Indonesia Art News Agency


Mengapa Saya Menurunkan Sajak-sajak Saeful Badar?
Agustus 21, 2007, 10:42 pm
Filed under: Literature

Teks oleh Rahim Asyik*

TULISAN ini saya buat sebagai sebentuk pertanggungjawaban, barangkali pembelaan –bukan permintaan maaf– terhadap hal-hal yang terjadi menyusul terbitnya salah satu sajak karya Saeful Badar.

Kurang lebih dua tahun lalu saya menerima warisan “Khazanah” dalam citra yang karut marut (kata karut marut mungkin berasal dari harut marut. Harut dan Marut adalah nama sepasang malaikat yang diturunkan Tuhan di sebuah sumur di Negeri Babil. Kedua malaikat ini mengajarkan sihir kepada manusia sehingga dengan
sihir itu seseorang dapat menceraikan pasangannya (lihat Albaqarah: 102).

Pendeknya, ada juga ternyata malaikat yang tidak baik, tidak tunduk patuh seperti yang kita pahami sekarang).

Saya mungkin satu dari sedikit (kalau tidak bisa dikatakan satu-satunya) pengasuh rubrik seni budaya di Indonesia yang tidak berlatar sastrawan, penyair, atau seniman. Saya juga tidak berpendidikan sastra. Jadi, tak perlu aneh kalau pilihan saya akan karya sastra yang diturunkan di “Khazanah” buruk.

Ada banyak alasan mengapa saya menurunkan karya yang satu dan tidak yang lainnya. Salah satunya adalah memenuhi kaidah estetis. Bila diartikan secara sempit, itu berarti sesuai selera saya. Saya percaya, soal selera ini adalah pendorong utama yang menyebabkan seseorang menyukai sajak yang satu dan tidak yang lainnya. Selera tidak bisa diperdebatkan karena sifatnya personal, tetapi bukannya tidak bisa dirasionalisasi.

Selera yang baik muncul dari pengalaman yang panjang dan bacaan yang luas. Semakin luas pengalaman dan kaya bacaannya, selera orang itu akan semakin “bermutu tinggi”, tentulah secara intelektual. Semakin pula dia bisa mengupas kelebihan dan kekurangan sebuah sajak sekaligus memaknainya. Pada titik tertentu, selera tak bisa sepenuhnya dirasionalisasi.

Subagyo Sastrowardoyo dan A. Teeuw saja terlihat rikuh ketika harus mengupas karya sastra yang disukainya. Pisau teori yang dikuasainya mungkin akan mengupas wajah Karya yang disukanya itu jadi bopeng-bopeng di sana-sini. Harus kembali diakui, rasio serba terbatas.

Mereka yang pengalamannya luas dan bacaannya banyak umumnya menganggap Sajak “Malaikat” itu tidak bermutu, semacam sajak palsu. Itu sangat bisa saya mengerti dalam konteks di atas. Akan tetapi, kaidah estetis hanyalah salah satu pertimbangan saja. Terus terang, kadang dengan sadar saya mengabaikannya, meski tidak tega kalau sepenuhnya. Kejenuhan mengonsumsi sajak-sajak yang *mainstream* membuat saya sekali-sekali ingin bertualang.

Oleh-olehnya bisa ditemukan pembaca Khazanah. Ada sajak berbahasa Sunda, Cirebon, ada naskah monolog, subrubrik sundapedia, pameran drawing (bersamaan dengan turunnya sajak Saeful Badar, turun cerpen “Jalan-jalan Minggu” karya Pidi Baiq. Ini juga cerpen yang aneh).

Saya beruntung berada di media yang bukan nomor satu. Dengan begitu, saya lebih leluasa bereksperimen. Saya selalu tergoda untuk berekreasi ke wilayah baru. Dalam pemahaman saya, eksperimen itu akan memberi saling pengaruh positif. Penyair berbahasa ibu Sunda belajar dari sastra Indonesia atau Inggris, demikian sebaliknya. Dampak lainnya, meluaskan pembacanya.

Saya setuju, saat ini adalah “cuaca yang sangat baik untuk bercocok tanam puisi dan menghasilkan berbagai-bagai jenis puisi”. Sayangnya, panen tak selalu berhasil. Puisi organik yang menyehatkan, produksinya masih terbatas dan mahal, juga tak selalu berhasil. Masyarakat masih senang bertanam dan mengonsumsi puisi nonorganik yang tidak menyehatkan karena kebiasaan dan lebih murah. Dalam situasi seperti itu, pertimbangan untuk meluaskan pembaca masuk. Salah satunya adalah dengan merangkul komunitas-komunitas yang ada.

