Indonesia Art News Agency


IN BED WITH AYU UTAMI
Juli 29, 2007, 8:13 pm
Filed under: Literature

oleh Saut Situmorang*

Ada 10 + 1 cara untuk membawa Ayu Utami, Si Parasit Lajang, ke tempat tidur: (1) jangan janjikan perkawinan, karena (2) itu tidak dirasakan perlu, karena (3) dia memang tidak peduli soal itu, walau (4) sebenarnya sih dia juga amat peduli, cuma soalnya perkawinan itu kan sebuah konstruk sosial, sebuah idealisasi, sebuah mitos yang disejajarkan dengan kelahiran dan kematian, yang melanggengkan dominasi laki-laki atas perempuan, terutama perkawinan antara satu laki-laki dengan beberapa perempuan atau poligami. Idealisasi perkawinan masyarakat patriarki yang kebanyakan merugikan kepentingan perempuan itu (poligami dan kekerasan domestik) telah membuatnya (5) trauma, bukan terhadap laki-laki (seperti yang dikira banyak orang, misalnya seorang ibu pendakwah di televisi) tapi justru terhadap sesama perempuan! Para sesama perempuan ini, yaitu “perempuan-perempuan pemuja perkawinan”, tidak sadar bahwa mereka telah tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki dengan sikap mereka yang mengagungkan arti perkawinan antara laki-laki dan perempuan [tentu akan sangat menarik, bagi kita, untuk mengetahui apa yang terjadi pada perkawinan pasangan lesbian dan gay, kaum queer itu, dalam masyarakat patriarki, menurut Ayu Utami!] dan sikap mereka itulah yang membuatnya trauma.

Para perempuan tersebut telah jadi pencemburu, pendengki pada perempuan lain karena mereka tidak mendapat suami, tidak laku, perawan tua. Sindrom perawan tua inilah yang jadi trauma, jadi luka itu, dan untuk menunjukkan bahwa sindrom perawan tua itu juga cuma sebuah konstruk sosial, maka perkawinan antara laki-laki dan perempuan mesti ditolak. Tapi walaupun perkawinan adalah sebuah konstruk sosial, tidak begitu saja orang bisa memasukinya. Diperlukan juga (6) bakat untuk merealisasikannya dan faktor ini pula yang tidak dimiliki Ayu Utami. Tidak adanya bakat untuk segala yang formal dan institusional telah juga membuatnya menolak perkawinan antara laki-laki dan perempuan.

(7) Demografi juga sebuah faktor menentukan, menurutnya. Perkawinan antara laki-laki dan perempuan tidak menarik baginya karena adanya tuntutan untuk menghasilkan keturunan, untuk beranak-pinak. Dia tidak mau menambah angka pertumbuhan penduduk dengan membelah diri dalam sebuah proses reproduksi.

Tapi, walau anti reproduksi genetik, Ayu Utami, ternyata, tidaklah anti (8) seks! Syukurlah. Siapa bilang seks itu tidak enak dan perlu, tidak menyebabkan ketagihan! Tidak ada itu free sex bahkan yang one-night-stand sekalipun, dan justru karena tidak gratis itulah maka kita kecanduan, bukan! Dan kalau (9) sudah terlanjur asyik melajang begini, untuk apa lagi sebuah perkawinan, yang nota bene cuma sebuah formalitas perizinan untuk berhubungan seks doang!

Kalau ada yang terkagum-kagum terpesona pada kelajangan yang parasit macam begini dan pengen tahu apa sih penyebabnya, maka ternyata semuanya ini bisa jadi begini hanyalah karena alasan psikologis, bukan ideologis ―(10) Ayu Utami cuma tidak mudah percaya kok! Kritis, bisa jadi. Bukankah merupakan sebuah bukti sikap kritis pertanyaan atas konsep perkawinan antara laki-laki dan perempuan dan reproduksi genetik berikut ini: “Tapi, siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi?”!Kesepuluh hal di atas merupakan (+1) “sikap politik seks”, “ideologi tempat tidur” yang mesti dipahami oleh setiap laki-laki yang ingin mengajak Ayu Utami tidur, walau cuma sekedar sebuah one-night-stand doang.

