Indonesia Art News Agency


Raga, Seni dan Ruang Urban
November 19, 2007, 9:26 pm
Filed under: visual arts

Teks oleh Bambang Asrini Widjanarko*

Salah satu ciri dari era modern adalah merayakan kehadiran dan peran sentral tubuh. Raga manusia, dipahami sebagai penanda fisik penting bagi identitas diri. Bahkan, sejak lahir, dianggap sebagai anugerah kehidupan dan layak dinikmati. Orang modern tidak sepakat kepada pandangan teologis kuno yang menggangap “badan fisik adalah kuburan bagi jiwa” (the body is the tomb of the soul). Sebaliknya, tubuh, sudah semestinya sesuatu yang digagas dengan nilai keindahan/kecantikan, intimasi-personal dan sekuler.

Namun, dengan pencapaian yang teramat tinggi di berbagai bidang ilmu pengetahuan, tekhnologi dan industri, tubuh telah dipahami sedemikian berbeda dikemudian hari. Tubuh kita hari ini, menjadi medan yang menarik tidak hanya sebagai entitas fisik dan individual belaka. Tubuh memiliki rumah berpijaknya yang lain. Ia mewujud sebagai medium refleksi pergaulan antar manusia, simbol-simbol kekuasaan politik dan ideologi, religi, gender, representasi titik berangkat terjadinya konflik moril dan etika di dalam anatomi-raga sebuah kebudayaan atau bisa pula thermometer atas hadirnya trend perilaku tertentu dan gaya hidup konsumerisme di kota besar.

Seni sendiri, dalam perkembangannya telah melepaskan fantasi-estetik nya di masa lalu, sebagai hanya memperpanjang kebutuhannya sendiri (art for art shake). Dengan berendah hati menengok dan mengambil dunia diluar dirinya untuk memperkaya parasnya. Abstraksi tema tentang tubuh di dalam seni kontemporer menawarkan begitu banyak hal untuk diinterpretasi sebagai kekuatan eksternal sekaligus kreatif untuk memahami segala hal –termasuk realitas tentang konsep ketubuhan– diluar diri fisik sang kreator atau seniman. Seni kontemporer dipercaya memiliki laku semacam seismograf dengan partisipasinya membaca kenyataan berbagai bentuk representasi tentang kita dan identitas yang diciptakan oleh tubuh (dalam dimensi sejarah, religi, sosial maupun budaya). Seismograf seni mengirim sinyal-sinyalnya tentang kemampuan manusia untuk berusaha memahami berbagai kesadaran-asli maupun palsu tentang siapa kita dan apa itu kenyataan. Kekuatan artistik dan bekal pengetahuan para seniman membuat gambaran tubuh dijadikan semacam metaphor di hamparan karya-karyanya. Tubuh sebagai obyek pe-rupa-an menjadi sebuah lahan dan proyek untuk: diawasi, ditelaah, direnungkan, dimaki dan dicemooh atau mungkin saja tetap dimuliakan sebagai representasi pengalaman transedensi manusia sebagai tindak kerinduan spiritual. Singkatnya, dimaknai ulang identitas kehadirannya dan pengaruhnya terhadap kehidupan modern.Pameran Kelompok 12 PAS di Philo Art Gallery, Kemang Timur, Jakarta mulai dari 27 Nopember- 27 Desember 2007, dengan sengaja mendeteksi kembali, tema sentral pameran yang bersinggungan dengan tubuh manusia saat ini. Dengan tajuk Gara-Ga Raga, kelompok ini hendak kembali menyusuri dan memeriksa makna dan persoalan ke-tubuh-an, terutama keberadaanya di kota besar.  

Semua perupa, tanpa kecuali di kelompok 12 PAS ini, tinggal dan bekerja di Jakarta dalam tempo yang lama (puluhan tahun). Para perupa, merasakan sebagai bagian dari kota besar secara harafiah dan tidak terpisahkan. Ruang dan waktu yang dicerna dan dipahami seakan telah menyatu di tiap tarikan nafas sepanjang hari. Maka, meminjam istilah Mike Featherstone didalam “The Body in Consumer Culture” (1982), bahwa, citra idealisasi tubuh dalam kebudayaan konsumerisme di kota besar diproklamirkan sebagai hasrat untuk bersenang-senang dan demi kebugaran raga yang prima, dirasakan secara riil oleh mereka.

