebih 3500 meter persegi, pendopo terluas di dunia itu kini membutuhkan perhatian khusus, mengingat beberapa bagiannya telah mengeropos akibat proses pelapukan. Di sisi barat pendopo, tampak beberapa pondasi atapnya telah ditopang bambu penyangga.Bangunan lain bernasib serupa adalah Langen Projo atau ruangan karawitan. Langen Projo telah melahirkan dan mendidik pemain-pemain gamelan Mangkunegaran dari berbagai lintas generasi. Sebagai catatan penting sejarahnya, gending “Ketawang Puspawarna” ciptaan Mangkunegara IV merupakan satu dari sequence 27 jenis musik di dunia yang pernah dibawa oleh para ilmuwan NASA ke luar angkasa.Berada di urutan kedua, –dengan durasi empat menit 43 detik, sesudah karya Bach, —Brandenburh Concerto No 2 in F, rekaman gending ini dibawa oleh NASA dengan pesawat Voyage untuk diperdengarkan di luar angkasa. Adalah Robert Brown, yang kemudian menuliskan kejadian itu di buku Murmur of Earth: the Voyager Interstellar Record (Random House New York, 1978).

Kini, ruangan Langen Projo pun sama pentingnya untuk diberi sentuhan pemugaran. Lantai bangunannya rusak, atap mulai berlubang, serta dinding yang berlumut dan kusam.

Sementara itu, di sisi barat Puro, kondisi kompleks Prangwedanan sebagai bangunan bersejarah Puro lainnya pun demikian. Kondisi Panti Putro atau bangunan yang di zaman dahulu merupakan tempat para calon raja “dipingit” menjelang aqil baliq (dewasa) dan menyandang gelarnya sebagai raja, itu misalnya, mulai porak poranda dan tidak memungkinkan lagi dihuni. Tidak adanya dana perawatan membuat sekolah dasar “Siswo” yang dulu terkenal di situ kini beralih fungsi sebagai gudang penyimpanan barang inventaris Mangkunegaran.

Di bidang pendidikan formal, Puro Mangkunegaran sebetulnya ikut menyumbang andil besar bagi Kota Solo dan sekitarnya. Lagi-lagi, hanya karena tidak ada dana perawatan, bangunan-bangun sekolah di lingkungan Puro kini kurang terawat baik. Bangunan “Siswo” untuk tingkat SMA di sisi kanan gerbang utama Puro Mangkunegaran, contohnya. “Gedung Sekolah” itu kini pun semakin tak terawat.

Rasanya, nasib bekas markas ‘Kavallerrie – Artillerie’ pun hanya sebatas kenangan kejayaan masa lalu Puro Mangkunegaran. Menghadap alun-alun Mangkunegaran, keberadaannya yang tinggi menjulang dan kokoh sebagai pusat perhatian publik itu kini tak lagi disertai perawatan memadai.

Dibangun sejak 1874, dinding bangunan markas kavaleri itu kini tampak berlumut hitam dan keropos. Jendela-jendela besi nan kekar digantikan dengan papan kayu yang kini kian melapuk. Sementara itu, istal-istal kuda peliharaan telah kosong, tak lagi tampak megah dihuni kuda-kuda gagah milik prajurit dan bangsawan Mangkunegaran.

Galang Dana dari Pesta Seni Budaya

SEBAGAI salah satu bangunan bersejarah, keberadaan Puro Mangkunegaran dilindungi oleh Monumenten Ordonantie tahun 1931 No. 238, yang kemudian diperkuat dengan Undang-undang No. 5 tanggal 21 Maret 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Alhasil, kiranya, Puro Mangkunegaran perlu mendapatkan perhatian serius dalam upaya penanganan perawatan maupun perbaikannya.

Sejauh ini, sentuhan renovasi atau pemugaran terhadap bagian-bagian Puro Mangkunegaran yang mengalami kerusakan baru dilakukan pada bangunan Dalem Ageng. Sementara itu, penanggulangan kerusakan atau penurunan kualitas pada bangunan di beberapa tempat lain Puro Mangkunegaran masih bersifat sementara. Seperti, misalnya, pemberian penyangga balok yang mengalami kelengkungan (defleksi), menambah plat pengikat pada pertemuan-pertemuan blandar dengan saka (kolom), atau menambal sirap yang keropos atau pecah dengan seng.

Memang, semua hal yang dilakukan tersebut hanya untuk menanggulangi semakin parahnya kerusakan yang terjadi, bukan memperbaiki secara menyeluruh sehingga secara kualitas, fisik bangunan Pura Mangkunagaran dapat dikembalikan pada kondisi yang seoptimal mungkin. Melihat keadaan seperti itu, kiranya penting diadakannya analisis renovasi secara serius dan tepat sebagai acuan pelaksanaan pemugaran secara menyeluruh pada kerusakan-kerusakannya.

Kiranya, kesadaran akan perlindungan dan pelestarian terhadap berbagai benda cagar budaya yang telah diwujudkan dengan terbitnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya harus menjadi tindakan nyata. Bahkan Pemerintah, dalam batas tertentu melakukan aktifitas konkrit dalam upaya pelestarian benda cagar budaya ini. Namun, dengan keterbatasan dana yang tersedia, serta kesadaran bahwa benda cagar budaya tersebut yang pertama-tama harus menjadi tanggung jawab dari pemiliknya dan kemudian masyarakat umum, maka tindakan Pemerintah dalam segala tingkatan lebih bersifat stimulan.

