Indonesia Art News Agency


MENGUTUK TUK, MENGGERTAK TAK
September 20, 2007, 8:26 pm
Filed under: Literature

Oleh : Matdon

Jumat malam 20 Juli 2007, selepas acara pembukaan “Ode Kampung#2”  Temu Komunitas sastra se-Nusantara, di Komunitas Rumah Dunia Desa Ciloang Serang Banten, penyair Wan Anwar (Serang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Toto St Radik (Serang), Wowok Hesty Prabowo (Presiden Panyair Buruh/Tangerang), dan Gola Gong (pemilik Rumah Dunia) terlibat perbincangan serius, masih soal keberadaan Teater Utan Kayu (TUK), yang dinilai arogan dan mencemari kehidupan sastra Indonesia, “Ada kekuatan asing yang menebakan virus lewat K untuk mencemari kebudayan Indonesia lewat seni khususnya kessusatraan,” seloroh Wowok.  

Saut bersungut-sungut memaparkan bagaimana TUK dengan jumawa melalui Hudan Hidayat terang terangan menyebut dirinya sebagai satu satunya sastrawan di Indonesia, “Ini arogansi sastra, masa Hudan menyebut mereka yang tidak diundang oleh TUK bukan sastrawan,”. Ujar Saut.
Alhasil kritikan terhadap TUK berseliweran pada perhelatan Ode Kapung #2 ini, pun ketika esok harinya sabtu 21 Juli 2007, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan pembicara Saut Situmorang, Asma Nadia, Kurnia Efendi, dan Hudan Hidayat (sebagai seniman yang disebut sebut saut orang TUK).
Hudan diserbu kanan kiri depan belakang oleh 250 sastrawan yang datang dari pelosok tanah air,

“Sastra yang hanya mementingkan estetika tanpa nasionalisme adalah sastra sampah,” teriak Wowok seraya menuding muka Hudan dan mengatakan bahwa Gunawan Muhammad dengan TUK-nya tidak peduli terhadap nasionalisme dan kebudayaan, terbukti dia memasang iklan dukungan kenaikan BBM deangan sponsor Freedom Institute, jadi menurut Wowok, GM adalah pelacur budaya!!. Saut menimpali bahwa arogansi yang cuma bersandar pada besarnya jumlah uang dan retorika dusta merajalela dalam dunia kongkow sastra Indonesia, para petualang sastra merajalela menjadi paus-paus sastra baru, tapi mereka tidak mampu membuktikan dimana kedahsyatan sastra mereka.Lain halnya dengan Toto ST Radik yang mengatakan bahwa menjamurnya komunitas sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni pusat kesenian, juga kemandirian sastrawan. Tapi TUK merasa sebaai pusat legitimasi sastra, padahal berkarya TUK dibayar oleh mereka yang memiki dana.

Sampai sejauh ini saya belum mendengar langsung arogansi TUK, namun ketika giliran Hudan berbicara “Tidak ada sastrawan di Indonesia kecuali Hudan dan Mariana’” begitu sesumbar Hudan yang disoraki audience.

Kemudian Hudan menjelaskan bahwa liberalisme dalam sastra sangat perlu, Tuhan telah memberi kebebasan, artinya Tuhan memberi juga kebebasan untuk memeluk liberalisme dalam sastra, jika orang-orang TUK mengumbar kelamin pada karya mereka itu artinya menurut Hudan sastrawan TUK sudah mencapai Anak haq (Saya adalah Tuhan). Disitu barulah saya merasa sadar, Hudan mengaku Tuhan!!

Sebenarnya Hudan Hidayat sudah memulai membuka front dengan mengeritik Taufiq Ismail dan menganggapnya sebagai sastrawan yang sok moralis dengan pidato kebudayaan Taufiq yang pernah dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memberangus gerakan sastra “syahwat merdeka”. Setelah itu TUK dicap sebagai penyebar aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”. Sedang Taufik Ismail menanggapi Hudan yang cenderung mempraktekkan kebebasan kreatif secara berlebihan, sehingga terkesan mendukung peradaban porno-praksis yang memuja tubuh dan seks.Ini pula yang disampaikan Asma Nadia pada diksusi itu.

Sebelumnya GM pernah menjelaskan, kalau disangka TUK menguasai semuanya tidak betul juga. Misalnya festival sastra internasional tidak hanya yang diselenggerakan TUK tapi juga DKJ dan Rendra. Kedua, pilihan luar negeri itu tidak ditentukan oleh TUK. Dunia internasional dekat dengan TUK tapi mereka memilih sendiri.

