Indonesia Art News Agency


Ada Apa di Nusantara?
Juli 23, 2007, 2:20 pm
Filed under: visual arts

gathering.jpg

Catatan dari Pameran Seni Rupa Nusantara dan Seminar “Membangun Dinamika Seni Rupa Indonesia”, Galeri Nasional Indonesia Juli 2007 

Teks oleh Heru Hikayat*
 

Galeri Nasional Indonesia kembali menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Nusantara. Tahun ini kali ke-5, setelah yang pertama diselenggarakan tahun 2001. Seperti tampak dari judulnya, pameran bermaksud menampung perkembangan seni rupa di wilayah Nusantara.

Kali ini Galeri Nasional (Galnas) membuat 2 terobosan. Pertama, pemilihan karya-karya dilakukan dengan cara penerimaan ajuan terbuka; memberi kesempatan bagi semua pihak untuk mengajukan diri atau berbagai kemungkinan yang bisa jadi tidak diketahui pihak Dewan Kurator Galnas sebelumnya. Kedua, jika dulu pameran didampingi pertemuan Perupa Nusantara, tahun ini pameran didampingi seminar yang pemilihan makalahnya juga melalui perekrutan terbuka, hingga terkumpulah tesis-tesis dengan ragam isu.Pameran dibuka 10 Juli lalu, berlangsung hingga 27 Juli 2007. Seminar berlangsung 12 – 13 Juli 2007.Menyaksikan isi pameran, sepintas langsung terasa mengecewakan. Sebabnya sederhana, pameran dipenuhi dengan karya lukisan pada kanvas. Kenapa hal ini begitu penting? Ini berhubungan dengan pendakuan “Nusantara” pada judul kegiatan, bukannya “Indonesia”.

Kegiatan dijuduli “Demi Mas[s]a”. Permainan tanda baca dalam judul dimaksudkan mengutarakan arti ganda: masa sebagai waktu dan massa sebagai khalayak. Pada esai katalog, Rizki A. Zaelani (anggota Dewan Kurator Galnas dan kurator pameran) mengutarakan pemikiran Sanento Yuliman. Dalam bahasa saya, yang penting adalah peringatan Sanento Yuliman tentang bahayanya penerapan paradigma fine art dalam akademi seni. Istilah fine art dalam khasanah Bahasa Inggris mengadopsi dari Académie des beaux-arts-nya Perancis. Akademi ini dianggap memetakan akademisme dalam seni di Eropa. Fine art adalah seni tinggi meliputi (terutama) seni lukis dan seni patung; dibedakan dari seni massal (dalam lingkup budaya populer), seni terapan dan kria. Istilah ini kemudian diadposi menjadi “seni murni” yang hingga kini masih dipakai di akademi. Akronim FSRD menunjukan paradigma terpilah ini: Fakultas Seni Rupa dan Desain. “Silahkan menafsir apa maksud kata ‘dan’ di situ..”, tulis Sanento. Ia menyebutnya “estetika yang merabunkan”: seni rupa mengutamakan seni lukis dan seni patung; lalu berbagai-bagai kreasi tenunan, rajutan, ukiran, keramik, lukisan kaca, wayang, batik, busana, dan banyak lagi, terpinggirkan.

demi-massa.jpg

Kini sebagian orang lebih suka menggunakan istilah seni visual daripada seni rupa. Karena “seni rupa” mengingatkan pada hirarki fine art, dan “seni visual” dianggap lebih bisa menampung keragaman khasanah visual.

