Indonesia Art News Agency


Elegi Ruang Pertautan
Agustus 7, 2007, 1:23 pm
Filed under: visual arts

Teks oleh Setiaji Purnasatmoko 

Sebuah pembacaan sekian halaman awal dari Ruang Sosial Lefebvre,

seiring menyambangi Konstelasi Abu-abu Arief Tousiga

 

Seseorang bernama Lefebvre, menyatakan kembali apa yang sudah lama dialami oleh khalayak pada umumnya. Katanya, alam atau nature tidaklah memproduksi, melainkan mencipta. Apa yang diciptakan alam, sebutlah itu ‚keberadaan individual’, semata-mata hadir menyorong ke muka, semata-mata muncul. Pohon, bunga, buah bukanlah produk bahkan meskipun ia berasal dari kebun. Alam tidak bisa beroperasi menurut arah pikir atau teleologi yang sama sebagaimana manusia. „Keberadaan“ yang diciptakannya adalah kerja-kerja dan masing-masing kerja memiliki keunikan tersendiri kendati tergolongkan ke dalam genus atau spesies : sepucuk pohon adalah pohon yang khusus, sekuntum mawar ya mawar yang khusus, pun seekor kuda adalah kuda khas tersendiri. Alam berada di ranah kelahiran : benda-benda lahir, tumbuh, membusuk dan mati. Realitas yang berada di belakangnya tiada berbatas. Ruang alam bukanlah pentas atau panggung yang tergerai dalam batas-batas. Pertanyaan mengapa begitu, di hadapan alam menjadi pertanyaan tak bermakna : sekuntum bunga tidak paham mengapa ia bunga, sebagaimana kematian yang tak paham mengapa ia mengunjungi seseorang.

Kemarin-kemarin hari sebagian kita ngobrol perkara Amor Fati, semacam jelajah intim menyelami takdir dan lalu kematian, seuntaian tema di baliknya kita merasakan realitas yang tak berbatas itu. Kebetulan atau tidak, percakapan sore tersebut bergulir enakeun. Percakapan yang nyaman menghantar ke hadapan pintu-pintu ruang pertautan.

Omong perkara pertautan, di balik pintu dan pagar itu, demikianlah dahulu pada masanya, tergerai ruang publik dan di dalamnya ada komunitas. Komunitas terdiri dari individu-individu yang huniannya terhimpun dalam lingkungan berdekatan (cluster) yang membentuk entitas komunitas tak terpisahkan. Pada ruang publik demikian, kehidupan pribadi berbaur dengan kehidupan publik : yang personal, sedikit banyak, menjadi yang komunal. Dikabarkan oleh Janet Biehl (1998), di balik pintu-pintu pribadi mereka, orang-orang menikmati dan bergelut dengan tuntutan-tuntutan kehidupan pribadi; namun begitu ia keluar dari pintunya, ia memasuki dunia tempat ia diterima dan terbuka terhadap orang lain, bahkan dengan tingkat keakraban yang serapat kehidupan pribadi yang dijaganya. Di sinilah orang-orang bertaut satu sama lain dengan tidak melalui perantaraan telepon atau pesan tertulis, secara rutin atau kadang-kadang, dan pertautan yang berulangkali membuat antar mereka kian mengenal.

Terbentuknya ikatan-ikatan dalam sebuah wilayah publik bukanlah semata lantaran kesamaan kekerabatan atau etnik – kendati di beberapa bagian kota-kota, orang-orang dari kelompok etnis yang sama memilih hidup dalam lingkung ketetanggaan yang sama. Komunitas yang bertaut juga bukan semata karena kesamaan profesi dan tempat kerja. Meskipun yang terakhir ini bisa menghimpun orang hidup bersama, namun jika hanya itu pengikatnya, maka ia bernama barak pekerja. Alias karakter dasarnya tak juh berbeda dengan kamp konsentrasi Auschwitz, misalnya. Perkariban wilayah publik, utamanya, muncul karena adanya kedekatan tempat tinggal, sebuah locus sebagai poros yang menumbuhkan kolektif sebagai keberadaan tunggal yang dipayungi oleh ruang saling berbagi masalah dan kepentingan – misalnya masalah lingkungan, pendidikan, ekonomi – dan membentuk fondasi kehidupan sipil bersama. Pertautan antar anggota komunitas serupa ini, pada gilirannya menjadi embrio bagi ranah politik.