Awal bulan Juli sejumlah media massa nasional memuat tulisan yang menghajar peradaban termasuk sastra neo-liberalisme dan porno-praxisme yang kini sedang mendapat angin di Indonesia sejak reformasi ditafsirkan keliru dengan memperbolehkan apa saja sebagai kemerdekaan “hak asasi manusia” dan menafikan “hak asasi masyarakat. Taufik Ismail pernah mengingatkan Hudan Hidayat agar tidak terlalu bangga dengan gaya sastra porno-praxisnya. Bentuk-bentuk sastra yang sudah kita kenal lahir dari lingkungan TUK umumnya memang berciri porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), seperti Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu dll, yang cenderung anti peran agama.
 

TERINGAT Forum Sastra Bandung
“Matdon, ayo kamu mau ngomong apa Bandung belum bicara!!,” teriak Saut, saya terdiam lalu pelan-pelan harus bicara juga.Saya tahu kalau TUK menjadi sebuah kekuatan, mendominasi, dan memiliki hegemoni di jagat sastra Nusantara ini, sehingga bisa memberikan rekomendasi siapa saja yang berhak mengikuti event-event sastra, saya jadi teringat Forum Sastra Bandung (FSB), mungkin FSB dan TUK setali tiga uang, bedanya karya sastra FSB lebih santun, namun dalam setiap event selalu menentukan pilihan siapa sastrawan yang berhak mengikuti event adalah sastrawan yang mereka kenal dekat, FSB tidak berusaha merangkul sastrawan yang lebih muda dan baru memulai.

Pusat FSB tertumpu pada Juniarso Ridwan, pendanaan kehidupan sastra FSB ada padanya, berbeda dengan komunitas yang lahir kemudian seperti Mnemonic, Forum Lingkar Pena, Klub Tulis Commonroom, dll yang mengandalkan dana dari anggotanya, bersyukur saat ini ada karya-karya penyair muda dari ASAS UPI yang mulai muncul di media.

Sebenarnya saya tidak mau pusing dengan TUK atau FSB, toh pusat kegiaan sastra terdapat pada setiap pribadi sastrawan bukan hanya milik kelompok.

Jika TUK berhasil mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra”untuk liberalisasi. TUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra. Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah berhasil dikuasai oleh orang-orang TUK. Komite Sastra DKJ belum lama ini menggelar pertunjukan sastra erotis, yang sempat membuat Taufiq dan banyak sastrawan lain merasa prihatin. Maka FSB lebih santun membiarkan komunitas komunitas sastra berkembang sendiri-sendiri, namun FSB agak menutup mata dan enggan mengakui orang lain sebagai sastrawan, ditambah FSB dikabarkan lebih dekat dengan pemerintah.

“Penyair-penyair senior di Bandung itu cuma cengengesan kalau ada bencana atau peristiwa budaya,” begitu Kang Tisna Sanjaya berkomentar.

“Mestinya kamu melakukan perlawanan Matdon!!,” ujar Saut mengompori saya, saya katakan pada mereka yang hadir di Ode Kampung#2, bahwa saya tidak akan melakukan perlawanan, karena tidak ada yang salah dalam hal ini, kehidupan sastra di Bandung sudah sedemikian bagus dan kondusif, sastrawan (penyair) muncul dengan sendirinya karena para sastrawan di Bandung sadar bahwa pengakuan diri sebagai sastrawan bukan datang dari komunitas besar, melainkan dari publik, sama halnya dengan kyai atau ulama, ia tidak memerlukan legitimasi dengan pengakuan sendiri, tapi pengakuan pasti datang dari ummat.

Jika Ode Kampung#2 di akhir acara Minggu 22 Juli 2007 akhirnya mengeluarkan pernyataan anti TUK, dalam beberap hal saya setuju!, tapi saya menolak perlawanan fisik, itu TAK boleh dilakukan. Jikapun saya harus melakukan perlawanan, saya akan mengajak para sastrawan muda di Bandung untuk membuat karya sebanyak mungkin, terus bekarya tak peduli karya itu dimuat di koran atau tidak, “berkarya adalah perlawanan yang sesungguhnya,” begitu saya katakan pada mereka, anak-anak muda di Bandung masih bisa membuat karya lewat penerbitan buku jika karya mereka “disembunyikan” oleh redaktur, caranya bisa patungan uang, juga masih ada website yang mau menampung karya sastrawan muda, masih ada tembok-tembok kota yang bersih, masih ada bulettin kampus, masih ada nurani untuk tidak jumawa dan sombong.

Selain itu, sudah saatnya komunitas-komunitas sastra di Bandung bertemu, melakukan musyawarah agar kehidupan sastra lebih bergairah. Berjamaah untuk nenentukan langkah, bisa lebih baik ketimbang hidup sendirian.