Tapi tentu saja ada detil-detil lain yang juga mesti diperhitungkan oleh setiap laki-laki pemuja Si Parasit Lajang penulis novel sensasional Saman ini. Bukankah, kata orang, sesuatu yang terlalu mudah didapat biasanya tidak meninggalkan kesan yang cukup menawan untuk dikenang? Cuma separuh ilusi, sesuatu yang cepat retak dan gagal menjadi abadi, menjadi fantasi. Easy-come-easy-go-ism.

Tubuh yang indah adalah sebuah foreplay yang mesti ada dalam ars sexuālis à la Ayu Utami. Jangan nyatakan birahimu dengan sekuntum mawar merah, itu mah udah kuno hah! Say it with your body, your hard and beautiful body! Ingat kan pepatah itu: Good man is hard to find, but hard man is good to find! Sebagai laki-laki Dunia Ketiga, kau tentu suka nonton film action Hollywood atau mini-series di televisi, bukan? Nah, tipe laki-laki bertubuh ideal Utamian itu adalah si jago karate asal Belgia Jean-Claude van Damme (terutama waktu dia masih memakai gaya rambut cepak Magelangan itu) atau si dewa laut David “Baywatch” Haseldoff. Sexual politics posmo, atau post-Kate Millett feminism, telah mengharuskan laki-laki untuk juga memiliki tubuh yang indah dan menggairahkan perempuan. Militer dan olahragawan adalah sexual symbols abad 21 ini, bagi Sang Ayu. Kekuasaan para senator-orator Athena sudah berlalu, sekarang adalah zaman para gladiator Sparta. Untuk produk lokal, mungkin semacam blasteran antara Taufik Hidayat dan… Wiranto! Jangan lagi jadi anggota Taman Bacaan dan tenggelam dalam komik (yang underground sekalipun), apalagi Kho Ping Hoo. Mulailah ikut aerobics atau Tae-Bo. Karena good man is hard to find, but hard man is (van damme) good to find!Dulu perempuan adalah korban pasif dari ideologi wham bam, thanks mam perkawinan patriarki, tapi sekarang politik kesetaraan jender telah menciptakan para Parasit Lajang yang tahu dan memburu apa-apa yang mereka mau, khususnya soal anatomi tubuh. Revolusi selera ini juga bisa dilihat pada para selebriti pornografi terutama para artis film XXX, para bintang laki-laki BF, para superstar para Ayu Utami dunia.

Hal lain yang mesti diingat setiap laki-laki pemuja Parasit Lajang kontemporer adalah – nikmatilah seks! The pleasure of sex, kalau mau kebarthes-barthesian. Lakukanlah seks demi kenikmatan seks itu sendiri, sex for sex’s sake, bukan demi yang lain, apalagi demi mendapatkan keturunan. Kalau kau mampu nge-seks minimum 25 menit, dengan basa-basi awal tak lebih dari cuma 5 menit, maka kau sudah sangat dekat dengan fantasi Samanismemu! Kau sudah lulus ujian Kamasutra Jahudi yang berat itu! Kau sudah mengerti Sigmund Freudmu! Eureka!!!

Pernah nonton Sex and Zen, film alegori Buddhis yang berdasarkan novel paling lama yang pernah dicekal dalam sejarah peradaban manusia itu, yaitu sejak zaman Dinasti Ming Cina? Minimalisme koan Zen yang khas budaya samurai, dalam film tersebut, telah dikembalikan ke selera baroque fiksi wuxia daratan Tionggoan. Alegori menggantikan haiku, kungfu ketimbang kendo. Verbalisme ketimbang kematangan konsep. Feminisme radikal posmo yang dipretensikan oleh judul buku Si Parasit Lajang ternyata cuma mengingatkan saya pada slapstick pseudo-cersil Sex and Zen – yang dalam film tersebut dengan apik dibawakan oleh aktor eksil orang awak dari Petisah, Medan sono, Lo Lieh-locianpwe – tapi minus imajinasi film dimaksud.