Namun, kembali kepada rekonstruksi Lefebvre, ia mencermati bahwa sejak medio abad 19 lahir realitas baru di beberapa negera industri maju. Realitas ini muncul mengagitasi populasi dan pemikiran lantaran ia memunculkan problema-problema yang tidak dengan sendirinya menyertakan solusi-solusinya. Persisnya, dibalik realitas tersebut, ia tidak menawarkan pancingan analisa dan jalur untuk tindakan yang jelas. Realitas itu adalah di wilayah praktis bernama industri, di wilayah teoritis bernama ekonomi politik. Keduanya bergerak bergandengan tangan. Nah, dalam realitas baru itu, bagaimanakah sebenarnya orang-orang pada masa itu berproduksi – yakni mereka yang menggelar klaim sebagai yang bertanggungjawab demi pengetahuan (filosof, akademisi dan khususnya ‚ekonom’), atau mereka yang bergerak di wilayah aksi (politisi, kapitalis entreupreunneur)?

Dalam amatan Lefebvre, mereka berproduksi dalam langgam yang tampak solid, tak tertolak dan ‚positif’ sekaku dan segarang positivisme yang tengah meruyak. Sebagian menghitung benda-benda, menata objek. Sebagian melukiskan mesin-mesin; yang lain mensyairkan produk-produk mesin, dengan penekanan bahwa benda-benda yang diproduksi harus terpenuhkan sesuai target, yakni untuk pasar-pasar yang terbuka menyongsong benda-benda tersebut. Secara umum, orang-orang yang berproduksi ini menjadi kehilangan sentuhan pada kerincian-rumit yang kaya spektrum. Mereka mencebur ke dalam melulu lautan fakta. Kendati pada permukaannya kelihatan seperti ada dasar yang kukuh, upaya-upaya mereka toh meluput-lumatkan jejak-jejak.

Ya, yang paling tergerus adalah jejak-jejak alam. Lalu kita pun berada di masa kini, masa ketika alam sudah tergusur. Malah, menurut Lefebvre, persisnya ini perkembangan yang membikin mustahil untuk menghindar dari pengertian bahwa alam tengah dibunuh oleh anti-alam – oleh abstraksi, oleh tanda-tanda dan citraan, oleh wacana dan tentunya juga oleh dunia kerja, para buruh dan koeli beserta produk-produk. „Seperti juga Tuhan, alam tengah sekarat. Humanitas membunuh keduanya,“ ujar lefebvre. Adapun humanitas tiada lain adalah praktik sosial yang mencipta kerja dan memproduksi benda-benda. Kedua tindak itu, mencipta dan memproduksi, sama-sama memanggil buruh. Hanya dalam mencipta, buruh berperan sekunder sedangkan dalam memproduksi buruh berposisi primer.

Lebih jauh lagi dengan apa yang dinamakan sebagai tindakan atau aksi. Selalu terkait dengan tindakan, tergerai sebuah perguliran sedari awal hingga ujung bahwa keseluruhannya diorientasikan ke sebuah obyektif dengan memobilisasikan elemen-elemen spasial – tubuh, anggota badan, mata – termasuk material (batu, kayu, tulang, besi, kulit dsb) dan materiel (perkakas, bahasa, instruksi dan agenda). Lalu kita pun bertindak dalam ruang. Persisnya kita berada dan bergerak dalam jalur relasi-relasi dari sebuah tatanan, yang sifat geraknya menyerentak dan berkesesuaian (simultanitas dan sinkronisitas), yang dikenakan pada ruang fisik. Begitulah Arief ‚mengisi’ ruang fisik FO Cascade, McD Setiabudhi, Perpustakaan FSRD ITB dan lalu Selasar Sunaryo Art Space. Bukan kebetulan bahwa tempat-tempat itu tergolong ruang publik jenis kedua : ruang-ruang yang ada untuk dipakai bersama, berbasis fungsi. Di ruang publik jenis ini orang-orang berada karena sama-sama memakainya. Persis seperti yang terjadi di trotoar atau angkot. Berbeda dengan ruang publik jenis pertama yang sudah bukan hanya memakai tapi orang-orang saling bertemu, bercakap bahkan menghuni dan saling menghidupkan ruangnya, sebagaimana dikabarkan oleh Janet Biehl tadi.

