Indonesia Art News Agency


Video-Puisi Filippo Sciascia
Oktober 27, 2007, 1:17 pm
Filed under: new media art

filippo.jpg 

Oleh : Krisna Murti*

Filippo Sciascia, seniman kelahiran Sisilia (Italia), sudah 9 tahun mukim di Ubud (Bali). Terdidik film dan seni rupa di Italia dan AS, ia menjadi fenomena generasi seniman asing baru yang tidak tertarik eksotifikasi Timur (baca: kebalian) seperti pendahulunya. Proyek pertamanya di Bali dengan mengusung sosok perempuan Bali “Kadek” justru lebih membuktikan estetika transliterasi cara pandang manusia dengan mesin media – foto atau video – atau sebaliknya. Filippo sepertinya merefleksikan seniman generasi kini dimana jejaring informasi global membuat jatidirinya kenyal, tinggal di kampung halamannya sama pentingnya bila ia mukim di manapun di Dunia. Dengan demikian, ia memiliki kebebasan dengan diri (the Self). Dan itu diwujudkan dengan berbagai narasi personalnya melalui eksplorasi teknologi media : komputer dan video.

Filippo baru saja -September 2007- berpameran di The Lab Gallery, New York (AS). Ia mengerjakan lukisan dan obyek; serta video, media yang menjadi fokus tulisan ini. Tema-temanya bersifat pribadi : terbangun dari serpihan-serpihan ingatan (termasuk memori fotografis), rekonstruksi obsesi tentang diri dan mimpi, bahkan narasi serupa drama. Cukup musykil melacak maknanya, apalagi karya Filippo pada dasarnya sebuah kolase – yang sarat logika transense – dengan imbuhan found footage, found object, readymade, teks, tekstur dan sapuan kuas. Namun bila kita memahami (terutama) video Filippo sebagai puisi agaknya semuanya menjadi lebih gamblang.

Puisi, film ke video

Video Filippo adalah puisi. Memang, Filippo bukanlah Stan Brakhage, pemuka film eksperimental AS yang terang-terangan menyebut dirinya “I am a poet who also made film”. Atau ikon video Bill Viola yang menyebut videonya sebagai puisi visual. Tapi lihatlah video Filippo: “For Your Consideration Only” (FYCO, 2004/5), “Fall/Rising” (2005) dan “Sophia 19:38” (2006) hingga karya terakhirnya “Trinacria” (2007) yang dipamerkan di Gaya Artspace (Ubud, Juli-Agustus 2007) dan di The Lab itu. Karya-karya ini persis apa yang dicirikan kritikus film David James sebagai puisi : (permainan) warna, shot statis, fragmentasi dan pengulangan gambar. Sebetulnya karakteristik ini dimaksudkan James untuk menunjukkan kecenderungan film avant-garde di AS tahun 1950 hingga awal 1960. Genealogi gambar bergerak yang bertalian dengan puisi itu bila dilacak bisa lebih jauh dari itu, misalnya melalui cine-poem (film puisi), genre yang diproklamasikan oleh Futurisme (1931). Uniknya menurut sejarahwan film avant garde A.L. Rees “cine poem were closer to painting and sculpture than to tradition of radical drama” (A History of Experimental Film and Video, 1999). Dengan perkataan lain, film sebenarnya bahasa visual.

Pertanyaannya, dimanakah relasi puisi dengan yang visual tadi ? Kritikus sastra Rusia Roman Jacobson menegaskan bahwa pemilahan puisi-prosa terjadi karena faktor linguistik. Menurut Jacobson, prosa didasarkan pada metonymy yang mengarah pada diskripsi, sementara puisi didasarkan pada metafora. Cine-poem, juga video sering dipersamakan dengan bahasa metaforik atau simbolik ini. Gambar (image) pada video Filippo adalah kata (bermetafora), susunan gambar dan teks dipersamakan dengan baris dan rangkaian gambar (sekuens) itu dipersamakan bait. Sebuah puisi itu terbangun manakala kita membuat relasi dan/atau membenturkan antara gambar dan teks metaforik itu atau citraannya (imagery). Jadi bukan bertumpu pada linearitas naratif. Sebuah video, lalu strukturnya bisa dijelaskan seperti (puisi) ini :

FALL/RISING

(perempuan muda berucap “don’t record the sound !”)