Nusantara saya kira lebih merujuk pada entitas kepulauan Nusa Antara itu; bandingkan dengan Indonesia, yang namanya pun penemuan orang Eropa dan batas-batasnya terwarisi dari wilayah kekuasaan Hindia-Belanda. Indonesia sebagai negara adalah reaksi atas penjajahan dan sama sekali tidak orisinal. Nusantara lebih menunjuk gejolak kultural yang telah lama berlangsung di wilayah ini—modernisasi/pembaratan hanyalah salah satu dampak dari berbagai-bagai interaksi lintaskultur. Secara gampangan, judul “Seni Rupa Nusantara” mestinya tidak menunjukan pemusatan pada fine art; sementara “Seni Rupa Indonesia” memang sudah kadung terpusat di poros Jakarta-Bandung-Jogja-Bali. Ketika saya menyebut poros, bukan dalam pengertian ruang fisik atau kelengkapan infrasturktur, lebih pada—sekali lagi—paradigma yang diterapkan. Dalam seminar, terjaring 14 makalah. Pemakalah dari Jawa berasal dari Banten, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Luar Jawa: Bali, Padang, dan Pekanbaru. Bagaimanapun tampak perbedaan antara makalah dari poros Bandung-Jogja-Bali (tidak ada pemakalah dari Jakarta) dengan dari luar poros.Pada sesi Seniman dan karyanya, Kuss Indarto (Jogja) menyoal perkara identitas pada karya Entang Wiharso. Hardiman dan Wayan Sunarta memaparkan terobosan artistik dari seniman Jro Dalang Diah (lukisan kaca Nagasepaha) dan Dewa Putu Mokoh.

ali-robin.jpgKedua pemakalah dari Bali ini tampaknya berupaya menunjukan kemodernan pada genre seni di Bali yang biasa dianggap “tradisional”. Pada sesi ini, Riadi Ngasiran dari Surabaya mengimbangi dengan bahasan mengenai Saiful Hadjar, tokoh dari pembaharuan gerakan seni dan “aktivisme”. Zaenudin Ramli dan D.A. Hamdani dari Bandung tampil pada sesi Sejarah dan Sosiologi. Zaenudin menyoal kemodernan seni rupa Islam atau mungkin ke-Islaman seni rupa modern dalam Festival Istiqlal. Hamdani menelisik relasi kelas dan selera pada kasus lukisan Mooi Indie.Dari Jogja, tampil pada sesi yang sama, Kasiyan M.Hum. Ia patut mendapat kredit tersendiri karena ia satu-satunya yang mengangkat masalah gender: dominasi seni lukis dalam seni rupa berbarengan dengan dominasi laki-laki. I Ngurah Suryawan (Bali) menelusuri relasi seni dan kuasa; menunjukan soal politik identitas dan pembentukan citra Bali. Para pemakalah ini—dengan di sana-sini tersendat kekurangan penyuntingan dan kekaburan proposisi—menelisik kemodernan seni rupa Indonesia. Telisik lanjut mulai terasa membentur suatu masalah sejak Gito Waluyo (Banten) tampil pada sesi Sejarah dan Sosiologi. Ia sedianya memaparkan ketokohan kakak beradik Agus dan Otto Djaya dalam perkembangan seni rupa Banten. Tapi ia bukannya menelisik pengaruh kedua perintis seni lukis modern ini bagi seni rupa Banten, juga tidak soal perkembangan artistik. Ia hanya menyatakan ketertinggalan Banten dari dinamika perkembangan seni rupa Indonesia. Ketertinggalan inilah masalahnya. Soal ketertinggalan lebih kentara pada sesi Jejaring dan Infrastruktur oleh Tubagus Svarajati dan M. Slavi Handoyo (Semarang) dan Mirza Adrianus (Pekanbaru). Pada sesi yang sama, Ibrahim (Padang) sedianya menyoal sentralisasi dan desentralisasi dalam hubungannya dengan soal apresiasi. Tapi ia malah berkutat dengan proposisi yang tidak jelas menyangkut kekhawatiran luputnya perhatian pada khasanah budaya lokal. Mahmoud Elqadri (Semarang) maunya menyoal ketidak-jelasan dalam seni rupa kontemporer kita. Tapi ia pun terjebak pada ketidak-efisienan terma modern-postmodern dan kekontemporeran.

Mengentaranya soal ketertinggalan pada sesi terakhir (Jejaring dan Infrastruktur) membuat Hamdani kembali mengingatkan teladan Soedjojono. Ia mempertanyakan, kenapa ada sikap inferior dari teman-teman “daerah”, padahal Soedjojono dulu sudah mendobrak tindak dan pemikiran elitis dari kaum kulit putih dan kaum ningrat pribumi.

