Indonesia Art News Agency


BELAJAR DARI DESAS-DESUS
Oktober 11, 2007, 9:36 pm
Filed under: visual arts

BELAJAR DARI DESAS-DESUS

Oleh : Titarubi*

Saya ingin berbagi dengan kawan-kawan, mudah-mudahan berguna. Jika tidak ya buang saja di tong sampah hehehe… Jika ada salah duga, kata, dan tanda baca saya mohon maaf sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, mungkin, Saut dan kawan-kawan secara langsung menyatakan rasa memiliki Komunitas Utan Kayu (KUK) sebagai wadah yang bisa membangun kesenian, sastra khususnya bagi kasus ini, menjadi lebih baik di Indonesia ini atau bahkan di luar Indonesia. Karenanya dia melontarkan kritik dengan begitu keras yang kemudian ditanggapi dengan riuh. [Saya rasa Saut senang dengan keriuhan ini, setidaknya isu yang dilemparkan kemudian diperbincangkan].

Saya ingin membandingkannya dengan yang terjadi di dunia senirupa.

PERBANDINGAN PERTAMA

Desas-desus tentang KUK yang belakangan ini muncul mirip dengan desas-desus tentang Cemeti Gallery (yang sekarang bernama Cemeti Art House), sebuah galeri senirupa kontemporer yang paling stabil staminanya.

Beberapa tahun yang lalu beredar desas-desus kalau seniman belum dipilih galeri Cemeti, maka dia bukan seniman [perupa] kontemporer. Saya sebut desas-desus, karena tidak pernah dinyatakan secara formal ataupun terbuka, dan sulit dibuktikan dengan fakta-fakta.

Saya kira desas-desus itu bisa dipahami, karena pada saat itu perupa-perupa di sini begitu sulit mengembangkan jejaring di luar indonesia. Belum banyak jalan alternatif. Cemeti, saat itu, seperti sebuah jembatan baru yang terbuka bagi estetika-estetika yang pada saat itu sulit diterima oleh galeri-galeri lain. Sulit berpameran. Maka menjadi mungkin desas-desus itu benar. Karena ada harapan yang begitu besar tergantung di sana. Mungkin juga ada kebanggaan yang diam-diam dirasakan perupa, karena Cemeti menjadi pintu yang terbuka dari, ke, dan di negara ini, bagi dunia senirupa. Ada dukungan [dorongan, permintaan, harapan] agar pintunya dibuka lebih lebar lagi. Agar lebih banyak lagi perupa yang masuk ke pintu ini. Maju ke medan laga. Bertarung di dunia seni rupa yang luas ini. Ada rasa memiliki. Rasa terlibat. Merasa berhak. Menjadi bagian di dalamnya.

Rasa itu menjadi sah bagi setiap perupa. Karena Cemeti telah menempatkan dirinya dalam arena senirupa yang didiami para perupa. Lontaran kritik ataupun saran harus diterima dengan terbuka. Walau belum tentu bisa dilaksanakan. Karena seperti juga sebuah jurnal, Cemeti memiliki editorial atau standar atau pilihan estetikanya sendiri, yang mungkin berbeda dengan para pelontar.

Sebagai lembaga independen, yang mendanai sendiri atau mencari dana bantuan dengan upayanya sendiri. Cemeti berhak menerima ataupun menolak kritik, saran ataupun proposal. Cemeti berhak menentukan sendiri perupa

ataupun estetika yang ditampilkan di galerinya ataupun dipamerkannya di luar Cemeti. Ataupun mempromosikan seni dan perupa-perupa tsb. Semua perupa rasanya mahfum dengan itu.

Tetapi, tentu saja Cemeti tidak berhak mengukuhkan diri sebagai satu-satunya tempat pentasbihan seni ataupun perupa kontemporer Indonesia. Cemeti juga tidak berhak mengatasnamakan diri sebagai satu-satunya lembaga yang mewakili seni atau perupa kontemporer Indonesia. [sejauh saya tahu, mereka belum pernah menyatakan hal tersebut baik secara terang-terangan ataupun diam-diam].

