Indonesia Art News Agency


MELATI DAN VIDEO IKLAN
September 14, 2007, 10:37 pm
Filed under: new media art

Oleh : Krisna Murti

Perempuan muda dengan rambut hitam tergerai, berparas cantik berkulit putih bersih. Menyibak rambut, membelai wajah dan mengerlingkan mata. Itulah gambaran stereotip video iklan di TV yang menyuruk hingga ruang privat kita. Tayangan berulang itu bak sebuah ritus, merayu penonton, melenakan bahkan secara kumulatif mengonstruksi (identitas sosial) tubuh perempuan sebagai “beauty”. Bila anda sempat melihat video performatif “Illumination” Melati Suryodarmo di pameran “Intimate Distance-Indonesian Women Artists” di Galeri Nasional Indonesia, 1-10 Agustus 2007, saya kira anda akan menjumpai fenomena yang justru berkebalikan.  

Video kanal tunggal itu memperlihatkan sosok perempuan (Melati) berdiri di dalam sebuah kamar, menyibak gorden, memandang ke luar. Dengan posisi memunggungi – penonton – perempuan itu segera menampari mukanya, lagi dan lagi. Tertegun, terhentak, rasa iba bahkan rasa jengkel, menjadi lapisan mental yang bakal terjadi pada setiap orang yang menyaksikannya. Bahkan kita didorong untuk melibatkan diri dalam ketegangan proses mental itu.Sedikitnya dua hal yang bisa dicatat di sini. Pertama, terjadi “pertarungan” pengonstruksian tubuh (perempuan) oleh arus besar dan di luar itu (melalui Melati). Kedua, adanya kesadaran – keduanya – tentang efektifitas dan penggunaan media video untuk merebut pengaruh itu.

Perluasan tubuh

Performance – medium seni yang dilakoni Melati – pada dasarnya hasil hibrida antara seni pertunjukan dan seni rupa dengan memakai tubuh sebagai media sekaligus situs peristiwa seni. Dalam penjelajahan artistiknya, Melati, juga banyak seniman performance lain seperti Marina Abramovic (+ Ulay), dan di Tanah Air Arahmaiani kemudian memilih media video sebagai perluasan tubuh. Boleh jadi ini dilatarbelakangi kesamaan semangat men-dematerialisasi-kan seni dan mengadopsi waktu sebagai medium seni. Sebuah upaya yang sesungguhnya telah dirintis sejak tahun 1960-an melalui seni konseptual (gagasan sebagai seni) dan gerakan Fluxus (interdisiplin dan peristiwa seni).

Pada mulanya, video dipakai para performer sebagai alat perekam. Itulah genre awal video performatif. Waktu pertunjukan sama dengan durasi video. Sudah pasti ini membosankan, termasuk dari sudut pandang senimannya sendiri. Namun, segalanya menjadi berubah sejak digitalisasi media (video) berkembang (atau lebih awal dari itu). Intervensi waktu dan berbagai manipulasi data dan citra menjadi kenyataan baru: memproduksi sebuah dunia simulacrum yang memungkinkan siapapun-dimanapun ikut berpartisipasi di dalamnya.

Dan agaknya para penampil merasa nyaman menggunakan media ini karena mereka yakin tubuh tetap berada di poros pusaran itu.

Tubuh dalam “Illumination” kini menjadi tubuh simulasi, yang menyubstitusikan tubuh nyata yang lenyap dalam kesementaraan (ephemeral) sebuah performance. Video itu sesungguhnya dibangun dari sejumlah bekuan ingatan tubuh ditambah manipulasinya dalam tata warna biru-puitis, dan secara keseluruhan tidak naratif.

Namun lihatlah, daya menghasutnya luar biasa efektif seperti tayangan iklan teleshopping penawaran alat pelangsing tubuh di TV yang membangun strategi komunikasi melalui bahasa kesaksian, instruksional dan peristiwa “nyata”. Sebetulnya efektifitas video Melati – juga video iklan tentu saja – tidak terlepas dari peran loops (mesin naratif), istilah Lev Manovich, pakar media baru (The Language of New Media, 2001) untuk menjelaskan pengulangan sekuens atau durasi utuh yang menghasilkan naratif baru.

Ketika video “Illumination” berdurasi 3 menit 40 detik ditayangkan loops, maka pengalaman mental berjenjang (atau kombinasinya): tertegun, terhentak, rasa iba, rasa jengkel, marah, dan seterusnya segera terbangun. Strategi pengembangan mental ini sebetulnya sama sebangun dengan loops pada video iklan : (pertama) kesan, (kedua) informasi, (ketiga) pengalaman, (keempat) situasi larut, dan seterusnya. Tujuannya jelas, menyihir kita. Sebab itu, ketika berada di pasar swalayan anda secara reflek memilih/membeli sabun mandi, bukan karena harga dan kegunaan, tetapi karena tanpa disadari telah terkonstruksi oleh tayangan iklan berulang tadi. Dan agaknya model inilah yang dipakai Melati untuk menawarkan versi lain politik pencitraan perempuan dan tubuh.