Saya jadi teringat Orientalisme-nya Said. “Timur adalah diciptakan” kata Said, atau lebih tegas lagi: “ditimurkan”. Saya menafisr Said seperti ini: Tidak ada Timur apa adanya, yang ada “Timur sebagaimana diketahui oleh Barat”. Upaya I Ngurah Suryawan menunjukan relasi kuasa dan seni, menyangkut pembuktian teoritis bahwa tidak ada Bali sebagaimana adanya, yang ada adalah citra Bali yang dibekukan. Jangan-jangan model Orientalisme terjadi dalam skala kecil di Indonesia: Jawa memandang Luar Jawa, atau mungkin Jakarta memandang seluruh yang lain. Ada contoh kecil terlontarkan Mirza Adrianus, tentang teman-teman perupa di Tembilahan – Indragiri Hilir. Mereka harus menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan kanvas dan cat. Mengapa harus memaksakan membuat lukisan pada kanvas kalau situasi menyulitkan seperti itu? Jawabannya adalah karena lukisan-kanvas merupakan standar dari “pusat”. Bagaimanapun caranya, standar dari pusat harus dipenuhi. Pada sebuah kesempatan berbincang, kurator Rifky Efendy menyebutnya “korban sejarah”. Saya menafsir pada demonstrasi teoritis I Ngurah Suryawan terkemukakan satu hal: ketika lukisan “tradisional” Bali di-modern-kan dengan berpindah ke kanvas secara bersamaan proses pembekuan citra Bali menjadi  pandangan ala Barat yang stereotip terjadi.

“Daerah” inferior di hadapan “pusat”. Dalam hal ini, memang ada teladan dari Soedjojono. Hal paling subtil dari Soedjojono adalah ke-Aku-an. Bukan Aku seperti dibilang Chairil Anwar: “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”; bukan itu, melainkan Aku yang setara.[]

(P.S. Terima Kasih buat Aminudin T.H. Siregar atas kajian “aku” Soedjojono)

* Kurator dan Pengelola Kanto Beritaseni Indonesia, email : setiaphari@yahoo.com

* Foto dokumen Galeri Nasional

           

            


11 Komentar so far
Tinggalkan komentar

ru,
kalau begitu honor dibagi dua..

hehehehe..

Komentar oleh aminudin th.siregar

cok, lebih enak seperti waktu cerpen Rumah Kurator itu: bukan honor dibagi dua, tapi aku traktir kamu ngebir. tapi kamu udah gak ngebir lagi sih…

Komentar oleh Heru Hikayat

abang2 sekalian, maaf baru tau [ada] komunitas blog seni up to date kaya begini. Boleh saya ikut nimbrung?
PS: acara ngebir? wah wah….ikut bole😛

Komentar oleh ekoyagami

gw juga nimbrung ah
salut ma yang kelola. gila update banget..
gw lebih kaget daripada si ekoyagami.
gw harus ikut tuh acara (ngebir)

Komentar oleh akew

kan? aku dah bilang same kawan aku yg multi talenta (namenye indra ae’) kalo pameran tu hanya bentuk laen dari ‘pemetaan’ yg dimaksud kang heru di atas.
tapi, mane ade yg mo dengar cakap orang non-akademis cam saye ni….:(

Komentar oleh rul iswan

bung rul iswan, saya ngga ngerti nih maksudnya pameran adalah bentuk dari pemetaan, juga saya tidak menangkap indikasi bang Heru Hikayat tentang pameran adalah ‘pemetaan’. Dia cuma mengkritik tentang content dari acara Pameran Seni Rupa ke-5. Tentang pendapat yang bersirobok dengan pendapat dia.

Diskusi dan pendapat di forum blog model begini emang menarik yah, ga ada batas kau lebih pintar dan aku lebih bodoh. Yang ada hanya argumen masing2. So, jgn takut dong kalo emang direndahin ama orang akademis, tulis di forum jagat maya aje ^^

Komentar oleh ekoyagami

oooohhhhh….shittttttttttt?????????

Komentar oleh vanya

loh emang nulis disini ada honor ya? wah boleh tuh

Komentar oleh Rifky Effendy

mana nh data2 tentang ukuran 2nya???

Komentar oleh adnin

terimasih atas tulisannya🙂.. sangat membantu say menyelesaikan pekerjaan saya😀

Komentar oleh laurensia

q bingunkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

Komentar oleh paijo




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s