Dan sejauh saya tahu, Cemeti tidak pernah membuat perhelatan besar tanpa namanya. Selalu menggunakan nama lembaga itu. Ketika membuat pameran yang cukup besar maka nama Cemeti selalu menyertai perhelatan tersebut. Bisa dibaca, “ini versi Cemeti”. Orang bisa tidak setuju dengan pilihan Cemeti. Tetapi orang tidak bisa menghindar ketika Cemeti mengatakan ini pilihan kami, ini hasil kurasi kami, ini yang paling tepat berada dalam pameran ini. Yang paling penting, Cemeti bersedia menjelaskannya baik dalam katalog ataupun dialog. Isinya “ini versi Cemeti”, tetap itu sebuah bentuk pertanggung jawaban kepada publik.

Orang yang tidak setuju boleh melontarkan argumennya dan Cemeti memiliki argumen sendiri atas atau dalam kurasi mereka. Dan orang-orang paham, sebagai lembaga independen mereka berhak menentukan kurasi mereka. Mereka memiliki argumen atas pilihan estetika dan perupa. Artinya, ini hanya sebuah versi. Hanya salah satu. Dari begitu banyak.

Pemahaman “salah satu dari begitu banyak” lahir dari dialog. Dari argumen-argumen yang dilontarkan. Dari perdebatan-perdebatan. Diskusi-diskusi. Obrolan. Surat. Tulisan. Langsung ataupun tidak langsung. Berteriak atau bisik-bisik. Terang-terangan atau diam-diam.

“Yang begitu banyak” sebenarnya sudah atau kemudian bertumbuhan. Ruang alternatif-alternatif diciptakan, ruang-ruang kemungkinan dibuka. Dari tempat parkir di pelataran pasar, warung-warung, di atas sepeda keliling, kamar tidur, rumah petak, rumah sewaan, di sawah-sawah, pos ronda, dst. Estetika-estetika. Pandangan-pandangan. Pameran-pameran.

Tanpa atau dengan dukungan Cemeti. Dengan atau disebabkan Cemeti. Sebelum atau sesudah Cemeti, “yang begitu banyak” itu memang ada. Diakui publik sebesar atau sekecil Cemeti, bukan atau juga memang sebagai tujuan. Yang pasti, memang begitu banyak.

Desas-desus tentang Cemeti rasanya menyepi. Tetapi tidak kepedulian. Rasa memiliki itu tidak hilang. karena masih ada kritik yang dilontarkan. Atau protes atas pilihan. Atau komentar atas pameran. Apalagi dukungan. Hal itu adalah isyarat merasa jadi bagian. Salah satu bagian dari seni rupa kontemporer Indonesia. Salah satu dari yang banyak. Satu sisi [bisa kecil ataupun besar] dari keseluruhan yang ada.

Bagaimanapun, dia diakui keberadaannya. Semakin keras kritik dilontarkan maka semakin besar rasa memiliki dan pengakuan orang tersebut atas Cemeti. Bisa juga dianggap, semakin mengharapkan Cemeti lebih baik lagi.

PERBANDINGAN KEDUA

Di dunia senirupa Indonesia, Biennale regional, nasional atau internasional hampir tidak pernah diselenggarakan atas nama lembaga independen. Lembaga-lembaga independen biasanya menjadi organisasi penyelenggara atau lembaga pendukung. Hanya ada satu Biennale atas nama lembaga Independen, yakni CP Biennalle dengan dua kali penyelenggaraan yakni tahun 2003 dan 2005.

Tetapi lembaga-lembaga ini bukan penentu peserta. Ada kurator atau Tim kurator yang punya wewenang menentukan tema, estetika dan perupa. Mereka itulah yang punya argumen atas keputusan-keputusannya. Bertanggung jawab atas pilihannya. Bersedia menjelaskan pikirannya. Hal tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan kuratorial yang dimuat di katalog. Umumnya membeberkan dasar pikiran tentang tema dan pengulasan karya seniman. Dan dialog yang biasanya berupa diskusi.