Doakan saya, saya sedang mencoba mengumpulkan data penyair muda Bandung, untuk membuat buku kumpulan puisi (ada sejuta cara, tapi itu hanya salah satu cara) saya.[]

* Penyair/Penulis budaya di sejumlah media. Bekerja sebagai watawan Radio Cosmo FM Bandung


22 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Untuk infomasi lebih lengkap tentang Saut Situmorang silakan kunjungi blog mediacare:

http://www.mediacare.biz

atau

http://mediacare.blogspot.com

Komentar oleh mediacare

hahaha…

mediacare ini adalah situsnya seorang bernama Radityo Dj. dia ngaku masih punya hubungan darah dengan Oom goenawan mohamad, makanya saya bilang dia itu keponakan GM. radityo ini selalu merusuh di internet terutama lewat nama-nama dan alamat email palsu dari orang-orang indonesia yang dibuatnya untuk terutama menyerang saya Saut Situmorang dan membela TUK. korban terakhirnya adalah penyair Jogja bernama Joko Pinurbo, yang nama dan alamat email palsunya disebarin oleh Radityo pukimak ini! jokpin@lycos.com itulah nama dan email itu. Joko Pinurbo dikenal luas di kalangan sastrawan Indonesia sebagai “Jokpin”.

radityo ini punya track-record yang sangat buruk. menurut Suara Merdeka Online (suratkabar Semarang) radityo juga pernah membuat situs FPI palsu hanya untuk menyerang FPI secara pengecut lewat internet!!! radityo juga jadi pemilik dan moderator semua milis di internet yang namanya diawali kata “media-…”, misalnya media-jogja@yahoogroups.com

semoga info saya ini membuat para pembaca sadar atas kebusukan Radityo Dj di internet!!!

salam,

Saut Situmorang

Komentar oleh Saut Situmorang

matdon!

bukan “Hudan Hidayat” yang bilang bahwa “Sastrawan Indonesia yang gak diundang ke acara sastra TUK belum jadi Sastrawan Indonesia” tapi Sitok Srengenge!!!

cheers!

-Saut Situmorang

Komentar oleh Saut Situmorang

Saut bohong. bohong ….

Komentar oleh liliana

Perseteruan antara Saut Situmorang dapat disimak di blog ART & CULTURE INDONESIA. Ada secuil kisah bagaimana Saut “diusir” oleh seniman Bali, lalu akhirnya dia melarikan diri ke Yogyakarta. Di kota gudeg itu pun banyak masalah yang ia ciptakan. Akankah ia bakal minggat ke Serang?

Komentar oleh art-culture-indonesia

MEDIACARE yang membawahi sekian banyak milis (di antaranya milis media-jogja, media-jatim dstnya) dimoderatori oleh RADITYO DJADJOERI yang juga pemilik blog ART & CULTURE IND. Radityo Djadjoeri diduga terlibat dalam KASUS PEMALSUAN blog FPI. berita dapat dilihat di alamat ini: http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=80 http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=81

Radityo juga beberapa kali telah di ban di beberapa milis di antaranya milis jurnalisme) karena tingkah lakunya yang kurang wajar sehingga mengganggu kenyaman anggota lain. Dia juga diduga tidak adil dalam mengelola milis dan cenderung mengadudomba serta memperkeruh masalah.

Komentar oleh banyubening

kalau saya sih terserah saja lah… Saut sama Radityo adu minum tuak juga sebodo. Saya mah lagi mikirin gmana naskah novel saya yang kedua beres…. hehehehe

Komentar oleh qizinklaziva

hahaha…

Saut Situmorang diusir dari Bali!
hayo siapa yang usir?

radityo, kalok mo bohong yah yang profesional dikit dah. kau kan konon bekas intel suharto toh! masak intel loyo infonya!!! hahaha…
lagi, udah berapa banyak aktivis yang lo masukin penjara harto?!

hahaha…

Komentar oleh Saut Situmorang

Ga membangun!kalian cuma ingin mencari pembenaran masing-masing.Sudahlah, kalo memang ada massalah pribadi jangan saling menjatuhkan pake ngungkit2 lagi.Dah, sekarang bagaimana caranya karya sastra bisa menjadi sepopuler karya musik.Jangan ada yang ngomong ga bisa ya!!!

Komentar oleh roser

Wah, pak saut tidak berani mengakui bahwa dia diusir dari bali? HAHAHA! padahal jelas, pak saut takut sampai terkentut-kentut karena mau digebuki oleh orang-orang bali.
kalau tidak percaya, cek saya kepada pak made wiyanta, pak tan lioe ie, pak warih wisatsana.

ahmad jaelani

Komentar oleh ahmad jaelani

Banyu Bening, kowe dibayar piro karo Saut?? Seket ewu? Opo simpenane deweke tho? Ndak yo tho?

Jarene kowe dikongkon Saut nelpon nang Jogja TV ngaku-ngaku FPI yo?

Komentar oleh ninong banonong

HAHAHHAHAHAHA…

JANGKRIK TENAN KOWE!
DASAR MANTAN INTEL SOEHARTO!!!!!!
DASAR MANTAN WARTAWAN CAP KLEMBAK MENYAN!!!

