Indonesia Art News Agency


Kejelasan Optik Menjamin Kebenaran?
September 12, 2007, 10:25 pm
Filed under: visual arts

dikdik.jpg

Teks oleh Heru Hikayat*

Masih ingat himbauan Sudjojono untuk kembali pada “realisme”?. Himbauan itu dibangun pada argumen bahwa rakyat hanya mengerti realitas. Lalu di era “ledakan gambar” kini, bagaimana kita melihat realitas? Gambar yang dimaksud adalah gambar-gambar representasi dari realitas seperti biasa kita lihat dalam media massa. Memandang realitas hari-hari ini terlebih dulu berhadapan dengan representasi-representasinya. Hingga “bagaimana” dalam kalimat tadi tidak merujuk pada cara-cara canggih; melainkan sekedar menunjuk pada: apakah kita bisa mengakses realitas yang apa adanya?

 

 

Selasar Sunaryo Art Space di Bandung, dari 4 Agustus lalu hingga 14 September 2007 menyelenggarakan pameran “Errata-Optika”. Dipaparkan dalam esai Agung Hujatnikajennong (kurator Selasar), pameran ini hendak melihat lebih dekat kecenderungan ‘realisme baru’ yang berkembang belakangan ini. ‘Realisme’ yang dimaksud, secara teknis merupakan gambar-gambar tanpa kejelasan optik.

 

Tahun 2001 saya sempat mewawancara Barli Sasmitawinata, Alm. Sebagai pelukis realis, ia menyatakan bahwa para pelukis yang memanfaatkan alat bantu macam proyektor itu bukan pelukis. Menurut hematnya, Seorang pelukis harus sepenuhnya mengandalkan kecakapan tangannya. Sekarang kentara telah terjadi pergeseran. Mereka yang berpameran di Selasar: Beatrix Hendriani Kaswara, Dadan Setiawan, Dikdik Sayahdikumullah, Harry Cahaya, Iman Sapari, J. Aryadhitya Pramuhendra, dan Willy Himawan. Mereka bukan hanya generasi pelukis yang jelas-jelas memanfaatkan bantuan berbagai teknologi pencitraan, mereka meleburkan diri dalam rekayasanya.

 

 

Dua lukisan Dikdik Sayahdikumullah, masih melanjutkan seri karya yang ia pajang dalam pameran tunggal di Nadi Gallery beberapa waktu lalu. Yaitu lukisan yang menunjukan keadaan ketika berada di kabin mobil, di jalan, tatkala hujan. Pemirsa dalam lukisan Dikdik ditempatkan pada barisan kursi depan mobil hingga kita bisa melihat panorama terhampar di balik jendela. Ini merupakan pengalaman yang sama sekali tidak asing. Dalam keadaan hujan lebat, kita tidak bisa jelas melihat apa yang ada di balik jendela. Sementara titik-titik air menempel di jendela tampak jelas.

 

 

Saya punya contoh ekstrim seperti ini: ketika duduk di kursi jajaran paling depan dalam bis yang mengebut, kita dibuat tegang menyaksikan badan besar si mobil melahap jalan raya dan berkelit-gesit menghindari mobil-mobil lain. Ketegangan terjadi berdasar keyakinan bahwa di luar itu adalah kenyataan yang akan berimbas pada hidup kita. Bayangkan: yang di depan kita itu bukan jendela, melainkan layar (screen). Yang tampak di sana bukan realitas melainkan simulasi semata. Tentu saja kita tahu yang di balik jendela bis adalah realitas, tapi bagaimana kita tahu bahwa realitas persis seperti yang terlihat?

 

 

Pada lukisan Dikdik, kita hanya menebak-nebak “O yang merah berpendar itu lampu rem mobil”, “O yang berkerumun warna hijau itu dedaunan pohon”. Disebut menebak, karena kita mengidentifikasi semua itu tanpa ada kejelasan optik: tanpa kita benar-benar menginderanya. Tujuan umum dari cara kerja otak mengatur indera penglihatan adalah mengubah ‘melihat’ menjadi ‘memahami’. Lukisan Dikdik menunjukan bagaimana proses memahami itu alih-alih berasal dari pengamatan jeli atas apa yang ada di hadapan kita, malahan merupakan suatu a priori dari dalam memori kita.