Pernyataan seni

Peta besar pemahaman perempuan sebagai “beauty” sebetulnya berada di nilai-nilai masyarakat itu sendiri yang bersumber dari tradisi dan agama. Sayangnya pemahaman itu seringkali tidak diimbangi dengan kontekstualisasi serta absennya penafsiran kritis. Namun sejauh itu, harus diakui iklanlah produsen komodifikasi perempuan dan tubuh paling besar hari ini. Dan dengan kekuatan rekayasa teknologinya ia adalah mesin produksi dan reproduksi untuk massalisasi “beauty” itu. Belum lagi bila kita melihat kenyataan bahwa iklan itu dalam praktik diintegrasikan dengan teknologi penyiaran (broadcast) TV. Jadilah ia bagian dari budaya TV (TV culture) dengan tampilan yang akrab (intimate) dan menghibur: “mak nyus !”.

Dengan kenyataan produksi massal seperti itu, agaknya menjadi naïf bila kita berharap sebuah karya seni seperti “Illumination” dapat melawan opini umum dari arus besar yang terjadi. “Illumination” hanyalah sebuah pernyataan seni. Namun ia adalah penanda kesadaran kultural kita sekurangnya dari seorang Melati. Bagi saya, video Melati ini menjadi penting justru karena adanya konteks sosio-kultural khususnya yang berkaitan dengan budaya TV tadi. Dari sanalah kita bisa melihat realitas pemahaman perempuan dan tubuh lebih kompresehensif bahkan menginspirasi kita dalam bersikap dan bertindak.

Ruang dialog

Marilah kita putar ulang video karya Melati ini. Tamparan berulang ke wajah itu memang menggedor perasaan, seperti memperlihatkan ikhtiar mendekonstruksi “beauty” yang menafikan keutuhan pemahaman gender. Namun dari sudut pandang Foucoult, ini seperti sebuah bayaran kepedihan bila tubuh melawan untuk ditaklukkan. Sejauh apapun penafsiran itu, terlihat ada dua hal yang menjadi strategi artistik Melati.

Pertama, Melati menghindari verbalisasi bahkan menjauhkan diri dari produsen fatwa “beauty” atau yang bukan. Sebagai gantinya ia (sebagai fasilitator) menggelar ruang dialog dalam karyanya sehingga memberi kesempatan siapapun untuk berpartisipasi, ikut memikirkan (ulang) tema itu. Seluruh proses itu bisa terjadi karena secara teknis loops itu sekaligus menyajikan jeda, waktu untuk berpikir, berkontemplasi dalam kejernihan serupa “retreat”.

Kedua, Melati menyadari ini merupakan proyek kecil berupa narasi personal, subyektif. Keuntungannya, dari perkara remeh-temeh itu justru kita yang berada di luarnya diberi kesempatan berimajinasi bahkan bermimpi. Misalkan saja, posisi-antara tubuh Melati di dalam kamar (gelap) dan memandang ke dunia luar (terang) bisa ditafsirkan sebagai tegangan keterbelengguan/kemerdekaan tubuh di ruang domestik/ruang publik. Atau kiasan yang menggambarkan pergulatan sosok manusia (Melati) menggapai “pencerahan”. Proses keterlibatan (penonton) ini persis apa yang pernah dikemukakan Bill Viola, seniman video AS “…the real place the work exists is not on the screen or within the walls of the room, but in the mind and heart of the person who has seen it. This is where all images live”. (“tempat sebenarnya karya video tidak berada pada layar atau dinding ruang tayangnya, tetapi di pikiran dan hati seseorang yang melihatnya. Dan di sanalah seluruh imaji itu hidup”. Wawancara Jorg Zutter, majalah Art and Design, 1993)

Tema personal (namun kontekstual), strategi artistik serta pemosisian diri seniman seperti ini agaknya menjadi ciri seni kontemporer hari ini. Bagi publik ini menimbulkan suasana kesetaraan (demokratis). Bagi Melati, inilah kekuatannya. Yang agak sulit ditepis ialah karya ini mengingatkan visualisasi video menampar muka Reza “Asung” Afesina. “Illumination” sepertinya juga diinspirasi tematik video “Art must be Beautiful, Artist must be Beautiful” (1974). Karya ini dibuat oleh Abramovic yang kini menjadi guru Melati di pasca sarjana HBK Braunschweig (Jerman).[]

* Seniman video, pengajar tamu Kajian Media Baru, Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s