Saya akui, pertimbangan terakhir inilah yang menjadi landasan saya dalam menurunkan sajak -sajak Saeful Badar. Tidak spesifik sajak “Malaikat”, tapi seluruh sajak Saeful Badar, sebetulnya tidak sesuai dengan selera estetik saya. Semenjak mengelola “Khazanah”, Saeful Badar sudah beberapa kali mengirimkan sajaknya, dengan berbagai cara. Selama itu pula, saya tidak pernah memuatnya karena pertimbangan estetik itu.

Ketika saya menurunkan sajak-sajak Saeful Badar, dorongannya adalah untuk merangkul dan menggairahkan kehidupan bersastra di Sanggar Sastra Tasik, tempat Saeful beraktivitas. Tidak lebih. Akan tetapi, bukan berarti hal yang tidak sesuai selera saya itu menjadi tidak berharga. Saya tidak harus memaksakan selera saya. Saya kadang harus mengalah. Saya tak harus terus-terusan berkerut-kening. Toh, tak semua orang suka Taufik Ismail atau Goenawan Mohamad. Dan jengkol sekarang dijual juga di kafe-kafe. Pembaca juga punya selera yang harus juga dihargai. Siapa tahu selera saya selama ini terlalu buruk. Apalagi mayoritas mereka adalah konsumen padi nonorganik. Dan rasionalisasi atas selera itu bisa saja dilakukan. Terbukti, sajak “Malaikat” juga diapresiasi dengan tulus oleh seorang kawan dari Filipina.

“Sajak itu,” katanya, “witty.” Cerdik dan jenaka. Yang lainnya mungkin melihat kelebihan sajak itu dengan semangat membela yang berlebihan.

Orang menanggapi bagus, buruk, atau biasa-biasa saja, adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Yang tidak wajar ketika tafsir bagus atau buruk sekelompok orang dipaksakan kepada kelompok lainnya. Sajak “Malaikat” adalah korban pemutlakan dan pemaksaan tafsir semacam itu. Sajak ini sebetulnya masih dalam batas wilayah “ekspresi yang aman”. Bukankah banyak karya fiksi yang lebih dahsyat yang masih dijual aman di toko buku sana? []

Pemutlakan dan pemaksaan tafsir jelas jauh lebih berbahaya ketimbang karyanya itu sendiri. Lebih-lebih kalau itu dilakukan dengan membawa-bawa ayat suci. Pemutlakan dan pemaksaan tafsir ini ibarat meneriaki seseorang di pasar dengan teriakan maling. Orang sepasar akan tak lagi kritis untuk mengecek, apakah dia benar maling atau bukan. Yang akan terjadi lebih dahulu adalah penghakiman massa. Sajak “Malaikat” adalah korban semacam itu.

Dia tidak ditanya, melainkan langsung didakwa, langsung diteriaki maling. Korbannya bukan cuma Saeful, tapi juga saya, sejumlah penulis yang memilih mogok menulis di *Pikiran Rakyat, *pembaca, dan menguatnya benih-benih arogansi. Maka, bolehkah kita membiarkan kementang-mentangan itu? []

* Rohim Asyik adalah mantan redaktur Suplemen Seni-Budaya “Khazanah” HU. Pikiran Rakyat. Saat puisi Saeful Badar diturunkan dia langsung “dicomot” dari jabatannya.


11 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Kang Rohim, semoga tabah dan tetap melakukan eksperimen dan tidak tunduk pada kementang-mentangan.

Komentar oleh Kang Adhi

yup, tetap semangat.😀

Komentar oleh danalingga

Kang Rahim, saya suka sekali “cerpen”nya Pidi Baiq itu. memang ganjil. eksperimen itu perlu dan menggemaskan. bukan begitu Bung Frino?

Komentar oleh Heru Hikayat

Rahim, banyak kok yang simpati ama elo.
Selama elo masih nyengir, rasanya elo baek-baek aja kan?

Komentar oleh Indro

Selera Redaktur bukan masalah bagi saya, termasuk pemilihan materi yang layak muat. Tetap semangat dan berjuang sebagai insan pers yang baik dan mutu. Intrik politik di dalam manajemen media massa memang selalu ada, tidak hanya di PR. Itu seringkali merugikan banyak pihak. Maklum saja, toh tidak semua orang “ndeso” cenderung diskriminatif melihat semangat jaman. Maju terus pantang mundur, Bung Rahim. Merdeka!