HAHAHAHHAHAHA

Komentar oleh sautisme

Bang Saut,

Ayo cepet pulang!!! Jangan kebanyakan main internet, nanti tabunganku habis lho…….

Komentar oleh katrin bandel

Walah Banyubening, kamu kok polos sekali ya. Sepolos bosmu Saut Situmorang. Mana ada pemalsuan blog. Lha aku bikin blog tentang ANJING apa harus minta izin sama anjing-anjing? Apa ada klaim di blog FPI itu bahwa itu termasuk blog resmi punya FPI? Ada itu istilah unofficial web. Kamu juga bisa bikin blog selebritis siapa saja. Asal nyebut itu unofficial web ya gpp/

Pikiranmu agak kurang waras deh. Mangkanya belajar ngeblog dong biar tahu apa itu blog.

Soal tulisan di link GAYA, itu mah ulah kontributornya yang kehabisan duit, makanya nulisnya sembarangan. Satu tulisan seratus ribu kan lumayan buat jajan di Semarang…

Komentar oleh gugun tidak gondrong

Peringatan Lagi

Salam Hormat,

Para pembaca Kantor Beritaseni Indonesia, mohon bila ingin memberikan komentar menggunakan nama asli jangan nama alias atau nama samaran. Meskipun kantor ini hanya berupa blog kami harap kawan-kawan bisa menggunakannya dengan baik dan semaksimal mungkin. Dengan mencantumkan nama asli (email asli) setidaknya kita membangun obrolan yang sehat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kami tidak mentolerir berita yang bohong dan mengada-ada, langsung kami hapus. Jika ada tulisan di beritaseni yang bohong sebagai pengelola saya akan bertanggungjawab. Dan mohon bantuan informasi bila kami telah melakukan kesalahan.

Beritaseni tak pernah melarang siapa pun untuk memberikan komentar/kritik/saran tentu disertakan dengan data-data yang valid dan logis. Beritaseni berharap para pembaca berani dan berakal sehat, setidaknya telah ditunjukkan para penulis beritaseni dengan mencantumkan nama asli dan kontak person yang mudah diakses. Kami berharap, para pembaca “tidak lempar batu sembunyi tangan.”

Mohon dimaklumi dan terima kasih. Mohon maaf lahir bathin!

Salam hormat
Frino

* Pemberitahuan ini berlaku kepada pengelola, penulis, pemberi komentar, pembaca dan seluruh orang yang pernah mengakses Kantor Beritaseni Indonesia.

Komentar oleh beritaseni

betul bung frino, saya setuju
nah yang perlu email saya : matazibril@yahoo.com
atau nomor hp (kebetulan saya punya hp) ; 022-91165186
atau http://www.matazibril.multiply.com

Komentar oleh matdon

betul kata saut, radityo memang perusuh di dunia maya. dia pernah diusir farid gaban di milis jurnalisme karena melalukan provokasi dengan identitas palsu. meski mengaku muslim, tapi radityo selalu menyuarakan kebencian terhadap islam. dia membuat banyak blog dan aktif di banyak milis dengan identiatas palsu untuk menyebarkan kebencian terhadap islam. sampe-sampe saya bisa simpulkan, kalo ada blog atau miliser yang sok muslim, tapi isinya menjelekkan islam, HAMPIR PASTI itu radityo di belakanganya. dia sangat pandai berargumentasi dan bersilat lidah. liat saja gimana gencarnya dia membela tuk… dia pun telah buat blog tadingan kantor berita seni pula..

peace…

Komentar oleh anti radityo

Ana dukung Saut Situmorang untuk menjadi kepala cabang FPI Yogyakarta. Dukungan Saut yang dari kalangan non-muslim amat ana harapkan

Komentar oleh Sekjen FPI

Wah hebat suamiku mau dijadikan sekjen FPI. Nanti aku bisa dapet minuman keras gratis donggg…..
sering-sering saja nggrudug pub dan cafe di Yogya……

Komentar oleh Katrin Bandel

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Komentar oleh Qinimain Zain

alah saut bisanya ngomel doang. kelihatan banget kalo penulis tulisannya gak dimuat di kompas ama medianya tuk bisanya marah-marah doang. mana karyamu saut????

Komentar oleh Agus Himawan

Radit-radit gak punya malu pukimak satu ini. Dimana-mana mengadu domba, dimana-mana merusuh! Gaya bahasanya khas banget, memuja islam lalu menjatuhkannya.
Ponakan Gunawan satu ini memang sadis, walaupun dia banci tengik yg tidak pernah mau menunjukan batang hidung bahkan namanya sendiri.
Mati aja lah kau nak

Komentar oleh rumah hitam




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s