Sangat sulit membayangkan betapa seorang novelis kontemporer, yang bahkan diklaim telah melakukan sebuah “revolusi estetika” dalam fiksi kontemporer Indonesia, ternyata begitu membosankan “coretan-coretan biografis pendeknya”, yang nota bene cuma ditulis untuk media cetak yang gaul, ngepop. Bahasa yang sama sekali nggak kita banget, terlalu prosais mirip tulisan-tulisan di majalah dinding sekolah menengah kota-kota besar Indonesia, plus isu-isu yang dalam perspektif “cultural studies koran” pun terasa begitu tidak newsgenic, cuma menambah kesan betapa permainan font, warna, dan ilustrasi Si Parasit Lajang terasa sangat superfisial, dibuat-buat, sekedar biar dianggap beda belaka. Arty-farty. Eufemisme pretensi kerendahhatian ambisi dalam disclaimer Pra-Gagas buku – bahwa Ayu Utami bercerita dengan “ringan” tentang “hal remeh yang merupakan jerawat di muka raksasa persoalan”, yaitu “berbagai peristiwa di sekitar” yang kita anggap “biasa” dan “cenderung” lewatkan, padahal “berasal dari persoalan besar yang sering tak [kita] sadari” – gagal untuk menyembunyikan klaim terselubung betapa besar sebenarnya misi yang dibayangkan diemban buku “Seks, Sketsa, & Cerita” Ayu Utami ini.

Sebuah contoh berikut ini saya harap bisa menunjukkan apa yang saya anggap sebagai salah satu kontra-diksi antara teks dan konteks yang merupakan persoalan besar yang tak disadari, mungkin karena dianggap “hal remeh” seperti yang dikesankan, tanpa ironi sedikitpun, oleh Pra-Gagas buku di atas.

Kalau kita hubungkan judul buku Si Parasit Lajang dengan kenyataan diri penulisnya yang hidup “kumpul kebo” dengan seorang laki-laki, maka di manakah “kelajangan” yang diklaim begitu heroik sebagai sexual liberation yang dibedakannya secara hierarki nilai dari perkawinan konvensional itu? Istilah “lajang” dalam bahasa Indonesia mempunyai arti seperti istilah “single” dalam bahasa Inggris, yaitu seseorang yang jangankan menikah, pacar pun gak punya. Jomblo 100%. Seseorang yang hidup sendiri tanpa pasangan, baik yang berbeda jenis kelamin (kalau heteroseksual, seperti Ayu Utami) ataupun yang berjeniskelamin sama (kalau homoseksual), atau “not involved in an established romantic or sexual relationship” menurut Oxford English Dictionary (OED). Bagaimana mungkin Ayu Utami bisa mengklaim dirinya sebagai seorang “lajang”, yang “parasit” lagi, padahal dia hidup kumpul kebo dengan seorang laki-laki! Kerancuan pemakaian istilah seperti ini cukup dominan dalam bukunya itu hingga menimbulkan kecurigaan atas pengetahuannya tentang topik-topik yang dituliskannya. Apa mungkin justru karena kekurangpahaman itulah yang membuatnya cuma bisa menghasilkan tulisan-tulisan “ringan” atas konsep-konsep yang dianggap sangat serius saat ini, terutama di kalangan feminis, di budaya Barat sana! Sebuah parasitisme konseptual![]

* Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta


17 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wah, kalo berhasil dapat nilai +9 nih Om!
he…., he….. udah berhasil belum om?

Komentar oleh k'baca

wuih…………Ayu Utama dah baca blm y?

