Indonesia Art News Agency


Dirada Meta: Sebuah Retrospeksi Gerak Tari Ciptaan RM Said
Agustus 3, 2007, 6:10 am
Filed under: traditional

Teks oleh Muhammad Latief*

Memperingati 250 tahun usia Puro Mangkunegaran, Solo, segenap kerabat Mangkunegaran yang tergabung dalam Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, serta Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat akan menggelar Reperformance (Pergelaran Kembali) Bedhaya Mataram Senapaten Dirada Meta”, pada 9 Agustus 2007 di Museum Nasional, Jakarta. Bedhaya Senapaten Dirada Meta (Dirodo Meto) merupakan satu dari tiga buah karya tari ciptaan RM Said, yakni: Bedhaya Mataram-Senapaten Anglirmendung (7 penari, pesinden, dan penabuh yang kesemuanya wanita), sebagai monumen perjuangan perang Kesatrian Ponorogo. (Sudah dipergelarkan di tiap acara “Jumenengan”).Bedhaya Mataram-Senapaten Dirada Meta (7 penari, pesinden, dan penabuh kesemuanya pria). Sebagai “monumen perjuangan” RM Said dan bala tentaranya di Hutan Sitakepyak.

Bedhaya Mataram-Senapaten Sukapratama (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), monumen perjuangan perang bedah benteng Kumpeni Yogyakarta.Ditarikan oleh tujuh penari dan tujuh pesinden pria, Dirada Meta terlihat berbeda dari bedhaya sebelumnya, yaitu Bedhaya Anglir Mendung yang ditarikan oleh tujuh penari wanita dan tujuh pesinden wanita. Konsep angka tujuh yang didasari oleh filosofi Jawa yang bermakna “Pitulungan”, serta merupakan jumlah tingkatan pelajaran ilmu tasauf dalam agama Islam.

Dirada Meta adalah bentuk kreatifitas seni RM Said untuk mengenang perlawanan dan jasa-jasa kelimabelas prajurit andalannya yang gugur di medan laga di hutan Sitokepyak, Rembang. Syahdan, dalam pertempuran tersebut, RM Said bersama prajuritnya dikepung oleh dua detasemen VOC Belanda, 400 pasukan Hamengkubuwono, serta sekitar 400 pasukan Pakubuwono. Kisah tersebut terjadi pada Senin bulan Syuro tahun Wawu 1681 atau tahun 1756, yang tercatat dalam diari pribadi RM Said, “Babad Lelampahan”. Bak seekor gajah liar, RM Said dan bala prajuritnya saat itu benar-benar mengamuk. Dus, dari situlah makna tari Dirada Meta diambil, yakni Dirada (gajah) dan Meta (mengamuk).

Ya, Dirada Meta adalah tarian Si Gajah Ngamuk. Sebuah gerak tari simbolis untuk mengenang perjuangan dalam mempertahankan bukan saja nyawa, melainkan juga harga diri RM Said dan rakyat Mataram terhadap penindasan VOC Belanda dan kroni-kroninya, ketika itu.

Terhitung, sudah lebih seratus tahun Bedhaya Mataram Senapaten Dirada Meta ini tidak lagi dipergelarkan di hadapan publik. Untuk itulah kiranya, pada 9 Agustus 2007, bertempat di Museum Nasional, Jakarta, nanti, tarian klasik khas Mangkunegaran ini akan kembali dipergelarkan setelah pada 17 Maret 2007 lalu telah dipentaskan sebagai ajang pembuka peringatan “250th Puro Mangkunegaran: a Reviving Moment.

Pergelaran kembali (reperformance) Dirada Meta merupakan sebuah cara untuk menjaganya dari “kepunahan”. Sebuah retropeksi tari hasil kajian sejarah dan penelitian mendalam para ahli sejarah dan sesepuh Mangkunegaran, serta para ahli tari dari Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, Group Tari Soeryosumirat, dan Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM).

Pergelaran Kembali (Reperformance) Dirada Meta adalah pergelaran tarian klasik khas Mangkunegaran. Sebuah gelaran seni dalam rangka menggalang dana bagi pemugaran Puro Mangkunegaran memasuki usianya yang ke-250 tahun ini.[]

* Head of Public Relation 250th Puro Mangkunegaran Solo. Kontak Office: 021 7669870, Mobile: 0812 829 1263


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s