Indonesia Art News Agency


Islam tapi Mesra [Lanjutan Kisah Sajak Malaikat]
Agustus 17, 2007, 8:06 pm
Filed under: Literature

Teks oleh Heru Hikayat*

Hari itu Acep Zamzam Noor memakai kaos bertulisan “Islam tapi mesra”. Setahu saya dia penyair serius. Berarti dia tidak asal dalam segala hal menyangkut tulisan. Dengan kata lain dia tidak asal memakai kaos. Buktinya pada forum itu dia selalu ribut tentang kamera. Ia ingin tindak-tanduknya diabadikan oleh kamera. Ia sadar kamera. Dengan begitu dia juga sadar bahwa tindakannya yang terekam kamera adalah tindakan yang dipanggungkan. Sengaja betul dia naik ke “panggung” membawa teks Islam-tapi-mesra.  

 Forum-panggung tersebut adalah konferensi pers mengenai kasus pembredelan sajak Malaikat oleh koran Pikiran Rakyat (PR), dilaksanakan di kantor Cupumanik di Bandung, Selasa sore 14 Agustus 2007. Tampil bicara, Saeful Badar, Acep Zamzam Noor, Ahmad Subhanuddin Alwy, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya. Kecuali Tisna Sanjaya, semuanya penyair. Acep Zamzam Noor bergiat di Sanggar Sastra Tasik. Di situlah dia biasa bersentuhan dengan Saeful Badar. Ahmad Subhanuddin Alwy bergiat di Dewan Kesenian Cirebon. Kesamaan Alwy dan Acep Zamzam adalah mereka santri. Posisi santri menjadi signifikan karena pembredelan sajak Malaikat dibangun di atas argumen ke-Islam-an. Sementara Acep Iwan Saidi (AIS) adalah dosen dan bergiat di Forum Studi Kebudayaan ITB. Konferensi pers tersebut tampak menempatkan AIS sebagai akademisi. Tisna Sanjaya adalah perupa. Dalam hal ini, menurut saya signifikansi Tisna adalah sebagai sesama seniman korban bredel. Rasa solider ini memang terasa di konferensi tersebut. Hingga ketika Aminudin TH. “Ucok” Siregar memasuki ruangan (agak terlambat), dia langsung disambut hangat. Karena Ucok adalah kritikus-kurator yang dulu mengadvokasi kasus pemberangusan karya Tisna Sanjaya dan kemudian mengalami semacam pembredelan di koran PR. Konferensi pers menyerukan manifesto. Manifesto diklaim atas nama sejumlah komunitas. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung juga menyebarkan pernyataan. Bambang Q-Anees (dosen Universitas Islam Negeri Bandung) karena harus pulang cepat, menitipkan pada saya naskah pernyataan Koalisi Sastrawan Santri untuk diberikan pada Acep Zamzam Noor.

Tiga hal perlu dipaparkan di sini, pertama, masalahnya bukan tafsir bahwa sajak Malaikat menghujat akidah Islam. Sah sah saja ada orang atau pihak yang menafsir seperti itu. Masalahnya adalah tafsir itu kemudian dipaksakan hingga menutup pintu tafsir lain. Kemudian tindakan redaksi PR mencabut sajak Malaikat mengafirmasi tafsir tersebut. PR sebagai lembaga membenarkan bahwa sajak Malaikat menghujat akidah Islam dan karenanya harus dicabut lalu redaktur Khazanah harus dilengserkan pula. Dua tindakan ini setali tiga uang: PR, alih-alih memelihara kualitas kepublikan dirinya, malah memberangus.

Kedua, ada yang belum dikisahkan pada surat terbuka yang telah saya siarkan terlebih dahulu. Sehari setelah PR mencabut sajak Malaikat, pada terbitan 7 Agustus 2007, PR memuat surat pembaca dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Barat. DDII melontarkan 10 poin, menyatakan sajak Malaikat memang menghujat akidah Islam. Hanya satu poin perlu disebutkan di sini: DDII menyejajarkan Saeful Badar dengan “para penista Islam”. Salman Rushdie disebutkan sebagai contoh penista Islam. Amang, aktivis Teater Bolon Tasikmalaya mengingatkan forum dengan keras bahwa klaim tersebut telah punya dampak langsung pada anak-anak. Teater Bolon beranggotakan banyak anak-anak. Mereka menghormati Saeful Badar, sebagai penyair, sebagai senior, sebagai orang yang saleh. Ketika Saeful Badar disejajarkan dengan Salman Rushdie, itu sama saja dengan mengkafirkan Saeful Badar. Bisakah dibayangkan bagaimana klaim ini berdampak pada anak-anak di Teater Bolon?