Karena Biennale adalah perhelatan akbar. Bisa dianggap sebuah pameran yang mewakili perkembangan senirupa saat ini. Maka para perupa sangat berkepetingan atas perhelatan ini. Dan karenanya selalu terjadi ketidaksepakatan yang dilontarkan orang-orang senirupa sendiri. Ada yang protes, kenapa tidak memilih si A dan kenapa memilih si Z. Kenapa estetika yang ini dan bukan yang itu. Jika tema berganti-ganti, kenapa seniman yang itu-itu juga yang dipilih. Dan seterusnya. Hingga pernah lahir biennale tandingan pada saat biennale itu diselenggarakan. [Di luar negri sana juga ada yang seperti ini, yang biasa disebut Off Biennale]

Untuk menampung keluhan tersebut maka beberapa Biennale senirupa di Indonesia berusaha menampilkan lebih banyak seniman. Ini menjadi masalah baru karena terlihat tidak fokus lagi sebagai pameran yang memiliki tema. Apalagi jika tidak ada dana yang cukup, maka pembengkakan jumlah seniman dan karya menyulitkan panitia untuk menyelenggarakan pameran dengan baik. Tapi tetap, tidak semua perupa bisa ditampung. Tetap ada protes.

Kemelut itu coba dipecahkan dalam CP Open Biennale I tahun 2003 dan Bali Biennale 2005. Ada perupa pilihan kurator dan ada aplikasi yang terbuka bagi perupa seluruh Indonesia jika ingin berpartisipasi. Para kurator CP pernah road show ke beberapa kota di Indonesia untuk membeberkan dasar kurasi bagi partisipan. Mengumumkan secara terbuka melalui berbagai media. Sementara Bali Beinnale 2005 menyelenggarakan Pra-Bali Biennale untuk menyeleksi para partisipan bahkan dengan pameran awalan sebelum dipilih ditampilkan di Biennale yang sebenarnya.

Cara-cara yang menuntut energi lebih bagi pelaksanaan sebuah perhelatan. Tapi tetap, seluruh pengajuan akan dipilih kurator berdasarkan tema dan standar lainnya yang ditetapkan oleh Tim Kurator tsb. Cara terbuka juga sekarang dilakukan oleh Yogja Biennalle IX 2007 yang akan diselenggarakan pada akhir tahun ini. (Sebagai informasi: The 3rd Beijing International Art Biennale 2008 menyelenggarakan juga partisipasi terbuka bagi perupa, silahkan mengunduh formulir di website mereka: http://www.bjbiennale.com.cn/english/regulations.asp)

Peran kurator demikian penting dalam biennale, karena ia membuat seleksi. Pemilihan kurator bukan tidak menimbulkan pertanyaan atau perdebatan. Misalnya, siapakah yang berhak memilih kurator? Bagaimana kok bisa si F jadi kurator dan bukannya si X? Kenapa si Z kok bisa-bisanya jadi kurator?. Ada usulan bagaimana jika pemilihan kurator dimulai dari pengajuan proposal secara terbuka dan diselenggarakan uji gagasan? Lalu siapa yang berhak menguji gagasan-gagasan tersebut? dst.

Ada yang berbeda antar CP Biennale dengan biennale lainnya di Indonesia. CP Biennale menyandang nama lembaga independen. Circle Point Foundation penyelenggara Biennale ini, mereka mengupayakan pendanaan dan penyelenggaraan secara mandiri. Karenanya tidak ada protes atas siapa yang menjadi kurator yang ditentukan oleh lembaga tersebut maupun pilihan kurator atas karya dan seniman. Suara ketidakpuasan atas pilihan estetika maupun seniman masih ada. Walaupun tidak terlalu nyaring. Selain karena ada upaya partisipasi secara terbuka juga ada penjelasan kuratorial yang bisa dianggap menggambarkan bahwa ini “versi CP dan versi Kuratornya”. Setuju versi ini ikut, kalau tidak setuju ya gak usah ikut.