 

 

Dalam hal ini saya setuju dengan Agung Hujatnikajennong bahwa muncul ketegangan antara citraan terpiuh secara optik dengan representasi kenyataan. Ketegangan ini belakangan biasa juga dimunculkan oleh para pelukis dengan menampilkan gambar blur, macam foto yang diambil dengan fokus kurang tepat atau kamera bergoyang. Pada pameran Errata-Optika, Willy Himawan dan J. Aryadhitya Pramuhendra menampilkan teknik ini. Willy, pada karya “Motion and Stillness” memanfaatkan efek blur untuk menyoal gerak. Seperti pada komik: blur menggambarkan gerakan. Pada karya Willy, panel bagian atas menunjukan potongan gambar mobil, tampak sedang bergerak. Kontrasnya, pada bagian bawah, digambarkan running text yang justru dibekukan. Walau tampak digarap kurang maksimal, Willy cukup mampu melontarkan pertanyaan: dalam hal gambar, gerak ada dimana–di hadapan kita atau di pikiran kita? Pramuhendra menggambar-ulang citraan-citraan populer macam adegan John Lennon memeluk Yoko Ono dalam posisi tiduran. Dengan charcoal pada kanvas hingga, Pramuhendra menunjukan fitrah citraan itu sebagai gambar semata, dan belum tentu merujuk pada suatu kejadian historis.

 

 

Beatrix Hendriani Kaswara, satu-satunya perempuan dalam pameran ini, menampilkan lukisan berupa sekumpulan garis-tepi (outline). Mungkin sedikit mengingatkan pada citraan negatif foto, dimana kita mengenali sosok-sosok dalam gambar melalui pendaran cahaya pada tepian bentuk. Beatrix menggambarkan pose-pose tentara dengan senjatanya. Pose-posenya khas pose di depan kamera. Garis-garis tepi diwarnai berbagai warna cerah, kontras dengan bidang latar yang diwarnai hitam-masif. Beatrix tampak terbiasa dengan penguraian unsur-unsur gambar, seperti yang dimudahkan berbagai program komputer. Gambar juga biasa digunakan oleh pihak militer untuk mempropagandakan misinya. Untuk tujuan ini dipilih efek-efek tertentu yang biasanya berkesan jantan. Dengan mengurai unsur-unsur gambar, Beatrix justru menampilkan kesan militer yang cerah-ceria dan artifisial.

 

 

Dadan Setiawan telah beberapa waktu memanfaatkan gambar berresolusi rendah. Pada gambar dengan resolusi rendah, kita melihat citraan buyar, menjadi jelas berupa satuan pixel. Pada lukisan Dadan pixel dikonversi menjadi sapuan pisau palet. Lukisannya kali ini gambar taman dengan pola sapuan kuas repetitif.

 

 

Harry Cahaya menggambar laut. Ia melukiskan hamparan air laut dari jarak dekat hingga menguatkan ilusi bahwa itu semua bukan hamparan air melainkan pola repetitif dari bidang gelap-terang.

 

 

Iman Sapari melukiskan ikon baru Bandung: jalan layang. Di area seputar jalan layang banyak lampu merkuri. Lampu-lampu ini, sorotnya mengakibatkan efek pendaran cahaya. Pendaran ini serupa lapisan yang menyelimuti lanskap. Pada lukisan Iman bukan bentuk yang terpiuh, tapi cahaya.

 

 

Kita semua telah terbiasa dengan berbagai rekayasa pencitraan. Rekayasa ini terutama dalam hal visual. Ini memang jamannya. Pelukis, dengan kepekaan visualnya, wajar sekali jika berada di barisan terdepan menyikapi semua ini. Kecenderungan pelukis hari-hari ini menampilkan gambar realis tanpa kejelasan optik, kiranya mengingatkan kita semua tentang konstruksi dari representasi. Para pelukis mengungkapkannya, lalu sebaik-baiknya sikap adalah menyadarinya.[]

 

 

 

* Heru Hikayat, kurator seni rupa, tinggal di Bandung


7 Komentar so far
Tinggalkan komentar

hehehe..ru, mereka tuh para pelukis resolusi rendah…karyanya juga fotogenik..persoalan serius yang mesti diwaspadai oleh para pelukis resolusi rendah itu adalah tetap terus menerus membangun konsepsi, tidak sekedar pengelabuan fotografik..

Komentar oleh Aminudin TH.Siregar

maksudnya pelukis resolusi rendah bagaimana pak??

Komentar oleh aul

tak ada yang lebih menarik ketika citraan2x dijadikan satu2nya gagasan melukis. kedangkalan, hanya bermain di permukaan saja..

Komentar oleh dian

Duh…mas kurator, jgn ngenye karya orang terus donk, hukum karma lho.. giliran you yang berkarya dienye orang, gak asik kan…

Komentar oleh Via

Halo.Halo. Maaf, aku telat merespon. Mbak Via, emang aku ngenye? Rasanya enggak kok. Aku tuh memaknai bukan ngenye. hehe. Tapi kalau menurutmu ngenye, bagian mananya tuh?

Bung Aminudin, oke sepakat tentang konsepsi. Bung Aul, maksudnya pelukis resolusi rendah, ya pelukis yg membuat citraan2 kabur macam gambar dgn resolusi rendah. Ini memang masalah optikal. Itulah fitrahnya seni rupa. Kali itu jga, haha… Ngomong2 makasih atas responnya.

Komentar oleh Heru Hikayat

Ngga papa resolusinya rendah, asal teknik & tujuannya sinkron🙂

Komentar oleh Ary




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s