Komentar oleh neen

menarik juga nih, penyair Saut S ternyata mengimpikan tidur dengan Ayu Utami. bolehlah ini kita kabari sama Katrin Bandel.

Komentar oleh Farji

sok atuh diimplementtasikan

Komentar oleh agus

gila!!!
ini perang baru ya?
udah biarkan saja para tentara2 bodoh terpropaganda untuk berperang!
sastra biarin berlalu tanpa perang,kalau kritik nggak masalah sih!!
kata itu adalah politik, dan ini adalah politik kata.

Komentar oleh cipaik

Wah…salut komentarnya.Kalo bisa Ayu si lajang komentar dong biar ngak hanya sekedar menulis hal yang biasa

Komentar oleh tozay

Bang saut aje gilee, selalu tidak jauh memainkan kata-katanya yang berbau selangkangan hehee, saya juga mau bang tidur sama Ayu Utami ,

**menungu komentar Ayu aja kali yah..

Komentar oleh Obic

Kenapa tulisan Ayu Utami lebih laris daripada tulisan Saut Situmorang?

1. Yang terhormat Tuan Situmorang gemar marah-marah sedangkan si Ayu senang menghina diri sendiri (self-deprecating). Tuan Situmorang menyebut dirinya penyair dan eseis dengan menyiratkan bahwa yang dikatakannya adalah hasil kontemplasi yang luhur dan bijaksana sedangkan si Ayu menyebut dirinya parasit lajang yang menyiratkan bahwa dia parasit lajang. Yang mulia Tuan Situmorang suka menyatakan pendapat dalam bentuk overstatement sedangkan si Ayu understatement. Tuan Situmorang yang terpelajar Tuan Situmorang mendapat kepuasan dari berbicara peyoratif tentang orang lain dengan menyiratkan pandangan amelioratif tentang dirinya sendiri sedangkan si Ayu sebaliknya. Pembaca, sebagaimana manusia pada umumnya, lebih mudah menerima suara yang rendah hati daripada yang angkuh. Kalau di sebuah warung kopi sedang duduk Tuan Situmorang di satu pojok dan si Ayu dipojok yang lain, saya tentunya lebih suka duduk di sebelah Ayu dan mengajaknya mengobrol daripada menghampiri Tuan Situmorang dan beresiko harus mendengarnya mencaci orang lain. Mungkin karena itu pula Tuan Situmorang menulis panjang lebar tentang cara mengajak si Ayu ke tempat tidur sedangkan si Ayu tidak tampak menghiraukan tulisannya itu apalagi memikirkan hendak mengakomodasi hasrat Tuan Sitomorang.

2. Yang terhormat Tuan Situmorang cenderung ceroboh dalam logika maupun retorika pengajuan argumentasinya sedangkan si Ayu cenderung hati-hati sehingga ia perlu baca-baca banyak dulu sebelum berkata dan kalaupun berkata ia cenderung memakai metafora supaya pernyataanya bisa tetap ambigu dan terhindar dari absolutisme. Tuan Situmorang mempermasalahkan benar tidaknya si Ayu seorang lajang mencari definisi kata “single” dalam OED (bukan KBBI) padahal di bagian lain tulisannya ia mengecam kebergantungan pada hasil kebudayaan Barat. Lagipula, orang yang kenal dengan perihal bahasa (apalagi seorang penyair) seharusnya tahu bahwa kata-kata dalam satu bahasa tidak sama maknanya apalagi definisinya tidak pernah sama dengan kata-kata dalam lain–paling-paling sepadan dan itupun kalau konteks dan registernya serupa.

3. Yang terluhur Tuan Situmorang menganggap humor slapstick dan tulisan bergaya majalah dinding tidak seluhur puisi dan esei (kalau memang bisa disebut demikian) yang ditulisnya. Padahal kita orang kebanyakan bisanya memahami, menghasilkan, dan mendapat kesenangan dari humor slapstick dan majalah dinding.