Ya, Pura Mangkunagaran bukanlah semata milik “pewaris tahta”-nya, namun juga merupakan milik kerabat besarnya. Kerabat besar, baik yang terhimpun dalam organisasi maupun yang tidak aktif, atau bahkan simpatisan, yang merasa mempunyai hubungan emosional sangat besar. Hal ini dapat terbaca dari berbagai aktifitas organisasi yang dilakukan, maupun keterlibatannya dalam berbagai acara kultural seremonial yang diselenggarakan Pura ini. Atau bahkan adanya lembaga-lembaga di dalam “Pemerintahan” Pura Mangkunagaran sendiri menunjukkan bahwa “lembaga adat” ini mempunyai masyarakat sendiri. Sudah tentu, hal-hal seperti ini adalah aset besar yang sangat perlu diberdayagunakan.

Karena itulah, kini bukan lagi saatnya menunggu. Sudah saatnya kita berbuat lebih nyata, demi masa depan Puro Mangkunegaran. Sebuah warisan berharga, bukan hanya milik bangsa Indonesia, melainkan juga warga dunia.

Maka, seiring momentum “250th Puro Mangkunegaran: A Reviving Moment”, keluarga besar Puro Mangkunegaran yang terdiri Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, dan Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat, akan menggelar “Konferensi Pers dan Presentasi Penggalangan Dana Pemugaran Puro Mangkunegaran. Yang diselenggarakan pada 23 Juli 2007 jam 16.00 di Rumah Imam Bonjol – Jl Imam Bonjol, Menteng – Jakarta Pusat. Acara ini akan diisi dengan Macapat dan Pergelaran Tari yang sebagian besar akan dihadiri oleh para wakil duta besar di Jakarta dan para kerabat Mangkunegaran.

Menurut Ketua Umum Panitia, Gray. R. Satuti Y.S, acara presentasi tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian acara yang sebelumnya telah dimulai dengan Pergelaran Tari Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta & Selamatan Perjanjian Salatiga (16 – 17 Maret 2007) dan Lomba Macapat (3 Juni 2007). Selanjutnya, beragam hajatan seni-budaya, dan sejarah lain telah dirancang oleh panitia Peringatan 250th Puro Mangkunegaran hingga November 2007 mendatang.

Sebagai deskripsi singkat, puncak acara peringatan yang jatuh pada 9 dan 10 November 2007 nanti akan menyulap jalan-jalan utama Kota Solo dengan arak-arakan prajurit Puro Mangkunegaran yang akan diiringi riuhnya marching band berbusana khas budaya tradisional Mangkunegaran.

Keriuhan sejak pagi hingga petang hari tersebut juga akan diramaikan dengan gelaran pusat-pusat kerajinan dan budaya tradisional di sepanjang areal acara atau Alun-alun Mangkunegaran. I’ts a ll about Solo Tempoe Doloe! Di mana, mulai toko besar sampai dengan penjaja barang kerajinan dan jajanan kuliner pinggir jalan akan ambil bagian di acara ini.

Kemudian sehari berikutnya, keramaian acara akan diisi Peragaan Busana Tradisional Jawa Khas Mangkunegaran mulai era terdahulu sampai yang terkini. Selain itu, telah disiapkan pula jamuan makan malam dengan sajian kuliner khas Puro Mangkunegaran, senandung musik keroncong, serta pergelaran Tari Kolosal “Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya Puro Mangkunegaran”.

Khusus penyelenggaraan tari kolosal tersebut, panitia merancang keterlibatan sekitar 250 hingga 300 orang penari yang terdiri dari berbagai bangsa, etnis, dan suku, seperti warga negara Belanda, warga keturunan Tionghoa, suku Bali, Jawa, dan lain-lain yang akan melibatkan pasukan berkuda dan Gajah, serta Parade keluarga besar Puro Mangkunegaran & Sentono Abdi Dalem.

Acara ini juga terselenggara berkat kerjasama antara Idekami Communication dan dukungan PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program “Sampoerna Untuk Indonesia” yang memiliki visi sama dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, di antaranya seni musik tradisional Jawa.[]

Agenda Acara 250th Puro Mangkunegaran 9 Agustus 2007

Lokasi : Museum Nasional (Gajah), Jakarta Acara : Reperformance of Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta

18 Agustus 2007Lokasi : Puro Mangkunegaran – Solo Acara : Seminar Perjuangan Rakyat Mataram

19 Agustus 2007Lokasi : Kota Solo, Salatiga, dan sekitarnya Acara : Napak Tilas Tempat-Tempat Persinggahan RM.Said

7, 8, 9 September 2007Lokasi : Puro Mangkunegaran – Solo Acara :

– Peringatan Ulang Tahun Grup Tari Soeryosumirat

– 140 Tahun Rekso Pustoko (Perpustakaan Mangkunegaran)

9 & 10 November 2007Lokasi : Jalan di Sekitar Puro Mangkunegaran, dan Puro Mangkunegaran Acara : “Solo Tempo Doeloe” : Pesta Seni Budaya dan Pasar Rakyat

11 November 2007Lokasi : Puro Mangkunegaran – Solo Acara : Pergelaran Tari Kolosal Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya Puro Mangkunegaran

2009

Jenis : Penerbitan Buku Pustaka Materi : Buku Pustaka “250 Tahun Berdirinya Puro Mangkunegaran.

M. Latief – Head of Public Relation Idekami CommunicationPhone : 021 766 9870 Fax : 021 759 04 530

Mobile : 0812 829 1263

Email : latipuscaverius@yahoo.com, purel_idekami@yahoo.com


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Bagaiamana masyarakat umum bisa mengikuti acara2 memperringatai 250 tahun mangkunegaran?

Saya keturunan jauh ( grat ke 6 ) dari MN II, apakah masih mungkin terlibat di mangkunegaran?

Komentar oleh gunawan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s