Enam perupa mencoba memparodikannya dengan cara mengolok-olok bagaimana citra yang dibentuk dunia industri akan tubuh, membuat orang kota mencandu penampilan fisik atau aura yang didapat diluar diri dengan produk-produk konsumen. Karya-karya Egi, Willy, Titok, Santo dan Jack serta Nus Salomo mengamininya dengan karya yang terutama berobyek perempuan, sebagai obyek yang menjadi korban atau dipaksa melakukan sebuah tindakan kekonyolan metropolitan, yakni: perempuan identik dengan mannequin, sepatu perempuan dan laki-laki sebagai dalih punya-punyaan (kepemilikan) yang mewah, perempuan yang merias diri dengan segala aksesorinya yang ditafsir meningkatkan derajat status sosialnya sebagai orang-orang langitan di Jakarta.

Karya lain menampakkan, tubuh telanjang manusia sebagai laboratorium erotik untuk diteliti di ruang operasi hasrat sebagai manusia yang tak pernah usai dengan pemenuhan atas naluri seksualitas. Atau, ada lukisan yang menggambarkan seorang perempuan berdialog dengan busananya. Sebagai sebuah lambang kesuksesan penampilan diri atau justru jebakan terhadap pencitraan diri dari luar yang tak terelakkan? Ruang urban di kota besar dimengerti pula sebagai sebuah pertarungan individu-individu untuk memperjuangkan keyakinan dan nilai-nilai privatnya secara natural. Pada galibnya, seperti yang dikatakan Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock (the end of the body, 1998), memberi identifikasi karakter tubuh yang disebutnya: tubuh sudah selayaknya memiliki suatu pengalaman pribadi, sekaligus artefak kontrol sosial dan politik, selain sebagai simbol alamiah yang menuturkan relasinya dengan industri-kebudayaan. Hal seperti tersebut diatas, bisa kita temui dalam pameran ini di dalam karya-karya perupa lain, selain enam perupa yang disebut sebelumnya, yaitu: Lili, Oki, Barkah, Adit, Ponky. Mereka, menyodorkan sebuah pengalaman personal tentang kehidupan kota besar dan cita rasa yang sangat intim dan tak berjarak. Perempuan digambarkan selalu terjerat berbagai kendala untuk menyuarakan kepribadiannya via simbol-simbol fashion.

Perjuangan untuk mencapai sebuah cita-cita yang direpresentasikan dengan motor harley dan tujuan yang dilukiskan ssebagai sebuah horizon laut (seascape) dan pegunungan di pulau nun jauh. Pada tataran lainnya, mereka, juga menggambarkan tentang rasa kesesakan dan keterhimpitan dengan kanvas yang menggambarkan bertemunya berbagai ilustrasi yang saling berlomba-lomba mencari perhatian dengan munculnya banyaknya obyek yang ingin bercerita.

Para perupa ini mengaku, secara riil, kehidupan kesenian adalah pengalaman utuh dalam praktik keseharian yang keras dan pedih. Kenyataan untuk mempertahankan idealisme kesenian ataukah kehidupan normal yang harus terus dilangsungkan? Selanjutnya, munculah simbol mencomot perupaan tentang wajah perupa sendiri, dan kritik atas sistem kota besar serta konstruksi yang dibangun secara sosial-politik yang dianggap timpang. Bentuk obyek-obyek lukisan juga menggambarkan beberapa sosok-sosok tubuh yang teralienasi dalam diam atau malahan histeris?, dengan tidak menunjukkan identitas kelamin dan paras aslinya. Terejam dalam ambiguitas mempertahankan diri atau menyerah saja?

Sedang perupa seperti Tony, lebih memilih untuk memerdekakan dirinya di kota besar, meminjam simbol organ tubuh sebagai instrumen transenden dengan mengingat pola-pola hubungan antara mahluk dan pencipta-Nya.

Seni, setidaknya membantu, memetakan kembali setiap kali persoalan eksistensial terselubung di balik kefanaan ruang-waktu urban yang kita huni menyeruak ke permukaan kesadaran. Pada gilirannya, ia bisa pula mengetukkan pintu bagi kita, para peziarah dan kelana makna, ke gerbang kemungkinan-kemungkinan baru pemahaman atau malahan, sebuah sergapan atas pertanyaan: untuk apa sesungguhnya kita dan tubuh kita ini hadir?[]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s