Karena itu Acep Zamzam menekankan bahwa manifesto harus diantarkan langsung ke kantor PR. Harus ada surat pembaca yang menyangkal pernyataan DDII agar seimbang. Persoalan ini jauh dari selesai. Pernyataan DDII telah disiarkan dan berdampak pada keseharian maka harus ada pernyataan dengan bahasa yang sama lugas. Bahasa ala cendekiawan-akademisi tidak akan bisa mengimbangi dampak dari pernyataan DDII. Petang itu juga sebagian besar hadirin konferensi pers berduyun-duyun ke kantor PR untuk menyerahkan 3 naskah: manifesto itu, Pernyataan Sikap Koalisi Sastrawan Santri dan Pernyataan Sikap AJI Bandung. Hari ini, 16 Agustus 2007, dua yang disebut pertama dimuat di surat pembaca PR.

Ketiga, forum mendesak PR untuk membuka kembali ruang dialog berkenaan dengan kasus sajak Malaikat. Wacana harus digulirkan terus. Ketika wacana tidak bergulir, kekerasanlah yang tampil––untuk meminjam ungkapannya Romo Haryatmoko. Ruang dialog ini yang dibayangkan akan menggunakan bahasa cendekia-akademis. Mengenai hal ini, PR tampaknya sudah menutup pintu. Dalam catatan redaksi mendampingi surat pembaca dinyatakan bahwa dengan ini PR telah memfasilitasi, baik pihak yang pro maupun yang kontra. Polemik diakhiri.

Kembali pada kaos. Teks Islam-tapi-Mesra. Perhatikan “tapi”. Tapi, tetapi: kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang agak bertentangan atau tidak selaras (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Penggunaan kata “tapi” mendedahkan bahwa saat ini ke-Islam-an telah tidak selaras dengan ke-mesra-an. Wajah Islam itu sangar, pemarah. Saya kira karena inilah Koalisi Sastrawan Santri mengingatkan pada semua pihak untuk menampilkan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Allamin. Ini sama saja dengan menyatakan bahwa kaum Muslim telah melupakan wajah Islam yang merupakan rahmat bagi alam.[]

 

Bandung, 16 Agustus 2007

 

* Kurator seni rupa, tinggal di Bandung

 

LAMPIRAN

SURAT PEMBACA Pikiran Rakyat, Edisi Cetak – Kamis, 16 Agustus 2007

Pernyataan Sikap Koalisi Sastrawan Santri

MENYIKAPI fenomena mutakhir ihwal derasnya wacana keislaman di ruang publik, kami Koalisi Sastrawan Santri menyatakan sikap sebagai berikut.

1. Menyerukan semua pihak agar tidak menggunakan nama Islam untuk a. mengafirkan pihak lain (kelompok atau perseorangan); b) menuduh atau menghasut sesat tanpa protes pengkajian yang matang.

2. Menyerukan semua pihak untuk menampilkan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin dalam wujud memberikan kedamaian, keadilan, dan mendahulukan islah daripada perpecahan.

3. Mengingatkan semua pihak agar mendahulukan sikap adil dari pada kebencian (kepada pihak mana pun). “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak adil. Berlaku adillah; karena adil itu lebih dekat kepada takwa, dan bertakwalah kepada Allah (Al-Maidah:8).

4. Memohon kepada semua pihak untuk lebih merujuk pada ayat Walzamuhum Kalimat at-taqwa, Tuhan mewajibkan kepada kaum beriman “perkataan pengendalian diri” (Q.S. Al-Fath:26).

