Indonesia Art News Agency


Membaca Ulang [Nasionalisme] Lukisan Raden Saleh
Agustus 8, 2007, 1:30 pm
Filed under: visual arts

Teks oleh Frino Bariarcianur

Image karya Suroso [Isur], “Lover”, Water color on paper, 2007

suroso.jpgSeni rupa modern Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Raden Saleh. Dialah orang yang banyak mempengaruhi dan mengilhami seniman Indonesia sampai saat ini. Untuk mengenang jasa-jasanya itu pihak Jogja Gallery menggelar Pameran Seni Visual 200 Tahun Raden Saleh bertema “Ilusi-Ilusi Nasionalisme”.

Menurut Mikke Susanto, kurator pameran, Raden Saleh adalah pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Bila mencermati jalan hidup Raden Saleh sangatlah menarik. Menurut Mikke sebagai masyarakat biasa yang menjadi pelukis istana Kerajaan Belanda dan mengikuti ke berbagai negara, banyak membuat karya yang menggambarkan suasana pemandangan, pertaruangan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini.

Tak bisa dipungkiri Raden Saleh adalah legenda seni rupa modern Indonesia sampai saat ini.

Karya-karya lukisan Raden Saleh pun dapat kita lihat di berbagai buku-buku yang menceritakan sejarah perkembangan seni rupa modern Indonesia dan salah satu karyanya terpajang di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan itu menggambarkan Penangkapan Pangeran Diponegoro [1857]. Karya tersebut memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan, diantaranya menurut Mikke Susanto, mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Pada karya itu kita dapat melihat sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda.

Dari perjalanan unik Raden Saleh dan keterampilannya melukis maka tahun ini, genap 200 tahun, Jogja Gallery mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati kembali lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Hasil seleksi ini dengan demikian merupakan ilustrasi pemahaman perupa saat ini terhadap lukisan Raden Saleh.

Dari undangan yang disebar sejak Juni 2007 lalu ke berbagai daerah, pihak Jogja Gallery menerima 104 proposal dari 78 perupa yang berasal dari beberapa dareah di Indonesia. Yogyakarta [27 proposal], Surabaya [6 proposal], Jawa Tengah [10 proposal], Semarang [4 proposal], Bandung [2], Banyuwangi [7 proposal], Malang [3 proposal], Probolinggi [3 proposal], Purwokerto [2 proposal], Sidoarjo [1 proposal], Pati [2 proposal], Pekalongan [2 proposal], Magelang [2 proposal], Bali [1 proposal], Mojokerto [2 proposal] dan tanpa alamat [2 proposal].

Adapun seniman yang lolos seleksi antara lain : Anang Asmara [Yogyakarta], Ahmad Sobirin [Yogyakarta], Dadi Setiyadi [Yogyakarta], Deni Junaedi [Yogyakarta], Ely Ezer [Banyuwangi], Gusar Suryanto [Sidoarjo, Jawa Timur], Imam Aabdillah [Yogyakarta], I Made Wiguna Valasara [Yogyakarta], Mulyo Gunarso [Yogyakarta], Putut Wahyu Widodo [Semarang], Riduan [Yogyakarta] dan Rudi Winarso [Yogyakarta].

Sementara seniman yang akan mendampingi perupa undangan dalam pameran ini yaitu : Abay D. Subarna, Agus Yulianto, AS. Kurnia, Astari Rasjid, Askanadi, Andy Wahono, Bambang Pramudiyanto, Bambang Sudarto, Budi Kustarto, Budi Ubrux, KH. D. Zawawi Imron, Denny ‘Snod’ Susanto, Dani Agus Yuniarta, Dyan Anggraini Hutomo, Doel AB, Eddy Sulistyo, Eddi Hara, Edo Pop, Eko Didyk ‘Codit’ Sukowati, Gatot Indrajati, Hanafi, Haris Purnomo, Heri Dono, Ivan Sagito, Melodia, Nana Tedja, Nanang Warsitho, Nurkholis, Pius Sigit Kuncoro, Pintor Sirait, R. Aas Rukasa, Rosid, Ronald Manulang, S. Teddy D, Samsul Arifin, Suraji, Suroso [Isur], Ugy Sugiarto, Willy Himawan, Wilman Syahnur, Yuswantoro Adi.

Mikke Susanto menyatakan ada 2 hal penting yang patut dicatat dalam proses seleksi kali ini yaitu pertama, masih banyak ditemukan kelemahan teknis dalam visual. Kedua, masih terlalu banyak gagasan klise dalam menangkap isu nasionalisme yang disodorkan dalam abstraksi kuratorial. Di lain pihak, pihak Jogja Gallery mengucapkan selamat kepada seluruh perupa yang lolos seleksi sekaligus menyampaikan penghargaan atas partisipasi dan atensi dalam pameran kali ini.

Pameran Seni Visual 200 Tahun Raden Saleh [Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia] “Ilusi-Ilusi Nasionalisme” akan dibuka pada Sabtu, 18 Agustus 2007, pukul 19.30 WIB, di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta. Menurut rencana Sardono W. Kusumo, maestro tari Indonesia akan membuka pameran dan berakhir pada 9 September 2007.[]

Kontak person:

Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073]

Jogja Gallery [JG]

Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta 55000, INDONESIA

Tel. +62 274 419999, 412021

Tel./Fax +62 274 412023

Tel./SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227

[1] jogjagallery@yahoo.co.id

[2] info@jogja-gallery.com

www.jogja-gallery.com


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Raden Saleh signed a portrait of himself, which was done by the German artist Vogel von Vogelstein in 1839, with his name and place of origin (Semarang). Besides that he wrote that he was born in the month of Mai 1811. This is the most relayable date of his birth we have. Your exhibition seems to be a little early.
.

Komentar oleh Dr. Werner Kraus, Passau, Germany

Saya setuju dengan DR. Warner Kraus.

Belakangan ini gempita perayaan yang meminjam kelahiran pelukis-pelukis tua Indonesia terselip kekeliruan yang cukup fatal. Apakah ini cermin dari riset yang tergesa-gesa, sehingga mengaburkan fakta? ataukan hanya kelatahan yang diiringi motif secara tidak bertanggung jawab kepada publik?

Komentar oleh Rene Richard

Frin, sejarah seni rupa Indonesia tentu saja bisa dilepaskan dari sosok Raden Saleh…

Komentar oleh Aminudin TH.Siregar

Aku sih pengennya begitu, Bung. Ada nama lain. Cuman beberapa kali cari literatur, termasuk yang ditulis Bung Ucok [aminuddin] selalu menyebut Raden Saleh sebagai pionir seni rupa modern Indonesia. Itulah sebabnya aku menulis kalimat pembuka sejarah seni rupa modern Indonesia tidak bisa lepas dari nama Raden Saleh. Aku berharap Bung bisa menjelaskan lebih detail lagi, kenapa Raden Saleh kok diperingati sampai saat ini? Thanks, atas koreksinya.

frino [west borneo]

Komentar oleh beritaseni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s