Silhuet wajah,  

bola mata

jemari tangan (bergerak membuat sinyal),

Sosok manusia menoreh lingkaran

kalangan baginya

Jalan raya gelap pekat, mobil berderit

Orang-orang bergelantungan

lalu terjerembab ke laut

menggapai dan segera ditelan ombak

Bertahan lagi

Helikopter menggeram (diulang-ulang)

Banteng melonjak-lonjak liar (diulang- ulang)

Yang menarik dari video ini bukan saja paralel dengan teori James tetapi relasi dan logika visual – semantik maupun semiotik – segera mewujud sebuah peristiwa (event) seperti dalam konsep performance. Bila kita tafsirkan secara hermeunetik, pengalaman personal Filippo ini seakan menemui konteksnya dalam kehidupan manusia kini : situasi absurd. Sebuah paradoks, pergulatan hidup antara berjuang dan kesia-siaan dari seorang manusia, seperti dalam mitos Sisiphus.

Membebaskan gambar

Tema absurditas sebetulnya sudah terlihat pada karya sebelumnya: “FYCO”, memperlihatkan sosok manusia menaiki-menuruni tangga. Tetapi “FYCO” secara keseluruhan seperti mewarisi semangat para Dadais merayakan puisi sebagai pertunjukan simultan (di café Cabaret Voltaire) : didendangkan, dimantrakan dan didengungkan. Video ini hampir seluruhnya dipenuhi kata-kata :

“We are always trying to do something or become something or be somebody and if this having to be somebody We create all our difficulties, because right there the ego comes popping up”.

Kali lain meluncur kata-kata :

“We clouded it over, covered it with this concept of self”Kata-kata ini muncul sebagai pembacaan puisi lengkap, terpenggal atau tak terselesaikan.

Kali lain ia dilafalkan, tapi tanpa suara.

Pada skene lain ia muncul sebagai teks grafis, membentuk tipografi yang menggoda mata “menonton” puisi. Dan pada saat bersamaan muncullah dua wajah, menggumamkan kata-kata yang sama, terkadang menggaung. Inilah momen dimana kita didorong ke dalam situasi terlibat secara mental, saat dimana waktu, situasi dan peristiwa menjadi puisi itu sendiri. Video-puisi “FYCO” terus bergulir, lalu muncul teks acak (random) :

coming/going (lalu hitung-mundur) 9, 8,7,6…..

Setelah itu teks lain muncul:

upset/self

Kemudian komposisi teks acak:

You/natural/see/state (yang bisa dibaca acak state/natural/you/see, dst.)

Teks-teks itu mewujud tipografi, tapi ia nyaris dihilangkan maknanya (seperti wacana puisi konkrit: kata sebagai kata). Dan sebagai gantinya adalah dampak visualnya atau akibat bunyinya. Penghilangan makna semantik ini juga dilakukan Filippo melalui fragmentasi gambar yang muncul bersamaan dalam sebuah frame (multiframe) juga gambar yang berlapis (dissolved). Ketika hal itu dilakukan berulang maka terjadilah semacam jeda. Momen merenung itu sejenak terjadi, namun kesadaran audiens segera dibangunkan kembali melalui teks literal : Hearing the SilenceBetween the sounds means hearing everything

Agaknya video-puisi Filippo ini memang terletak dalam proses mental : sense-nonsense, menjalani-terhanyut dan terkatakan-kegaguan. Dengan diiringi musik (atau tepatnya bebunyian) yang digarap khusus, secara keseluruhan karya ini lalu menjadi meditatif.

Puisi ke fiksi

Video Filippo “Sophia 19:38” memperlihatkan perkembangan ungkapan yang memasukkan fiksi ke dalamnya. Karya ini secara estetika mempertanyakan batas antara pengertian video yang puitis dengan video-puisi yang naratif (prosaik). Yang pasti dalam video ini dilakonkan 3 tokoh utama. Pertama, Marcello, berjas putih mewakili kata hati sang seniman. Kedua, Marco, berjas hitam memerankan sang seniman. Ketiga, Sekar, wanita berkuda simbolisasi kebebasan ekspresi sang seniman. Ada lagi tokoh pendukung: Kadek – subyek sentral dalam proyek Kadek (2004) – yang mewakili subyek karya seni (Filippo).