5. Meminta semua pihak untuk berefleksi bersama melalui teks berikut.

Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku…” (Q.S Al-Kahf:109). Lautan akan habis di hadapan kalimat dan ilmu Tuhan, tetapi kita sebagai wakil Tuhan, apa yang harus kita nyatakan? Tidak ada, kita tak menulis apa pun, buku yang ditulis abad ini pun tidak mencakup halaman penderitaan kita.Sejarah menyusun buku, dan kita menghadapi halamannya. Di abad ini, halaman kita tidak penuh dengan pertanyaan, penyelidikan, dan perdebatan bersemangat. Halaman kita bertuliskan pernyataan yang cemas, defensif, dan arogan: di abad ini, kita menghadapi tertutupnya halaman.Dulu, Islam telah membangun peradaban yang berpusat pada Alquran, pada buku. Pernahkah sebuah teks tunggal memainkan peran yang sedemikian penting dalam peradaban dunia? Pernahkah ada peradaban yang didasarkan pada sebuah teks, teks tunggal, sebelum teks ini? Bukankah Islam adalah peradaban bacaan? Namun, bagaimana suatu peradaban yang didirikan atas bacaan melupakan seni membaca? Mengapa umat dan kitab itu jadi meremehkan buku-buku dan wacana?

Tuhanku, Engkau mengatakan bahwa mereka yang melupakan Tuhan, maka Engkau menjadikan mereka melupakan diri mereka. Tetapi kini kami melupakan diri sendiri dan tidak lagi dapat memahami diri kami. Apakah karena itu, kami jadi melupakan seni membaca?

Kami mencaci diri sendiri atas pesimisme yang mengancam untuk membenci semua orang. Mengabaikan keajaiban dan keindahan Tuhan pada makhluk Tuhan, manusia, adalah suatu dosa. Meninggalkan halaman-halaman tanpa tulisan, perenungan, dan ketakjuban pada kuasa ilahiah juga dosa.

Kita telah kalah karena halaman kita ditulis oleh orang lain.

Satu-satunya kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa sekalipun ada perubahan abad, kita tidak menulis halaman baru. Namun, kami akan menunggu dan menciptakan suatu perayaan baru ketika kami dapat menemukan sebuah halaman yang bisa kita tuliskan.

Ar-Rahman telah mengajarkan Alquran, menciptakan manusia, dan mengajarinya pandai menilai (Q.S. Al-Rahman:1-4).Terima kasih.***

Achmad Subanuddin Alwy
Koalisi Sastrawan
Santri

 

 

Pernyataan Bersama

DENGAN ini kami menyampaikan tanggapan kami terhadap pemberangusan atas sajak yang berjudul “Malaikat” karya penyair Saeful Badar, yang pernah dipublikasikan melalui lembaran budaya “Khazanah”, suplemen Pikiran Rakyat,Pikiran Rakyat kemudian mengumumkan bahwa sajak tersebut dianggap tidak pernah ada. Sementara itu penyair Saeful Badar mendapat teror dan intimidasi dari kelompok tertentu. Sehubungan dengan kejadian tersebut, kami menyatakan. Sabtu 4 Agustus 2007. Oleh karena ada satu-dua pihak, antara lain yang mengatasnamakan organisasi Islam, yang menganggap sajak tersebut “menghina ajaran Islam”, dan melayangkan surat protes terhadap surat kabar tersebut, pengelola surat kabar

1. Hak tiap individu untuk mengungkapkan diri baik secara lisan maupun secara tertulis patut dilindungi. Dalam konteks tata kehidupan di Indonesia, perlindungan akan hak tersebut telah menjadi kesepakatan kolektif, bahkan dinyatakan secara tegas dalam konstitusi. Oleh karena itu, kami sangat prihatin dan turut menyesalkan pemberangusan atas sajak “Malaikat” karya penyair Saeful Badar. Kami juga sangat prihatin dan menyesalkan pendiskreditan nama baik penyair Saeful Badar, yang disebut-sebut seperti Salman Rushdie sehingga penyair Saeful Badar mengalami berbagai tekanan.

2. Kami juga menentang dan menyesalkan segala bentuk permutlakan tafsir atas karya seni dan sastra oleh individu dan golongan tertentu, serta menentang dan menyesalkan segala bentuk sikap yang tidak toleran. Pemutlakan tafsir dan sikap tidak toleran merupakan bentuk kekerasan simbolis yang bisa membuka gerbang ke arah berbagai kekerasan fisik dan psikis. Perbedaan pandangan, pikiran, dan sikap sehubungan dengan suatu hal sepatutnya tidak sampai menutup peluang bagi terwujudnya keadilan.

3. Kami juga menentang dan menyesalkan sikap dan tindakan yang cenderung membawa-bawa agama atau menekankan pertimbangan bernada keagamaan, sebagai tameng bagi pemutlakan dan pemaksaan sikap dan pandangan individu dan golongan tertentu. Janganlah mempermain-mainkan agama demi tujuan-tujuan yang sempit, picik, dan pendek.