Kesimpulan:
Kita orang kebanyakan lebih suka membaca tulisan si Ayu (walaupun harus bayar) karena tampaknya Ayu berbicara seperti dan menempatkan dirinya setara dengan kita daripada membaca tulisan yang teragung Tuan Situmorang (walaupun gratis) karena jelas sekali ia seorang dewa. Kita orang kebanyakan lebih suka manusia daripada dewa.

Komentar oleh Ari Adipurwawidjana

ngarepin seorang ayu utami mengomentari tulisan seperti ini mah kek nungguin salju turun di Gurun Sahara… nga bakal peduli dia… lagian kenapa sih Saut ma istrinya Katrin itu suka banget mengkritik si Ayu, dendam pribadi, apa numpang beken??
**sori ya bukan bela ayu, cuman a little bit over aja komen2-nya Saut and wife…** ngak cape apa dicuekin (sama ayu)…

Komentar oleh yopie@intraco.co.id

Apakah ayu utami masih disebut vegetarian, kalau masih gemar mengkonsumsi daging? saya kira itulah persoalan mendasar yang diajukan oleh Saut terhadap Parasit Lajang: Ayu dalam kehidupan nyata ternyata sangat tergantung pada laki-laki, tapi dalam teksnya dia memperpropagandakan ideologi feminisme radikal. Saut melihat itu sebagai masalah: kesenjangan antara perilaku dengan konsepsi. Ini sama saja mempersoalkan bahwa apakah seorang pelacur pantas bicara moralitas atau tidak. Dan Saut menjawab: tidak pantas! Menurut saya, itu tidak adil. Tulisan ya tulisan, ayu ya ayu. Titik.

Komentar oleh kanis ehak wain

hahaha… mimpi tidur ma ayu! kalo ayu azhari sih boleh. ngapain ribut-ribut soal pribadi ayu. itu namanya termakan sensualitas tema sex dalam novel ayu. gak kritis. but, emang gak ada salahnya juga. namanya imajinasi kan gak isa ditahan-tahan. apalagi yang LIAR. Benar dari persp[erktif bang saut, apa yang ada dalam novel adalah cermin dari realitas. Bang saut benar satu hal tentang kaitan antara lajangnya ayu (apa dia juga pro kaum feminis atau penyimpangan? dan tema-tema novelnya. Jadi inspirasi atau bahasa pemberontakannya. Tapi,ayu menyumbang hal lain melalui novelnya yang meski disikapi kritis oleh pembaca. Kaitan antara seks, kekuasaan, militer dan religiusitas. Lantas, kita mau bilang apa tentang realitas dalam bangsa ini, dari perspektif ayu?? Ini kontekstualitas novel ayu.

Komentar oleh lalong kador

..apa ya bisa nanem biji kates ngarep panen semangka. aturan penetrasi biologis itukan aslinya dari syariat. Syariat kan produk ideologi. Lha wong idoelogi ruang batinnya saja belum terkonfirmasi ada tidaknya, bagaimana akan bisa dibuat kpikiran dengan produknya..

Komentar oleh nist

Ini Komentar Tidak Penting!
Weleh weleh… Tak kira Bang Saut belum menyerang sefrontal ini. Btw, saya pernah dekat2 Ayu waktu Landung Simatupang baca petilan “Bilangan Fu” di TBY, beberapa waktu lalu. Duh, auranya, meng******kan
sensor, takut ah sama golongan pro UU-APP. Wakakak…

Komentar oleh Individu Ini

Bang saut terlalu nyinyir :p

Komentar oleh Iyang

bang Situmorang pernah punya dendam ya ama ayu utami?Jgn2 abang pernah ngajak ayu utami ML tapi ditolak…Lucu ya…gak dapat jatah jadi ngambek…

Komentar oleh judika

tetap lebih menarik tulisan ayu….:D

Komentar oleh cenil

bukankah sebuah mutiara tetaplah mutiara meskipun ia keluar dari mulut anjing sekalipun

Komentar oleh saleho




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s