Video “Sophia 19:38” tampak naratif dibanding karya lainnya termasuk “Trinacria” – yang sebetulnya gabungan dari 3 video sebelumnya. Ia mengesankan sebentuk film pendek. Ceritanya terfokus pada peristiwa mimpi (divisualisasikan sepasang lelaki dan perempuan terlelap tidur, sementara si lelaki acapkali terbangun dari mimpinya). Video monokromatik ini berawal ketika Marco berjumpa Kadek. Marco kecewa ketika ia sadari apa yang ia lihat hanyalah ilusi. Sang seniman ngotot ingin keluar dari ilusi itu, mengejar kenyataan. Adegan terlihat dramatik ketika Marco menggedor lalu membongkar dinding layar (dimana citra Kadek berada), seraya berkata : “Kadek, Kadek ! I want out of here”. Sekuens berikut tampak puitis. Dengan anggun sekar duduk di atas kuda, lalu memeluknya dalam gerak lambat. Secara metaforik seperti mengatakan : ” Hai seniman, inikah kebebasan seni yang kau dambakan ?”. Pemuncak drama ini diisi dialog dari hati ke hati antara Marco dan Marcello di sebuah reruntuhan istana air yang eksotik, namun sekaligus puitis karena – menurut Marco – ia hanyalah rumah tanpa gerbang masuk mupun keluar. Kata bersayap ini semakin kuat ketika Marco menjawab rasa penasaran Marcello tentang lelakon ini : “It is about a movie, a thought. The whole story does not have a begin or an end”. Video ini diakhiri dengan pernyataan Marco : “I am only aiming to do a honest work”, sebelum ia secara teatral menyeret sprei dan tubuh-tubuh tidur Sekar dan Marcello.

Jelas video ini memperkarakan identitas diri dan tampaknya berangkat dari pengalaman subyektif diri Filippo.Video ini mengadopsi pengucapan genre dokumenter sekaligus drama. Pengertian dokumenter di sini lebih merupakan rekonstruksi dan fiktifisasi pengalaman nyata. Karya ini juga bisa dibaca sebagai drama karena terlihat pekembangan psikologi tokoh-tokohnya. Namun benarkah Filippo membuat video drama “Sophia 19:38” berdasarkan adegan nyata (live-action footage) seperti dipraktekkan dalam tradisi sinema konvensional ?

Pencitraan digital

“Sophia 19:38” (dan “FYCO”) memang dibangun dari sejumlah adegan nyata itu. Namun itu hanyalah materi mentah yang didigitalisasikan – melalui kamera lalu komputer penyuntingan – menjadi sebuah realitas simulatif, rekaan yang berbeda dari realitas aslinya. Realitas elektronis yang menjadi tumpuan proyek “Kadek” – flicker, bintik-bintik dan keterpiuhan warna – di sini mewujud dalam dalam tampilan yang lebih sempurna. Utamanya bila sudah diletakkan dalam konteks gambar bergerak seperti cut to cut, penumpukan, pengulangan dan gerak lambat. Belum lagi dengan hadirnya cuplikan (found footage). Misalnya aksi mobil di jalanan, helikopter dan banteng rodeo pada “Fall/Rising” (diadopsi dari acara TV ?). Oleh campurtangan mesin penyunting digital itu citraan dan kode asali (hiburan ?) kemudian ditanggalkan, dihilangkan ruang dan waktunya, direkayasa ulang frame by frame, dan jadilah tanda baru. Sebuah dunia otonom yang terkadang masih terasosiasi dengan citraan asali atau seringkali sama sekali tidak (nonsense).

Model pencitraan semacam ini mendorong penonton menggeser diri menjadi partisipan karena tersedianya ruang dan waktu untuk mengikuti rinci bahasa gambar digital yang terjadi (proses mental). Atau sebaliknya, ruang dan waktu itu sendiri menjadi medium, lalu peristiwa. Momen ulang-alik antara partisipan dan peritiwa ini mirip Haiku, puisi pendek Jepang. Dan video Filippo bisa dijelaskan sebagai kumpulan Haiku itu.

Menjadi jelas bahwa Filippo mempercayai teknologi media karena dampak puitiknya. Saya kira, sisi puitik (baca: kultural) itulah yang mendorong teknologi ini mewujud menjadi sebentuk “cermin ” di era digital. Dari situlah kita bisa melihat diri kita lebih baik, hari ini. []

* Seniman video


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Frino, makasih pemuatan tulisannya. Tapi tolong dicekl lagi. Ada kekeliruan pada bagian puisi Fall/Rising, penggalan baitnya. Setelah” don’t record the sound” mestinya bait baru, lalu setelah “kalangan baginya” mestinya bait baru (dikasih spasi), juga setelah “bertahan lagi” mestinya bait baru (kasih spasi ya). Dan tolong dibuat huruf miring semua seperti “banteng melonjak-lonjak liar”. Saya yakin ini hanya soal teknis merubah teks asli saya ke situs. Atur nuhun kang, Krisna.

Komentar oleh krisna murti




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s