4. Pada hemat kami, ruang publik sebagai wahana ekspresi kolektif perlu dipelihara dan dikembangkan. Dalam hal ini, kami menyatakan bahwa media massa, sebagai salah satu institusi sosial yang mengelola ruang ekspresi kolektif, sepatutnya dapat menjaga integritasnya sehingga tidak mudah dipermainkan oleh individu dan kelompok tertentu yang sikap dan tindakannya tidak sejalan dengan pemeliharaan ruang publik.***

( Bandung, 14 Agustus 2007, Komunitas Azan Tasikmalaya, Sanggar Sastra Tasikmalaya, Teater Bolon Tasikmalaya, Komunitas Malaikat Ciparay, Institut Nalar Jatinangor, Aliansi Jurnalis Independen Bandung, Forum Studi Kebudayaan ITB, Masyarakat Antikekerasan, Gerbong Bawah Tanah Bandung, BPK 01 Tasikmalaya, Study Oriented Culture Tasikmalaya, Teater Prung Jatinangor, Lingkar Studi Sastra Cirebon, Komunitas Cupumanik Bandung, Forum Diskusi Wartawan Bandung, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan, Ikatan Keluarga Orang Hilang, Lembaga Kajian Agama dan HAM Tasikmalaya, Rumah Kiri dan Forum Diskusi Wartawan Garut).

Acep Zamzam Noer
Penanggung jawab
Pernyataan Bersama

Catatan Redaksi [PR] : dengan dimuatnya dua surat pembaca ini, maka dengan kerendahan hati, kami menutup polemik mengenai masalah ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua ini. Terima kasih.


15 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Thank you updated infonya.

Komentar oleh Kang Adhi

Ok, kita liat besok siapa yang ngisi tulisan di khazanah….

Komentar oleh ekoyagami

Bung Frino, aku mulai pusing nih. Menurutku, di saat-saat genting seperti ini, kau harusnya ada di Bandung. Ngapain sih di Kalimantan, pacaran ya? haha…

Komentar oleh Heru Hikayat

Bung Heru, maafkan. Kalau aku di Bandung di saat-saat seperti ini bisa chaos hehehhehe….Aku gak pacaran. Hanya Bertapa di hutan.

Komentar oleh beritaseni

Ooo pantess, lagi menghutan ya. Awas lho kalo nebang-nebang, ntar diserbu Aauuuoooooo….

Komentar oleh aji

lho bukannya loe nongkrong di warkopang? menanti perempuan yang mau dipangku?

Komentar oleh adi marsiela

Assalamualaikum
Hidup Islam Tapi Mesra!
Jalan terus! Berkarya Terus!

(Ru, kapan ke Tasik lagi nih? Sono euy ngabako di GGM. Cuma, sayang kita gak punya tempat lagi di situ. Eh, di Gedung Kesenian juga kita malah jarang kumpul. Sareukseuk euy, teu kaurus. Kasian seniman yang dulu demo ingin GK. Salam juga dari Badar buat kau…)

Wassalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh

Komentar oleh Naz

Jika mesra kan enak.😀

Komentar oleh danalingga

Nah kan, deretan komentar ini mulai lucu: mulai menyimpang dari subjeknya ke hal2 pribadi, hahaha… gak pa2 lah ya, ini kan media yg dikelola pribadi2 juga. Nunu, ya, aku sudah lama tidak ke Tasik. Nu, kontak urang di setiaphari@yahoo.com.

Komentar oleh Heru Hikayat

Mas Heru sepertinya kegemasan, tapi maju terus pantang mundur…

Komentar oleh ibrahim

Halo, ini Ibrahim Padang bukan?

Komentar oleh Heru Hikayat

ARELING DULUR, KEBEBASAN T** ***** [sori di edit ya kata-katanya : redaksi]. SIDIK GEUS NGAHINA ISLAM. BOGA KENEH IMAH KA NUKAWASA TEU, NURANI DIKAMARANAKEUN? GEURA TOBAT, BISI DIAJAB DUNYA AHERAT KU ALLOH SWT

Komentar oleh KADE DIAJAB

mung Alloh nuterang saha nu kenging azab didunya sareng akherat.
hayu urang aremutan.

putra tasik.

Komentar oleh mahesa

hatur nuhun ok!

Komentar oleh arif AZAN

wah tulisan Heru mantap, akademis banget euy!
puas awak mbacanya!!!

horas!

Komentar oleh Saut Situmorang




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s