Indonesia Art News Agency


Rumahmu, Ril, Rumahmu Itu …
Agustus 22, 2007, 6:02 am
Filed under: visual arts

Untuk Rachmat Jabaril, seniman dan aktivis Kota Bandung

 

Teksi oleh Setiaji Purnasatmoko*

Malam sepulang demonstrasi di ibukota 98, kamu sepertinya menemukan rumahmu : kanvas sebagai pintu dan kuas sebagai kuncinya. Kamu tak merasa harus mengetuk pintu itu sebab ‘bangunan’ tersebut toh nyatanya bertumbuh dalam dirimu, menjadi naung istirahmu, layaknya batok keras punggung kura-kura.

Aku melihat batok di punggungmu tak melorot semata perisai sembunyi muka. Teriakan-teriakanmu di jalanan – sebutlah itu dari sejak demo dengan Gerbong mengusung moncong babi ke gedung dewan hingga ke aksi-aksi yang mengkritisi tata hidup demokrasi kota – tampak tidak semata kamu sedang mematok panggung. Seruan kerasmu yang tak membentak, meniupkan tenaga kepada anak-anak belajar menggambar. Kamu ajari mereka bikin boneka karena paham mereka bukan boneka. Atau, seperti ga ada kerjaan, kamu malah menghimpun surat dapur ibu-ibu. Tentu saja bapak-bapak marah. Maklum terra incognita, mau mereka ditutup-tutupi terus ya? Apapun, jelas kiranya, tanpa pergulatanmu dengan ‘dunia luar’ maka segala yang ‘di dalam’ rumahmu akan kosong saja.

Ini kesaksianku, dari duniaku nyaman berumah, yang menikmati getar getir melumernya rumahmu perlahan beralih menjadi punggungmu. Bersama lelaki pengelana kota itu, kamu sekali waktu dahulu menulisi malam demi malam. Lalu keletihan mengantar kalian pada rumah jauh di pinggiran, gelap tak berlistrik. Satu per satu konstruksi rumah bertanggalan menjadi kayu bakar guna melawan sergapan dingin : sisa kursi, pintu, lis jendela… Tinggalan lubang besar di jantung rumah adalah onggokan waktu yang sebanding dengan ribuan lembar sketsa cikal bakal rumah-kanvasmu.

Jalanan yang kalian susuri semakin panjang seiring kian banyaknya yang bertanggalan dari rumah hitam kalian, api kalian. Oleh sebab kamu bergulat agar yang ‘di luar’ dan yang ‘di dalam’ tidak terceraikan, maka kamu menggenapi rumahmu terkini. “Untuk bertempat-tinggal di dalam rumah tiada lain berarti menghuni dunia,” kata Heidegger. Kamu penuhkan rumah dengan buku-buku. Bersama Sabine, Ika dan kawan-kawan lain, kamu buka ia : pintu Taboo untuk perpustakaan kampung, untuk ruang belajar kanak-kanak. Kendati filsuf Jerman yang sekali-sekali fasis ini ada benarnya juga. Dia paham betul bahwa penghunian demikian bukan perkara gampang : itu beban berat langkah rinci menembus jebakan-jebakan gelap keseharian nan tak tertebak, yang kerap memisahkan yang luar dengan yang dalam. Serupa apakah kiranya kini batok-punggungmu?

Campuran warna catmu dahulu mengingatkan aku pada sesuatu yang ada, pada tempat-tempat kamu berada. Itulah pekat-gelapnya adukan kuning, hijau, merah dan biru yang lalu menjurus kelabu menghitam. Apakah itu bentangan warna keseharian gang becek yang dipeluk oleh aneka bau isi pasar, sanitasi mampat dan gas knalpot angkot? Apakah itu bentang keseharian yang segaduh orasi-orasimu melalui TOA yang sember namun yakin : di bawah sengat matahari, bersama teman-teman, menunjuk yang tak adil, meneriaki para penipu? Ataukah itu keberbagaian yang menghimpun dalam sorot pandang anakmu, Gibran, semacam situasi manakala bola dunia serasa tiba-tiba berhenti dalam kepalamu menjadi sejuta panik ketika seorang Intel mencuri gendong anakmu?

Warnamu mengaduk gejolak. Pada 1990-an adukanmu masih tampak menerakan batas. Merah, coklat atau pun putih tampak beda-bedanya. Kamu seakan menandai dekade ketika kita melihat pedagang, politisi, aktivis masih jelas sosoknya. Kita bisa mencium jejak guna membedakan mana sebab, mana akibat, mana musuh, mana kawan. Tapi kamu terus mengaduk, sebagaimana kita semua diaduk oleh pusaran besar peralihan dekade berikutnya. Kadang kota, kadang desa, kadang pasar, kadang negara, seakan wali padahal demagog – ya orang-orang juga paham ada yang serupa seni padahal celana dalam, serupa seniman padahal pemangku adat kongkalikong, serupa community development padahal developer perut sendiri. Seakan gerakan, eh ujung imajinasi politiknya lagi-lagi partai! Di sini kamu mulai paham tampaknya mengapa Gerbong tidak harus selalu dalam rangkaian tunggal.

Ya yang kita kira hanya kemiskinan minyak tanah, nyatanya juga garingnya imajinasi gerak sosial-politik bahkan personal. Orang-orang berada dalam pusaran yang membaurkan, batas-batas rontok. Ayo aduk itu semua, Bung. Biarkan yang malas hanya melihatnya hitam-putih. Punggung-batokmu kesaksian pusaran bertempo tinggi. (Tapi hati-hati kebanting! Jangan omong revolusi, wong semuanya pada revot kok!).[]

* Anggota kolektif belajar ekologi sosial “Hijau Merdeka”. Tulisan ini merupakan refleksi Setiaji saat menyaksiken Pameran karya “Kesaksian”nya Rahmat Jabaril di CCF Bandung, 20-26 Agustus 2007.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s