Mirip dengan persoalan ketidakpuasan pada biennale di senirupa, saya rasa terjadi pada Utan Kayu International Literary Biennale [UKILB]. Lebih-lebih, sejauh saya tahu, ini adalah satu-satunya biennale sastra di Indonesia. Saya kira sastrawan lebih banyak jumlahnya dari perupa. Tentu perhelatan ini menjadi penting untuk dunia sastra Indonesia dan karenanya wajar jika banyak seniman menjadi peduli atas perhelatan ini.

Menjadi kepentingan bersama, sastra Indonesia dan para sastrawannya.

Saya tidak paham dunia sastra, karenanya saya tidak akan lancang menilai karya atau penyelenggaraan terbaik bagi perhelatan sastra. Ini hanya sekedar perbandingan.

Dalam buku dan katalog “Utan Kayu International Literary Biennale, 2007” tidak ada tulisan para kurator. Sehingga orang menjadi sulit menulusuri dasar pemikiran kurasi. Sebagai buku kumpulan tidak ada pengantar editorial, sebagai katalog tidak ada pengantar kutarorial.

Kita hanya bisa menduga-duga hal itu dari prolog yang disampaikan oleh Direktur Komite UKILB 2007, susunan yang ditata berdasarkan huruf awal nama-nama senimannya dan dari karya-karya yang dipilih (entah oleh siapa) juga dari CV seniman-senimannya.

Dalam sebuah katalog dalam perhelatan besar seperti Biennale yang memiliki banyak kurator biasanya penulisan dibagi-bagi. Kurator Ketua (jika menggunakan istilah Tim Kurator) atau Kurator (jika kurator lainnya bekerja sebagai Ko-Kurator) akan menjelaskan pemikiran umum

tentang gagasan tema biennale tsb. Para Kurator atau Ko-Kurator akan menulis bagi sub-tema, tentang para perupa dan karya-karya yang dipilihnya. Katalog seperti ini bahkan lebih memperjelas lagi sampai pada “versi masing-masing kurator”. Maka setidaknya publik bisa

mengetahui dasar pijakan atas seleksi tersebut.

Dalam katalog UKILB 2007 saya melihat tidak adanya pengantar editorial maupun kuratorial membuat publik jadi sulit mendapat kesimpulan seperti apakah “versi Komunitas Utan Kayu” atau “versi masing-masing kurator” dalam biennale tsb. Jika pun ada dasar kurasi, maka hal itu harus publik pikirkan sendiri dengan membaca penataan, prolog, karya-karya dan riwayat seniman yang mereka pilih. Yang paling mungkin terjadi, menurut saya, hanya akan timbul dugaan-dugaan. Tentunya sebuah dugaan belum tentu tepat seperti yang maksudkan.

* * *

 

Lembaga Komunitas Utan Kayu mungkin mirip dengan Cemeti, bahkan Komunitas Utan Kayu mencakup lebih banyak ragam seni dibanding Cemeti, komunitas ini berada ditengah-tengah kita. Begitupun Utan Kayu International Literary Biennale, mirip CP Biennale, merupakan sebuah perhelatan akbar, yang diselenggarakan sebuah lembaga independen, dalam dunia seni yang digelutinya.

Sampai batas tertentu, lembaga atau perhelatan itu milik publik karena diselenggarakan dari dan untuk publik. Sudah sewajarnya jika ada publik yang peduli sewajar yang tidak peduli. Jika ada yang peduli, itu menunjukan rasa memiliki, rasa terlibat, setidaknya mengakui keberadaannya. Atau bisa kita anggap, “agar dunia seni ini menjadi lebih baik lagi”.[]

* Perupa tinggal di Yogyakarta


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Boleh juga tuh……he!?

Komentar oleh Ibrahim




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s