Betapapun, kita masuk ke yang khas Lefebvre, sesuatu yang menyegarkan pandangan lama. Katanya, penentu dominan segenap aktivitas produktif bukanlah, sebagaimana dibayangkan oleh para Marxist bangkotan, oleh faktor-faktor konstan – sebutlah itu sejarah atau modal dan alat produksi – melainkan oleh sesuatu yang terus-menerus bolak-balik diantara temporalitas, kesementaraan : suksesi, proses penghubungan relasi dan spasialitas atau keruangan (keserentakan dan kesesuaian itu tadi). Kendati dibimbing oleh kesementaraan (ruang), namun gerak ini terpadu oleh orientasi menuju obyektif yang berarti juga pada fungsionalitas (tujuan dan makna tindakan serta energi yang digunakan untuk pemuasan kebutuhan) dan struktur yang tergelar dalam gerak (pengetahuan praktis, ketrampilan, gestur dan ko-operasi dalam kerja dsb).

Sebagaimana kita alami, dalam ruang yang seperti itu, relasi formal masih mengijinkan tindakan terpisah atau malah tindakan nyeleneh — katakanlah ini semacam sensasi otonomi dan independensi kreatif. Namun betapapun terpisahnya, betapapun posmo, kontemporer, maupun keukeuh realis-revolusionernya ekspresimu, (sebenarnyalah) ia menuju kepaduan utuh, ia bergerak dalam koherensi, saling berkaitan. Sialnya, relasi formal tersebut – oleh sebab temporer, bolak-balik tapi menerus — tidak bisa dideteksi dari prakondisi material dari setiap aktivitas individual maupun kolektif. Ini berlaku baik apakah tujuannya mau memindahkan batu, memenangkan game atau membuat objek simpel maupun rumit. Bukankah kita tak bakal menemukan tanda-tanda adanya tujuan, orientasi atau pun obyektifikasi pada bahan-bahan : resin, rangka, cetakan, studio, ucapan-ucapan, buku-buku, sebelum itu semua menjadi patung, bahkan sebelum patung ditempatkan di lokasi-lokasi terpilihnya?

Maka rasionalitas ruang menurut analisa ini bukanlah hasil dari kualitas atau properti tindakan manusia pada umumnya, atau kelas buruh, atau sesosok manusia, atau organisasi sosial lainnya. (Sehingga pertanyaannya, tampaknya, bukanlah seberapa jauh Konstelasi Abu-abu ini plain, serba datar, serba tawar atau seberapa jauh ia merupakan interpelasi.) Sebaliknya, demikian Lefebvre, rasionalitas ruang itu sendiri adalah muasal dan sumber – tidak secara berjarak, tetapi serentak; ia muasal yang tersembunyikan, yang berarti juga implisit terkandung dalam empirisme tak tertolak dari mereka yang menggunakan tangan dan perkakasnya, mereka yang menyusun dan mengaduk gestur, menghimpun dan menjuruskan energi sebagai fungsi dari upaya spesifik (tertentu).

Demikianlah, berbekal percakapan awal dengan orang Perancis yang menteorikan ihwal „Produksi Ruang“ seperti terurai tadi, diam-diam (bagi saya) Konstelasi Abu-abu mengantar kepada pertanyaan ‚Apakah kota merupakan kerja atau produk?’. Di sini kata „kota“ secara gampangan dan rileks saja, bolehlah kita sempit-sempitkan dan diganti menjadi „ruang publik“, „Selasar Sunaryo“, „Bandung Utara“, „Dago“ atau pun „Konstelasi Abu-abu“ : Apakah itu semua merupakan kerja atau produk? Sementara di sisi lain kita toh masih belum lupa bahwa masing-masing tersebut jelas bukan pohon, bunga mau pun kuda, yang kepada dirinya sendiri tak paham mengapa mereka mahluk indah. Lagian, bukankah alam sudah kita bunuh?

Demikianlah, sebagai produk saya akhiri dengan menyatakan bahwa saya sudah menunaikan tugas saya menyampaikan orasi ini. Sebagai kerja – sesuatu yang tak tergantikan dan unik – sejauh kita mungkin masih bisa membayangkan adanya, saya berharap contekan yang saya paparkan barusan bikin gatal kepala. Terima kasih.[]

Bandung, 24 Juli 2007 

*  Anggota kolektiof belajar Ekologi Sosial „Hijau Merdeka“

Rujukan

Henri Lefebvre, The Production of Space, edisi bahasa Inggris terjemahan dari Donald Nicholson-Smith, Blackwell Publishing, 1991

Janet Biehl, The Politics of Social Ecology-Libertarian Municipalism, Montreal : Black Rose Books, 1998


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

thank you artikel dan linknya yang sangat berguna untuk saya. Salam kenal ya.

Komentar oleh anna hape

Im a biology student. But Im really new In this…. Hope that anyone could help me to learn more in this term. Thanks before n’ after

Komentar oleh dion

oh… to anyone who deign, please send the article to this “radhiyah.rh@gmail.com”

Komentar oleh dion




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s