Komentar oleh Argus

Kang Rahim menjadi korban tanpa melalui proses “keadilan” yang adil. Ini memang sangat disayangkan. Kalau mau jujur, semestinya media seperti PR belajar dari kasus “Langit Mendung” karya Ki Panjikusmin saat diterbitkan HB Jassin majalah Sastra pengujung 1960-an. HB Jassin harus bertanggung jawab ke pengadilan dan tetap membela penulisnya.

Tapi, bila terlanjur Kang Rahim “diruangkacakan”, saya kira semua memang mempunyai tingkat risiko yang harus ditanggung seorang redaktur.

Saya, terus terang, jadi bertanya-tanya. Siapa sesungguhnya yang jadi “kompor” sehingga organisasi yang (saya yakin) pada anggotanya tidak banyak baca sastra itu menjadi berang? Mungkin di balik itu ada sosok yang ingin bikin kisruh di jagat kreativitas, dengan berlindung di lembaga agama.

Pengalaman kami di Surabaya, ketika Festival Seni Surabaya 2006 ada sebuah karya seni rupa yang diprotes oleh mereka yang mengatasnamakan kelompok Mujahidin akhirnya juga kita ketahui, ada orang di balik protes mereka. Ternyata, juga teman kita sendiri yang “cemburu” yang kemudian “melaporkan” kepada mereka yang suka demo ngawur itu.

Meski sempat berurusan dengan polisi, namun akhirnya tidak berlanjut kasusnya. Ujung-ujungnya ya “duwit” ternyata, karena dikira yang menjadi sponsor kegiatan perusahaan yang bisa ditekan. Apalagi, di masyarakat Surabaya yang (dihuni dengan mayoritas nahdliyin) tidak sekasar mereka yang suka demo itu. Kadang keterlalua, mereka yang suka demo suka mengatasnamakan Islam padahal jumlah mereka bisa dihitung dengan cepat bila beraksi.

Gitu saja, boss..
Salam saya,
Riadi Ngasiran

Komentar oleh Riadi Ngasiran

Apa yang Anda lakukan itu sudah benar ‘benar-benar’. Hengkang dari pelataran berdebu adalah lebih baik daripada tetap berkutat dalam atmosfer polutan yang hanya mengebiri diri dan para kreator lainnya yang akhirnya tak ada hasil, tak ada apa-apa, steril dan hampa. Masih luas semesta ini. Jangan lupa, sayap Anda masih ‘bersayap’, ‘kan?

Komentar oleh S S Listyowati

Kang rohim sebenarnya ok juga berani mnegeluarain sajak yang bisa mancing reaksi publik. walau kang Rohim di comot, tapi kang rahim sudah buktiin keberadaan karya kang rohim.. kang rohim kan udah berpengalaman bikin aja media sendiri biar lebih ok lagi

Komentar oleh ibrahim

Terus terang, selama dua tahun ke belakang, saya rutin kembali membaca dan mengoleksi Khazanah. Alasannya, isinya menarik karena beragam tema dihadirkan, tak hanya kesenian “orang kota” tapi juga kesenian “urang kampung”. Dalam hal ini, Khazanah sangat memperkaya wawasan kita akan keberagaman budaya, terutama di Tatar Sunda. Ditambah lagi dengan karya-karya drawing (dan karya seni rupa lainnya) yang dimuat dengan segala hormat, mendapat ruang leluasa dan bukan sekedar pemenuh kolom yang kosong. Secara visual, Khazanah saat diasuh anda, cukup memanjakan mata. Sayang memang, saat anda harus terdepak dari halaman itu, yang ternyata, seperti dugaan saya saat tahu berita tentang anda, membuat Khazanah kini kembali ke masa lalu, yang tampil seadanya tanpa “sentuhan kasih-sayang”.

Komentar oleh Nazaruddin Azhar

hidup Pidi Baiq!

Komentar oleh djendralkantjil

nasib Anda mirip dengan Chavchay Saifullah dan Edy Effendi. memang omong kosong aja itu apa yang disebut-sebut orang sebagai “kebebasan pers” zaman pasca-Suharto. kalok dulu rejim fascis yang berkuasa yang melakukan penindasan politik media massa, sekarang oknum sipil yang bahkan lebih biadab lagi melakukannya! rejim sipil(is) ternyata lebih jahat dibanding yang militeris!!!

Komentar oleh Saut Situmorang




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s